
"Gue mau ke rumah Adit hiks hiks… anterin gue kesana sekarang Jon, gue kangen banget sama dia hiks hiks” Serena memohon pada Joni yang masih memegangi tangannya tanpa ada niat untuk melepaskan.
Serena menangis tersedu sedu sambil terus menggoyang goyangkan lengan Joni, memohon pada laki laki itu untuk melepaskan pegangan tangannya dan mengantarkannya ke rumah pria yang sekarang begitu dia rindukan.
Joni terus menatap mata Serena, ada cahaya aneh yang mengusik hati dan pikirannya. Baru tadi pagi gadis ini bilang kalau tidak punya perasaan apapun pada Adit, tapi nyatanya sekarang, Serena malah menangis dengan begitu sedih seolah telah dipisah paksa dari kekasihnya
.
“Siapa itu Adit hem…?” dengan tenang Joni bertanya, merasa perlu untuk memastikan penyebab tingkah laku Serena saat ini.
“Dia pacar Rena Bang Jon…hiks hiks”
“Sejak kapan mbak pacaran sama Adit?”
Serena menggelengkan kepalanya “Ngga tahu hiks hiks…tapi Rena kangen sama Adit Bang Jon hiks ayo anterin ke rumahnya uwa….aaa”
Untuk saat ini, Serena bertingkah seperti anak kecil yang sedang ngambek karena keinginannya tidak dipenuhi, dia duduk dilantai dengan kaki yang digerak gerakkan sembarang.
“Ayo Bang Jon…..anterin Rena” Serena kembali merengek.
Ibu Serena menghampiri sang putri, di belainya rambut halus itu dengan penuh kasih sayang “Maksud kamu Adit anaknya Bu Yuli?” Tanyanya pada Serena, dan gadis itu mengangguk “Tapi ini kan udah malam sayang…gimana kalau besok aja?”
“Ngga mau, maunya sekarang bu hiks hiks… Rena pengen ketemu Adit bu uwa….aaa hiks”
“Mbak Rena makan dulu ya, bibi udah bawa banyak makanan enak loh” Bi Sari ikut merayu Serena yang tangannya masih di pegangi oleh Joni.
‘Ngga mau, tadi Rena udah makan. Sekarang Rena maunya ketemu Adit hiks hiks Bang Joooooon….ayooooo….anterin Rena”
Joni mulai mengendorkan dan akhirnya melepaskan pegangan tangannya, perlahan dia meraih bahu Serena dan membantunya untuk berdiri. Gadis itu masih menunduk dengan uraian air mata yang masih menderas, dia tidak menolak saat Joni membawanya ke sofa serta mendudukkannya disana.
“Saya akan antar mbak ke rumah Adit” sontak Serena menengadahkan kepalanya pada Joni, mencari kebenaran dari ucapan yang baru saja di dengarnya, lalu tersenyum saat Joni manganggukkan kepalanya, tanda keseriusan.
“Tapi mbak ke kamar mandi dulu ya” senyum Serena memudar disertai dengan munculnya kerutan kulit mulus dikeningnya.
“Mbak harus cuci muka dulu, liat tuh ingusnya kemana mana, jorok ih. Emang mbak mau kelihatan jelek di depan Adit?” Joni memerintah dengan penuh kehati hatian, berharap Serena mau menerima penawarannya tanpa curiga.
Serena menggelengkan kepala, dan dengan semangat bangkit dari kursi untuk membersihkan diri sebelum Joni membawanya menemui pria yang sangat dia rindukan.
Begitu Serena masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, Joni bergegas mendekati Zahra di ranjang perawatannya.
“Ada kejadian apa hari ini Zahra? Kenapa Rena bertingkah aneh?” Tanyanya dengan penuh selidik.
“Kejadian? Kejadian apa? Kayaknya ngga ada apa apa Bang Jon” jawab Zahra bingung, tapi dahinya langsung mengkerut saat ingatan tentang semua kejadian sebelum Joni datang.
“Sebenarnya….emm sebenarnya tadi….tadi Kak Adit kesini Bang Jon”
“Adit?” Joni kaget dan langsung memotong ucapan Zahra.
“Iya, dia bawain Zahra buah” Zahra mengarahkan dagunya untuk menunjuk parcel buah yang berada di nakas ”Dan…dan juga makan malam buat Mbak Rena” ucap Zahra pelan.
“Makan malam buat Mbak Rena?!” Joni tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Iya Bang Jon”
“Terus Rena makan itu?” kali ini ibu Serena yang bertanya pada putri bungsunya.
“Iya bu” jawab Zahra lemah, sepertinya sekarang dia tahu apa penyebab kakaknya bertingkah aneh.
Untuk sementara Juan tidak bisa berada di sisi Serena, dia menyerahkan semua tanggung jawab pada Joni untuk menjaga gadis itu, tapi dalam satu hari ini, dia malah sudah kecolongan sampai dua kali. Sebegitu tidak becusnyakah dia sebagai laki laki?
Joni terduduk lemas di sofa, mencari cara untuk membuat Serena melupakan keinginannya untuk bertemu dengan Adit, tapi bagaimana caranya?
“Serena memakan makanan yang di terima dari Adit, terus sikapnya langsung berubah, padahal tadi pagi sampai terakhir kutinggal masih baik baik saja, kalau begitu kemungkinannya adalah……” Joni bergumam sambil merunut semua kejadian yang bersangkutan dengan Serena dan mencari kesimpulan.
“Apa bibi dan ibu punya pikiran yang sama kayak Joni?” Tanya Joni mengarah pada dua wanita tua di hadapannya, dan mendapat anggukan sebagai jawaban.
“Terus kita harus gimana Jon?” Bi Sari mulai berkaca kaca.
“Kalian tenanglah dulu, kalau kita udah tahu penyebabnya, maka akan mudah cari solusinya. Joni akan berusaha sebisanya dan juga coba mengulur waktu.”
Akhirnya mereka berempat hanya bisa menunggu Serena keluar dari kamar mandi, menunggu dengan gelisah dan juga penuh kekhawatiran. Gadis itu bersikap tidak seperti biasanya, begitu aneh dan juga janggal dengan sorot mata yang bukan milik Serena.
Joni, Zahra, Bi Sari dan juga ibu Serena langsung mengalihkan pandangan menuju pintu kamar mandi yang mulai bergerak perlahan, menampilkan Serena dengan mata sembab dengan sisa sisa air di wajahnya.
“Ayo Bang Jon, Rena udah cuci muka” ajak Serena dengan girang.
“Mbak Rena ngga mau dandan dulu? masa mau ketemu pacar kucel gitu sih” Joni mencoba menggoda Serena.
“Tapi Rena ngga bawa alat make up” bibir Serena mengerucut, kecewa dengan keadaannya sendiri.
“Kalau gitu kita pulang dulu ke aparteman yah” sejenak Joni memperhatikan raut wajah Serena yang menatapnya bingung “Mbak harus dandan dulu, terus ganti baju yang bagus, gimana?”
“Iya deh”
Tahukah Serena? Kalau jawaban iya yang keluar dari mulutnya membuat Joni dan semua orang yang berada diruangan perawatan Zahra merasa begitu lega. Walau itu hanya sementara, tapi setidaknya sampai detik ini, Joni masih mampu merayu Serena dan mengulur waktu, sebelum gadis itu kembali merengek agar keinginannya terpenuhi.
“Ya udah, ayo kita pulang ke apartemen dulu Bang Jon”
Joni kembali memegangi tangan Serena yang mulai melangkah untuk keluar dari ruangan itu, lalu tidak lupa dia berpamitan pada Ibu Serena dan Bi Sari.
“Joni” Bi Sari memanggil.
“Iya bi” Joni menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Bawa ibu ikut kamu ke apartemen Serena ya, ini udah malam, terlalu jauh kalau harus pulang dulu. Bibi yang akan tidur disini dan menjaga Zahra.”
“Iya bi” Joni menggandeng lengan ibu Serena dan juga memegangi Serena dengan tangan lainnya.
Zahra sedikit merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Serena, dia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri saat Serena memakan makanan yang di bawa oleh Adit. Baik Serena dan juga Zahra sama sekali tidak memiliki prasangka buruk pada Adit yang tiba tiba datang menjenguknya.
“Zahra titip Mbak Rena dan ibu ya Bang Jon” ucapnya lemah.
.
.
.
***
Crazy up 1 dari 6
Likenya jangan cuma di chapter terakhir ya