
Acara yang ditunggu oleh keluarga Abas pun tiba, acara yang tergolong sangat meriah untuk sekedar perayaan kehamilan Orlin, meskipun Ghava tidak hadir mereka tetap terlihat kompak. Pakaian yang sudah di persiapkan dengan sedemikian rupa, dan tentunya bukan pakaian yang murah, melekat di tubuh anggota keluarga kaya raya itu.
Kekecewaan terlihat dari wajah Wina ketika ia mengetahui bahwa Ghava tidak hadir, yang bikin Wina semakin kecewa adalah nomor ponsel Ghava sejak satu minggu yang lalu tidak aktif. Bukan hanya Wina, semuanya kecewa dengan keputusan Ghava, termasuk Kemal yang sangat kecewa dengan keputusan abangnya.
'Jadi benar kalau kamu memilih Ifa untuk semuanya, apa sebegitu berartinya Ifa dimata kamu Bang?' Kemal merasakan matanya yang memanas. 'Aku harus gimana, aku belum bisa melupakan Zifa, dia adalah wanita yang sangat aku cintai. Aku tidak mungkin membiarkan Zifa untuk hidup bersama Ghava,' lirih Kemal sepanjang acara yang meriah itu Kemal tidak merasakan kebahagiaan. Dia justru terlihat duduk di pojokan seorang diri.
Andai laki-laki itu boleh berharap mungkin saat ini ia berharap kalau Zifa datang ke acara itu, dan saat itu juga Kemal akan mengakuinya sebagai kekasihnya. Perse-tan dengan Ghava yang saat ini menyandang kekasihnya juga.
"Kemal apa loe nggak tahu di mana Ghava? Atau ada yang aku tidak tahu dari Ghava?" tanya Wina yang datang dengan dua buah minuman di tangannya. Wanita itu menyodorkan minuman berwarna merah ke Kemal, dan Kemal pun mengambilnya, lalu meletakan minuman itu di atas meja. Jangankan minum untuk bernafas saja laki-laki itu sedang tidak ingin. Alias ia sedang frustasi berat.
Kemal menatap Wina dengan senyum menyeringai. "Kalau aku beri tahu rahasia tentang abang gue, apa yang akan gue dapatkan dari loe?" tanya Kemal dengan senyum penuh arti.
Wina tampak menyipitkan kedua matanya, penuh keheranan. "Maksud kamu apa memang ada rahasia diantara Ghava yang aku belum tahu?" tanya Wina dengan wajah yang semakin memelas. Sebenarnya Kemal kasihan dengan Wina, tetapi salah wanita itu juga ngapain mau dijodohkan dengan laki-laki yang sudah jelas tidak mencintainya.
"Kan aku tadi udah bilang kalau aku buka rahasia yang besar kamu akan gantikan aku dengan apa?" tanya Kemal semakin memerankan permainannya, agar Wina semakin curiga. dan penasaran.
"Apa yang loe mau akan gue berikan," ucap Wina dengan sangat serius. Bahkan seulas senyum tipis pun tidak nampak di wajahnya, saking seriusnya.
"Kerja sama, apa kamu mau kerja sama denganku?" tanya Kemal, otaknya sudah merencanakan sebuah kerja sama yang akan menguntungkan dirinya.
"Kerja sama apa? Kalau memang menguntungkan aku akan pertimbangkan." Wina menyeruput minuman yang ia pegang, ketika tenggorokannya sudah semakin mengering.
"Tenang saja Wina, aku tidak mungkin melakukan kerja sama kalau tidak ada untungnya. Semua yang aku lakukan akan ada untungnya satu sama lain," ujar Kemal dengan menaik turunkan ke dua alisnya.
"Katakan kerja samanya, syarat kerja sama dan juga, keuntungannya." balas Wina, tanpa ingin berbasa basi.
"Ghava sudah punya calon istri dan calon istrinya adalah wanita yang sangat amat aku cintai."
Uhukkk... Uhukkk... Wina terbatuk ketika mendengar apa ucapan Kemal.
"Loe nggak lagi ngajak gue bercanda kan Kemal? Loe nggak lagi mabok atau sedang merayu gue," lirih Wina. Bahkan Wanita cantik itu sampai tersedak karena ucapan Kemal yang membuatnya terkejut.
"Katakan buru gue harus apa, untuk bisa gue bersatu dengan Ghava, dan juga memisahkan dari wanita ja-lang itu," desis Wina.
"Loe cukup melabrak mereka ketika mereka sedang berjalan bersamaan, setelah itu loe permalukan, dan nanti gue akan datang untuk membantu Zifa, setelahnya loe bisa jebak atau apakan Ghava yang penting buat Ghava terikat dengan loe dan gue bisa menjebak Zifa dan membuat wanita itu juga terikat sama gue. Gimana menguntungkan kan?" tanya Kemal dengan bangga.
"Ok, gue terima tantangan kerja sama dari lue," ucap Wina tanpa ia harus memikirkan untuk kedua kalinya.
Pikiran Kemal pun terbang, membayangkan kejadian itu dan itu tandanya ia akan menjadi satu-satunya yang memiliki Zifa. 'Loe memang kekasih dari Zifa, tetapi akhir perjalanan Zifa akan tetap bersama gue Bang,' batin Kemal bahagia.
Wina dan Kemal pun melakukan sulan untuk sebuah kemenangan yang akan mereka raih.
"Apa saat ini Ghava sedang sama wanita ja-lang itu?" tanya Wina semakin kepo.
"Kamu masih bisa bertanya, apa otak kamu tidak ada isinya sehingga kamu harus bertanya dengan pertanyaan yang tidak bermutu? Ya udah jelas iya lah, itu sebabnya gue tahu karena gue memang sempat berada di antara mereka, bahkan gue dan Ghava sempat terlibat pertengkaran dan akibatnya gue ditampar sama cewek itu, dia memilih Ghava sebagai pilihan terakhirnya, dan melupakan gue yang udah lama selalu ada disaat dia terluka," ucap Kemal menceritakan apa yang menimpanya, sedih memang tetapi mau gimana lagi, dia harus terus berjuang dari pada dia akhirnya menyesal dan membiarkan Ghava menikmati Zifa.
"Kapan rencana kita akan di mulai, rasanya aku sudah tidak sabar membuat cewek itu menangis dan menyesal telah menganggu calon suami orang?"
"Secepatnya kalau loe sudah siap hubungi gue, kita akan mulai berkerja sama mulai malam ini," Kemal mengulurkan tangannya sebagai simbol kerja sama.
Dan Wina menerima tangan Kemal dengan senyum terkembang sempurna.
"Kalau dia bukan milik gue maka orang lain juga tidak bisa memilikinya," ucap Wina, dan di balas dengan senyum yang sama dari Kemal.
Sebenarnya Kemal tidak ingin membuat Zifa sakit tetapi rasa cemburunya pada Ghava justru semakin membuat dia buta akan akal sehatnya. Yang terpenting ia bisa mendapatkan Zifa. Wanita itu sudah ia cintai jauh sebelum Ghava kenal dengan Zifa saat ini.
'Maafkan aku Fa, aku bukan egois dan ingin membuat kamu cela atau justru malu. Aku hanya ingin kamu melewati hari tua dan bahagia bersamaku. Aku yakin dan percaya kalau kamu pasti akan bahagia dengan semua yang aku lakukan,' Kemal memegang dadanya yang terasa nyeri setiap membayangkan Zifa sedang bermesraan dengan Ghava.
...****************...