
Yes... Yes... Ghava melempar ponselnya keatas kasur dan dia langsung berjingkrak bahagia. Lalu laki-laki itu menyusul melemparkan tubuh yang kekar keatas kasur yang empuk.
"Zifa... I love U" pekik Ghava. Rasanya malam ini ia benar-benar bahagia bukan kepalang.
"Sabar Ghava, sabar. Yunggu sampai dia lulus kuliah dan kamu langsung berjuang. Pokoknya singkirkan Wina dan Mamih, orang-orang itu harus aku singkirkan agar aku dan Zifa bisa bersatu," gumam Ghava. laki-laki itu sudah sangat yakin kalu dia bisa mendapatkan Zifa, entah di restui atau tidak makan Ghava akan tetap memperjuangkan Zifa.
"Galaknya itu loh, bikin pengin ngehukum ajah, coba kalau udah di hukum dengan belaian yang membuat terbang melayang masih bisa galak tidak. Tapi memang Zifa beda tidak ada yang bisa membuat aku berpaling dari Zifa hanya Zifa seorang yang bisa membuat hatiku bergetar, dan tentu bisa buat aku gila, tiap malam yang terfikir hanya Zifa. Tiap hari nungguinya hanya malam hari biar bisa beralasan telpon Zifa dengan menggunakan dua ponakanya.
Ghava terkekeh dengan kelakuanya. Dia tidak menyangka kalau dirinya bisa sebucin ini pada Zifa, gadis yang terlahir dari keluarga biasa saja, bahkan dia sudah yatim piatu, tetapi justru bisa membuat Ghava hampir gila karena wanita itu.
"Aduh kapan yah kerjaan aku di kota ini akan selesai tidak sabar ketemu sama Neng Zifa," batin Ghava. Bahkan saking seriusnya laki-laki itu sama wanita yang hampir setiap malah ia telpon. Ghava sudah mempersiapkan rumah di kota Bandung untuk mereka tinggal nanti setelah mereka benar-benar menikah. Terlihat terlalu lebai sih mungkin, tetapi itulah Ghava dan rencananya, ia ingin tinggal jauh dari orang tuanya untuk bisa hidup lebih tenang, tanpa direcokin urusan mamihnya.
******
Brakkkk.... Abas menutup pintu dengan sangat keras, ini adalah malam dia di pertemukan dengan calon istrinya dan tentunya dalam waktu satu minggu ini ia akan menikah dengan Orlin calon istrinya yang pengusaha baarang bermerek itu. Meskipun Abas menolak untuk kembali menikah dalam waktu dekat ini, tetapi ucapanya seolah tidak di dengar oleh orang tuanya, dan mereka tetap merencanakaan pernikahan untuk Abas. Pernikahan yang memang hanya dihadirin oleh sanak keluarga dan teman dekat saja.
Hal itu dilakukan ternyata Orlin adalah seorang janda juga, dan menikah hanya hitungan bulan daan cerai dengan suaminya yang sebelumnya berprofesi sebagaai aktor. Penyebab perceraianya, menurut Orlin adalah suaminya yang selingkuh dengan lawan mainya, tetapi untuk kebenaranya Abas tidak tahu dan dia tetap menikmati saja toh Orlin juga bukan wanita yang jelek, justru dari penampilanya jauh lebih menggoda dari pada mantan istrinya Lyra. Mungkin sekedar pelampiasan bisa di gunakan mengingat hasrat sek Abas yang tinggi dan menggebu-gebu.
Mungkin dengan adanya Orlin yang terlihat menggoda dia tidak akan jelalatan lagi matanya, itu pikiran Abas, sehingga dia diam saja ketika orang tuanya dan orang tua Orlin menyepakati pernikahan mereka. Kesal pasti ada, tapi setidaknya si jagoannya tidak mengamuk karena tidak diberi jatahnya.
Bukankan Abas juga menolak tidak akan ada gunanya sehingga dia akan menerima, lagian hasratnya ketika melihat Tubuh Orlin langsung bergairah. Laki-laki memang tidak bisa menahan syahwatnya, baru saja cerai dari Lyra satu minggu, tetapi dia sudah tidak kuat untuk terlalu lama sendiri.
"Hahah,,, padahal aku rencanaanya ingin menenangkan diri dulu dari perceraian dengan Lyra, tetapi rasanya tidak bisa, godaan terlalu besar," lirih Abas, dalam otaknya masih terlintas dengan jelas tubuh Orlin yang sintal, seperti Zara waktu itu dan juga buah dada yang sangat menggoda dengan pakaian yang minim.
Sangat normal laki-laki seperti Abas memimpikan memiliki wanita yang bisa mengimbanginya untuk urusan kasur. Setidaknya lepas dari Lyra yang juga hasratnya tinggi dia akan mendapatkan yang seimbang lagi. Terlebih Orlin dalam bentuk tubuhnya lebih berisi, apabila Lyra pas tidak kurang tidak lebih, bahkan dua asetnya pun terlihat setandar tidak terlalu besar sesuai dengan betuk tubuhnya, tetapi Orlin calon istrinya kali ini lebih bisa memuaskan, aset yang lebih menjulang dan menantang.
Dalam pikiran Abas ia kembali mengingat penyatuanya dengan Zara yang mana gadis itu hanya diam saja sembari menge-mut permen dan tidak bisa berontak apa-apa. "Sekarang gadis itu di mana yah? Apa dia masih sama seperti yang dulu yang bisa mengimbangi permainan aku, apa nanti kalau aku bertemu dengan dia lagi masih bisa menikmati seperti dulu," gumam Abas, otaknya jadi berkelana ke masa itu.
Ini adalah sifat Abas sesungguhnya, karena tekanan dari orang tuanya yang menekan ini dan itu, dalam hidupnya diatur ini dan itu sehingga dia dalam alam bawah sadarnya berimajinasi yang aneh-aneh. Namun dia masih ada rasa takut sehingga laki-laki itu hanya bisa diam dan melakukan semuanya secara sembunyi-sembunyi.
Labil mungkin itu yang cocok di sematkan pada Abas. Seperti orang yang memiliki dua kepribadian. Kadang sketika moodnya buruk dia akan menjadi orang paling sedih dan ketika dia mendapatkan kabar bahagia kesedihanyaa lagungsung pergi menguai entah kemana. Bahkan sudah tidak ingat lagi dengan kesedihan di hari kemarin.
Satu minggu sudah berlalu dan hari yang di tunggu-tunggu pun tiba hari ini adalah hari pernikahan Abas, dan Orlin meskipun Lyra sudah tidak saling berkomunikasi bahkan Lyra sudah memblok semua kontak yang berhubungan dengan mantan suami, tetapi bukan berarti wanita itu tidak tahu apa yang terjadi dengan mantan suaminya.
"Lyra, ini bukanya Abas suami kamu, kok dia nikah lagi dengan Orlin sang wanita branded." Itu salah satu chat dari temanya yang mengadu kalau dia melihat Abas menikah dengan Orlin, meskipun Lyra tidak tahu dengan dekat siapa Orlin tetapi sebagai wanita yang memang bergaul dan sering mengenakan barang-barang berended tentu Lyra tahu siapa Orlin.
Wajar mereka menanyakan seperti itu, hal itu karena mereka belum tahu kalau Lyra dan Abas memang bercerai, Lyra belum mengumumkan perceraianya, tetapi berhubung sedang ramai Lyra pun akhirnya membuka perceraianya dengan Abas yang baru berlangsung satu minggu dan Abas sudah menikah lagi, semakin benci ajah dong Lyra pada keluarga mantan suaminya itu. Muak, Lyra setiap membuka pesan yang berisi kiriman gambar Abas dengan istri barunya.
"Memang namanya laki-laki semuanya sama, gatel kalau tidak nyelup sehari saja," gerutu Lyra, bohong banget kalau Lyra tidak panas dengan Abas yang menikah secepat ini.
"Kemarin saja di pengadilan penampilanya kayak orang gila, tapi baru seminggu langsung ada pengganti, memang ektingnya laki-laki ini juara sekali, aku jadi semakin yakin kalau dia bisa saja memperkosa Zara, atau jangan-jangan dia selama ini juga sering main dengan sekretarisnya. Lyra jadi ingat pertengkaranya di kantor Abas, yang dia di tolok ingin di layani oleh suaminya.
Lyra tertawa, membayangkan ke bodohanya, "Sepertinya dia bukan sedang tidak mood sa'at itu, tetapi sudah puas bermain dengan sekretarisnya," tebak Lyra memang ketika ia sedang membenci fakta atau bukan akan ada pikiran yang buruk untuk Abas.
"Gi-la yaah ini Abas baru cerai dari loe satu minggu udah langsung nikah lagi ajah."
"Ini sih Abas sudah selinggkuh dari kamu, makanya baru satu minggu menikah udah langsung kawin lagi."
"Ketahuan kan yang setia siapa yang tukang selingkuh siapa."
Itu segelintir dari komen teman-teman Lyra yang gemas dengan Abas yang dinilai terlalu cepat untuk mencari pengganti Lyra, satu minggu udah nikah lagi, memang Abas itu luar biasa. Lyra tertawa membaca komen teman-temanya yang saling memojokan Ghava.
"Tanpa aku bikin caption panjang kali lebar orang-orang juga bisa tahu, siapa korban dan siapa pendosa," lirih Lyra. Foto yang di kirimkan teman-temanya sebagai bukti pernikahan mantan suaminya, Lyra hapus semua, malas banget liat wajah orang yang menorehkan luka begitu dalam dalam batinya.
"Tidak apa kalian bahagia sa'at ini, tapi setelah ini mungkin kalian akan saling serang. Zifa aku akan selalu ada dibelakang kamu buat hancurkan semuanya." Lyra kini mencari bukti-bukti dari rumah mantan mertuanya, semut ia lakukan bukan hanya sekedar membantu Zifa, tapi ada dendam tersendiri dan ia akan membalasnya dengan memanfaatkan kasus keluarga Zifa.