
Joni segera masuk ke dalam kamar mandi, karena merasakan lengket pada sekujur tubuhnya. Keadaan kafe yang lumayan ramai hari ini, mau tidak mau membuatnya ikut turun tangan langsung, membantu koki atau malah para waiters. Dia juga sudah memberikan instruksi khusus pada Ian dan seluruh karyawannya, agar menjaga kafe selama dia pergi berbulan madu.
-
“Apa kau akan ikut bersama kami?” tanya Joni. Cermin yang menempel pada dinding kamar mandi adalah salah satu jalan dia berkomunikasi dengan jin Braja.
“Tentu saja.”
“Ck! Aku dan Serena akan pergi berbulan madu, kenapa kau harus ikut?”
“Karena tubuhmu adalah rumahku.”
“Apa kau tidak bisa tinggal di rumah ini saja? Menjaga Sekar, ibu dan juga Bi Sari?”
“Sekar sudah punya pelindungnya sendiri. Dan dia bisa melindungi seluruh rumah ini tanpa ada bantuan dariku. Sedangkan aku… aku harus ikut, untuk melindungi kalian berdua.”
Dalam hati, Joni membenarkan semua ucapan Braja. Dia juga bisa mengerti apa yang menjadi penyebab Braja tidak bisa jauh dari Serena. Joni hanya berharap, kalau Braja tidak mengganggu kesenangannya bersama Serena, istrinya tercinta saat bulan madu. Walupun Braja sudah lebih dulu memiliki wanitanya, tapi untuk sekarang, Serena sudah menjadi istri sahnya, hanya miliknya.
-
Saat sedang merapikan baju-baju yang akan dia bawa selama bulan madu, Serena merasakan tubuhnya ditarik ke belakang. Dia hanya tersenyum, karena sudah tahu siapa pelakunya. Dan siapa lagi kalau bukan Joni, suaminya.
“Tuh kan jadi basah…” keluh Serena. Dia menyuarakan protes, karena baju bagian belakangnya basah. Joni memang terlalu malas mengelap tubuhnya, kecuali bagian bawah yang tertutupi handuk. Pria itu lebih suka, kalau sang istrilah yang akan mengelap seluruh bagian tubuhnya sebelum memakai baju. Karena dengan begitu, dia bisa sekaligus menggoda Serena. Lalu wanita itulah yang akan sering menyerah kalah lebih dulu dan meminta haknya.
“Kenapa ngga nyusul mas, hem?”
“Ngga mau ah. Kalau mandi bareng sama mas, malah ngga mandi-mandi.”
Joni mulai menghujani Serena dengan kecupan-kecupan ringan di leher dan pundak. Kedua tangannya aktif tanpa perlu dikomando, dan sudah berada di tempat yang seharusnya. Menyentuh secara terus menerus dengan gerakan yang sangat halus.
“Mas aah…” lenguh Serena.
“Hem?”
“Pi-pintunya belum dikunci.”
Mengerti dengan kekhawatiran sang istri, Joni pun terpaksa melepas pelukan dan menghentikan sementara cumbuannya. Dia meraih anak kunci dan segera memutarkan ke arah kanan.
Ketika dirasa sudah aman, Joni membalikkan tubuh dengan senyuman menggoda pada Serena yang sedang menunggunya di tepian ranjang. Baju bagian atas Serena sudah terbuka, hanya tersisa pakaian dalamnya saja.
Gairah Joni semakin naik, saat Serena dengan sengaja mengedipkan sebelah mata padanya. Baru saja Joni ingin melangkah menuju wanitanya, tiba-tiba pintu diketuk dengan keras dibarengi panggilan yang sangat familiar.
“Mamaaa… papaaa,” suara Sekar dari luar kamar.
Tubuh Joni langsung lemas. Keasyikannya terpaksa harus tertunda, karena kehadiran sang putri.
Perlahan daun pintu pun terbuka, menampilkan wajah Sekar yang tersenyum manis dengan boneka di tangan.
“Gagal deh…” lirih Joni.
Beruntung Serena sudah memakai kembali baju dan mengancingkannya dengan sempurna. Karena kalau tidak, tentu dia harus menyiapkan banyak jawaban untuk diintrogasi oleh anak gadisnya.
“Tungu pembalasan dendam mas, saat kita bulan madu nanti,” bisik Joni.
“Siapa takut,” balas Serena.
Serena hanya bisa menahan geli melihat Joni yang sekuat tenaga menahan gairahnya. Lalu dengan usil, Serena mengayunkan salah satu tangannya untuk menyenggol bagian sensitif Joni yang menonjol dibalik handuk.
“Ups… sorry,” ucap Serena dengan wajah tanpa dosa.
“Jangan mulai, sayang.”
“Ngga sengaja kok he hee…”
“Awas kamu ya,” geram Joni.
-
Sepulang dari kantor, Adit langsung mampir ke rumah Maya, tanpa pulang ke rumahnya sendiri lebih dulu. Dia begitu penasaran dengan alasan Zahra yang tiba-tiba memintanya untuk menunda pertunangan mereka.
“Apa Zahra ada di rumah, Bi?”
“Ada mas Adit, langsung masuk aja.”
Adit mencium punggung tangan Maya, sekaligus menanyakan keberadaan Zahra. Pemuda itu pun langsung melangkahkan kaki menuju kamar Zahra yang ada di lantai dua, tentunya setelah mendapat izin dari Maya.
Tok tok tok
“Masuk aja! Ngga dikunci,” teriak Zahra dari dalam, tanpa bertanya lebih dulu, siapa yang ada di luar kamarnya.
Selama ini, Adit memang belum pernah masuk ke dalam kamar pribadinya, jadi Zahra tidak menyangka kalau sang kekasihlah yang mengetuk pintu. Dan saat pintu terbuka, Zahra sedang berbaring di atas ranjang. Mengenakan celana pendek dan kemeja putih yang hanya mampu menutupi setengah dari pahanya.
Adit sempat terpana, karena disuguhi pemandangan indah yang tepat berada di depan matanya. Tidak munafik, sebagai laki-laki normal tentunya dia pasti tertarik. Lalu dengan mengepalkan tangan, Adit pun menutup mata untuk meredam keinginan yang hampir membangkitkan sesuatu dalam dirinya.
Ehem ehem
Adit sengaja berdehem keras. Selain untuk menetralkan tenggorokannya yang tercekat, dia juga ingin menarik perhatian Zahra yang masih asyik memunggunginya. Secara langsung, memberitahukan keberadaaanya yang masih berdiri di ambang pintu.
Merasa mengenali suara yang baru saja terdengar, Zahra pun bergegas menoleh. Zahra spontan menutup mulut dan segera menarik selimut, setelah sebelumnya mengerjapkan mata beberapa kali.
“Ke-kenapa kamu kesini?” Zahra terbata.
“Aku udah dapet izin kok, dari ibu.”
Adit berjalan mendekat. Sejenak mengedarkan pandangan untuk mengenali isi kamar sang kekasih. Dan tindakannya itu sukses membuat Zahra memundurkan tubuh, sampai menempel ke kepala ranjang.
“Jelaskan!” ucap Adit dengan wajah serius.
“Ap-apa?”
“Kenapa kau mau menunda rencana pertunangan kita?” tanya Adit seraya menempelkan bokongnya di pinggir ranjang.
“Karena aku belum siap, Dit.”
Zahra menunduk dalam. Dia tidak menyangka Adit akan langsung datang tanpa bisa menunda hingga hari esok. Membuatnya bingung mencari alasan terbaik, agar Adit tidak tersinggung.
“Kau yakin, kalau itu alasannya?”
Zahra mengangguk samar. Terlihat tidak yakin dengan dirinya sendiri.
Adit menghela nafas, mencoba meredam kemarahan yang semakin memuncak. Dia tidak mau menekan gadis itu untuk memberinya penjelasan yang bisa memuaskan hatinya. Dia juga tidak mau sampai lepas kendali, yang mungkin malah akan menimbulkan rasa takut Zahra.
“Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” Adit bertanya dengan nada selembut yang dia bisa.
“Ak-Aku…”
Adit sengaja mencondongkan tubuh, agar bisa mendengar jawaban Zahra dengan lebih jelas.
“Ak-aku ingin menunda pertunangan kita, sampai Mbak Rena bisa memberikan adik untuk Sekar.”
“Apa?!”
“Jadi… jadi kamu minta aku menunda melamar kamu karena Serena?” tanya Adit. Pria itu sudah bangkit dari duduknya.
“Bu-bukan karena Mbak Rena, tapi aku yang pengen seperti itu.”
“Apa kakakmu tahu?” Adit mulai berkacak pinggang.
“Tahu apa?”
“Tahu kalau… kamu memintaku untuk menunda lamaran, karena dia?”
Gelengan kepala Zahra menambah emosi Adit.
“Jujurlah padaku, Zahra. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa aku melakukan kesalahan yang membuatmu marah? Atau… kau masih meragukan cintaku?”
Lagi-lagi hanya gelengan kepala sebagai jawaban.
“Terus kenapa, Zahra?” Adit menyugar tatanan rambutnya. Dia begitu gemas menghadapi kebungkaman Zahra.
Adit dan Zahra sama-sama terdiam. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing, menciptakan susana hening tanpa ada yang ingin menyambung pembicaraan lagi.
Sampai…
“Heh! Gregetan banget gue nungguin kalian berdua.”
Serena tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu, mengagetkan kedua insan yang masih betah saling membisu. Berkacak pinggang dan memasang wajah judes. Rupanya sedari tadi, wanita itu mendengarkan percakapan dari luar. Mungkin lebih tepatnya, nguping.
“Apa maksud pembicaraan kalian barusan, hah? Lo! Atau lo yang mau ngejelasin ke gue?!” jari Serena menunjuk Adit dan Zahra bergantian.
“Mb-Mbak Rena…” ucap Zahra terbata. Dia bahkan harus menelan saliva, karena takut. Sumpah demi apapun, kemarahan Adit tidak seberapa dibanding dengan wajah Serena saat ini.
“Se-Serena…” suara Adit pun ikut tercekat.
“Ok! Karena lo cowok, jadi lo yang harus kasih gue penjelasan.”
Serena sudah berhadapan dengan Adit. Membuat pemuda itu gelagapan, dan sekilas melirik pada Zahra yang masih berada di atas ranjang.
“Se-sebenarnya…”
“Cepetan!” geram Serena yang tidak sabar menunggu Adit bersuara.
“Sebenarnya aku berencana buat melamar Zahra dalam waktu dekat. Awalnya Zahra sudah setuju. Tapi tiba-tiba… tadi dia nelpon dan memintaku untuk mengundurnya.”
Adit mendesah lega, dengan jawaban yang bisa dia ucapkan di bawah intimidasi tatapan tajam calon kakak iparnya itu.
“Kenapa?” sergah Serena.
“Apanya yang kenapa?” tanya Adit dengan wajah bingung.
“Kenapa Zahra nyuruh lo, buat mundurin acara lamarannya?”
“Zahra pengen acara lamarannya, setelah kamu hamil dan melahirkan adik buat Sekar.”
“Apa! Alasan macam apa itu?! Apa ngga ada yang lebih masuk akal lagi?!”
Kini Adit dan Serena sama-sama mengalihkan pandangan. Zahra mengkerut takut, mendapat sorotan menuntut dari kekasih dan kakaknya secara bersamaan.
Zahra masih tidak mau bersuara. Dia benar-benar tidak mau mengatakan alasan yang sebenarnya. Karena dia tahu dengan pasti, kalau Serena akan bertambah marah, dan mungkin akan membuat hubungannya dengan sang kakak, merenggang.
“Sayang…”
“Mama…”
Joni menggandeng Sekar masuk ke dalam kamar Zahra, disusul Maya dan Bi Sari di belakangnya.
“Ada apa ini?” tanya Maya.
Menyadari kehadiran semua anggota keluarga, Serena segera memutar otak untuk mencairkan suasana yang tegang. Dia tidak mau kalau sampai ibunya tahu perihal yang baru saja dia bahas dengan Adit. Serena juga tidak mau, kalau sampai Maya sakit karena memikirkan masalah Zahra, adiknya.
“Dit! Lo bawa cincinnya?”
Semua orang yang ada di kamar itu menatap bingung pada Serena.
“Cincin tunangannya, ogeb!” ulang Serena.
“Ah iya… aku bawa kok,” ucap Adit seraya merogoh saku celana dan mengambil kotak kecil dari dalamnya.
“Ini,” Adit memperlihatkan kotak kecil , dan membukanya.
“Pasang sekarang!” perintah Serena.
“Hah!”
Adit dan Zahra berbelalak kaget.
“Cepet pasang sekarang!” ulang Serena dengan suara keras.
Adit mengambil cincin yang berukuran lebih kecil dari salah satunya dengan tangan gemetar. Sementara Zahra pun, mau tidak mau mengulurkan tangan kirinya ke depan Adit.
Setelah Adit memasang cincin di jari manis Zahra, kini bergantian Zahra yang memasukkan cincin satunya ke jari manis milik Adit.
“Nah… sekarang kalian sudah resmi bertunangan,” ucap Serena sambil tersenyum lalu bertepuk tangan, dengan mengucapkan kata selamat.
Maya dan Bi Sari memeluk tubuh Zahra dengan penuh rasa haru. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan acara lamaran yang sangat mendadak ini. Bahkan mereka tidak ingin bertanya apa alasan dibalik laraman Adit, apalagi tanpa mengajak mereka berunding lebih dulu.
“Ih… kok ngga ada romantis-romantisnya banget sih?” rengek Zahra.
“Kagak pakek! Ngga usah banyak rencana, kalau masih iya-iya enggak-enggak. Dasar labil!” sinis Serena.
“Lo harus berterima kasih sama gue Dit. Kalau ngga ada gue, lo ngga bakalan bisa mengikat bocah itu,” bisik Serena dengan dagu yang menunjuk Zahra.
Adit mengusak puncak kepala Zahra yang masih memberengut. Dan pria itu langsung mengacungkan jari yang dilingkari cincin pertunangan, saat Zahra hampir melayangkan protes.
“Mulai sekarang… kamu adalah tunanganku,” bisik Adit.
.
.
.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.