
Begitu telepon di tutup Kemal akhirnya bisa bernafas dengaan lega. Di buangnya nafas yang seolah penuh racun dari tubuhnya. Dan ia menghirup nafas yang baru dengab dalam dan damai. Sesuai permintaan Ghava, Kemal membuka kembali ponselnya dan mencari di laman galery, photo Zara dan juga Zifa. Memang di ponsel Kemal sendiri yang banyak menyimpan foto Zifa, tetapi photo Zara, kemal tidak punya. " Aduh aku harus gimana yah, apa aku minta saja foto Zara sama Zifa," batin Kemal mencoba mencari ide agar ia mendapatkan foto Zara. Bisa saja ia memotonya sembunyi-sembunyi nanti sore, tapi pasti abangnya yang tidak sabaran akan meneror dia terus.
Cara pertama Kemal mencari di laman galery beranda Zifa baik dari istagram, atau pun fb. Mungkin malah dari whatsap, di mana mungkin Zifa di sana memposting foto terbaru yaitu foto kakaknya, meskipun rasanya tidak mungkin mengingat Zifa itu orang yang jarang membuat setatusnya di sosial mendia. Instagram, facebook dan whatshap atau pun sosial media lainya milik Zifa yang Kemal ketahui. Sudah di acak-acak semua sosial media Zifa tetapi semuanya tidak ada satupun foto Zara, jangankan Zara foto dirinya pun tidak ada. Padahal Kemal yakin andai di luaran sana yang memiliki wajah cantik kayak Zara dan Zifa, pasti pemilik wajah itu sudah bangga dan jepretan gambar dari kamera di benda pintar sudah memenuhi isi beranda dan galerinya.
Namun beda denga Zifa malah dia seolah tidak suka dengan wajah cantiknya, lebih biasa saja dan cuek. Orang lain diluaran sana akan takut kalo kenal sinar matahari, karena bisa membakar kulit dan lain sebagainya, Zifa lagi-lagi cuek dan tetap berjualan keliling dengan sepeda bututnya. Panasnya sengatan sinar matahari tidak menyurutkan Zifa untuk berhenti dan mengeluh. Bahkan rasa panas di kulitnya yang mulai terbakar matahari, Zifa tidak pernah rasakan. Hanya satu tentu yang membuatnya semangaat mengais rezekinya. Dia ingin terus melanjutkan pendidikanya dan menjadi wanita yang berhasil dan bisa menjadi ibu orang tua satu-satunya bangga.
Namun sekarang Zifa seolah hidup dengan ketidak pastian. Dia sudah kehilangan semangat untuk meraih cita-citanya. Dalam fikiranya hanya satu mencari keadilan untuk orang ibu dan kakaknya. Tidak hanya mereka nasib ponakanya kelak juga harus ia perjuangkan. Persetan tanggung jawab dari laki-laki itu, Zifa hanya ingin pengakuan dari orang yang sudah melecehkan kakaknya dengan keji. Yah, Zifa sebut keji sebab dia laki-laki bia-dab yang tega memperkosa kakaknya yang memiliki kelainan kelakuak. Tanpa pandang kasih, dia tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatanya.
Sifa bahkan bersumpah sekalipun laki-laki itu bersujud di kakinya dan ingin memeluk anaknya kelak. Zifa orang pertama yang akan menolaknya. Tidak perduli penyesalan. Karena orang itu kini hidup keluarganya di ambang jurang nestapa.
'Halloh..." Suara merdu terdengar dari sebrang telpon. Yah, akhirnya Kemal memutuskan untuk menelepon Zifa, dia akan meminta foto Zara, alasanya untuk apa? Kemal sedang memcari ide itu.
"Fa, kamu sedang sibuk enggak?' tanya Kemal dari sebrang teleponya, jantungnya berdetup kencang, kenapa kertika ia berbicara di telepon dan baru mendengar suaranya Zifa jantungnya menjadi berdetak lebih kencang dan seolah ia tengah berlomba lari.
"Enggak Mal, aku baru selesai peking baju untuk nanti sore di bawa, dan ini lagi merapihkan barang-barang yang masih bisa di pakai mau di rapihkan ke dalam lemari dan membuat barang yang sudah tidak di pakai," jawab Zifa, suara terdengar seolah gadis itu tengah menanggung kesedihan.
"Apakah Zifa menangis lagi? Kenapa suara terdengar berat dan serak," bati Kemal.
"Jangan cape-cape Fa, kamu itu dari kemarin kayaknya kurang istirahat, sekarang kamu siapkan baju kamu dan kakak kamu sajah, enggak usah semua. Nanti kan kamu bisa datang lagi ke rumah itu buat ambil pakaian yang kamu butuhkan. Kalau pun tidak masih bisa beli kan," ucap Kemal. Dari suara Zifa yang berat dan seolah tengah di paksa sudah sangat menggambarkan sekali sih kalo Zifa memang suasana hatinya kembali diliputi awan kesedihan.
"Fa, boleh enggak aku minta foto kak Zara?" ucap Kemal dengan lirih, seolah ia ragu untuk mengucapkanya. Hal itu karena Abangnya Ghava, aneh-aneh aja segala minta foto Zifa dan Zara lagi. Dia harus memutar otak untuk meminta foto Zara pada Zifa, dan otaknya di peras untuk mencari alasan dirinya meminta foto kakaknya.
Zifa di sebrang telpon cukup kaget dan mengernyitkan dahinya heran kenapa Kemal meminta foto kakaknya.
"Mihon maaf sebelumnya Mal, kalo boleh tahu buat apa kamu minta foto kaka Zara?" tanya Zifa.
"Aku akan mencoba mencari tahu kira-kira siapa yang telah berbuat jahat terhadap kakak kamu dan memperkosa kakak kamu," ucap Kemal, ide konyol sih dan nanti kalo Zifa bertanya lebih detail pasti Kemal akan kesulitan untuk menjawab dan menjelaskanya. Dan bisa saja malah Zifa curiga bahwa Kemal tengah mengarang sebuah kebihongan.
"Caranya?" tanya Zifa ulang, di mana pertanyaan paling mengerikan. Harus jawab apa coba Kemal, cara buat cari tahu siapa kira-kira pemerkosa kakak Zifa, sedangkan hanya dengan bukti foto. Zifa yang merupakn siswa berpretasi tentu sangat kritis dengan hal semacam ini, tidak mungkin dia mau menerima begitu saja apa yang Kemal katakan.
"Abang aku ada yang bekerja dengan kepolisian dia menjadi intel, dan aku tadi tidak sengaja bercerita dengan kasus kakak kamu, dan ibu kamu. Kebetulan Abang tertarik dia meminta foto kakak kamu, akan dia bantu mungkin saja dengan keahlian dia bisa memberi gambaraan siapa yang kira-kira melakukan kejahatan itu, kamu tidak usah takut foto itu aman ditangan aku dan kakak aku." Kemal mencoba menjelaskan, mencari ide semasuk akal mungkin agar Zifa tidak terfikirkan macem-macam.
"Ya udah saya kirim yah Mal, terima kasih sudah mau susah-susah bantu mencari tahu laki-laki jahat itu, aku tidak bisa membalas apa-apa atas kebaikan kamu, tetapi aku selalu berusaha mendoakan kamu terus. Dan sampaikan salam dari aku dan kak Zara, buat Abang kamu, karena sudah mau membantu masalah ini," ucap Zifa akhirnya tidak melemparkan pertanyaan lagi yang membuat Kemal semakin sulit mencari ide-ide untuk kebohonganya.
"Kemar membuang nafas lega ketika Zifa percaya bahwa foto itu akan digunkan buat bahan penyelidikan mencari tahu kasus kakaknya itu.