KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 92


“Sekar… beri salam pada kedua nenekmu!”


“Iya papa,” jawabnya menurut. Dengan langkah malu-malu dan masih menahan kantuk, anak kecil itu memberanikan diri untuk berjalan mendekati dua orang wanita tua yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.


“Hallo nek, aku Sekar.”


Ibunya Serena tak bisa menahan diri untuk tidak mengelus pipi Sekar. Dia begitu gemas melihat Sekar yang sangat cantik dan imut. Sudah lama dia menginginkan seorang cucu, dan dengan datangnya Sekar dia merasa sangat bahagia.


Sedangkan Bi Sari malah terlihat tidak begitu antusias. Wajahnya terus saja menampilkan sikap tidak bersahabat, terlebih lagi saat tatapannya beradu dengan Joni. Ada banyak pertanyaan yang hampir menyembur dari mulutnya jika saja Joni tidak mengedipkan matanya sebagai tanda kalau dia akan menjelaskan semua, nanti.


Setelah menyalimi kedua neneknya, Sekar kembali mendekati Joni yang mengulurkan tangan agar dia berdiri di samping pria itu.


“Ibu… bibi… Joni akan menjelaskan semuanya, tapi sekarang Joni mau mengantar Sekar ke kamar dulu.”


“Iya Jon,” hanya ada suara dari ibunya Serena.


Joni menggandeng tangan Sekar menuju kamar Serena. Menyuruh gadis kecil itu untuk membersihkan diri, sementara dia mencari baju yang mungkin muat untuk Sekar di lemari Serena.


Karena Serena adalah seorang model, maka sudah pasti dia sangat menjaga bentuk tubuhnya. Hampir semua baju-baju miliknya yang berada di dalam lemari berukuran S, dan itu memudahkan Joni meminjam salah satu baju untuk Sekar.


Setelah Sekar selesai membersihkan diri, dia memakai baju yang diberikan oleh Joni. Walaupun masih terlihat sedikit kebesaran, tapi masih sangat cocok karena baju itu bergambar salah satu tokoh kartun terkenal yang ada di disneyland.


“Ayo… kita makan dulu. Setelah itu, kau baru boleh tidur lagi, menemani mama di kamar. Kau mengerti?” tanya Joni.


Sekar hanya mampu mengangguk. Sebenarnya tadi dia sempat menangis ketika berada di dalam kamar mandi. Hatinya merasakan kehangatan keluarga yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Kini dia begitu bahagia karena memiliki orang tua yang utuh, apalagi ditambah dengan dua orang nenek.


Sekar menyambut uluran tangan Joni, menggenggamnya penuh kasih sayang menuju meja makan. Dan ternyata di sana, ibunya Serena dan juga Bi Sari sudah menunggu. Sarapan yang sudah tidak bisa dibilang sarapan. Bahkan akan lebih baik jika disebut dengan makan siang, walau pun waktunya masih kurang.


Sebenarnya tubuh Joni merasakan lelah yang luar biasa. Perjalanan jauh dan kurang tidur, terus membuatnya beberapa kali menguap tanpa bisa ditahan. Setelah ini pun dia masih belum bisa mengistirahatkan diri, karena Bi Sari akan terus menyerangnya dengan tatapan penuh tanya.


Sekar memakan makanannya dengan penuh kegembiraan. Menu makanan yang jarang atau malah tidak pernah dia temui di rumah Ni Maryam, mampu membuatnya terus tersenyum sambil bersenandung kecil tanpa dia sadari. Joni dan ibunya Serena pun jadi ikut tersenyum karena melihat kelucuannya.


“Pelan-pelan Sekar. Disini tidak ada yang akan merebut makananmu,” tegur Joni sambil menarik tisu untuk membantu membersihkan mulut Sekar yang belepotan.


Mulut Sekar yang penuh dengan makanan menyulitkannya menjawab, dan dia hanya mampu menganggukkan kepala untuk menjawab teguran Joni. Walaupun Bi Sari masih belum menerima kehadiran Sekar yang tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan nenek, tapi dia juga tidak bisa bersikap jahat pada anak kecil itu. Bi sari secara perlahan menyodorkan gelas berisi air putih pada Sekar.


“Minumlah… kau bisa tersedak kalau cara makanmu seperti itu,” ucapnya.


Joni diam-diam tersenyum. Dia tahu benar bagaimana sifat wanita yang telah menghabiskan waktu untuk membesarkannya itu. Dia tidak mungkin bisa marah terlalu lama, apalagi jika dihadapan seorang anak kecil.


Melihat Bi Sari memberinya minum malah membuat Sekar menghentikan acara makannya. Gadis kecil itu langsung terdiam, bersamaan dengan hilangnya senyum yang tadi menghiasi wajah mungilnya. Tanpa perlu bertanya pun, Sekar bisa merasakan kalau Bi Sari tidak menyukainya.


“Minumlah dan makan pelan-pelan. Jangan takut padaku, bukankah aku adalah nenekmu?” tanya Bi Sari yang telah merubah ekspresi di wajahnya menjadi lebih lembut dan ramah.


Sekar menatap Joni, seolah sedang meminta persetujuan pada laki-laki yang kini di panggil dengan sebutan papa.


Joni menganggukan kepala, dan mengusap puncak kepala Sekar yang masih ragu-ragu.


“Minumlah, dan turuti perkataan nenekmu.”


Dengan gerakan yang begitu pelan, Sekar mengambil gelas yang diberikan Bi Sari padanya. Sedikit demi sedikit dia meneguk air dari dalam gelas, tapi dengan mata yang terus menatap ke arah Bi Sari.


“Kau menakutinya Sari,” ucap ibunya Serena yang mulai terkekeh karena sudah tidak bisa menahan diri melihat interaksi antara Sekar dan Bi Sari.


“Saya? Ngga kok bu,” elak Bi Sari.


“Dia cucuku, jadi jangan membuatnya takut untuk tinggal di rumah neneknya sendiri.”


Kini giliran Bi Sari yang mendapat teguran. Sebenarnya dia bukan tidak suka pada Sekar, hanya saja dia perlu mendapat penjelasan untuk menghilangkan tanda tanya besar di kepalanya.


Joni sudah lebih dulu menyelesaikan makannya, tinggal menunggu Sekar yang masih menerima beberapa suapan buah dari ibunya Serena.


Eehhhggg….


Suara sendawa yang sedikit keras dari Sekar membuat semua orang yang berada di meja makan tertawa lepas. Sedangkan gadis itu langsung menutup mulut dan menundukkan kepala karena merasa malu.


Joni kembali menggandengan tangan mungil Sekar menuju kamar Serena, mengantar gadis kecil itu untuk mengistirahatkan diri setelah perjalanan yang tidak sebentar. Sampai suara ibunya Serena menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.


“Joni… kau sebaiknya ikut istirahat juga. Kami masih bisa menunggu untuk mendengar penjelasan.”


Itu adalah sebuah perintah. Dan Joni sangat berterima kasih pada ibunya Serena yang begitu pengertian.


“Iya bu,” jawabnya.


Tinggallah dua orang wanita tua yang baru saja berganti status menjadi seorang nenek.


“Sari, ayo kita pergi”


“Kemana bu?” tanya Bi sari bingung.


“Sekarang kita berdua punya cucu, apa kau tidak ingin membeli sesuatu untuknya? Bukankah kau sendiri juga melihat kalau tadi cucu kita memakai baju Serena, yang itu artinya kalau Sekar tidak punya pakaian yang dia bawa kemari.”


Bi Sari mengangguk.”Tapi bu…”


“Tahan dulu rasa penasaranmu. Nanti Joni atau pun Serena pasti akan menjelaskannya pada kita. Pertama-tama kita harus berbelanja semua keperluan cucu kita dulu. Setelah itu, kau baru bisa mengintrogasinya.”


“Baiklah,” ucap Bi Sari setuju.


Karena kesehatan ibunya Serena tidak begitu bagus, jadi dia memilih berbelanja secara online. Ada banyak baju-baju dengan model yang sangat lucu terpampang di layar handphone milik ibu Serena, sampai membuat wanita itu lupa diri dan terus mengisi keranjang belanja.


“Apa ini tidak terlalu banyak?” protes Bi Sari.


“Tidak! Ini tidak banyak. Bahkan Sekar membutuhkan lebih dari ini.”


Serena memenuhi semua kebutuhan hidup ibunya dengan baik. Dan Bi sari yang mendapat kepercayaan telah mengelolanya dengan penuh perhitungan. Tak jarang uang yang diberikan oleh Serena untuk keperluan ibunya selama satu bulan malah bisa di pakai untuk keperluan jadi dua bulan.


Meskipun Bi Sari memegang semua uang yang di berikan oleh Serena, tapi dia memiliki semua bukti pengeluaran dan selalu memberitahukan hal itu pada Serena, jika gadis itu sedang datang berkunjung.


Setelah menunggu sekitar dua jam, semua pesanan ibunya Serena telah sampai dengan diantar mobil box berstiker sebuah nama toko online.


Bi Sari membayar semua belanjaan itu dengan sistem COD. Ada beberapa kardus yang telah turun dari dalam box mobil dan langsung di bawa masuk ke dalam rumah oleh kurir.


Ibunya Serena berbinar menatap kardus-kardus hasil jemarinya yang tidak berhenti menari di atas layar handphonenya tadi. Di sana terdapat bermacam jenis baju, mulai dari baju dalaman, baju tidur, sepatu bahkan juga beberapa boneka.


“Karena paketnya sudah datang, apa tidak sebaiknya ibu istirahat?”


“Tidak mau. Aku tidak sabar untuk segera memberikan semua ini pada cucu kita, Sari. Oh ya ampun… hari ini aku merasa sangat bahagia.”


“Apa saya harus membangunkannya?”


“Jangan!! biarkan saja. Aku akan menunggunya bangun disini sambil membongkar kardus. Baru nanti malam aku akan meminta ijin Joni untuk membiarkan Sekar tidur bersamaku.”


“Apa kau benar-benar sangat bahagia?”


“Tentu saja. Aku sudah lama memimpikan untuk memiliki seorang cucu. Dua putriku sama-sama belum mau menikah, dan itu membuatku sedikit hilang harapan. Aku berpikir kalau umurku yang tidak tahu sampai kapan ini, tidak akan punya kesempatan untuk merasakan bahagianya di panggil nenek. Tapi hari ini semuanya sudah berubah Sari. Anak siapapun itu, aku tetap merasa luar biasa bahagia dengan kehadirannya di rumahku ini. Aku akan menyayanginya, tidak peduli darimana asalnya.”


Ibunya Serena terus membongkar kardus dan merapikan semua isinya. Tidak ada sedikitpun rasa kantuk yang datang padanya siang ini. Dia bahkan tidak menyadari kalau Bi Sari sudah meninggalkannya untuk melanjutkan pekerjaan di dapur.


Tubuh Serena masih tidak memperlihatkan tanda-tanda akan bangun. Sekar memeluk tubuh Serena saat tertidur. Dia diberikan ijin oleh Joni untuk tidur seranjang dengan wanita yang akan dipanggilnya dengan sebutan mama mulai sekarang.


“Mama… jangan terus mengikutinya. Dia akan kembali saat dia sudah siap. Jadi jangan pergi terlalu jauh. Cepatlah pulang,” bisik Sekar di telinga Serena.


Berada di ranjang dan selimut yang sama bersama Serena, semakin membuat tidur Sekar bertambah nyenyak. Selama ini dia tidur sendiri, karena Ni Maryam tidak pernah mau untuk tidur bersama dengannya. Bahkan saat Sekar sedang ketakutan karena bunyi hujan deras bercampur petir pun, nenek itu selalu menolak.


---------------------------------------------


Zahra sudah sepenuhnya sadar. Jiwanya sudah sempurna kembali ke dalam tubuhnya. Dokter senior langsung mengijinkannya pulang saat itu juga. Hanya saja gadis itu lupa dengan kejadian sebelumnya, yang membuatnya tidak sadar. Sebenarnya itu bagus, karena Joni tidak harus menjelaskannya panjang lebar.


“Mbak Rena dimana Bang Jon?”itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Zahra, saat gadis itu bangun. Dokter yang merawatnya pun heran dengan sakit Zahra yang sedikit aneh. Tapi mereka sepertinya tidak mau ambil pusing, karena Zahra sendiri tidak banyak bertanya tentang sakitnya.


“Ada di rumah. Ayo! Kita harus cepat pulang, karena Bang Jon sebentar lagi akan diwawancara.”


“Wawancara apa? Bang Jon ganti pekerjaan? Bang Jon mau berhenti jadi sopirnya mbak Rena ya?”


“Bang Jon akan jelaskan di rumah. Ada seseorang yang mau Bang Jon kenalkan padamu.”


‘Siapa?”


“Ada deh…”


---------------------------------------------


Tidak ada yang bersuara. Semuanya masih membisu dengan kening yang berkerut.


Penjelasan panjang lebar dari Joni mengenai alasan Serena yang belum terbangun hingga saat ini, hadirnya gadis kecil bernama Sekar serta sakit dan sembuhnya Zahra yang terjadi tiba-tiba, sepertinya belum bisa di pahami sepenuhnya oleh seluruh keluarga.


Zahra bisa merasakan suasana tegang yang begitu kuat. Cerita Joni tentu sulit dimengerti dengan akal sehat, apalagi untuk ukuran ibunya dan juga Bi Sari. Dia merasa perlu membawa Sekar agar tidak berada di tempat itu terus menerus.


“Sekar...” panggil Zahra pada anak kecil yang duduk di samping Joni.


“Iya,” jawabnya lirih.


Zahra tersenyum terlebih dahulu, dia tahu kalau Zahra belum mengerti dengan situasi tegang yang terjadi di hadapannya itu.


“Ayo ikut tante ke kamar, kita lihat bagaimana kabar mamamu.”


Zahra mengulurkan tangan pada Sekar, membawa gadis itu pergi dari kumpulan orang tua yang masih berdiam diri.


“Ikutlah dengan tantemu lebih dulu,” perintah Joni.


Sekar menurut. Dia berjalan beriringan dengan Zahra dengan tangan yang saling berpegangan.


“Mulai hari ini, Sekar adalah keponakan tante.”


“Tante?”


“Iya. Panggil aku dengan sebutan tante.”


“Tante itu apa?” tanya Sekar dengan wajah polosnya, dan itu menghangatkan hati Zahra.


“Tante adalah sebutan untuk adik perempuan dari mama atau papa. Kau mengerti?”


Sekar tersenyum dan mengangguk.


“Sekar… apa kau bisa melihat, ada dimana mama kamu sekarang?”tanya Zarha begitu mereka masuk ke dalam kamar.


Pertanyaan Zahra bukan tentang tubuh Serena, tapi tentang jiwanya.


“Apa Sekar bisa merasakan kehadiran mama di kamar ini?”ulangnya.


“Mama tidak ada di kamar ini tante. Tapi kata Ni maryam, mama akan segera pulang setelah papa menyelesaikan pekerjaannya.”


“Benarkah? Kalau begitu sekarang Sekar harus berdoa, semoga kedua nenek Sekar yang ada di luar sana menyetujui permintaan papa,” ucap Zahra.


Sekar naik ke atas ranjang Serena. Mengulurkan tangan untuk memegang kening dingin Serena dan menutup mata. Zahra memberikan waktu pada Sekar yang terlihat seperti sedang membaca atau mengatakan sesuatu.


-


Joni seolah kehabisan nafas menunggu reaksi dari ibunya Serena. Wanita tua yang juga sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri belum mengeluarkan suara apapun. Jemarinya terus bergerak karena gugup. Sedangkan Bi Sari sudah banjir air mata.


Apakah dia akan ditolak?


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.