Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Menyambut Anggota Baru


Hari yang ditunggu-tunggu pun datang, kini Zara dan Zifa sedang bersiap akan pulang, sementara Bunda Anna dan dokter Marni sudah pulang dar hari kemarin, untuk tugas menjaga Zara di tugaskan sepenuhnya pada Zifa dan sesekali Alwi yang menemani, mengingat Zara lahiran di rumah sakit yang sama dengan Alwi bertugas. Sehingga Alwi bisa sekaligus berjaga.


"Kalian sudah siap Fa, Ra?" tanya Alwi yang baru masuk keruangan Zara, di mana di dalam ruangan Zifa masing peking perlengkapan si kembar yang lumayan banyak, terutama pakaian dan segala keperluan ponakanya itu.


"Astagah dokter, bikin kaget ajah," dengus Zifa di mana dia yang terlalu fokus dengan kegiatanya sehingga tidak dengar kalau pintu terbuka.


"Ini Bang tinggal perlengkapan ponakan yang lucu doang. Kalian duluan saja ke mobil nanti Ifa nyusul," jawab Zifa tanganya kembali merapihkan pakeian sikecil, sementara Zara terkekeh melihat kelakuan adiknya itu. Entah Zifa sedang memikirkan apa sampai-sampai ia tidak dengar pintu yang dibuka dan Alwi masuk keruangan itu, dan ketika ditanya basa-basi dengan suara yang tidak cukup kencang, tetapi Zifa sudah kaget.


Zara akan bangun dan menggendong kedua buah hatinya, tetapi buru-buru di tahan oleh Alwi. "Kamu nanti dulu ajah kemobilnya. Aku mau bawa barang-barang dulu." Alwi membawa tas dan beberapa berlengkapan baby yang sudah dirapihkan oleh Zifa.


Zara pun mengikuti apa kata Alwi, kembali duduk menjaga buah hatinya, dan Alwi sudah meninggalkan ruangan itu dengan dua tanganya saling menenteng tas. Zifa masih merapihkan barang yang tinggal sebentar lagi selesai. Tidak lama Alwi datang lagi, dan kini dia dengan sigap mengambil Ratu, sementara Raja di gendong oleh Zara. "Kamu udah selesaikan Fa?" tanya Alwi sebelum menggandeng tangan Zara.


"Udah Bang, Abang sama Kak Zara duluan ajah, nanti Ifa nyusul. Kebelet pipis dulu Ifa," balas Zifa memberikan waktu untuk Alwi dan Kakanya. Setelah cukup lama Alwi dan Zara pergi, selanjutnya Zifa menyusul Alwi dan Zara. Padahal hubungan Alwi dan Zara hanya pura-pura, tetapi rasanya Zifa juga merasa kurang enak apabila mengganggu mereka berdua, sehingga Zifa memilih berjalan belakangan.


"Maaf nunggu lama yah, tadi kebelet," ujar Zifa, yang merasa bersalah. Terlebih Raja kini menangis mungkin tidak betah karena Zifa berjalan yang terlalu lama. Hal itu karena pikiran Zifa yang terbang entah kemana.


"Tidak apa-apa Fa, mungkin Raja haus," jawab Alwi mewakili Zara, yang seolah masih bingung dengan keberadaan dua bayi di tanganya.


Setelah meletakan tas di bagasi belakang, Zifa kembali ke dalam mobil duduk di samping Zara, dan mengambil Ratu dari gendongan tangan ibunya yang masih terlihat bingung. Sedangkan Raja masih menangis.


"Kakak, bisa kasih Raja ASI kasiham Raja haus," ujar Zifa mengajarkan Zara, yang masih bingung atau bahkan melamun. Seperti yang Zifa katakan bahwa Zara pun mulai memberi Raja ASI sesuai yang dokter Marni dan bunda Anna ajarkan. Bagian sumber kehiduan buat anak-anaknya pun di tutup dengan kain persis seperti yang Bunda Anna ajarkan, agar laki-laki tidak melihatnya. Bukan hanya laki-laki yang melihatnya, melainkan orang lain agar tidak melihat gundukan yang memukau itu.


Mobil secara perlahan meninggalkan halaman rumah sakit yang cukup elit di kota kembang itu. Alwi pun mengendarai mobilnya dengan perlahan, karena ia membawa penumpang yang baru lahiran. Janagn sampai Zara merasa tidak nyaman dengan cara ia mengendarai mobil dan juga nantinya badanya pada sakit.


Di dalam mobil pun diselingi obrolan ringan, terutama rencana Zifa melanjutkan pendidikan dan mengambil jurusan apa. Yah, obrolan itu sebenarnya sudah sering Alwi dan Zifa bahas tetapi karena bingung akan membahas apa, sehingga Alwi kembali membahas itu lagi. Sedangka Zara tidak terlibat obrolan apa-apa ia sedang sibuk dengan Raja yang sedikit rewel.


"Fa, coba pegang kening Raja! Tidak panas kan?" tanya Alwi yang heran kenapa Raja nangis terus, sesuai intruksi dari Alwi, Zifa pun memegang kening Raja, untuk mengukur suhu tubuh bayi itu, Zifa membandingkan suhu tubuh Raja dengan suhu tubuh Ratu yang anteng.


"Apa Raja takut untuk naik mobil," lirih Alwi aneh juga, sedangkan di beri ASI udah, tetapi Raja masih saja menangis. Badannya panas juga tidak, tetapi sejak naik mobil bayi itu menangis seperti ketakutan.


"Mungkin Bang, apa bayi ini takut di kira akan di culik," kelakar Zifa justru membuat lawakan buat ponakanya, yang ganteng tetapi lebih sensiti dari pada Ratu yang kalem dan jarang menangis. Bayi perempuan itu menangis apabila haus atau lapar, tetapi kalau Raja bayi laki-laki itu mendengar suara gaduh sedikit saja akan rewel dan menangis.


Sekarang mobil yang di kendarai Alwi sudah berada di depan yayasan, para anggota yayasan dari pengurus hingga teman-teman Zara ikut menyambut Zara dan dua buah hatinya. Bunda Anna langsung mengambil alih Raja yang masih menangis setelah di timang-timang dan di bawa ketempat yang tidak berisik. Raja pun diam dan bayi yang sejak tadi menangis pun akhirnya diam dan tidur. Mungkin karena cape sepanjang jalan nangis terus, sehingga begitu dapat tempat yang nyaman Raja langsung terlelap tidur. Alwi pun sedikit tahu sifat Raja yang tidak suka keramaian. Yah, mungkin dia nanti akan menjadi cowok yang dingin dan lebih suka menyendiri, seperti itu kira-kira tebakan Alwi pada anak angkat laki-lakinya.


"Kamu ajah Kakak kamu istirahat ajah Fa, biar Ratu saya yang asuh," ucap Alwi, sembari mengambil Ratu dari gendongan Zifa. Sementara Zifa menuntun Zara ke dalam kamarnya untuk istirahat, dan Lagi-lagi Zara nurut saja pergi ke kamar untuk istirahat.


Untung Raju tidak rewel sepertinya Ratu sangat dekat dengan Alwi, atau dia memang sudah tahu bahwa Alwi adalah ayah angkatnya.


"Fa, suami Ara mana? Kenapa belum pulang juga? Apa pulangnya akan lama?" tanya Zara yang ternyata diam itu dia sedang memikirkan suaminya. Pantas saja Zara gampang sekali moodnya baik, dan gampang banget moodnya turu.


Zifa jadi keingat ucapan Alwi. Bahkan kalau memang di perlukan Zifa bisa menjelaskan apa yang Alwi rencanakan. "Kak, apa kakak kalau tahu suami, apa kakak akan marah sama suami kakak?" tanya Zifa dengan suara pelannya.


"Kenapa marah Ifa, suami itu baik kan Fa?" tanya Zara.


"Tidak."


"Kalau gitu suami Ara siapa?" tanya Zara, dengan tatapan mengiba memebuat Zifa tidak tega menutupi faktanya.


"Alwi. Dokter Alwi adalah suami kakak, dan Ayah untuk anak-anak kaka." Zifa akhirnya memberikan kejelasan pada kakaknya.


Terkejut, itu yang Zara perlihatnya. "Sejak kapan dokter Alwi jadi suami kakak?"