Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Cinta Diambang Derita 177


Zara melangkahkan kakinya menuju kamar di mana dia dulu selama ibunya belum meninggal tidur di kamar itu dan selalu tidur dengan ibunya. Sampai tiba disuatu hari dia kebingungan, ibunya tidak ada dan tidak pernah lagi menemaninya tidur. Sakit yang terasa sampai Zara sendiri bingung bagaimana mengobati lukanya.


Belakangan ia baru tahu bahwa selama ini ternyata ibunya telah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Ibunya telah meninggal dunia, dan yang membuat Zara semakin sedih adalah selama ini ibunya di bunuh di hadapanya.


Wanita yang menyandang ibu dari dua anak itu pun masuk ke dalam rumahnya dan mengamati setiap sudud rumah masa kecilnya, dan juga setiap benda yang masih tersusun  seperti dulu ia tinggal di rumah itu. Setelah melihat-lihat setiap sisi ruangan ia pun masuk ke dalam kamar ibunya dan merebahkan diri di tempat tidur mereka.


"Bu, Zara sekarang ada di kamar kita biasa tidur, apa ibu merasakanya? Ara kangen sama Ibu, apa sekarang Ibu juga kangen dengan Ara?" racau Zara dengan kedua mata yang sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.


"Bu, andai saat itu Ara bisa mengerti kalau Ibu sedang dicekoki racun, mungkin saat ini Ara masih bisa tidur dengan Ibu. Ara memang bodoh Bu, Ara bukan anak yang baik."


Zara terus meracau, pikiranya yang sudah kembali. Ia terus berbicara seolah-olah memang ada sang ibu di hadapannya.


Tanpa terasa saking cape pikira, dan menangis karena curahan hatinya pada ibunya yang sudah tiada Zara pun tertidur dengan pulas di ranjang tempat dulu ia bisa tidur dengan almarhum ibunya.


Zifa pun dari balik pintu menangis tersedu ketika mendengar curhatan kakaknya. Dia memang membiarkan Zara melakukan apa yang ingin ia lakukan di rumah ini.


Zifa memandang lagi rumah peninggalan ibunya yang banyak terdapat lubang di atapnya itu menandakan rumah ini sudah usang dan pasti kalau hujan akan bocor.


"Bu apa kalau rumah ini Ifa renov dan di bangun kembali Ibu akan suka?" batin Zifa, ia akan berunding dengan kakaknya mengingat Zara juga sudah banyak perubahanya dan bisa diajak berunding soal rumah mereka.


Zifa sebenarnya yakin kalau ibu dan bapaknya tidak akan marah mengingat yang mereka cita-citakan adalah memperbaiki tempat tinggal mereka yang sudah sangat memprihatinkan kondisinya. Mungkin kalau dibandingkan dengan rumah tetangga. Rumah mereka adalah rumah yang paling tidak layak huni.


"Tante, kita petik buah lambutan yuk," celoteh Raja berhasil mengagetkan lamunan Zifa, Raja yang nampaknya sangat senang berada di rumah peninggalan masa kecil ibunya, bahkan dia tidak hentinya bermain lari-larian dengan Ratu, terlebih halaman rumah mereka luas dan aman untuk anak anak bermain.


Alwi pun membiarkan mereka meskipun pakaianya kotor dan belepotan, hal yang sangat jarang terjadi di Bandung. Sebab di sana lantainya bukan tanah seperti di rumah Zifa.


"Apa pohon rambutan juga berbuah?" tanya Zifa, bahkan dia saking kangenya dengan rumah ini sampai tidak memperhatikan buah apa saja yang tengah berbuah di rumah mereka. Memang di rumah masa kecil mereka banyak di tanami buah, sehingga ketika musim buah seperti ini maka mereka akan sangat senang, karena buah banyak dan tinggal petik.


"Buah Tante, dan banyak, tapi Latu takut buah lambutan," bisik Raja, pada sang tente.


"Ratu bukan takut, hanya geli  dengan kulitnya yang banyak rambut-rambut dan kalau di tempelkan ke kulitnya dia kan merasakan geli," bela Ratu.


"Oh yah, kenapa takut, rambutan kan manis." Zifa berusaha bertanya pada Ratu yang berdiri tidak jauh dari Raja,


"Iya manis Tante, tapi Latu tidak suka ada bulunya geli," jawab Ratu dengan bergidik seolah ia tengah kegelian.


Zara pun akhirnya mengikuti dua bocah kecil itu dan melihat suaminya yang selalu manjat sementara Alwi di bawah yang mengumpulkan buah-buah yang Ghava petik dari atas pohon rambutan itu. Cukup tinggi tapi rantingnya aman dan enak untuk di panjat sehingga Ghava lihai memanjatnya.


"Astaga Mas, apa kamu bisa memanjat pohon?" tanya Zifa dengan antusias melihat suaminya yang sedang berada di atas pohon. Tanganya langsung mengambil ponselnya untuk mengabadikan Ghava yang sedang manjat di pohon. Hal yang sangat langka sehingga Zifa buru-buru memotretnya.


"Jangan kamu ragukan Sayang, aku dulu adalah andalan teman-teman kalau nyuri buah milik tetangga," balas Ghava dengan bangga.


Yah, teman-teman hanya menunggu di bawah pohon dia yang diandalkan untuk manjat. Pancen suaminya Zifa serba bisa...


"Kalian sekarang masih kecil belum tahu gimana serunya di umur-umur segitu. Bukan karena kekurangan, pasti orang tua kita mampu buat beli buah-buah itu, tetapi nyuri bareng-bareng teman buah punya tetangga itu rasanya beda, Meskipun buah yang dicuri rasanya asem tetap di lahap," bela Ghava, tentu Raja dan Ratu tidak ngerti apa maksud Omnya.


"Bener itu Va, cuma kalau aku, karena pernah patah tanganya karena jatuh dari pohon jadi ada rasa trauma kalau mau naik ke pohon," balas Alwi.


Yah, masa-masa anak-anak memang akan merasakan proses demi prosesnya, seperti pengalaman dua orang itu. Sebenarnya tidak dibenarkan mencuri, tetapi kadang memang ada masa anak-anak dijiwa yang bandel, seperti Ghava, bukan berati besarnya jadi pencuri, pasti akan ada masanya dia malu dengan perbuatanya, dan dia akan membatasi perbuatanya, yang terpenting peran orang tua selalu memberikan edukasi bahwa itu salah.


Huaaaa.... Ditengah-tengah asiknya memetik rambutan dengan bercerita Ratu menangis dengan kencang, siapa lagi pelakunya, sudah pasti abangnya sendiri. Ghava sendiri saking asiknya memetik rambutan bahkan tanpa sadar mereka sudah memetik sangat banyak.


"Kenapa sih Bang?" tanya Alwi pada Raja dan Raja sang pelaku langsung lari menjauh, karena takut di kejar-kejar Zifa yang sudah menujukan kuda-kudanya akan mengejar Raja.


"Papa Abang, kasih lamutan di baju Latu," isak Ratu dengan berjalan pelan dan menahan rambutanya agar tidak menusuk kulit punggungnya.


"Abanggg..." Zifa benar-benar mengejar anak itu. Memang dia itu sangat jahil tidak bisa melihat Ratu diam, selalu mencari kesempatan untuk membuatnya nangis.


"Ratu, sini Sayang, Papah ambil," ucap Alwi dengan setengah terkekeh, memang sangat seru memiliki anak yang usianya sama seperti ini, sudah tahu adiknya geli dengan kulit rambutan malah di masukan ke bajunya, siapa lagi kalau bukan Raja, yang jahilnya tidak ada lawan.


"Awas Papah, hati-hati nanti menempel di kulit Latu," bocah itu sudah merem-merem sudah membayangkan bahwa kulitnya yang berbulu kasar menempel di kulitnya.


"Tidak akan Sayang, kan Papah tahan," balas Alwi dengan menujukan rambutanya yang sudah berhasil diambil dari pinggungnya.


"Papah bulunya ada yang menempel tidak?" tanya Ratu untuk memastikan kalau kulitnya tidak ada yang menempel.


"Tidak udah nih dibersihkan." Alwi mengibas-ngibas baju Ratu. Tidak lupa Ratu pun mengucapkan terima kasih.


"Ampun tante... Ampun..." racau Raja yang berhasil ditangkap oleh Raja, dan perutnya di ciumi oleh Zifa, dia yang merasa geli pun hanya bisa tertawa terkekeh-kekeh dan meracau memohon ampun.


"Boleh Tante maafkan, tapi minta maaf dulu sama Ratu," ucap Zifa dengan menurunkan Raja.


"Latu aku maaf aku jahil," ucap Raja dengan menjulurkan tanganya.


"Tidak mau ah, Abang mah jail telus," balas Ratu dengan menyembunyikan tanganya ke punggung tidak mau membalasnya jabatan tangan dari Raja.


"Yau udah kalau kamu tidak maafin aku, aku kasih kamu buah lambutan lagi," ancam Raja. Tanganya mau mengambil rambutan yang sudah satu tumpuk banyaknya.


"Huaaaa... Papah... Abang minta maafnya nggak ikhlas," ucap Ratu menujuk Raja.


"Abang minta maafnya yang benar dong," lirih Alwi dan Raja pun mengulaangnya.


"Nah sekarang giliran Ratu, tidak boleh menyembunyikan tanganya." Lagi, anak itu pun akhirnya mengikuti kata Alwi menyambut uluran tangan Raja. Dan dua anak kembar itu pun saling berpelukan.


Dari sebrang jalan nampak Abas yang mengikuti mereka pun menangis  sejadi-jadinya menyaksikan momen yang dia tidak pernah bisa rasakan. terlebih ia juga baru mendapat kabar kalau Orlin menggugat cerai dirinya, dan bahkan Abas belum sempat menjenguk kondisi puterinya dengan Orlin, yang mengindap down syndrom.