KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
LT 123


Sarah berdecak kesal. Demi untuk mendapatkan informasi tentang Farrel, dia harus memberikan layanan ranjang. Padahal laki-laki itu sama sekali tidak kekurangan perempuan. Dan setahu Sarah, istrinya saja sudah ada tiga yang tinggal dalam satu rumah. Belum lagi dengan jal*ng-jal*ng lain, yang bertebaran dimana-mana.


Karena yang akan datang ke apartemennya bukanlah orang yang dia inginkan, jadi Sarah tidak melakukan ritual khusus untuk menyambutnya. Berbeda jika dia ingin bertemu dengan Farrel, dia pasti akan melakukan perawatan lengkap dan juga mahal di salon terkenal.


Ting tong


Bram berdiri di ambang pintu dengan senyum yang sangat menjijikkan menurut Sarah. “Sedang menungguku, nona?” Tanyanya.


“Ck! Terpaksa,” jawab jutek Sarah.


Bram melenggang masuk ke dalam apartemen tanpa mau repot menunggu tawaran atau izin dari Sarah.


“Apa aku perlu membuatkan minum, untukmu? Tanya Sarah, malas.


“Tidak. Aku akan mengambilnya sendiri. Karena aku yakin, kalau minuman yang aku inginkan tidak seperti yang ada dalam pikiranmu.”


See?


Pria itu selalu blak-blakan jika menyangkut hal yang berhubungan dengan adegan ranjang. Membuat Sarah semakin risih, dengan memutar bola mata, jengah.


“Mana informasi yang tadi kau bicarakan?” Tanya Sarah. Dia mengabaikan tatapan lapar dari Bram.


Lalu tanpa bersuara, Bram menunjuk amplop yang dia taruh di atas meja dengan dagunya. Menyilangkan kaki dan bertingkah bebas seperti di dalam rumah sendiri.


Untuk menghindarkan diri dari sentuhan Bram sebelum mendapatkan apa yang dia mau, Sarah memilih tempat duduk yang bersebrangan. Segera meraih amplop yang di tunjuk, lalu membukanya dengan penuh rasa penasaran.


“Ba-bagaimana bisa?” geram Sarah. Foto yang ada di dalam genggamannya sudah kusut akibat diremas terlalu kuat.


Bram berpindah tempat duduk. Sengaja membelai pipi Sarah untuk meredakan gejolak emosi yang menguar nyata dari wanita itu.


“Jangan terlalu marah sayang… kalau kau butuh bantuan, aku akan dengan senang hati melakukan yang kau inginkan. Dengan bayaran yang sesuai tentunya,” bisik Bram. Sarah jelas tahu arti dari seringai licik dari ujung bibir Bram.


“Berapa lama kau ingin menyewaku?” ucap Sarah.


Mendengar suara dengan nada pasrah, membuat Bram tersenyum lebar. Mereka berdua sedang mencari kesepakatan, tanpa perlu lagi menjelaskan aturan mainnya. Sarah dan Bram sama-sama menganut prinsip ‘take and give’. Tentu dalam artian yang saling menguntungkan. Bram dapat kenikmatan sesuka hati, sementara Sarah akan mendapat bantuan untuk membuat Farrel kembali.


“Mungkin… sampai aku bosan,” bisik Bram. Meniupkan nafas penuh nafsu di belakang telinga Sarah.


“Tapi aku harus yakin, kalau kau bisa mendapatkan Farrel kembali.”


“Ck! Kenapa harus laki-laki itu, sih? Apa kau tidak tergiur untuk menjadi simpananku saja? Aku bisa memenuhi semua yang kau butuhkan. Mobil, rumah dan semua barang-barang mahal lainnya,” tawar Bram.


“Karena aku mencintainya.”


“Ha haa…,” Bram menertawakan jawaban yang keluar dari mulut Sarah. “Aku tahu, kalau aku adalah manusia brengs*k. Tapi kelakuanmu juga tidak bisa dibilang lebih baik dariku. Kita sama-sama hidup di dunia yang kotor, Sarah. Aku bahkan tidak peduli, apa penilaian orang lain padaku. Dan mendengarmu mengatakan cinta seperti tadi, membuatku sedikit mual. Ha haa…,” Bram kembali tertawa.


“Tapi aku benar-benar mencintainya, Bram.”


“Kau yakin kalau itu adalah perasaan cinta?” Bram meragukan Sarah. “Bukankah, itu malah lebih mirip dengan sebuah obsesi?” tambah Bram, lagi. Dia ingin Sarah membuka mata untuk sebuah kenyataan.


“Tidak! Itu adalah cinta. Dan aku sudah terlalu banyak berkorban untuk bisa mendapatkannya, sampai harus mencurinya dari sahabatku sendiri.”


Kening Bram berkerut. Baru kali ini, dia melihat kesedihan dari mata Sarah. Kesedihan yang nyata keluar dari dalam hati, tanpa adanya kebohongan. Dia terlihat sangat rapuh, saat air matanya menetes. Padahal selama ini, wanita itu terus saja bersikap kuat dan angkuh.


“Tapi siapa perempuan tidak beruntung yang menjadi sahabatmu itu? Maksudku pernah, pernah jadi sahabat dari wanita sepertimu. Aku jadi merasa kasihan padanya,” tanya Bram, penasaran.


“Serena.”


“Apa?!”


Bram sampai bangkit dari duduk, karena terlalu kaget. Dia tidak menyangka, kalau wanita yang menjadi incarannya pernah memiliki hubungan dengan suami Sarah. Ralat, calon mantan suami.


“Apa kau mengenalnya?” Sarah menatap curiga pada Bram. Reaksi laki-laki itu terlalu berlebihan.


“Hah? Tidak! Aku tidak kenal. Hanya pernah mendengar namanya saja. Apa dia juga seorang model, sepertimu?” ucap Bram. Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan. Dia hanya tidak mau cerita yang sesungguhnya terjadi.


“Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu?” selidik Sarah. Dia tidak mudah percaya dengan ucapan Bram yang terlihat sangat mencurigakan.


“Tidak! Jangan jawab! Itu tidak penting.”


Sarah menempelkan jari telunjuknya di bibir Bram. Mencegah pria itu menjawab pertanyaanya, barusan. Buatnya, apapun yang tidak berhubungan dengan Farrel, semuanya tidak ada artinya.


Jari lembut dan wangi yang masih menempel di bibirnya, membuat Bram tersenyum senang. Bersentuhan di area yang bisa dengan mudah membangkitkan gairah, tidak mungkin dia sia-siakan. Tangannya segera bergerak untuk menahan, sebelum wanita itu sempat menariknya.


Cup


“Jadi… apa aku sudah boleh mengambil bayaranku, setelah menyerahkan foto-foto itu padamu?” Tanya Bram dengan suara parau.


Sekuat apapun Sarah, hasilnya akan tetaplah sama. Dia tetap harus menyerah kalah. Kalah karena sudah ada perjanjian sebelumnya, atau memang dia mulai menikmati buaian dari mulut Bram.


“Yah. Ambillah bayaranmu,” jawab Sarah, sedikit mendesah.


Bram melampiaskan semua hasrat yang dia pendam selama ini. Dia terus menyesap kenikmatan yang pasrah dibawah atau kadang di atas tubuhnya. Terus mencari kepuasan dari kesepakatan yang dia nilai sepadan, seakan tidak ada hari esok.


-Di tempat lain.


“Astaga! Apa kau sengaja melakukan ini?” tanya Farrel. Pasalnya, mereka berempat akan menginap di hotel yang sama, dan di lantai yang sama. Bahkan pintu kamar hotelnya juga berhadapan.


“Jangan asal tuduh! Aku sama sekali tidak tahu soal ini . Seandainya aku tahu dari awal, aku tidak mungkin mau menginap di sini, apalagi bersamamu!” geram Joni, tidak terima.


Sherly dan Serena hanya bisa menggelengkan kepala, melihat Farrel dan Joni berseteru. Apakah liburan mereka harus rusak, hanya karena hal sepele seperti ini?


“Sudahlah Farrel,” ucap Sherly, coba menenangkan. Sementara Serena mendekati Joni dan menggelayut di lengan kekar suaminya.


“Ini masalah besar sayang,” adu Farrel pada sang kekasih.


“Apanya yang masalah besar? Kau saja yang membesar-besarkan masalah!” Joni menginterupsi.


“Kalau salah satu dari kita ada yang mabuk, terus tiba-tiba salah masuk kamar, kan bisa bahaya!”


“Memang siapa yang mau membuang-buang waktu untuk mabuk, hah?! gue sama Serena kesini jauh-jauh, karena ingin bulan madu. Bukan buat mabuk!” Joni kembali membantah ucapan Farrel yang dinilainya tidak masuk akal.


Sherly dan Serena sama-sama memilih mundur dan diam. Menyilangkan kedua lengan di depan dada, tanpa mengalihkan pandangan dari dua laki-laki yang sedang bertengkar.


Farrel dan Joni masih saling tatap. Seolah sedang menyerukan suara, kalau mereka tidak sependapat dengan ucapan dari lawan bicara.


“Apa yang harus kita lakukan?” Bisik Sherly pada Serena.


“Kita lihat dan tunggu sebentar lagi, mau sampai kapan mereka bersikap kekanakan seperti ini.”


Sherly setuju dengan ucapan Serena. Lalu dua wanita itu berdiri sejajar, dalam kebisuan.


“Apa kau berencana untuk mabuk, Farrel?” Tanya Serena iseng. Dalam keadaan tidak fokus, biasanya pria itu akan berkata jujur tanpa sadar. Dan Serena tahu kelemahan pria itu.


“Mungkin saja,” jawab singkat Farrel, tanpa menoleh.


Benarkan? Pria itu tidak sadar dengan mulutnya yang bergerak sendiri. Fokusnya hanya pada Joni yang sedang menyorot tajam matanya. Membuat rasa penasaran Serena, semakin menjadi. Dan melihat hal itu, Sherly hanya mampu menahan senyum dengan menggigiit bawah bibirnya.


“Kenapa bisa begitu?” Tanya Serena, lagi.


“Karena aku harus bisa menahan diri untuk tidak menyentuh wanita yang aku cintai. Padahal kami tidur satu ranjang,” jawab Farrel, lesu. Matanya pun akhirnya berkedip, tanpa ingin meneruskan sikap arogannya pada Joni.


Serena mengalihkan pandangan pada Sherly. Bertanya tanpa suara. Menunggu jawaban, yang bisa saja berbeda.


Sherly mengangguk dengan sikap malu-malu.


Mendengar jawaban Farrel, Joni dan Serena tertawa seketika. Mereka tidak menyangka, kalau nasib seorang Farrel akan menyedihkan seperti itu.


“Ck ck ck lalu untuk apa kalian harus jauh-jauh ke sini, kalau hanya untuk tidur?” Tanya Serena. Siapapun yang bisa mendengar, pasti tahu kalau ucapan Sarah barusan, adalah sebuah ejekan.


Farrel tidak menjawab. Dia menarik lembut lengan Sherly untuk segera masuk ke dalam kamar hotel yang mereka pesan sebelumnya. Tidak mau berlama-lama berdiri dan menerima tatapan kasihan.


“Kalau cuma salah masuk kamar, aku tidak keberatan. Asal jangan salah pasangan saja,” ucap Joni menyindir Farrel sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.