
Zifa kembali keruangan keluarga dengan perasaan jauh lebih baik dari sebelumnya, karena bunda Lusi mau mengerti perasaan Zifa, tidak hanya itu bunda Lusi juga banyak menasihati Zifa, sehingga hati Zifa kuat dan bersemangat kembali.
"Gimana perasaanya sekarang sayang," tanya Bunda Anna. Ketika melihat wajah Zifa yang semakin tenang dan tidak lagi terlihat kecemasan atau sedih.
Zifa duduk sembari melebarkan senyumnya. "Sudah jauh baikan Bund. Bunda Lusi banyak memberikan nasihat untuk Zifa yang masih labil ini," jawab Zifa denga menunduk malu, karena sifatnya yang sangat buruk itu.
"Tidak apa-apa umur kamu masih tujuh belas tahun memang lagi bergejolak-gejolaknya cari jati diri. Benar kata Kemal kamu datang ke skiater ajah, enggak usah malu tidak usah takut. Agar kamu mendapatkan arahan mengenai sifat kamu yang kadang itu gampang panik dan emosinya masih sulit untuk megolahnya. Dulu juga Kemal itu emosinya meledak ledak malah bisa jadi dia itu jauh lebih buru dari kamu, setelah rutin terapi dia sekarang Bunda lihat lebih bijak, iyakan Mal?" tanya Bunda Anna dengan senyum jahil.
Kemal pun tersenyum malu. "Betul Bund, malah kalau ingat kelakuan Kemal dulu suka malu sendiri sok keren banget dan sok garang padahal yang lain mungkin liatnya tetep anak mamih, karena kenyataanya cuma ngandelin emosi yang tertahan dari rumah tapi ngelukain banyak orang," jawab Kemal dengan wajah malunya. Yah dia malu apabila melihat sifat yang dulu, sangat buruk.
Setelah bercengkrama dengan pengurus yayasan dan telah menitipkan Zara juga, kini Kemal dan Zifa akan pulang, meninggalkan Zara dengan bunda Anna dan berharap banyak apa yang Zifa lalui bersama Zara membuahkan hasil yang sesuai dengan yang diinginkanya.
"Kak Zara, Ifa pamit dulu yah. Kakak di sini baik-baik kita berjuang mencari keadilan untuk Ibu dan Kakak bareng-bareng yah, mungkin hanya tempat dan caranya yang berbeda-beda. Kakak tolong bantu Zifa untuk mendapkan keadilan ini, karena harapan Zifa adalah kakak."
Di mana saat ini posisi Zifa berhadapan dengan Zara dan memegang ke dua tangan kakaknya, di mata kedua mata mereka saling terkunci, seolah mereka sedang saling memberikan dukungan dari tatapan matanya.
"Ifa mau kemana?" tanya Zara yang bingung dengan apa yang di katakan Zifa.
"Ifa akan sekolah, kakak untuk sementara tinggal sama ibu dan teman-teman yang lain di sini. Kita berpisah untuk sementara, tapi Ifa janji kalau ada waktu Ifa akan sering-sering main ke tempat ini untuk bertemu dengan kakak." Zifa tidak mau Zara tahu bahwa ia tengah bersedih karena bisa sajah, malah Zara juga tidak mau di tinggal.
Dari tatapanya Zara nampak masih bingung, tetapi Bunda Anna yang tahu bahwa Zara seperti berat di tinggalkan oleh Zifa pun mendekat dan mengelus punggungnya seolah memberikan kekuatan dan meberikan dukungan. "Sayang, Zara di sini sama Ibu yah, nanti bobonya di temanin sama Ibu, dan Zifa akan pergi untuk sekolah agar Zifa jadi anak yang pintar dan berguna buat banyak orang. Zara doakan yah Zifa agar Zifa cepat lulus dan nanti kalian akan tinggal bersama-sama lagi." Bunda Anna juga terus berusaha memberikan pengertian dengan Zara.
"Iya Ifa, kakak di sini tidak nakal. Ifa sekolah?" tanya Zara mungkin dia sudah mengerti dan paham bahwa mereka harus berpisah untuk sementara waktu.
Zifa membalasnya dengan senyum kecut. "Yah, ketika Zara sudah bisa menerima keputusan mereka Zifa dalam hatinya justru tercubit, seolah ingin kakaknya terus menahanya agar jangan meninggalkan dia sendirian. Zifa mengelus perut kakaknya yang sudah sedikit menonjol itu, semua karena bayi di dalam perut kakaknya yanga ada dua dan sehat-sehat sehingga perut Zara terlihat lebih besar dari orang yang hamil normal.
Kemal dan Zifa pun akhirnya pamit dengan semua pengurus yayasan dan juga dengan Zara yang masih nampak bingung ketika melihat Zifa pergi.
"Ifa... hati-hati," ucap Zara sembari melambaikan tanganya ketika Zifa sudah masuk ke dalam mobil. Sementara Zifa yang mendengarnya tercekik lehernya seketika melihat senyum tanpa arti dari kakaknya.
Zara terus menatap pada mobil yang di tumpangi oleh Zifa. Hatinya seperti kehilangan. Namun, Zara masih bingun mengartikan ini semua. Bunda Anna mendekat pada Zara. Beliau memberikan kekuatan pada gadis malang itu.
"Zara masuk yuk, Ifa udah enggak ada," ucap Bunda Anna, ketika melihat Zara yang terus mematung, dengan kedua mata menatap kejalanan yang dilalui mobil yang di tumpangi Zifa, tanpa kedip. Padahal saat ini mobil itu sudah entah di mana. Zara yang tengah kosong pikiranya langsung terkejut ketika ada tangan yang merangkul dipundaknya.
"Ifa mana?" tanya Zara dengan mata berkaca-kaca, mungkin ia baru sadar di lingkungan baru dan tidak ada Zifa.
"Zifa sekolah, nanti kalau libur datang ke sini. Atau Zara nanti bisa hubungi Zifa kalau kangen." Bunda Anna berusaha membujuk Zara dengan sangat lembut.
Tes... Zara meneteskan air matanya, raganya berjalan mengikuti bunda Anna, tetapi fikiranya sedih ketika tidak ada Zifa.
*****
"Kamu kuat Zifa, ingat ini adalah awal dari semua usaha kalian, mungkin di tengah-tengah sana nanti akan ada momen yang lebih berat dari ini dan kamu harus lebih kuat lagi. Aku tahu kamu wanita kuat, kamu tidak akan meneteskan air mata terus, karena kamu tahu air mata hanya untuk orang-orang yang lemah." Kemal yang sedang mengemudi menggunakan tangan kanan, sedangkan tangan sebelah kirinya laki-laki itu gunakan untuk menggenggam tangan Zifa, seolah dia tengah menyalurkan energi positifnya untuk wanita yang kini duduk berada di samping dia.
Mereka lebih terlihat seperti pasangan kekasih, tetapi pada kenyataanya mereka hanyalah dua sahabat di mana sang laki-laki yang terlalu mencintai wanitanya, sedangkan Zifa bukan tidak cinta tetapi dia selalu berusaha menjaga hatinya agar tidak masuk ke dalam lembah percintaan yang nantinya hanya akan menghalangi niatnya untuk mencari keadilan di dunia ini. Sehingga Zifa lebih nyaman Kemal menjadi sahabatnya, tanpa ada hubungan kekasih, yang mungkin akan mempersulitnya dan memecah belah fokusnya.
Zifa yang tengah melamun, terkejut ketika tanganya ada yang menggenggam, dia memalingkan wajahnya ke arah Kemal. Dan laki-laki itu membalasnya dengan senyum terbaiknya.
Serrr... darah seolah mengalir deras dari jantung Zifa ketika mendapatkan perhatian yang lebih dari Kemal. Namun Zifa tidak bisa melepas tanganya karena dia juga merasakan kehangatan, dan kekuatan dari Kemal.