KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 80


Serena tidak bisa memakan sarapannya dengan baik. Matanya terus mengawasi Sherly yang sedang mengobrol dengan Joni.


“Kenapa cuma diliatin? Makanannya ngga enak ya mbak?” tanya Zahra yang melihat Serena hanya mengaduk ngaduk makanan tanpa berniat untuk menghabiskannya.


“Ngga selera makan gue,” Serena menjawab dengan malas, lalu meletakkan sendoknya kembali.


Walau perutnya sedikit terasa perih, tapi Serena tetap tidak punya niat untuk melanjutkan sarapan. Jika dibandingkan dengan perut, Serena lebih mengkhawatirkan hatinya. Melihat Sherly yang begitu bahagia bisa berbincang dengan Joni, membuat Serena kehilangan nafsu makan.


“Ngga usah takut, Bang Jon laki-laki setia kok mbak,” goda Zahra.


“Apaan sih lo,” Serena menatap tajam pada sang adik.


Ting


Terdengar bunyi notifikasi pesan dari handphone milik Serena. Kerutan di dahi terlihat jelas saat Serena membaca pesan yang masuk. Enggan rasanya Serena meninggalkan Joni, apalagi ada Sherly di ruangan itu. Tapi dia tetap melangkah keluar dari kamar perawatan Joni dengan malas, setelah memberikan isyarat pada Joni kalau dia akan pergi sebentar.


-


“Ada apa?” tanya Serena.


“Apa kau baik-baik saja?”


“Iya, aku baik.”


“Aku datang kesini untuk meminta maaf atas kelakuan mama padamu Serena. Aku tidak menyangka, kalau mama akan melakukan hal nekat seperti itu.”


“Tidak apa-apa Dit, ini bukan salah kamu. Aku tidak menyangka, kalau mama kamu segitu terobsesinya ingin menjadikanku sebagai menantunya.”


“Maaf…”


“Kan tadi aku udah bilang, ini bukan salah kamu.”


“Tapi tetap saja, kamu harus mengalami hari buruk yang disebabkan oleh mamaku. Bahkan dia hampir aja berhasil mengikatmu melalui pernikahan denganku. Aku sudah berusaha untuk memberinya pengertian, tapi tidak berhasil. Aku benar-benar menyesal Serena.”


Adit tertunduk. Dia sama sekali tidak berani melihat Serena yang sedang memberinya senyuman tipis. Dari rumah dia sudah bersiap untuk mendengar cacian dan makian dari Serena, karena peristiwa kemarin. Namun nyatanya, Serena tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun padanya, dan itu malah membuat hatinya terasa sakit.


“Kenapa kau sama sekali tidak marah Serena?”


“Karena aku masih menganggapmu sebagai temanku Dit. Aku juga tahu, kalau kamu tidak terlibat dengan semua yang telah terjadi. Kamu tidak bertangguang jawab dengan penculikan dan penyekapan yang di lakukan sama mama Yuli. Apalagi kemarin aku melihat sendiri, bagaimana kamu berusaha untuk menolongku. Jadi berhentilah untuk meminta maafku.”


“Apa aku boleh melihat keadaan sopirmu?”


“Boleh, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Di dalam sedang ada orang lain yang sedang menjenguk Joni. Dan itu seorang perempuan.”


Adit bisa menangkap nada tidak senang di akhir kalimat Serena. Gadis itu memperlihatkan ketidak sukaannya tanpa di sadari.


“Apa kau sangat menyayangi sopirmu itu?” selidik Adit.


“Iya. Aku sangat menyayanginya. Dia kehilangan banyak darah karena menyelamatkanku, oprasi yang dijalaninya juga sangat lama, dan aku hampir gila menungguinya sampai dia sadar kemarin.” Serena memberi jeda pada ucapannya “dua kali dia tertembak karena melindungiku, dan itu semakin membuatku semakin menyayanginya.”


Serena memejamkan mata sesaat dan menggeleng. Dia kembali teringat hari kemarin. Hari dimana dia melihat darah Joni yang berceceran dimana-mana. Dia bahkan harus mengganti jok mobilnya yang ternodai darah laki-laki itu.


“Mbak Rena…”


Adit dan Serena sama-sama menengok ke arah Zahra yang berjalan mendekati keduanya.


“Hallo Kak Adit,” sapa Zahra, dan Adit membalasnya dengan senyuman.


“Kenapa?” tanya Serena.


“Jam kerjaku sebentar lagi akan di mulai,” ucap Zahra sambil mengangkat pergelangan tangannya untuk menunjukkan waktu.


“Tapi Bang Jon sendirian di ruangannya,” sambungnya.


“Cih… apa perempuan itu sudah pergi?” tanya Serena memperlihatkan rasa jijik.


“Sudah. Meskipun dengan cara halus, tapi sepertinya Bang Jon yang mengusirnya untuk segera pergi.”


“Salah sendiri, datang bukan di jam besuk. Ck siapa sih yang punya rumah sakit ini? Kenapa ada pengunjung yang bisa seenaknya datang untuk menganggu pasien?” gerutu Serena sambil lalu, meninggalkan Adit dan Zahra berdua.


“Kamu terlihat berbeda memakai seragam dokter itu, Zahra,” kata Adit jujur.


“Iya. Kau sangat pantas mengenakan seragam itu. Terakhir kita kita ketemu kamu masih seorang mahasiswa, dan sekarang kamu sudah menjadi dokter, seperti cita-citamu dari dulu. Kamu terlihat semakin cantik.”


“Iih… jadi yang cantik seragamnya aja nih, Zahranya engga?” protes Zahra.


Adit menjadi tidak enak karena merasa salah bicara. Dia kemudian menggaruk tengkuknya dengan tingkah yang serba salah.


“Ha haa… muka Kak Adit lucu,” tawa Zahra pecah melihat Adit yang kebingungan.


“Zahra cuma becanda Kak Adit, jangan terlalu di pikirkan. Ini pertama kalinya ada yang memuji, kalau Zahra cocok memakai seragam dokter.”


“Benarkah? Apa pacarmu juga tidak memberimu pujian?” tanya Adit.


“Pacar? Pacar siapa? Zahra ngga punya pacar,” jawab Zahra.


“Benarkah?” Adit terlihat kaget.


“Tapi baguslah kalau kau belum punya pacar. Kau memang harus memasang standar tinggi untuk para calon pacarmu. Kalau boleh tahu, seperti apa kriteria yang kau inginkan ? Mungkin Kak Adit bisa membantu mencarikan kandidatnya,” tawar Adit pada Zahra.


“Zahra ngga punya kriteria khusus yang susah. Zahra cuma pengen laki-laki yang baik, sopan, mau menyayangi semua keluarga Zahra, tidak uka selingkuh, tidak genit, mengerti kesibukan Zahra sebagai dokter yang kadang tidak bisa libur di akhir minggu untuk kencan, terus…”


Zahra menghentikan ocehannya saat Adit tidak memberinya tanggapan apapun.


“Kenapa kak?” tanya Zahra bingung.


“Kamu bilang tidak punya kriteria khusus, tapi…”


“Tapi apa?”


“Daftar syaratnya panjang banget. Kak Adit khawatir tidak bisa membantumu untuk mencarinya,” jawab Adit dengan mengelengkan kepalanya.


“Kalau gitu, Zahra sama Kak Adit aja…”


-------------------------------------------


Joni berulang kali menyuruh Serena untuk pulang ke rumah atau apartemen, tadi gadis itu terus saja tidak patuh. Selalu ada saja alasan yang di gunakan oleh Serena untuk menolak keinginan Joni.


“Ada apa ini?” tanya Juan. Dia baru bisa datang ke rumah sakit pada malam hari, karena sejak pagi hingga sore tadi dia mengurus semua prosedur untuk mengubah surat kepemilikan club milik Juan asli.


Tubuh yang di gunakan oleh Juan tidak bisa terlalu lama digunakan, dia harus segera mencari pengganti dan pindah. Sebelum terlambat, dia memanfaatkan tubuh Juan untuk hal yang mungkin akan bermasalah jika tidak di urus secepatnya.


“Antarkan dia pulang,” perintah Joni pada Juan, sambil menunjuk Serena yang memalingkan wajah tanda penolakan.


“Aku tidak mau! Aku bisa tidur di sofa, dan tidak akan mengganggumu. Biarkan aku di sini ya?”


“Bukan itu masalahnya Rena,” ucap Joni yang mulai lelah membujuk gadis itu.


“Lalu apa masalahnya? Aku akan diam tanpa suara, aku janji tidak akan berisik. Jadi izinkan aku tetap di sini,” Zahra tetap tidak mau menuruti keinginan Joni.


“Kalau kau tetap di sini, itu akan sangat berbahaya Rena. Dalam keadaanku sekarang, akan sulit untuk melindungimu. Pulanglah…”


“Bahaya! Bahaya apa lagi?” tanya Serena penuh kekhawatiran.


Juan tidak lagi memperhatikan dua orang yang ada di hadapannya itu berdebat. Dia mulai berkeliling di dalam ruangan kamar perawatan Joni.


Juan beradu pandang dengan Joni. Keduanya mengerti dengan keinginan Serena, tapi juga tidak ingin membawa gadis itu dalam pertarungan selanjutnya yang sebentar lagi akan di mulai.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.