
"Aku akan mengambil kompresan dan mengompres wajah kamu dengan es batu. Mungkin kamu bilang tidak merasakan sakit, tetapi aku tahu itu upaya kamu untuk menutupinya," lirih Ghava dengan nafas yang memburu.
Zifa mengangguk dengan lemah dan tersenyum tipis. Meskupun sore ini mereka gagal untuk bercinta, itu semua karena Ghava yang tidak tega ketika melihat Zifa yang terus-terusan terpejam dan meringis menahan sakit di wajahnya.
Ghava tahu, meskipun Zifa tidak mengatakan kalau ia sedang menahan sakit, tetapi rasanya Ghava terlalu egois apabila terus memaksakan keinginanya untuk bercinta, sementara Zifa sendiri tidak nyaman dalam hubungan ini.
"Maaf karena aku yang sakit, kita jadi tidak bisa melakukan hubungan suami istri, dan lagi-lagi aku gagal membuat kamu bahagia," lirih Zifa dengan rasa bersalah, dan Ghava hanya membalas dengan senyuman.
"Kata siapa aku tidak bahagia? Aku bahagia bahkan sangat-sangat bahagia dan itu tandanya kalau kamu sudah bisa menerimaku, aku sangat bahagia. Tidak pernah aku merasakan sebahagia ini," balas Ghava dengan menempelkan es batu di wajah cantik Zifa yang terlihat lebam.
"Apa yang membuat kamu seperti ini?" lirih Ghava, bahkan entah berapa kali ia bertanya soal ini, tetapi Zifa belum juga menjawabnya.
"Aku, tadi pulang dari rumah sakit, berencana mampir ke rumah tahanan untuk menjenguk ibu kamu, dan ingin menunjukan gimana kondisi Ratu dan juga Raja, tetapi belum juga semuanya terlaksana..."
"Jadi ini semua hasil perbuatan Mamih?" tanya Ghava, sudah bisa menebak apa yang terjadi dari Zifa. bercerita sepenggal saja. Zifa pun membalas dengan anggukan.
Zifa pun menceritakan apa yang terjadi dengan mertuanya pada suaminya.
( "Mau apa kamu ke sini, wanita murahan?" cecar Eira padahal wanita itu masih berdiri.
"Ifa hanya ingin melihat gimana kondisi Anda Nyoyah. Tapi setelah saya datang dan melihat kondisi Anda, ternyata yang saya rasakan cukup bahagia, karena ternyata rencana saya sesuai dengan taujuan saya masuk ke keluarga Anda. Tidak sia-sia saya menikah dengan Ghava kalau hasilnya begini bagus, dan pastinya lebih cepat dari target saya sebelumnya. Saya pernah berpikir kalau pasti membuat Anda masuk penjara akan sangat licin mengingat Anda berkuasa, tetapi ternyata sangat gampang, cukup di gunakan pancingan Anda datang sendiri, dan bonusnya anak-anak Anda saling bersitegang." Zifa tersenyum dengan puas.
"Kurang ajar puas kamu, menghancurkan keluarga ku?" bentak Eira bahkan kedua wanita yang berdiri di samping Eira menahan wanita itu agar tidak membuat keributan.
"Jujur Ifa masih kurang puas. Awalnya Ifa sempat berpikir kalau nyawa di balas dengan nyawa, tetapi Tuhan tidak mengizinkan dan sekarang kondisi Kemal sudah sadar, ada rasa sedih, tetapi tidak masalah yang terpenting Anda mendekam di dalam penjara." Zifa semakin membuat Eira murka.
Ahhhh.... Brukkkk... Dalam seketika rambut Zifa di tarik dengan kuat dan wajahnya di benturkan beberapa kali ke meja hingga bibirnya pecah dan dari hidungnya keluar darah.)
Ghava yang mendengar cerita Zifa pun menghelai nafas panjang. "Lain kali kamu jangan datang menemui Mamih yah, aku takut kalau tidak ada penjaga yang datang, kamu akan bernasib sama dengan ibu kamu, dan soal Raja dan Ratu nanti aku yang kenalkan pada Mamih dan Papih." Ghava terus mengompres wajah Zifa.
"Ini pasti sakit banget," lirih Ghava, tidak habis pikir kenapa Zifa bisa terfikirkan untuk menemui mamihnya sedangkan mamihnya saja masih sangat membenci Zifa.
"Mas aku boleh tidak bermain ke Bandung, aku ingin bertemu dengan ponakan dan Kakaku," lirih Zifa dan Ghava langsung menghentikan tanganya yang masih mengompres Zifa.
"Boleh, kapan?" tanya Ghava. "Mungkin kamu memang lebih baik di sana untuk beberapa waktu nanti aku akan sering mengunjungi kamu," ucap Ghava, dia memaklumi gimana membosankanya dia di rumah seorang diri terlebih temanya satu-satunya yaitu Lyra saat ini sedang sibuk, sehingga beberpa kali Zifa membuat janji dengan wanita itu, tetapi ujungnya dibatalkan karena kesibukan Lyra.
"Mas tidak perlu mengunjungi Zifa, jarak Bandung dan Jakarta cukup memakan waktu yang lama, kasihan Mas kalau kelamaan di jalan nanti pasti akan sangat cape. Biar nanti Ifa yang datang lagi ke Jakarta, kalau Ifa kan tidak bekerja banyak waktu santai," jawab Zifa, dan sontak saja langsung membuat hati Ghava berbunga-bunga.
"Terima kasih," balas Ghava.
"Untuk apa, Ifa tidak melakukan apapun?" balas Zifa denganmengernitkan dahinya.
"Karena kamu sudah ngertiin aku," ucap Ghava dengan serius dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Zifa, diam adalah cara terbaik, padahal dalam hati Zifa ia hanya ingin membuat Ghava agar tidak mencurigainya, ketika ia melakukan apapun termasuk ketika semuanya sudah tidak ada hubungan satu sama lain, maka dia tidak akan merasa berat untuk meninggalkan Ghava.
Ok Zifa semakin lemah ketika Ghava secara tidak langsung meminta bibirnya di buka, dan lagi-lagi wanita itu seolah sedang dalam pengaruh hipnotis, dalam sekejap mata dua anak manusia itu hanyut dalam ciuman yang panas.
Tangan Ghava menari handuk yang sedari tadi menutupi tubuh bagian bawahnya. Sementara Zifa terpejam matanya, ingin ia berkata bahwa ia tidak siap dan tidak akan pernah siap, tetapi ia ingat dengan ucapanya sebelum ini kalau dia secara tidak langsung telah menawarkan surga untuk suaminya.
Sentuhan lembut membuat gelenjar yang aneh pada diri Zifa, dia bahkan merasakan bahwa ini bukan tubuhnya. Zifa tidak seperti itu rasanya dia saat ini sedang dikuasai oleh makluk lain.
Tangan Ghava pun dengan lembut membuka pakaian yang dikenakan Zifa helai demi helai, sementaraa Zifa sendiri lagi-lagi seperti orang lain yang tenang dan tidak menolak ketika Ghava melakukan itu.
Gerakan yang lembut di area yang tidak seharusnya terlihat oleh orang lain membuat Zifa beberapa kali mengerang nikmat.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya ketka ia tidak lagi menahan gelenjar aneh yang membuatnya seperti terbang melayang, wajah yang merah dan nafas tersenggal membuat Zifa semakin malu berada di hadapan Ghava.
"Apa kamu tidak jijik melakukan itu semua?" tanya Zifa sembari nafasnya memburu, dan Ghava membals dengan gelengan puas dan senyum bahagia.
"Kamu boleh mencakar atau melakukan hal lain kalau nanti kamu merasa sakit ketika aku melakukan penyatuan.
Zifa jadi teringat teman kampusnya yang beberapa ada yang bercerita ketika mereka berhubungan untuk pertama kali pasti sangat sakit, bahkan ada yang berkata kalau itu sangat menyakitkan hingga tidak bisa jalan.
"Mas apa itu sangat menyakitkan?" tanya Zifa sembari mengerutkan dahinya.
"Mungkin akan sedikit menyakiti kamu, tapi aku akan melakukanya dengan hati-hati, kamu bisa bilang sakit kalau memang sakit, dan aku tidak akan memaksanya," lirih Ghava dengan menarik tubuh Zifa ke bawah kuku-nganya. Wanita itu tidak tahu gimana caranya mundur dan menolak, nanti Ghava akan curiga kalau dia sedang merencanalan sesuatu.
"Mungkin ini memang yang seharusnya Ghava dapatkan," gumam Zifa dalam batinya dan dia pun menarik nafasnya pelan dan siap untuk melayani suaminya. Lagi pula ia juga seperti bodoh dalam hati menolak, tetapi tubuhnya terus meminta lebih.
Tatapan mata Ghava tidak berkedip memperhatikan reaksi istrinya di mana di sedang berusaha dengan kuat memberikan kado terindah dalam pernikahanya. Zifa menggigit bibir bawahnya dan hal itu membuat Ghava semakin hilang kendali, gerakan yang awalnya lebut dan seirama membuat brutal dan semakin kencang. Hingga Zifa sendiri tanpa sadar beberapa kali meloloskan suara yang membuat Ghava semakin bersemangat.
Tubuh Ghava pun ambruk di atas tubuh sang istri. "Terima kasih," lirih Ghava dengan suara tersengal.
Dia bahkan tidak menyangka kalau malam ini ia bisa melakukan penyatuan dengan sang istri, bahagia yang luar biasa yang Ghava rasakan, kini istrinya seutuhnya telah mejadi miliknya. "Inikah kado terindah dari Mu, ya Tuhan."
Di saat Ghava berserah dengan hubungannya justru Zifa justru datang.
Cuppp... Ghava nemberikan kecupan di kening Zifa yang banyak terdapat keringat tidak lupa juga ia mencium perut datar Zifa. "Semoga usaha kita akan berbuah manis," ucap Zifa dan justri hal sebaliknya terucap di hati Zifa, dia belum siap kalau dia harus hamil dan anak ini adalah cucu dari pembunuh ibunya.
Wanita itu terpejam, seolah menyesali malam penyatuan panas ini, sedangkan semuanya sudah terjadi dia tidak bisa menyesalinya. Semuanya tidak akan kembali dengan penyesalan.
Ghava menarik selimut tebalnya dan membenamkan tubuh istrinya yang masih terpanjang ke dalam selimut. Ghava berpikir kalau Zifa kelelahan dan ingin istirahat sehingga ia diam saja, tetapi ternyata Zifa sedang menyesali apa yang barusan terjadi dalam dirinya.
Ghava pun menarik tubuh polos Zifa dan memeluknya dengan kuat, entah berapa kali laki-laki itu mengucapkan terima kasih.
Sementara Zifa tidak menyawabnya dan memejamkan kedua matanya menyusuri mimpi. Wanita itu berharap kalau yang terjadi saat ini adalah mimpinya.