KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 110


“Selamat pagi,” sapa Farrel. Laki-laki itu membawa nampan berisi sarapan untuk dirinya juga Sherly.


Cup


Kecupan ringan di bibir menjadi makanan pembuka untuk Farrel. Dia akan mencium Sherly sesuka hati sebagai pengganti biaya sewa selama Sherly tinggal bersamanya. Tapi hanya itu saja, tidak lebih.


Keduanya sepakat untuk tidak melewasi batas sebelum mereka bisa memastikan perasaan masing-masing. Memang terdengar lucu untuk orang yang sama-sama kenal dunia liar seperti mereka. Namun nyatanya, sampai detik ini mereka bisa melakukannya dengan baik.


“Hmm… pagi,” saut Sherly. Gadis itu menggeliat untuk merenggangkan otot yang kaku. Berada dalam pelukan Farrel semalaman ampuh membuatnya tertidur nyenyak. Selama ini, Sherly memiliki gangguan tidur dan sering meminum obat yang bisa membantunya terlelap. Tapi sejak dia memutuskan tinggal di apartemen Farrel, dia tidak lagi membutuhkan obat seperti itu untuk tidur.


“Nanti sore atau malam temani aku berbelanja. Kulkasku hampir kosong dan perlu diisi ulang,” ajak Farrel.


“Ok.”


Sarapan berdua di atas ranjang dengan suasana tenang, terkadang saling menyuap dan tertawa.


“Apa kesibukanmu hari ini? Kalau kau punya kegiatan di luar, aku sendiri yang akan mengantarmu,” tanya Farrel.


“Mmm… hanya perlu ke kantor agensi untuk membicarakan kontrak iklan. Kau sendiri?”


“Seperti biasa. Pergi ke kantor, rapat dan tanda tangan. Aku akan menjemputmu, kalau sudah selesai. Tetap di kantor agensimu selama aku belum datang,” perintah Farrel.


“Siap bos,” jawab Sherly sambil melakukan gerakan hormat seperti saat upacara bendera.


“Pintar,” Farrel mengacak rambut di puncak kepala Sherly.


-


Farrel mengantar Sherly sampai depan gedung bertingkat, tempat agensi yang berada di lantai 10, di pusat kota. Agensi yang menaungi banyak model terkenal, salah satunya adalah sang kekasih yang duduk manis di sampingnya.


“Apa?” tanya Sherly bingung. Farrel mencekal tangan dan mencegahnya keluar dari mobil padahal mereka sudah sampai di tempat yang dituju.


“Kau tidak merasa melupakan sesuatu?”


“Lupa apa?”


“Ck! Apa aku harus terus mengajarimu?” keluh Farrel. “Sepertinya hanya aku yang menginginkan hubungan ini,” tambahnya.


Cup


“Ini yang kau inginkan?” tanya Sherly menahan senyum setelah mengecup bibir Farrel. Seketika wajah pria itu pun sumringah karena telah mendapatkan yang dia tunggu.


“Kau harus lebih sering melakukannya. Jangan menunggu aku meminta,” pinta Farrel sambil mencium punggung tangan Sherly.


“Aku tahu, tapi sekarang aku harus turun.”


“Silahkan sayang,” Farrel membukakan pintu penumpang untuk sang kekasih. “Dan tunggu disini sampai aku menjemputmu.”


“Kenapa kau jadi cerewet sekali sih!”


“Harus, kalau untukmu. Karena aku tidak mau kau terluka, apa kau mengerti?”


“Baiklah baiklah Tuan Farrel yang terhormat. Sekarang silahkan pergi ke kantor dan selesaikan pekerjaanmu, segera. Kalau kau sampai terlambat datang, mungkin aku akan diculik pria lain.”


“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Masuklah! Aku akan pergi setelah kau masuk ke dalam.”


Sherly segera melangkahkan kaki meninggalkan Farrel. Berbalik sekali dan melempar senyuman termanis agar kekasihnya itu merasa tenang.


“Wow wow wow… aku tidak menyangka kalau hubungan kalian sudah sejauh ini,” muncul seorang perempuan dari balik tembok dan menyindir, dia adalah Sarah.


“Ka-kau….” suara Sherly terbata.


“Iya, ini aku. Apa kau kaget? Kita masih satu agensi, apa kau lupa?”


Beberapa hari menghindar dari jangkauan Sarah, ternyata mereka malah bertemu di tempat agensi. Sherly menengok ke belakang, berharap Farrel masih berada di luar sana untuk menyelamatkannya dari situasi berbahaya sekarang ini.


“Apa yang kau mencari Farrel? Cih! Sangat tidak tahu malu.”


Sherly memundurkan langkah seiring langkah maju dari Sarah. Jantungnya berdebar sangat cepat dan tubuhnya ikut gemetar. Dia tahu kalau saat ini Sarah sudah berubah menjadi orang yang sangat berbahaya, lebih jahat daripada ketika mereka masih berteman, dulu.


----------------------------------------------


Selepas magrib, Serena masih duduk di sofa depan tv bersama Sekar. Mereka berdua sedang menunggu Joni yang belum pulang dari kafe miliknya. Saat ini Maya dan Bi Sari berada di salah satu rumah tetangga yang besoknya akan mengadakan acara pernikahan. Semenjak Maya meminum obat yang diberikan oleh Adit, dia menjadi jarang sakit. Obat yang sengaja ditinggalkan Yuli untuk mengobati penyakit Maya sebelum wanita itu pergi ke rumah Ni Maryam bersama Ki Jarot.


“Kenapa sayang?” tanya Serena pada Sekar. Layar tv yang cukup besar masih menayangkan acara kesukaan sang anak, tapi putrinya itu tiba-tiba berjalan mendekati kaca jendela depan dan terlihat berbincang.


“Itu mah, di depan ada temen Sekar.”


Sekar menunjuk teman yang dia maksud dan kembali menatap ke luar rumah. Serena bangkit dari kursi dan mendekati Sekar. Dia ikut menatap ke luar jendela tapi tidak mendapati apa-apa.


“Temen? Temen yang mana, nak? Terus sekarang dia ada dimana?” Serena masih celingak celinguk mencari ke arah yang ditunjuk Sekar.


“Kecil dan botak?” Serena mengulangi kata-kata Sekar.


“Iya. Mama kenal?”


“Ngga. Tapi dari tadi kok mama ngga bisa liat temen kamu itu sayang?” tanya Serena yang mulai merinding.


“Yah, dia udah pergi.”


“Pergi? Pergi kemana?”


“Kerja.”


“Kerja apa? Anak kecil bisa kerja apa? Ini juga udah malem, nak.”


“Memang dia kerjanya malem mah. Terus nanti pas pulang kerja, dia bawa banyak duit. Sekar juga pernah di kasih, tapi Sekar ngga mau.”


Bulu kuduk Serena tambah meremang mendengar penjelasan Sekar. Dia mulai menduga-duga siapa teman yang dimaksud oleh anaknya. Teman kecil yang bekerja dimalam hari dan membawa banyak uang, bukanlah hal yang wajar. Ditambah lagi dengan bentuk yang tak terlihat oleh matanya.


“Apa Sekar sering ketemu sama anak itu?”


Sekar mengetuk kening dengan telunjuk sambil mengarahkan bola matanya ke atas, dia terlihat sedang mengingat sesuatu.


Lalu telunjuk tangan kanan Sekar mulai menyentuh lima jari tangan kiri, dan mulai menghitung.


“Satu dua tiga,” hitung Sekar.


Serena terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh anaknya. Perasaan khawatir mulai menyeruak dan menghantui hatinya. Kelebihan yang Sekar miliki memang bermanfaat, tapi terkadang juga membuatnya merasa takut.


“Tiga mah, tiga kali.”


“Sekar pernah ketemu sama dia sebanyak tiga kali, begitu maksudnya?” tanya Serena memastikan.


Anggukan Sekar menambah kecepatan detak jantung Serena. Dia mulai berpikir, kenapa hidupnya selalu saja berhubungan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata, layaknya saat ini.


Tin tin


Suara klakson dari mobil yang masuk ke halaman rumah mengangetkan Serena. Saat dia ingin mengajak Sekar untuk menyambut kedatangan sang suami, ternyata anak itu sudah lebih dulu berlari keluar.


“Papa…”


Satu kebiasaaan Joni ketika bertemu dengan Sekar adalah, mengangkatnya ke udara dan mengayunkannya sebentar sebelum mendekapnya dalam pelukan.


“Hari ini, anak papa yang cantik nakal ngga?”


“Ngga papa, Sekar ngga nakal. Sekar jagain mama,” jawab Sekar yang menggelayut di leher Joni.


“Mama mana?” jika biasanya Serenalah yang berdiri di depan pintu saat dia pulang, tapi kali ini Joni belum melihat istri tercinta yang dia rindukan.


“Itu mama,” tunjuk Sekar yang melihat Serena keluar dari balik pintu.


Setelah mencium punggung tangan Joni dan juga mendapat ciuman di pipi, Serena membisikkan sesuatu di telinga suaminya.


“Ada yang ingin aku bicarakan.”


Joni mengangguk. Dia mengerti kalau Serena sedang menahan diri agar Sekar tidak mendengar pembicaraan yang sepertinya akan sangat serius.


“Aku mandi dulu. Kau sudah makan?” tanya Joni. Laki-laki itu menggenggam tangan Serena dan masuk ke dalam rumah bersama.


“Aku nunggu mas pulang.”


“Ibu sama bi Sari kemana?” tanya Joni yang merasa rumahnya terasa sepi.


“Ibu sama bi Sari lagi bantu-bantu di rumah tetangga yang besok mau hajatan.”


“Ooh….”


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.