
Yudi memperlambat laju mobil yang dia kendarai ketika melewati jalan depan rumah Maya. Menatap keluar jendela dan berharap tanpa sengaja bisa melihat ibu dari dua anak-anaknya.
Belum ada ketuk palu hakim yang memutus hubungan mereka, jadi Yudi ingin sesekali duduk dan berbincang santai dengan Maya, walaupun mungkin itu akan sulit terwujud. Maya akan lebih banyak diam dan hanya menjadi pendengar yang baik, kala Yudi mulai berbicara. Mereka lebih seperti dua orang asing tapi terikat satu sama lain.
“Silahkan masuk, Paman!” Adit membuka pintu dan memberikan jalan pada Yudi, calon mertuanya.
“Iya.”
Yudi akhirnya membelokkan mobilnya ke rumah milik Adit, daripada ke rumah milik Maya. Ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Serena dan Joni perihal masalah club. Tapi hatinya merasa kurang nyaman jika Maya ikut mendengar apa yang akan dia sampaikan.
“Adit sudah memberitahu Zahra, kalau paman akan datang kesini. Mungkin sebentar lagi dia akan datang,” kata Adit sambil memberikan secangkir kopi pada Yudi.
“Sebenarnya paman datang kesini, karena ingin bertemu dengan Serena atau Joni.”
“Paman ada masalah?” tanya Adit.
“Kurang lebih seperti itu. Paman sudah melakukan yang terbaik untuk mengatasi semua masalah yang terjadi, tapi sepertinya… ini bukan hal yang mudah untuk diselesaikan. Dan Serena atau Joni, harus tahu semuanya.”
“Apa ini menyangkut masalah club?”
“Iya,” jawab Yudi. Dia meraih cangkir kopi dan menyesapnya perlahan.
Sambil menunggu kedatangan Zahra, Adit mengajak Yudi membicarakan hal lain selain bisnis yang mereka jalani masing-masing. Dia tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan club milik Joni yang diserahkan pada Yudi untuk dikelola. Sebagai seorang pengusaha, dia bisa saja memberikan saran, tapi Adit hanya akan membantu jika diperlukan.
Ting tong
“Ayah… Adit, apa ada orang di dalam?” teriak Zahra dari arah depan rumah.
Yudi dan Adit sama-sama bangkit dari sofa dan menyambut kedatangan Zahra. Gadis itu langsung mencium punggung tangan Yudi dan memeluknya, begitu mereka bertemu. Hari pernikahan Serena dan Joni, adalah terakhir kalinya Zahra melihat Yudi. Dan setelah itu, baik Yudi ataupun Zahra telah kembali pada dunia dan kesibukan masing-masing.
“Apa kabarmu, sayang?” tanya Yudi.
“Zahra sehat, Ayah sendiri?”
“Ayah juga sehat. Lalu bagaimana kabar kakakmu Serena dan juga i…” ucapan Yudi terhenti. Dia merasa sedikit malu ketika menanyakan keadaan Maya pada Zahra.
“Ibu?” tanya Zahra memastikan.
“Iya.”
“Mbak Rena, Bang Joni, Sekar, Ibu dan juga Bi Sari, semuanya sehat kok Yah. Kami semua dalam keadaan baik.”
“Baguslah kalau begitu. Apa Joni ada dirumah, nak? Ayah ingin bertemu dengannya.”
“Kenapa Ayah ngga ke rumah aja langsung?”
“Mungkin lain kali,” jawab Yudi.
“Kamu bawa apa sa… yang?” tanya Adit. Dia melihat bungkusan yang ada ditangan Zahra, tapi pertanyaanya harus terpotong saat tidak sengaja bersitatap dengan Yudi. Kata ‘sayang’ yang biasa Adit gunakan untuk memanggil sang kekasih, sepertinya masih asing di telinga Yudi, sehingga laki-laki tua itu memprotes melalui kerutan di dahi.
“Oh iya, hampir lupa. Tadi Zahra belajar bikin rainbow cake sama mbak Rena, dan ini hasilnya. Semoga ngga mengecewakan,” ucap Zahra semangat. Dia segera mencari piring kecil dan pisau untuk memotong cake yang dia bawa.
“Apa kamu belajar bikin cake ini, karena Adit?” tanya Yudi.
Pipi Zahra bersemu. Tebakan Yudi memang benar adanya, tapi saat Adit sengaja menatap dan menunggu jawabannya, Zahra hanya bisa tertunduk malu.
“Ck ck ck. Kau lihat, betapa baiknya putriku ini? Aku akan menghajarmu, kalau kau sampai membuatnya menangis.”
Yudi memberikan peringatan keras. Dia tidak mau ada satu pria pun yang menyakiti anak gadisnya. Adit hanya bisa meringis mendengar ancaman dari Yudi, dan berjanji di dalam hati kalau dia akan menjaga Zahra dengan baik. Kemudian mereka sama-sama menikmati rainbow cake buatan Zahra dengan sesekali memberi pujian.
Tok tok tok
Joni datang ke rumah Adit sesuai permintaan Yudi. Dia hanya datang bersama Serena, setelah menitipkan Sekar yang sedang tidur pada Maya. Begitu menerima pesan yang dikirim oleh Adit, Joni membatalkan rencananya untuk menemani Sekar tidur siang. Mengajak serta Serena untuk menemui sang mertua, meski istrinya tampak malas.
“Kalian hanya datang berdua? Dimana cucuku, Sekar?” tanya Yudi.
“Iya Ayah. Sekar sedang tidur siang, jadi kami tidak membawanya kemari.”
Jawaban Joni membuat Yudi tampak kecewa, tapi pria tua itu segera mengubah raut wajahnya saat bisa melihat Serena dalam keadaan baik. Putri sulungnya adalah orang yang paling tersakiti, saat dia memutuskan pergi meninggalkan keluarga, dulu. Karena sejak kecil, Serena memang lebih dekat dengannya dibanding Zahra. Sekarang semuanya terbalik, dan selalu ada rasa bersalah yang tersisa di hati Yudi untuk Serena.
Setelah perbincangan yang cukup panjang, akhirnya Yudi berpamitan pulang untuk kembali ke club. Hatinya menjadi sedikit lega, karena apa yang menjadi beban pikirannya selama beberapa hari ini hampir terselesaikan. Walaupun semuanya belum mendapat solusi yang jelas, tapi setidaknya, ada orang-orang yang akan membantunya mengurus hal itu.
---------------------------------------------
Malam harinya, Sekar duduk dipangkuan Serena dengan sendok buah ditangan. Setelah makan malam, semua nggota keluarga termasuk Bi Sari, berkumpul di ruang tengah sambil menonton acara anak-anak di tv.
“Sekar boleh bobo sama mama, ngga?” tanya Sekar.
“Boleh dong sayang,” jawab Serena sembari mencubit gemas pipi tembem Sekar. Sekarang anak itu terlihat lebih berisi dibanding saat baru pertama kali dia datang ke rumah Maya. Serena dan Joni mencukupi semua kebutuhannya dengan baik, termasuk kasih sayang yang berlimpah.
“Kenapa ngga tidur di kamar nenek aja, Sekar?” Maya menggoda.
“Malam ini, Sekar maunya bobo sama mama.”
“Baiklah. Kalau itu maunya Sekar,” ucap Maya.
Mendengar Maya berkata demikian, Sekar malah menjadi tidak enak hati. Dia berbalik dan bertanya. “Apa nenek marah?”
Maya tersenyum, “ngga dong, sayang. Kenapa nenek harus marah?”
“Yey… Sekar bobo sama mama,” seru bahagia Sekar.
“Papa ngga diajak nih?” sindir Joni. Dia memasang wajah memelas, karena sang putri seperti melupakannya.
Gelengan kuat dari kepala Sekar menyangkal tuduhan Joni padanya.
“Gendong,” pinta Sekar pada Joni. Anaknya itu mengulurkan tangan dan bertingkah manja untuk meluluhkan hati sang papa. Dan Joni hanya tersenyum seraya menerima uluran tangan dari si kecil dengan senang hati. Dia menggendong tubuh Sekar dan menggenggam tangan Serena menuju kamar mereka.
-
Tepat pukul 11 malam, Joni mulai membuka mata. Dari tadi dia hanya pura-pura ikut terpejam, agar Serena tidak menaruh curiga. Joni bergerak perlahan untuk memastikan kalau Serena sudah tertidur dengan nyenyak. Dia mengelus pipi dan mengawasi perubahan raut wajah Serena untuk benar-benar yakin, kalau istrinya telah berada di alam mimpi.
“Jaga mama ya, sayang!” perintah Joni. Dia berbisik pelan pada Sekar yang tidur membelakanginya dan menghadap ke arah Serena. Tangan anaknya terangkat, dan jarinya membentuk huruf O, seperti tadi siang. Joni tersenyum saat menyadari kalau putrinya itu ternyata belum tidur, karena benar-benar ingin membantunya menjaga Serena.
Joni mulai turun dari ranjang dengan penuh kehati-hatian. Dia tidak mau membuat Serena terbangun dari tidur lalu ketakutan, karena malam ini akan ada sesuatu yang terjadi.
Joni sudah mematikan semua lampu rumah, kecuali kamar mandi dan dapur. Karena dengan begitu, dia bisa mengawasi semua pergerakan yang mencurigakan, tanpa bisa terlihat dari luar. Dia duduk di sofa dan menunggu kedatangan tamu yang tak diundang ke rumah Maya.
-
Dan tak berselang lama, apa yang sudah ditunggu oleh Joni pun, akhirnya datang. Orang itu sama sekali tidak menyadari kalau semua gerak geriknya sedang diawasi dari dalam rumah. Untuk malam ini, Braja sengaja membuka mata batin Joni, agar bisa melihat semua yang tak kasat mata lain secara leluasa.
Pak Andi dengan santainya berjongkok dan menurunkan anak kecil botak dari gendongan belakangnya. Dengan penglihatan yang dimilikinya saat ini, Joni jadi bisa tahu, seperti apa bentuk anak kecil yang Sekar sebut sebagai temannya.
“Ambil semua uang yang ada di rumah ini!”
Si bocah kecil menggeleng.
“Kenapa?”
“Dia temanku.”
“Aku tidak peduli, cepat masuk dan ambil uangnya!”
Joni bahkan bisa mendengar perintah yang diberikan oleh Pak Andi pada peliharaannya. Dia geram dengan kelakuan Pak Andi yang memanfaatkan makhluk kecil itu untuk mencari uang dengan cara mencuri milik orang lain.
Dengan langkah malas, sang anak kecil itu pun masuk ke dalam rumah dengan menembus pagar dan tembok. Pak Andi tersenyum puas dan berlalu. Dia kembali ke rumahnya dan berjalan penuh semangat.
Sementara itu di dalam rumah, Joni segera bangkit dari duduk. Penyusup kecil yang memasuki rumah Maya sudah berdiri di depan matanya. Anak itu sudah terlihat ketakutan karena Joni dan Braja menatap tajam padanya.
“Harus kita apakan dia, Braja?”
“Tangkap dan kembalikan ke habitatnya.”
“Lalu pemiliknya?”
“Aku punya hadiah kecil untuknya, sebagai ganti dari makhluk ini.”
“Apa itu?”
“Kau akan melihatnya besok.”
“Ck, kau membuatku penasaran!”
“Itulah aku ha… haaa….”
.
.
.
***
Info perubahan jadwal up.
Selama ramadhan, Si_Ro akan up 2 hari sekali. Kalau ternyata muncul notif up tanpa libur, berarti Si_Ro lagi baik. Tapi kalau 2 hari ngga up juga, berarti Si_ro lagi bete. (jelek banget kalau yg ini)
Mohon dimengerti, karena Si_Ro juga pengen punya tabungan akherat.
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.