KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 105


“Aku bisa kembali, tapi sayang datang terlambat. Maafkan aku Serena….”


Joni membakar habis iblis wanita sampai menjadi debu, yang akhirnya hilang bersama hembusan angin. Mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah, untuk memastikan tidak adanya jejak iblis yang tertinggal. Setelah yakin kalau semuanya telah bersih, dia mengendarai mobil menuju rumah sakit, menyusul sang istri dan keluarganya.


Begitu tiba sampai rumah sakit, Serena langsung mendapat penanganan oleh dokter spesialis kandungan. Zahra melakukan semua yang bisa dia perbuat untuk membantu sang kakak agar segera menerima bantuan secepatnya. Maya berkali-kali menitikkan air mata sambil berjalan mondar mandir tidak jelas di depan ruangan yang sedang menangani anaknya.


“Sebaiknya ibu duduk dulu,” ucap Adit membimbing Maya ke salah satu kursi yang berada di koridor. “Kita sama-sama berdoa untuk keselamatan Serena dan calon anaknya,” sambungnya.


“Ibu takut, Dit.”


Melihat Maya yang kembali menangis, Adit hanya bisa diam dan mengawasi. Dia takut kalau calon ibu mertuanya itu akan tiba-tiba jatuh pingsan karena beban pikiran. Tapi dibanding dengan kekhawatirannya terhadap Maya, Adit lebih takut untuk mendengar kabar tentang keadaan Serena.


“Semoga semuanya baik-baik saja,” batin Adit.


Bi Sari sibuk menenangkan dan memeluk Sekar yang masih menangis sesenggukan di dalam mobil Adit. Mulut anak kecil itu tak henti-hentinya mengucapkan permintaan maaf pada sang calon adiknya. Zahra melarang Sekar masuk ke dalam rumah sakit, jadi Bi Sarilah yang mendapat tugas untuk mengurus bocah itu selama Serena masih mendapat perawatan.


Tak berselang lama Joni pun sampai ke rumah sakit. Laki-laki itu bisa menemukan rumah sakit, dimana istrinya dirawat tanpa bertanya pada siapapun. Sebelum masuk ke rumah sakit, Joni menghampiri Sekar lebih dulu. Dan Sekar yang melihat kedatangan Joni, langsung turun dari pangkuan Bi Sari dan melompat ke dalam pelukan Joni.


“Maafin Sekar… hiks hiks… Sekar ngga bisa jagain adek,” ucapnya sedih.


“Aku juga minta maaf karena datang terlambat.”


“Adek his hiks… adek udah ngga ada… hiks,” cicit Sekar dalam pelukan Joni.


“Aku tahu,” timpal Joni.


Bi Sari yang mendengar percakapan antara Joni dan Sekar, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya seketika mengalir deras. Dia tidak menyangka kalau janin calon anak Serena tidak bisa diselamatkan.


“Ya Alloh… kasian Mbak Rena,” gumam Bi Sari.


Lama kelamaan, tangisan Sekar mulai mereda. Joni terus mengelus punggungnya dengan penuh kasih sayang. Anak kecil yang kemarin begitu bahagia dengan kehamilan Serena, kini harus merasakan kesedihaan mendalam. Dia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, bagaimana tubuh Serena lunglai dengan banyak darah yang mengalir.


“Tunggulah di sini bersama dengan nenekmu, aku akan masuk ke dalam untuk melihat keadaan mama,” kata Joni. Sekar mengangguk.


Joni memindahkan tubuh Sekar dari pelukannya ke pangkuan Bi Sari. “Titip Sekar ya, Bi.”


Joni segera meninggalkan Sekar dan Bi Sari. Berjalan cepat menuju ruang gawat darurat, tempat dimana Serena berada. Dari kejauhan, Joni bisa melihat Maya dan Adit yang sama-sama tertunduk.


“Bu…,” sapa Joni pada Maya.


Melihat kedatangan sang menantu, Maya pun bangkit dari duduk dan langsung memeluknya.


“Bagaimana ini Jon? Rena masih belum keluar dari tadi,” adu Maya dengan uraian air mata.


“Bu… sebaiknya ibu pulang saja. Tidak baik, kalau ibu terlalu lama di sini.”


“Tapi ibu mau lihat keadaan Rena. Ibu tidak bisa tenang kalau harus pulang sekarang,” tolak Maya.


“Tapi Joni juga tidak mau melihat Ibu sakit. Nanti Rena pasti akan marah, kalau Joni tidak bisa merawat Ibu,” sanggah Joni. “Joni janji akan langsung kasih kabar ke Ibu, kalau Rena sudah selesai ditangani oleh dokter,” sambungnya.


“Iya Bu, sebaiknya Ibu menunggu di rumah saja.”


Adit bersuara. Dia ikut berusaha menenangkan Maya dan membujuknya untuk pulang.


Akhirnya Maya pun mengalah. Walaupun hatinya masih merasa tidak tenang, tapi dia juga perlu menjaga kesehatannya sendiri. Selain Joni, dia juga bisa mengandalkan Zahra untuk menjaga sang kakak di rumah sakit. Dan Maya telah meminta Joni untuk segera memberinya kabar tentang perkembangan terbaru tentang Serena, putrinya.


Adit mengantar Maya, Bi Sari, dan Sekar pulang ke rumah. Melajukan mobilnya di jalan raya yang mulai lengang. Mereka pun bisa sampai ke rumah dengan waktu lebih cepat dari biasanya, tanpa hambatan berarti.


Setelah membukakan pintu untuk Maya dan Bi Sari, Adit mengangkat tubuh Sekar ke dalam kamar Serena. Merebahkannya perlahan di atas kasur, karena tidak mau membuatnya terbangun dan kembali menangis. Anak kecil itu tertidur pulas selama perjalanan pulang.


“Adit langsung balik ke rumah sakit ya, Bu.”


“Iya. Hati-hati,” ucap Maya dan Bi Sari bersamaan.


---------------------------------------------


BRAKKK…


Didalam ruang pribadinya, Bram melempar semua benda yang ada di atas meja. Dia begitu marah mendengar berita kalau Serena terluka dan harus masuk ke rumah sakit akibat ulah iblis suruhannya.


“Dasar bodoh!”


“Berani sekali dia mengkhianatiku!” Bram melampiaskan kemarahan dengan menghancurkan semua benda yang dia lihat. Dia juga menendang kursi dan melepar gelas-gelas antik yang berjejer rapi di mini bar miliknya.


“Lalu, di mana dia sekarang?” tanyanya.


Salah satu penjaga tak kasat mata yang berada di pojok rumah datang menghampirinya. Penjaga itu pun membeberkan semua informasi tentang keberadaan sang iblis wanita. Tidak lupa juga, dia menceritakan bagaimana iblis milik Bram itu dimusnahkan oleh penjaga Serena.


“Ha… haaa…”


Bram tertawa lepas mendengar jawaban dari sang penjaga.


“Bagus! Tanpa harus bersusah payah, akhirnya aku bisa lepas dari jeratan iblis wanita maniak itu. Ha… haa,” tawa bahagia menggema di dalam ruangan yang sengaja dibuat kedap suara.


Tawanya kemudian terhenti saat dia mengingat keadaan Serena. “Apa wanita itu akan selamat?” tanyanya lagi.


“Baiklah, sekarang aku akan pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaanya. Dan kau! Jaga rumah dengan baik, selama aku pergi.”


Saat keluar dari ruang pribadinya, Bram bertemu dengan salah satu istrinya di depan pintu.


“Ada apa?” tanya Bram.


“Kau mau pergi kemana?”


“Bukan urusanmu!” jawab ketus Bram.


“Apa kau lupa kalau malam ini adalah giliranku?”


“Aku akan pergi sebentar, tunggulah di kamar!” perintah Bram.


Sebelum memberanikan diri menjemput Bram di ruangannya, wanita itu sengaja memakai baju paling seksi dan menyemprotkan parfum mahal pada tubuhnya. Sengaja ingin menggoda sang suami dan berharap mendapat malam yang panas dan menggairahkan.


“Aku tunggu di kamar. Jangan lama-lama,” jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata. Dia kemudian membalikkan tubuh dan berjalan menjauh.


Bram segera keluar rumah dan pergi dengan mobilnya yang masih terparkir di halaman. Dia sengaja tidak meminta bantuan supir untuk mengantarnya, dan memilih berkendara sendiri.


---------------------------------------------


Ditengah malam yang sepi, Joni terbangun dari tidurnya. Tangannya bergerak untuk mengucek mata dan mulai mengerjap perlahan.


“Dimana aku?” tanyanya dalam hati.


Joni berkali-kali menajamkan penglihatannya karena merasa aneh dengan tempatnya saat ini. Dia menjadi bingung, karena kalau menurut ingatan terakhir, dia seharusnya sedang berada di dalam kantor kafe.


“Siapa kau?!” tanya Joni pada sosok pria yang duduk di samping brangkar. Di atas ranjang sana, Joni melihat sesosok wanita yang terbaring dengan selang infus tertancap di punggung tangan kirinya. Karena penasaran, dia pun berjalan mendekat.


Pria yang dia tanyai tadi masih diam tak menjawab, tertunduk sambil menggenggam tangan si pasien.


Dekat dan semakin dekat.


Dan betapa kagetnya Joni, saat dia tahu kalau yang ada di atas ranjang adalah Serena, istrinya. Joni langsung meraih satu tangan Serena dengan lembut dan mengusapnya.


“Rena!” pekiknya.


“Kamu kenapa sayang?”


“Sayang… kamu kenapa?” tanyanya lagi.


“Maaf…” ucap pria yang duduk di seberang Joni berdiri.


Mata Joni terbelalak lebar, ketika menatap pria itu. Dia seolah sedang berkaca saat tatapan mereka berdua beradu. Bentuk tubuh yang sama dan wajah yang sama. Joni mengenali siapa yang ada di hadapannya sekarang.


“K-kau!”


“Maaf tidak bisa menyelamatkan anak kalian,” pria itu kembali tertunduk.


“Apa maksudmu, Braja?!” tanya Joni.


“Ada iblis yang datang ke rumah dan mencelakai Serena.”


“APA?!”


“Iblis itu menjalankan perintah dari seorang manusia yang gila harta. Dia bahkan membuatmu tertidur agar tidak bisa mengganggu rencana liciknya.”


“Mak-maksudmu, orang yang tadi siang bertemu denganku itu adalah pelakunya?” tanya Joni. Nafasnya memburu karena menahan amarah.


“Iya. Dia berhasil mengelabui Serena dan membuatnya keluar rumah saat magrib tanpa perlindungan.”


“Lalu bagaimana keadaan Rena sekarang?”


“Dokter tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungan Serena. Tadi keadaanya juga sempat kritis karena pendarahan yang keluar dari tubunya sulit dihentikan.”


“Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang?” Joni sudah tertunduk lesu. Dia begitu kecewa karena tidak bisa melindungi istri dan calon anak mereka dengan baik.


“Ck kau kan suaminya. Kau seharusnya lebih tahu, apa yang harus dilakukan. Dia pasti merasa sangat sedih. Jadi lakukan apapun untuk bisa menghiburnya,”


“Apa ibu sudah tahu berita ini?” tanya Joni kemudian.


“Tadi aku sudah mengabari ibu, dan beliau pasti sudah mendengar penjelasannya karena Zahra juga sudah pulang ke rumah.”


Salah satu jari Serena bergerak. Menandakan sang pasien sebentar lagi akan sadar. Joni dan Braja semakin mendekatkan diri ke brangkar. Mereka berdua sama-sama menunggu Serena membuka mata.


“Mas…” ucapan pertama Serena terdengar.


“Iya, mas di sini,” saut Joni.


“Maafin Rena, mas… hiks hiks” tangisan Rena terdengar menyayat hati. Wanita itu sudah bisa mengingat semua peristiwa menyakitkan yang membuatnya berada di tempatnya kini berada. Joni yang tak kuasa melihat tangisan sang istri pun ikut menitikkan air mata.


“Maafin Rena, mas…”


“Shhhut… mas yang seharusnya minta maaf. Mas ngga bisa jagain kamu dengan baik, sampai kita harus kehilangan dia,” ucap Joni yang sekuat tenaga menahan isakan supaya tidak lolos dari mulutnya.


“Rena yang salah, mas. Rena ngga nurut apa omongan kamu, dan Rena yang udah membuat dia harus pergi secepat ini hiks hiks.”


“Sudahlah. Mungkin dia belum menjadi rejeki kita berdua,” ucap Joni sambil memeluk tubuh istrinya.


Serena memejamkan kedua mata, hatinya begitu hancur begitu menyadari kalau di dalam perutnya sudah tidak ada lagi janin yang sangat dia cintai. Penyesalan besar yang dia rasakan menambah rasa sedih dan sakit.


“Mas!” Serena melepaskan pelukan Joni dengan kasar. “Bagaimana dengan Sekar?!” tanyanya. Tiba-tiba dia langsung teringat dengan Sekar. Putrinya itu pasti juga merasakan kehilangan, sebesar yang dia rasakan.


“Sekar baik-baik saja,” jawab pria yang berada di belakang punggung Serena.


Seketika Serena pun membalikkan badan, saat tahu kalau ada orang lain yang berada di dalam ruang perawatannya.


“Ka-kau!”


Braja tersenyum.


“Iya. Aku kembali. Tapi maaf… karena datang terlambat,” satu tangannya membelai pipi Serena dengan lembut.


“Kapan kau kembali? Bagaimana bisa?” tanya Serena beruntun.


“Kapan-kapan akan aku ceritakan, sekarang yang terpenting, kau harus merawat dirimu dengan baik. Jangan terlalu banyak pikiran, dan jangan terlalu lama bersedih. Perlu kau tahu, kalau aku sudah menghancurkan iblis yang berani mengganggumu tadi,” ucap Braja pada Serena.


“Tapi anakku…” adu Serena sedih.


“Kau masih muda, masih banyak kesempatan lain untuk memilikinya. Saat ini ada bahaya yang sedang mengincarmu, dan kau tidak boleh lengah lagi.”


Joni membantu Serena untuk kembali berbaring di ranjang untuk istirahat. Serena terus menggenggam dan tidak mau melepaskan tangannya walau sebentar saja.


“Mas ngga akan kemana-mana, jadi tidurlah, ” ucap Joni untuk menenangkan istrinya.


“Joni…” panggil Braja.


Joni dan Serena menoleh bersamaan.


“Untuk sementara, bolehkah aku tinggal di dalam tubuhmu?” tanyanya ragu-ragu. “Aku tidak akan mengganngu saat kalian sedang berduaan. Aku juga akan pergi ke tempat lain, kalau kalian akan….”


Seketika Braja menghentikan ucapannya. Joni dan Serena sama-sama tahu apa yang menjadi kelanjutan dari perkataan Braja. Sepasang suami istri itu saling berpandangan, dan saling melempar tanggung jawab untuk menjawab pertanyaan Braja.


“Bagaimana, Rena?”


“Terserah mas aja,” jawab Serena.


“Baiklah. Tapi ini hanya untuk sementara,” ucap Joni pada Braja.


“Aku hanya ingin ikut menjaga Serena dari manusia itu, sampai aku menemukan orang yang bersedia menampungku dalam tubuhnya.”


“Kenapa kau mematikan lampunya?” tanya Serena pada Braja. Ruangan tempatnya di rawat menjadi gelap gulita karena Jin mantan suaminya itu mematikan semua lampu.


“Shhhut, diamlah. Manusia yang mengincarmu ada di luar, dia sedang mengawasimu dari jauh.”


“Kurang ajar! Aku akan menghabisinya sekarang juga,” kata Joni yang seketika bangun dari kursinya dan hendak pergi keluar.


“Mas!” pekik Serena. Tangannya yang masih saling bertaut dengan Joni, ikut tertarik dan terasa sakit.


“Mas harus memberinya pelajaran, karena sudah mengganggumu!” ucap Joni sambil menahan emosi.


“Tenanglah… kau tidak perlu melakukan apapun sekarang. Aku yang akan memberinya hukuman karena telah menyakiti Serena. Tapi tentu tidak sekarang. Aku akan menghabisi penjaganya terlebih dulu, satu per satu. Baru kemudian membuatnya kehilangan semua yang dia punya.”


Serena akhirnya bisa tertidur pulas, saat Joni terus mengelus puncak kepalanya dengan penuh kelembutan. Walau pun dia masih begitu sedih akan kehilangan besar dan batinnya yang terisi dengan penyesalan, tapi dia berusaha tabah. Hatinya terasa lebih tenang saat menyadarai kalau saat ini Joni akan terus menjaganya dengan baik.


Dengan kembalinya Braja, itu berarti dia akan mendapat bantuan untuk melindunginya dari kejahatan yang tidak mampu dia lihat dengan kaca mata manusia biasa.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.