Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CFD #Episode 102


Satu tahun telah berlalu dari kedatangan Ghava secara tiba-tiba ke tempat Zifa di kota Bandung, dan itu artinya usia pacaran Ghava dan Zifa sudah berjalan lebih dari satu tahun, dan sejak saat itu Alwi semakin sering hadir dan mengajak ngobrol Zara, tentang  perlakuan yang laki-laki yang di sebut suaminya. Semakin hari juga Zara seolah mengingat sesuatu, meskipun kadang cerita yang dia bagikan adalah cerita yang sudah pernah ia ceritakan.


Zara bukan lagi wanita dewasa yang berpikir terjebak dalam ingatan masa kecilnya, dia adalah ibu yang baik, kakak dan juga pekerja yaang baik, tanpa harus di beritahukan arahan secara terus menerus wanita dengan dua anak itu sudah hafal betul tugas sehari-hari mereka, kapan ia harus bermain dengan anak-anaknya, dan kapan dia harus fokus dengan pekerjaanya.


Lyra juga seperti biasanya setiap di akhir pekan maka dia akan datang untuk mengunjungi Raja dan Ratu, hubungan Zifa dan Lyra pun semakin akrab, terlebih Lyra selalu memberikan dukungan dengan rencana Zifa. Yah, tentunya dia juga tengah mengupayakan rencananya meskipun dia hanya akan bekerja di belakang layar.


Tidak ketinggalan hubungan Zifa dan Ghava pun semakin lengket saja. Meskipun Zifa selalu jutek dan terlihat acuh dengan Ghava, tetapi justru laki-laki itu semakin tertantang. Hampir setiap malam Ghava dan Zifa pasti melakukan komunikasi. Sebenarnya Zifa setengah hati menanggapi telepon dari Ghava dan juga gombalan dan cerita Ghava yang Zifa anggap terlalu biasa. Sesuai rencana Zifa, ketika satu tahun lalu ia bertemu dengan Ghava tentu tanpa sepengetahuan Ghava, Zifa mengambil kontak nomor Kemal.


Zifa saat ini sedang dirundung kebingungan ia ingin memulai berkomunikasi dengan Kemal, tetapi gimana nanti kalau Kemal tiba-tiba bertanya dari mana Zifa mendapatkan nomor'nya, itu alasannya meskipun Zifa sudah memiliki nomor Kemal sudah sejak lama, tetapi ia belum memiliki keberanian untuk menghubungi'nya lebih dulu, meskipun sudah sangat ingin Zifa memulai komunikasi dengan adik dari kekasihnya. Sudah tidak sabar rasanya Zifa memulai segala rencananya.


Tanpa sengaja Zifa memanggil nomor Kemal, itu semua karena dia yang sejak tadi mondar mandir untuk berpikir kira-kira ia akan menghubungi Kemal atau tidak, dan alasan apa nanti apabila Kemal bertanya Zifa dapat nomor'nya dari siapa? Dan justru karena hal itu tangannya tanpa sengaja menekan tulisan memanggil.


"Halloh... halloh... Suara Kemal entah berapa kali mencoba menyapa orang yang memanggilnya, biasanya Kemal adalah orang yang sangat tidak mau perduli dengan panggilan yang tidak jelas seperti ini, tetapi entah perasaan apa, Kemal terus menunggu hingga orang di sebrang telpon itu membalas ucapa'nya.


Betapa terkejut'nya Zifa ketika tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat ia kenal tengan mencoba memanggilnya, dari sambungan telpon yang tidak sengaja dia lakukan.


Panik, itu yang Zifa rasakan, ketika ia sadar kalau jari jempol'nya tanpa sengaja menekan tulisan memanggil. "Aduh, ini  jempol memang tidak tau diri," umpat Zifa pada jari jempol'nya.


"Halloh..." suara lirih Zifa berhasil di dengar oleh Kemal.


Serr.... darah seolah mengalir lebih cepat ketika suara orang yang selama ini dirindukan. Sebenarnya Kemal sudah lama ingin menelepon juga pada Zifa, tetapi dia masih tidak memiliki keberanian. Kemal juga sudah lama menyimpan nomor Zifa yang ia dapatkan dari Bunda Anna.


Namun, hari ini Kemal seolah mendapatkan durian jatuh. Dia mendengar suara Zifa, itu tandanya doa dari Tuhan di dengar dan saat ini Zifa sendiri yang menghubungi'nya.


"Ya Tuhan apa saat ini aku sedang bermimpi, atau ini kenyataan, kalau gadis yang aku sukai lebih dulu menghubungiku," lirih Kemal, dalam batinnya. Laki-laki itu juga berhasil mencubit pergerlangan tangannya dan hal itu terasa sakit, itu tandanya yang terjadi pada dia saat ini bukalah impian atau halu ia semata.


"Zifa... ini kamu kan Zifa." Kemal tidak lagi bisa membendung rasa bahagianya ketika ia benar-benar mengenali suara yang sangat dia kenal.


:"I... iya Kemal ,ini aku Zifa. Kamu apa kabarnya, Kemal?" Suara bergetar dan terbata dari Zifa terdengar jelas di balik telepon Kemal. Zifa bergetar karena takut dan gerogi serta bingung nanti ia akan bilang apa kalau Kemal bertanya dia mendapatkan nomor Kemal dari mana? Sedangkan Kemal di negara berbeda mengira suara berat dan bergetar serta terbata yang Zifa tunjukan adalah rasa haru yang menunjukan kalau dia sangatlah  rindu dengan Kemal.


"Aku baik Zifa, baik sekali. Aku kangen dengan kamu. Kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya Kemal, laki-laki itu berpikir mungkin ini adalah cara Tuhan untuk mendekatkan kembali dia dan Zifa, sedangkan Zifa yang sebenarnya lebih nyaman dengan Kemal, malam ini pun mereka  banyak menghabiskan berkomunikasi dengan Kemal, dan di lain ponsel tanganya terus lihai menari dengan lentik untuk bertukar kabar dengan Ghava dengan chat.


Setelah Zifa memutus pangilan teleponnya dengan Kemal, langkah kakinya menuju pada cermin besar yang tergantung di kamarnya. Ada rasa lega di mana ternyata Kemal tidak menanyakan dari mana Zifa mendapatkan nomor itu.


Yah, karena Kemal sendiri sudah sangat yakin kalau Zifa mendapatkan nomor itu dari bunda Anna, sedangkan Zifa sendiri tidak tahu kalau bunda Anna sendiri mengetahui nomor Kemal. Karena memang setiap bertemu bunda Anna beliau tidak pernah sekali pun membahas Kemal, dan Zifa juga bahkan lupa kalau ternyata Bunda Anna dan Kemal adalah teman yang baik, yang sampai saat ini komunikasi'nya masih terjalin dengan baik.


Tega? Sebenarnya Zifa sendiri tidak tega kalau harus mempermainkan dua laki-laki yang Zifa akui  mereka sangat baik dan sangat menyayanginya perhatian dengan Raja dan Ratu, tetapi gara-gara kesalahan dari satu keluarganya Zifa harus tega menggunakan mereka untuk mencapai misinya.


Ponsel Zifa bergetar dan itu menandakan ada pesan yang masuk. [Fa, aku ada bukti video CCTV sesaat sebelum ibu kamu terbunuh, sepertinya benar adanya ibu kamu di bunuh oleh mantan mertua aku.] Pesan dari Lyra, berhasil membuat nafas Zifa kembali memburu, dendamnya langsung kembali memucah.


Rasa yang tadi ia rasakan iba dan seolah tidak tega untuk memanfaatkan Kemal dan Ghava kembali hilang, kini justru ia ingin segera mewujudkan rencananya, perse-tan dengan Ghava dan Kemal, perse-tan dengan sebutan pelakor ataupun perebut tunangan orang, yang terpenting misinya cepat terselesaikan.


Kalau perlu Zifa akan hadir ditengah-tengah pernikahan Abas, di mana saat ini mantan istri Abas sendiri sedang sangat marah dan kesal dengan mantan suaminya itu yang mana saat ini kabar yang Lyra dapatkan adalah Orlin istri dari Abas sedang hamil dan setiap saat setiap waktu wanita itu pamer kemesraan  dengan suami dan mertuanya, yaitu Eira. Tidak ada salahnya bukan kalau Zifa hadir di tengah-tengah pernikahan mereka dan membantu Lyra untuk membalaskan dendamnya, sedangkan Lyra sendiri juga sudah banyak membantu Zifa.


Meskipun memang Abas tidak berteman dengan Lyra lagi, tetapi Lyra setiap saat dan setiap yang dilakukan oleh mantan suaminya dan istri barunya tahu kalau mereka sedang memamerkan kebahagiaan tujuannya untuk membuat iri Lyra, norak bukan?


Bahkan Lyra tahu kalau keluarga itu sedang menyudutkan Lyra atas pernikahanya dan Abas yang sudah berjalan sepuluh tahu, tetapi tidak jua dikaruniai seorang anak pun. Meskipun Lyra berkecil hati, tetapi wanita itu yakin kalau ia akan hamil nantinya.


Keluarga Abas pun termasuk Orlin tiba-tiba mengirinkan pertemanan pada Lyra.


"Haha... drama rupanya akan segera di mulai, setelah Lyra dihari ini mendapatkan daftar pertemanan baru yang mengirimkan pertemanan Orlin, dan mantan mertuanya serta genknya yang lain tiba-tiba ingin menjadi teman Lyra, untuk apa kalau bukan untuk ber'drama.


Namun justru Lyra merasa tertantang dengan drama apa yang akan mereka perlihatkan. "Yah paling tidak akan jauh dari anak dan anak," imbuh Lyra sembari jari jempolnya menekan tulisan follback.


"Aku akan ikuti sampai mana kalian lelah memainkan drama ini, batin Lyra tidak akan tinggal diam dengan satu kesakitan pun yang ia rasakan. Semuanya, Lyra bahkan berjanji akan membalasnya, dan ketika saat ini dia diam bukan berati dia kalah, tetapi hanya ingin melihat sejauh mana mantan suami dan keluarganya memperolok dia.


Wanita itu setidaknya sangat bersyukur, dengan kejadian itu saat ini bisa dipertemukan dengan Zifa dan keluarganya, selain mereka bisa bekerja sama saat ini juga hanya dari Zifa dan keluarganya Lyra bisa merasakan dukungan dan semangat. Sedangkan keluarganya sendiri cukup kecewa dengan Lyra dan sibuk dengan dunia masing-masing juga.


...****************...


Teman-teman sembari nungguin Zifa dan Lyra bersatu untuk membalaskan dendam.


yuk mampir ke karya besti othor..


Jangan lupa mampir yah.