KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 98


“Zahra…” panggil Adit. Dua manusia yang baru saja memulai hubungan itu, menutup kesibukan hari ini dengan makan malam.


“Hem?”


“Besok, apa kau libur?”


“Besok?” Zahra terlihat sedang mengingat. “Besok aku harus masuk. Ada salah satu dokter yang sedang cuti, jadi aku yang kebagian untuk menggantikannya. Kenapa?”


“Tadinya aku ingin mengajakmu pergi untuk menemui seseorang,” ucap Adit.


“Seseorang? Siapa?”


“Mamaku.”


“Mama? Mak.. maksud Kak Adit, tante Yuli?” Zahra meletakkan alat makan yang sedang dia genggam.


“Iya. Aku ingin membawamu untuk menemui mamaku dan perkenalkanmu sebagai calon istriku.”


Deg!


“Apa… apa ini tidak terlalu cepat Kak?”


“Apanya yang terlalu cepat? Bahkan kalau bisa, aku ingin menikahimu besok.”


*Blush*


Sejak Serena menikah dengan Joni, Adit memang sudah berjanji untuk membuka hati sepenuhnya untuk Zahra. Pemuda itu sudah bisa menerima kenyataan kalau cinta pertamanya dimiliki oleh laki-laki lain.


Kehadiran Zahra, bukan untuk pelampiasan.


Hubungan dengan Zahra, juga bukan sebagai alat untuk balas dendam.


Adit menjalin hubungan dengan Zahra secara serius. Mungkin akan ada yang meragukan, tapi itu adalah sebuah kenyataan.


Cinta datang tanpa mengenal waktu.


Saat melihat Zahra, Adit menemukan rasa yang pernah dia rasakan pada Serena. Meskipun tidak sama, tapi Adit yakin, kalau apa yang dirasakannya bisa menjadi lebih besar dari pada perasaan yang dia miliki untuk Serena. Asal dia mau merawat dan memeliharanya dengan baik.


Kini hatinya semakin mantap. Mantap untuk menjawab, jika ada yang bertanya tentang siapa yang akan dipilih untuk menjadi teman hidup yang dia inginkan.


Zahralah orangnya.


Walaupun gadis itu adalah saudara kandung dari cinta pertamanya, walaupun gadis itu bukanlah pilihan pertama yang dulu dia inginkan, tapi Adit akan menjadikan gadis itu sebagai satu-satunya wanita, yang akan dia limpahi banyak cinta. Berjanji akan memberikan banyak kasih sayang lebih dari apa yang dia dapat dari Zahra.


“Tapi sayangnya, Zahra tidak bisa ikut. Apa Kak Adit marah?”


Adit tersenyum melihat wajah Zahra yang dengan penuh rasa bersalah. “Tidak apa-apa, masih banyak lain waktu. Persiapkan saja dirimu, karena Kak Adit akan membawa mama pulang.”


“Apa tante Yuli sudah sembuh?”


“Entahlah. Selama mama dirawat disana, Kak Adit belum sekalipun bisa menemuinya. Tapi ini sudah lewat dari satu bulan, dan Kak Adit berharap kalau mama sudah benar-benar sembuh.”


“Semoga saja itu benar.”


---------------------------------------------


Hari berikutnya.


Joni mengangkat tubuh Sekar dan memindahkannya ke pangkuan. Memeluk dan mengelus lembut punggung sang putri yang bergerak naik turun.


“Kenapa menangis sayang, hem? Mama sama papa ngga marah sama Sekar kok.” Serena mencoba menenangkan putrinya.


“Hiks hiks”


“Udah ya?” rayu Joni pada Sekar yang masih membisu.


“Sekar mau tidur sama mama. Hiks hiks… Sekar harus… harus jagain adek.”


“Adek? Adek siapa?!” tanya Zahra bingung dan marah.


Sekar turun dari pangkuan Joni dan berbalik pada Serena. Mengulurkan tangan dan mengelus lembut perut rata Serena dengan penuh kasih sayang.


“Adek kecil.”


Sontak ucapan dan tingkah laku Sekar mengejutkan semua orang. Maya membekap mulutnya setelah mengerti dengan arti kata-kata Sekar, sementara Zahra menjatuhkan garpu berisi roti selai yang hampir masuk ke mulutnya. Bunyi nyaring yang timbul akibat beradunya alat makan Zahra dan piring membuat suasana menjadi semakin tegang. Dia berlari dan masuk ke dalam kamarnya. Membuka laci nakas dan mengambil benda kecil dari dalam sana.


“Sayang… apa kau hamil?” tanya Joni pada Serena yang langsung menggeleng.


“Tidak!”


“Lalu apa maksud omongan Sekar?”


“Aku juga ngga tahu mas. Mungkin dia hanya sedang bercanda.”


“Apa kau yakin Rena?” tanya Maya yang juga meragukan jawaban anaknya.


“Yakin bu. Rena yakin, kalau Rena tuh ngga lagi hamil. Pagi tadi Rena malah baru dapet tamu kok bu.”


“Buat apa Zahra? Mbak ngga hamil! Mbak lagi datang bulan! Kenapa pada ngga percaya sih!?”


“Hiks hiks mama… jangan marah, nanti adeknya sakit hiks hiks,” ucap Sekar yang tidak mau melepaskan pelukannya, atau lebih tepatnya memeluk perut Serena.


“Tidak ada salahnya dicoba dulu sayang…” bujuk Joni pelan.


“Ck baiklah. Rena akan mencobanya. Tapi jangan berharap terlalu banyak, dan jangan memasang wajah kecewa kalau hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kalian.”


“Iyaaaa…” jawa semua orang yang ada di meja makan, bersamaan.


Dengan langkah malas, Serena menyeret kakinya menuju kamar mandi. Mulutnya terus saja mengeluh dan menggerutu. Hatinya sedikit merasakan kesal pada Sekar. Karena gara-gara gadis kecil itu, dia harus melakukan tes dini kehamilan yang menurutnya hasilnya sudah jelas.


Setelah mengunci pintu kamar mandi, Serena pun langsung membuka celananya.


“Kok bersih?” itulah yang dia ucapkan ketika melihat pembalutnya masih berwarna putih tanpa noda.


“Padahal tadi pagi udah ngeflek.”


Tanpa membuang waktu, Serena pun mulai berjongkok untuk menampung air seni yang dia keluarkan. Mulai memasukkan benda pipih kecil yang diberikan Zahra padanya, dan mencelupkan sebagian benda itu pada urin dalam wadah.


Ternyata untuk bisa melihat hasilnya, Serena harus menunggu selama beberapa menit.


“Tentu aku adalah orang yang paling berbahagia kalau ini benar terjadi, tapi aku juga akan menjadi orang yang paling merasakan rasa kecewa kalau ini hanyalah… hanyalah… ahh entahlah.”


Serena menarik-narik rambutnya frustasi. Kakinya tidak berhenti berjalan bolak balik dengan sesekali melirik pada benda yang belum memperlihatkan hasil.


Perlahan-lahan, Serena mendekat. Tangannya saling bertaut dengan detak jantung yang semakin kencang. Namun tubuhnya tiba-tiba berjingkat kaget, ketika mendengar suara ketukan dari luar pintu.


Tok tok tok


“Mbak! Gimana hasilnya?!” teriak Zahra dari luar.


“Ya ampun tuh anak! Ngga sabaran banget sih!” gerutu Serena lagi. “Tunggu sebentar!” teriak Serena, berharap dengan begitu adiknya tidak lagi menganggu.


Mata Serena mengerjap berkali-kali. Satu garis tebal berwarna merah kebiruan telah terpampang jelas disana. Serena bahkan masih tidak yakin dengan penglihatannya, ketika dia juga melihat ada satu garis lagi yang tergambar persis di sampingnya garis pertama. Walaupun terlihat samar, tapi itu benar-benar ada.


Serena merasakan nafasnya menjadi lebih pendek. Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa ingin meledak. Ujung bibirnya mulai bergerak naik, melengkung membentuk sebuah senyuman.


Tok tok tok


“Sayang… kau masih di dalam kan? Apa kau baik-baik saja?” itu suara Joni, suami tercintanya.


“I… iya!” jawab Serena.


Ceklek


Serena membuka pintu kamar mandi. Wajahnya berseri penuh kegembiraan, dan itu menjadi jawaban atas sikap manja Sekar selama seminggu ini. Ucapan anak kecil itu benar. Sikap ingin melindunginya muncul sebelum ada satu pun orang yang tahu kalau benih cinta telah tumbuh dalam rahim Serena.


Joni ikut tersenyum dan langsung memeluk tubuh istrinya.


“Ayo kita pergi ke dokter,” bisiknya.


Joni bisa merasakan anggukan Serena dalam pelukannya. Dan dengan tubuh pendeknya, Sekar hanya bisa memeluk kaki kedua orang tuanya yang sedang larut dalam kebahagaiaan.


“Selamat ya bu,” ucap Zahra pada Maya.


“Selamat juga untukmu sayang. Keponakanmu akan segera bertambah, ibu harap kamu jangan bersikap seperti tadi lagi pada Sekar.”


“Iya bu. Zahra minta maaf.”


“Jangan minta maaf sama ibu, tapi minta maaflah sama Sekar.”


.


.


.


***


Apa ada yang kangen Si_Ro?


Bukan bermaksud mengingkari janji untuk bisa up setiap hari, tapi keadaanya memang tidak mendukung.


Tetangga Si_Ro ada yang positif terkena virus covid 19, dan itu benar-benar bikin panik. semua warga langsung melakukan penyemprotan lingkungan, dan sebentar lagi akan ada rapid test untuk semua warga yang bertetangga dengan warga yang positif tadi. Dan Si_Ro menjadi salah satunya.


Si_Ro langsung ngga punya semangat buat nulis. 4 hari ga mau pegang laptop, tapi masih sesekali periksa hp. Si_Ro juga belum punya waktu untuk membaca komen-komen dari para reader.


Maaf.


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.