KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 113


Aroma yang menguar dari kopi hitam bersama uap panas, tercium oleh indra penciuman Adit. Pria itu tidak menemukan sosok Sherly ketika matanya mulai terbuka. Sempat muncul ketakutan akan kemungkinan ditinggal sendiri oleh sang kekasih, membuat Adit bergegas loncat dari ranjang. Mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan wanita yang kini menemani tidurnya setiap malam.


“Apa yang sedang Nyonya Farrel lakukan, di dapur?”


Sherly terlonjak kaget, saat Farrel tiba-tiba muncul dan mendaratkan tangan di pinggangnya. Dia begitu serius membuat sarapan, sampai tidak menyadari kalau sejak tadi Farrel terus memperhatikan gerak geriknya sambil tersenyum.


“Bikin sarapan,” jawabnya singkat.


“Kenapa kau harus repot-repot, biar aku saja yang melakukannya.”


Farrel memeluk tubuh Sherly dari belakang dan menciumi rambut yang berada di sekitar telinga. Biasanya, dialah yang bangun pagi lebih dulu dan menyiapkan makanan di pagi hari. Dan hatinya langsung menghangat, begitu melihat usaha Sherly yang sedang membuat sarapan untuk mereka berdua.


“Rupanya kau sedang belajar untuk menjadi Nyonya Farrel yang baik,” ucap Farrel dengan iringan senyum.


“Cih! Aku lapar, jadi sekalian membuat sarapan untukmu.”


Mulut Sherly dengan cepat menyanggah ucapan Farrel. Tapi, kepala yang tertunduk dan pipi yang bersemu, menandakan kalau ucapan yang keluar dari mulut Sherly memiliki arti yang berbeda dari kenyataan. Dan itu adalah hal yang membahagaiakan untuk Farrel. Setidaknya sekarang dia bisa sedikit bernafas lega, karena besar kemungkinan kalau Sherly sudah menerima perasaannya.


“Baiklah, lakukan apapun yang kau mau pada dapur ini. Karena cepat atau lambat, kaulah yang akan menjadi tuan rumah serta menguasai seluruh isinya.”


“Ini bukan rumah! Ini hanya apartemen,” seru Sherly cepat.


“Oh….”


“Apa?” tanya Sherly. Dia tidak mengerti dengan jawaban singkat yang diberikan oleh Farrel.


“Kau ingin rumah?” tanya Farrel. Dia menatap ke mata Sherly dan mencari jawabannya sendiri.


“Baiklah. Hari ini juga, kita akan membelinya.


“Kau selalu berlebihan, Farrel.”


“Apanya yang berlebihan? Setiap pasangan pasti ingin punya rumah sendiri sebagai tempat tinggal keluarga mereka, dan ini hal yang wajar. Apalagi kalau nanti kita sudah memiliki anak. Satu , dua, tiga… apartemen ini akan menjadi sangat sempit sebagai arena bermain, sayang.”


Farrel sangat bersemangat, begitu membayangkan masa depannya bersama Sherly. Dia bahkan sudah tidak bisa mengontrol pikirannya tentang memiliki bayi bersama Sherly. Rumah nyaman yang akan diisi oleh tangis dan tawa dari anak-anaknya kelak, menambah senyuman di bibirnya semakin merekah.


“Anak?” ulang Sherly dengan kerutan di dahi.


Farrel mengangguk. Tangannya secara impulsif langsung mengelus perut rata Sherly.


“Setelah semua urusanku selesai, kita harus segera menikah. Aku akan bekerja keras untuk membuatnya. Aku akan memberikan banyak cinta, untukmu dan calon anak kita. Oh ya ampun Sherly, ini pertama kalinya aku memimpikan kehadiran seorang anak dalam hidupku. Berkat dirimu, aku jadi bisa membayangkan keluarga yang sesungguhnya.”


Farrel mempererat pelukannya. “Tetaplah bersamaku hingga akhir usia,” bisik Farrel.


--------------------------------------------


Zahra bergerak sesuai arahan Serena. Hari ini dia belajar, bagaimana membuat rainbow cake spesial, yang akan dia berikan khusus untuk Adit. Mengetahui kalau sang kekasih sangat menyukai cake yang tersusun dengan berbagai warna itu, Zahra bersemangat untuk membuatnya dari hasil tangannya sendiri.


“Kalau bahannya udah tercampur, terus gimana mbak?” tanya Zahra. Dia baru saja mematikan tombol mixer yang berputar cepat untuk mengaduk dan mencampur semua bahan.


“Kamu ambil wadah, terus adonannya kamu bagi beberapa bagian. Kalau sudah, kamu kasih warna satu per satu disetiap wadahnya.”


Zahra menjadi pendengar setia demi bisa membuatkan cake spesial untuk sang pujaan hati. Dia tidak marah dan juga tidak membantah saat Serena mulai menaikkan suara padanya. Sepertinya Zahra agak kesulitan untuk mengartikan instruksi dari Serena, sampai kakaknya itu terkadang kesal dan menjadi tidak sabaran.


Adonan terakhir sudah masuk ke dalam oven, tinggal menunggu matang dan memberikan sentuhan terakhir. Bi Sari mencuci semua perabotan dapur kotor yang baru saja digunakan. Dia tersenyum geli karena melihat Zahra yang berdiri tidak sabar menunggu oven berbunyi.


“Ngapain lo liatin? Kalaupun sekarang lo tinggal mandi dulu terus dandan, tuh oven ngga akan lari kemana-mana. Lo ngga perlu berdiri di situ!” teriak Serena dari meja makan.


“Iya iya, Zahra mandi dulu.”


Satu jam kemudian, rainbow cake pun jadi. Satu untuk Adit, dan satu lagi untuk dimakan bersama. Hasil kerja keras Zahra dan juga bimbingan dari Serena, ternyata tidak sia-sia. Hasil cake yang mengembang sempurna dengan perpaduan warna yang cantik, kini sudah berbalut krim berwarna putih berhias buah cerry.


“Perfect!” gumam Zahra. Dia dengan bangga memuji dirinya sendiri.


“Ngga bilang terima kasih nih, sama mbak?” sindir Serena. Dia suka sekali menggoda adiknya yang sedang senyum-senyum sendiri. Sejak menjalin hubungan dengan Adit, adiknya itu memang banyak berubah, tentunya ke arah yang lebih baik.


“He… he terima kasih Mbak Rena yang cantik,” puji Zahra.


“Ck kalau cantik mah udah dari lahir, tapi kalau pinter masak, itu perlu belajar dan usaha. Dan lo harus sering-sering ke dapur, kalau pengen bikin Adit tambah cinta sama lo.”


Serena memberikan nasehat yang menurutnya bermanfaat untuk Zahra, suatu hari nanti. Walaupun adiknya itu adalah wanita karir dan berprofesi sebagai dokter, bukan berarti dia terbebas dari kewajiban mengurus suami. Apalagi jika adiknya itu memiliki anak, maka akan lebih menyenangkan kalau seorang ibu mempunyai keahlian memasak.


“Dengan setulus hati, Zahra mengucapkan banyak terima kasih untuk Mbak Rena.”


“Nah… gitu dong. Kalau pada akur, ibu kan jadi enak ngeliatnya.”


Maya muncul di dapur dan langsung nimbrung ke percakapan dua anaknya. Dia bahagia, karena kedua putrinya telah memiliki pasangan masing-masing. Dan adanya Sekar, menambah sempurna gelar di usianya yang semakin tua.


Zahra sudah siap untuk mengantar cake buatannya ke rumah Adit. Dia juga sudah menerima dan membaca satu pesan, kalau ayahnya sedang datang berkunjung ke rumah sang kekasih. Sangat kebetulan yang baik, karena dia sekaligus bisa membuat Yudi mencicipi cake pertama buatannya.


Maya, Serena dan juga Bi Sari sibuk membicarakan musibah yang baru dialami oleh Bu Indri sambil memakan bagian cake masing-masing. Tapi saking seriusnya, sampai-sampai mereka tidak memperhatikan kalau Sekar hanya diam saja sejak tadi.


“Kok cuma diliatin aja, sayang? Ngga enak ya?” tanya Joni.


Pria itu baru bisa bergabung setelah menelpon Ian, salah satu pegawai kepercayaan di kafe miliknya. Joni hanya memberikan beberapa tugas, karena hari ini dia tidak bisa datang ke kafe. Untuk laporan keuangan dan juga persediaan bahan, akan disiapkan oleh Ian besok pagi.


Sekar menggeleng. Maya, Serena dan juga Bi Sari menoleh bersamaan, begitu mendengar suara Joni. Ketiganya baru sadar akan keberadaan Sekar diantara mereka.


Joni mendudukkan diri tepat di samping kursi Sekar dan menerima piring berisi potongan cake dari Serena.


“Terus kenapa?” tanya Joni, lagi.


“Hmm?” jawab Joni, dengan mulut yang dipenuhi oleh cake.


“Kalau Sekar makan kue ini, nanti pelanginya jadi pindah ke perut Sekar, ya pah?” tanya Sekar polos. Jarinya menunjuk rainbow cake yang masih utuh tanpa tersentuh sama sekali. Ternyata anak itu merasakan khawatir sampai tidak berani untuk memakan makanan manis yang ada di depannya itu. Padahal biasanya dia tidak akan menolak, karena cake sudah menjadi salah satu makanan kegemarannya.


Gelegar tawa langsung menggema dan mengisi ruangan dapur. Pertanyaan Sekar mampu membuat semua orang tidak bisa menahan diri untuk tertawa bahagia. Gadis mungil yang memberikan dampak besar untuk kebahagiaan rumah Maya.


“Ya ngga dong sayang,” jawab Serena. Dia berdiri dan menghampiri anaknya. “Coba deh, liat perut mama!” perintahnya.


Sekar menuruti perintah Serena tanpa bertanya. Dia perlahan-lahan menyibakkan baju santai yang dipakai Serena, sampai terlihat perut rata yang putih nan mulus.


“Mama sudah menghabiskan kuenya. Terus sekarang, apa perut mama ada pelanginya?”


Beberapa kali Sekar mengedipkan mata sebelum menjawab pertanyaan Serena. Kepalanya menggeleng saat tidak bisa menemukan apa yang dia cari. Lalu Serena dengan telaten menjelaskan tentang rainbow cake dan juga pelangi yang sesungguhnya pada sang putri. Dia menggunakan bahasa dan istilah yang mudah dimengerti, agar Sekar tidak lagi takut untuk memakan cake berwarna itu.


Sekar tersenyum begitu satu sendok penuh rainbow cake masuk ke dalam mulutnya. Dia menyukai warna dan juga rasa dari cake yang baru pertama dia coba.


“Sekar boleh minta lagi ngga, mah?” tanya Sekar.


“Nanti sore lagi ya sayang, sekarang kamu harus tidur siang dulu. Mama janji akan kasih cake lagi buat Sekar, kalau nanti udah bangun tidur.”


Sekar kecewa mendengar larangan halus dari Serena dan langsung cemberut. Mulutnya masih menginginkan cake lagi, setelah menghabiskan bagiannya sendiri. Tapi walaupun begitu, dia tidak mau membantah ucapan sang mama.


“Ayo! Papa temenin Sekar bobo siang.”


Sambil tersenyum, Joni menggendong tubuh Sekar menuju kamar. Serena membiarkan keduanya berlalu, karena masih ingin melanjutkan obrolan bersama Maya. Tangan Joni sudah sangat terampil untuk mengurus keperluan Sekar tanpa bantuan dari istri tercinta. Dia mencuci tangan dan kaki sang putri, lalu membantu menggantikannya baju.


“Papah…” panggil Sekar. Dia kembali membuka mata untuk mengutarakan keinginannya.


“Apa?” jawab Joni dengan mata tertutup.


“Apa Sekar boleh bantu?”


“Bantu apa, sayang?”


“Bantu buat nanti malem.”


Joni ikut membuka mata karena terkejut. Putrinya itu ternyata telah mengetahui apa yang dia rencanakan untuk nanti malam. Dia akan bersiaga untuk melindungi seluruh keluarganya dari ancaman orang yang sudah menunjukkan batang hidungnya.


Joni menghela nafas. Ada rasa bangga yang terselip, kala mendengar penuturan anaknya yang ingin membantu. Jika Serena memberinya perasan cinta yang mendalam, maka anak kecil itu selalu memberinya perasaan berbeda yang menenangkan. Dua manusia yang selalu disyukuri kehadirannya oleh Joni.


“Hmm…” gumam Joni.


“Boleh ya, pah?”


“Izinkan saja,” usul Braja.


“Dia masih sangat kecil, aku takut kalau nanti terjadi sesuatu yang buruk padanya. Ini bukan hal sepele, Braja. Apa kau yakin untuk membiarkannya terlibat?” tanya Joni pada Braja.


“Jangan pernah meremehkan kekuatan Sekar, Joni. Tubuhnya memang kecil, tapi jangan sampai membuatmu memandang sebelah mata. Kau belum tahu apa yang membuatnya bisa melihat dan mendengar suaraku, kan?”


Joni menatap mata Sekar dengan seksama. “Baiklah, Sekar boleh bantu,” ucapnya bersama helaan nafas panjang.


Wajah mungil dengan tatapan memohon itu membuat hati Joni luluh. Selama ini, dia hanya menganggap kalau kelebihan indra keenam yang ada pada diri Sekar adalah hal biasa. Karena di dunia ini, memang ada banyak orang lain yang juga memilikinya.


“Horee…” mata Sekar berbinar begitu mendengar izin Joni. “Sekar bantu apa pah?” tanyanya.


“Sekar bantu papa untuk menjaga mama,” jawab Joni. Dia melakukan kontak mata kembali sebelum mengucapkan perintah.


“Nanti malam, Sekar harus tidur di kamar ini sama mama. Sekar jagaian mama dan tante Zahra di atas, terus papa jagain dua nenek Sekar di bawah. Apa Sekar paham?” tanya Joni. Dia ingin memastikan kalau perintahnya sudah bisa dimengerti oleh anak kecil itu, dan anggukan dari kepala kecil Sekar membuat Joni lega.


“Oh iya, Sekar ngga boleh cerita rencana ini sama siapapun. Mama juga ngga boleh tahu. Ok?”


Sekar agak kesulitan mengikuti gerak jari Joni. Dia menempelkan telunjuk dan ibu jarinya sehingga membentuk huruf O, sebagai tanda mengerti dan siap.


“Sekarang Sekar harus bobo, sebelum mama datang terus marah. Biar nanti bisa makan kue pelangi lagi.”


Sekar memejamkan mata. Elusan lembut dan teratur dari tangan Joni membantunya terlelap lebih cepat. Itu adalah hal biasa yang dilakukan oleh Joni jika berada di rumah.


.


.


.


***


Info perubahan jadwal up.


Selama ramadhan, Si_Ro akan up 2 hari sekali. Kalau ternyata muncul notif up tanpa libur, berarti Si_Ro lagi baik. Tapi kalau 2 hari ngga up juga, berarti Si_Ro lagi bete. (jelek bgt kalau yg ini)


Mohon dimengerti, karena Si_Ro juga pengen punya tabungan akherat.


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.