KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 101


Perjalanan pulang yang ditempuh oleh Adit terasa berbeda dari pada perjalanan saat dia berangkat menuju rumah Ni Maryam, tadi. Jalanan yang biasanya akan sedikit lambat karena ramainya lalu lalang kendaraan begitu memasuki wilayah kota, kali ini benar-benar lancar dan lengang. Keadaan sepertinya ikut memberi dukungan padanya, yang berniat untuk segera bertemu dan melindungi Serena.


Begitu sampai dikomplek rumahnya, Adit tidak melajukan mobilnya menuju rumahnya sendiri, melainkan rumah Zahra, kekasihnya. Matahari hampir kembali ke peraduannya ketika Adit mengetuk pintu dengan tergesa-gesa.


“Eh Mas Adit, silahkan masuk! Mau ketemu Zahra ya? Tuh, orangnya udah nungguin di dalam."


Bi Sari tidak tahan untuk menggoda Adit. Walaupun statusnya hanya sebagai asisten rumah tangga, tapi dia tidak pernah mendapat perlakukan berbeda. Keluarga Serena sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga juga.


Bi Sarilah orang yang membuka pintu, menyambut kedatangan Adit dan mempersilahkan pemuda itu untuk segera masuk ke dalam rumah. Senyum ceria seketika menghiasi wajah Zahra, saat melihat kekasih hatinya datang berkunjung.


“Dimana Serena?” satu pertanyaan yang keluar dari mulut Adit menghapus senyuman Zahra sampai tak berbekas. Gadis itu merasakan hatinya berdenyut pedih yang luar biasa karena orang yang dicari oleh Adit bukanlah dirinya, melainkan sang kakak. Orang yang pernah memiliki tempat di hati Adit dan mungkin saja masih ada hingga saat ini.


“Ada apa? Buat apa Kak Adit malah nyariin Mbak Rena, kenapa bukan Zahra? Kak Adit udah ngga sayang ya sama Zahra?” tanya Zahra dengan kepala tertunduk.


Sadar akan kesalahannya, Adit berjalan mendekati Zahra yang masih menunduk sedih. Tangannya mengusap puncak kepala Zahra dengan lembut. Dia menahan diri untuk tidak menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Rasa rindu memenuhi ruang hatinya karena tidak melihat Zahra sejak pagi.


“Zahra…” panggil Adit mencoba meminta perhatian sang kekasih.


Perlahan tapi pasti. Kepala Zahra pun mulai mendongak dan menatap Adit, dengan kesedihan yang masih tergambar jelas di sana.


Adit mengukir senyum tipis sebelum mengusap pipi Zahra. “Ada hal penting yang harus Kak Adit bicarakan dengan Serena dan Joni.”


Mendengar nama kakak iparnya yang juga disebut, Zahra pun merasa lega. Kedatangan Adit bukan hanya mencari Serena, tapi juga Joni.


“Ada apa?” tanya Zahra.


“Nanti kau akan tahu sendiri. Tapi sebelum itu, Kak Adit mau tanya dulu sama kamu.”


“Apa?”


“Apa benar, kalau saat ini Serena sedang hamil?”


Untuk pertanyaan kali ini, Zahra mengulas senyum bahagia yang secara tidak langsung telah menjawab pertanyaan dari Adit.


“Iya! Sebentar lagi keponakan Zahra akan bertambah, dan Sekar akan punya adik. Kita semua baru tahu tadi pagi, terus Mbak Rena sama Bang Jon langsung pergi ke dokter spesialis kandungan untuk memastikannya. Dan hasilnya benar-benar positif. Janinnya sehat dan berada di posisi yang seharusnya. Zahra seneeeeeng banget…”


Perkataan Zahra harus terhenti, saat jari telunjuk Adit menempel di depan bibirnya. Pemuda itu bisa melihat binar penuh kegembiraan di mata Zahra yang sedang bercerita tentang kehamilan Serena. Tapi dia tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh kekasihnya. Perasaan takut yang dia bawa sejak dari rumah Ni Maryam, kini semakin bertambah besar.


Adit menangkup pipi Zahra dengan kedua tangannya. Melakukan kontak mata dan bertanya serius. “Lalu sekarang, dimana kakak dan kakak ipar kamu itu?”


Tubuh Zahra menegang, disertai dengan tangan yang ikut bergetar. Dia belum pernah mendapat perlakuan seperti yang sedang dilakukan oleh Adit. Sejak resmi menjalin hubungan dengan Adit, maka kisah cinta dalam hidup Zahra pun baru dimulai. Tidak ada satu pun pria sebelum Adit. Dan Zahra berharap, kalau tidak akan ada laki-laki lain selain Adit.


Telapak tangan Adit membuat pipi Zahra menghangat. Mulutnya terkunci, dan otaknya ikut beku saat tatapan tajam diberikan oleh sang kekasih.


Melihat Zahra yang tetap diam tanpa mau menjawab pertanyaannya, Adit menahan senyum dengan menggigit bibirnya sendiri. Pemuda itu akhirnya melepas kedua tangannya dari pipi Zahra dan menggantinya dengan mencubit ujung hidung mancung gadis itu hingga memerah.


“Ah sakit,” keluh Zahra.


“Jangan memancingku, Zahra.”


“Apa!” Zahra kesal dengan kelakuan Adit padanya.


“Kak Adit ini laki-laki normal loh. Kalau kamu memasang wajah seperti itu lagi, Kak Adit ngga bisa jamin, kalau Kak Adit bisa menahan diri lagi.”


“Menahan diri untuk apa?” tanya Zahra bingung.


“Mencuri ini,” jawab Adit menunjuk bibir Zahra.


Pipi Zahra lagi-lagi merona. Jantungnya kembali berdetak tak teratur. Walaupun umurnya sudah tidak bisa lagi disebut remaja, tapi ini adalah kisah cinta pertamanya. Dan dia sama sekali tidak punya pengalaman apapun tentang hal itu. Satu-satunya jalan untuk menyembunyikan rasa malunya sekarang adalah dengan menunduk, dan pada akhirnya, hanya itu yang bisa Zahra lakukan.


“Dimana Serena dan Joni?”


Untuk kesekian kalinya Adit masih menanyakan pertanyaan yang sama. Namun kali ini, Zahra mampu menjawab. Gadis itu tidak mengeluarkan kata-kata, melainkan dengan mengacungkan jari telunjuknya yang mengarah ke pintu, yang ada di lantai dua rumahnya.


“Apa Zahra bisa membantu Kak Adit, dengan memanggil mereka berdua?”


Anggukan menjadi jawaban.


Adit berjalan menuju meja makan. Di sana sudah tersedia kopi panas yang disediakan Bi Sari untuknya. Setelah menunaikan ibadah magribnya, kemudian Maya ikut bergabung ke meja makan untuk menemani Adit yang sedang menunggu kedatangan Serena dan Joni.


-


“Tadi Zahra bilang, kalau ada hal penting yang mau kamu omongin. Ada apa Dit?” tanya Joni yang sudah mengambil tempat duduk di seberang kursi yang ditempati oleh Adit.


“Dimana Serena?” Adit menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga.


“Ck masih di atas, sama Sekar. Sebentar lagi juga dia akan turun,” jawab Joni sambil menyesap kopi hitam kesukaannya.


“Sebenarnya ini soal Serena.”


“Ada apa dengan Serena?” tanya Adit dan Maya bersamaan.


“Tadi pagi aku pergi mengunjungi mama di rumah Ni Maryam.”


“Bagaimana kabar mama kamu Dit?” tanya Maya memotong pembicaraan.


“Mama sebat bu. Tapi sekarang bukan itu yang mau Adit bahas,” jawab cepat Adit. Pemuda itu terlihat sedikit gusar, karena penjelasannya harus terhenti dan menjawab pertanyaan Maya terlebih dahulu.


Maya memang tahu cerita tentang sakitnya Yuli, tapi tentu saja tidak semuanya. Ada bagian-bagian penting yang sengaja disembunyikan oleh Adit. Bahkan Joni juga tidak menceritakan semuanya tentang sakitnya Serena sebelum pernikahan. Termasuk tentang Juan.


“Lanjutkanlah,” perintah Maya kemudian.


“Ni Maryam mengabarkan kalau saat ini Serena sedang hamil. Apa itu benar?”


“Iya.”


Joni menjawab dengan senyuman yang kemudian menular pada Maya. Mereka hanya bertiga, karena Sekar dan Zahra masih ada di kamar menemani Serena di kamarnya. Sedangkan Bi Sari, memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan sehari-harinya.


“Tentu. Tanpa kamu minta pun, aku akan menjaga istri dan calon anakku dengan baik,” kata Joni yang memberi tatapan tajam pada Adit. Dia tersinggung dengan perkataan Adit yang seolah sedang meremehkan keberadaannya sebagai suami Serena.


Adit dan Joni beradu pandang, dan Maya tidak sadar kalau Adit sedikit melirik padanya. Tapi Joni bisa menangkap isyarat dari Adit yang sepertinya tidak menginginkan percakapan mereka di dengar oleh Maya.


“Ayo kita bicara diluar!” perintah Joni pada Adit.


“Ayo!”


Melihat situasi yang tiba-tiba menjadi tegang, Maya mulai merasa takut. Dia khawatir akan ada perkelahian antara menantu dan calon menantunya setelah ini.


“Tunggu!”


Maya mencegah langkah Joni dan Adit yang meninggalkannya sendiri di meja makan.


“Apa kalian akan berkelahi di luar sana?” tanya Maya.


“Ngga bu,” jawab Joni. Laki-laki itu pun berbalik dan kembali mendekati Maya. “Kita berdua cuma mau ngopi dan cari angin saja. Tolong jaga Serena sebentar ya bu. Nanti kalau Rena nyariin Joni, bilang saja kalau suaminya ini sedang ngobrol dengan Adit di depan.”


“Iya. Ibu pasti jagain Rena. Eh, kamu jangan sampai berantem ya sama Adit, yang sabar. Biarpun dulu dia pernah suka sama Rena, tapi sekarang dia pacarnya Zahra. Kamu ngga usah cemburu kalau Adit khawatir sama istrimu. Ibu yakin, kalau sekarang Adit hanya ingin ikut menjaga kehamilan Rena, tidak lebih.”


Joni hanya tersenyum menanggapi ucapan Maya. Kepalanya menganguk untuk memberikan rasa lega di hati sang ibu mertua, dan juga karena tidak ingin membuang waktu untuk segera mendengar penjelasan dari Adit tentang keadaan Serena, istrinya.


“Iya ibuku sayang. Jangan terlalu mencemaskan hal yang tidak penting, ibu harus menjaga kesehatan. Biar nanti bisa main sama Sekar dan adiknya.”


“Baiklah.”


-


“Jelaskan!” perintah Joni pada Adit, saat mereka berdua sudah berada di teras rumah.


“Kata Ni Maryam, ada bahaya yang sedang mengincar keselamatan Serena.”


“Manusia atau…”


Walaupun Joni tidak menyelesaikan pertanyaanya, tapi Adit mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu. “Dua-duanya.”


“Dua-duanya?!” tanya Joni penuh dengan kecemasan.


“Iya. Selain makhluk halus, ada manusia berhati jahat yang juga menginginkan Serena. Dan kalau sampai orang itu tahu tentang kehamilan istrimu, maka nyawanya ikut berada dalam bahaya.”


“Untuk apa orang itu menginginkan Serena?”


“Kata Ni Maryam, istrimu itu terlahir dengan sebuah tanda dalam dirinya. Tanda yang hanya dimiliki oleh segelintir orang yang ada didunia ini. Dua garis halus yang melingkari leher Serena adalah tanda yang dimaksud oleh Ni Maryam. Hanya orang yang mempunyai indra keenamlah yang bisa melihat tanda lahir itu. Dan orang yang berhasil memiliki Serena, dijamin akan mendapat keberuntungan berlimpah dalam hidupnya.”


“Apa! Bagaimana bisa dia mengicar Rena karena hal itu? Memangnya tidak ada orang lain apa? Diluar sana kan pasti ada yang punya tanda seperti Rena dan tentunya masih single. Dan kenapa aku malah tidak tahu apa-apa?” emosi Joni mulai naik.


“Sekarang bukan saat untuk meributkan hal itu. Yang jelas, mulai detik ini kita harus benar-benar melindungi Serena dan terus mengawasinya. Ni Maryam juga bilang kalau Jin yang dulu melindungi Serena sudah tidak ada, dan itu membuat makhluk-makhluk astral lain ikut mengincarnya.”


“Untuk apa lagi?”


“Makhluk-makhluk itu juga ingin memiliki jiwa Serena. Mereka akan bertambah kuat jika bisa menguasai jiwa manusia yang telah ditinggalkan oleh jin pelindungnya atau hanya untuk menjadikannya sebagai budak. Dan dengan tidak adanya jin pelindung lagi, maka makhluk-makhluk itu semakin berani untuk mendekati Serena.”


Joni mengehembuskan nafas beratnya. Selain dia, Ni Maryam dan Serena, tidak ada yang tahu tentang Juan. Yang lain hanya tahu kalau Serena punya jin pelindung, tapi tidak tahu bagaimana kisah yang ada antara Juan dan Serena sebenarnya.


Kini, Joni dan Adit sama-sama terdiam. Mereka sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, dan hanya ada kesunyian malam yang menemani keduanya untuk waktu beberapa saat.


“Kenapa kalian bicara diluar?” tanya Serena yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu. Bukannya menjawab, Joni dan Adit malah langsung berdiri dan mendorong pelan tubuh Serena untuk kembali masuk ke dalam rumah. keduanya bahkan meninggalkan gelas kopi yang mereka bawa tadi.


“Ada apa?” tanya Serena bingung.


“Di luar sudah gelap, dan kamu tidak boleh keluar rumah. Mulai sekarang, kamu harus lebih berhati-hati dan menjaga kehamilanmu dengan baik. Kau mengerti?!” tegas Joni pada Serena.


Serena tidak mau membantah perintah suaminya. Dengan patuh dia menurut, tanpa banyak bertanya. Serena bisa merasakan ada hal yang disembunyikan Joni dan Adit darinya. Tapi dia tidak mau bertanya apapun.


Kehamilan Serena membawa kebahagiaan dan juga menambah suasana ceria dlam rumahnya. Tapi disamping itu, ada hal lain yang ditakuti oleh sebagian anggota keluarga. Sebagai tindakan pencegahan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, Joni membuat peraturan baru untuk Serena. Diantaranya :


- Berhenti sementara dari dunia model.


- Tidak boleh keluar rumah tanpa pendamping.


- Tidak boleh keluar rumah saat hari sudah gelap.


Tiga peraturan baru yang dibuat oleh Joni langsung mendapat dukungan dari Maya, dan tentunya juga disetujui oleh Serena sendiri. Bahkan wanita hamil itu meminta suaminya untuk pulang lebih awal setiap hari sejak peraturan untuknya diberlakukan. Tentu Joni tidak menolak. Karena dengan begitu dia jadi lebih punya banyak waktu untuk menjaga istrinya.


---------------------------------------------


“Kenapa aku tidak pernah melihatnya lagi? Aku sudah mendatangi tempat pemotretannya, tempat biasa dia berkumpul dengan teman-temannya bahkan salon langganannya. Tapi dia sama sekali tidak terlihat!”


“Brengsek! Kalau seperti ini terus, aku benar-benar akan kehilangan semua kekayaanku dan juga kejayaanku!”


“Tidak bisa! Aku harus segera mencarinya lagi sampai ketemu. Kali ini aku akan meminta bantuan pada iblis betina yang gila kehangatan itu! Hanya dia yang bisa membantuku sekarang. Semua anak buahku tidak ada yang berguna. Mereka hanya sekelompok orang bodoh yang hanya mengincar gaji besar, tapi tidak becus kerja.”


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.