KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 49.



“Jangan ganggu hidup Serena lagi, ini peringatan untukmu” Ancam Juan


“Dia wanitaku! Kau tidak bisa membawanya!” bentak Farrel sambil mengibaskan tangan Sarah dari lengannya dan mengejar Serena


Serena menghentikan langkah, sedangkan Juan langsung merangsek maju menghalangi langkah Farrel yang berniat mendekati Serena, mencengkram kerah baju yang di kenakan Farrel dengan penuh amarah.


Farrel melawan Juan, beradu dada dan saling mendorong, sama sama mengeluarkan kekuatan tubuh untuk mempertahankan kepemilikan pada Serena tanpa ada satupun yang ingin mengalah lebih dulu.


“Ck ck ck apa sekarang kau merasa bangga Serena? diperebutkan oleh dua orang laki laki!”


PLAK


Disaat Farrel dan Juan sibuk berkelahi, Sarah memanfaatkan kelengahan mereka dan langsung menampar wajah Serena yang sedang berdiri dekat mobil Juan.


Sontak Farrel dan juga Juan menghentikan pergulatan mereka dan memalingkan pandangan ke arah Serena yang terlihat memegangi pipinya.


“Serena…” ucap Farrel dan Juan bersamaan, sesaat beradu pandang seolah membuat kesepatakan untuk saling melepaskan cengkraman, belum sempat keduanya menolong gadis itu, mereka malah melihat pergerakan dari Serena yang melayangkan tangannya untuk membalas


PLAK PLAK


Tamparan yang sangat keras mendarat indah di pipi Sarah, bukan satu kali tapi dua kali. Kedua sisi pipi Sarah memerah, terasa perih dan menyakitkan, dia begitu syok menerima pembalasan dari Serena. Biasanya gadis itu tidak pernah membalas perlakuan apapun darinya, hanya pasrah menyerah, berlalu dan menganggap tidak terjadi apa apa.


“Sialaaaan! Lo berani sama gue!” bentak Sarah


“Yah! Gue berani sama lo. Kenapa? Lo ngga terima?! gue bukan Serena yang dulu lagi, mulai detik ini, gue pasti akan langsung membalas semua kejahatan lo ke gue. Gua ngga akan diem terus, gue ngga bakal mengalah terus, gue akan balas lo dua kali lipat dari yang akan lo lakuin sama gue”


“Brengs*k lo Serena! Kenapa harus selalu lo yang jadi penghalang gue?! kenapa lo harus lebih terkenal dari gue? Kenapa hidup lo lebih bahagia dari gue, bahkan laki laki yang gue cintai malah jatuh ke pelukan lo! Lo cuma orang miskin tidak tahu diri, jadi jangan coba coba merebut Farrel dari gue!”


“Lo yang lebih dulu merebut Farrel dari gue!” Serena tidak terima tuduhan Sarah”Lo mau tahu kenapa hidup gue lebih bahagia dari lo? Itu karena gue ngga punya hati pendengki kayak lo! Ambil saja Farrel, gue juga udah ngga sudi menerima dia lagi. Kalian berdua sangat cocok, sama sama brengs*k dan tidak tahu malu”


Serena menarik tangan Juan untuk pergi meninggalkan dua orang yang sangat dibenci, masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya.


“Aakkh…..hiks hiks…” Serena berteriak dan menangis sekeras kerasnya di dalam mobil begitu dia duduk, hatinya begitu sakit dan juga sedih, mengalami ketidakadilan terus menerus tanpa bisa berbagi rasa dengan orang lain. Dia menanggung semuanya sendiri, menahannya sekuat tenaga karena tidak ingin melihat keluarganya ikut bersedih.


Salahkah Serena yang tidak ingin melihat keluarganya kekurangan? Salahkah Serena membalas perbuatan ayahnya yang telah menyakiti dan menyiksa ibunya? Salahkan Serena yang juga ingin memiliki hidup normal dan tenang?


Juan mengulurkan tangan, membelai lembut punggung istrinya, mencoba menyalurkan ketenangan. Dia tidak berkata sepatah kata pun, hanya diam dan menunggu, membiarkan wanitanya menyelesaikan tangisan, berharap setelah itu akan bisa melihat sebuah senyuman terukir di bibirnya.


Sarah masih memegangi kedua pipinya yang terasa terbakar, dia melihat Farrel meninggalkannya begitu saja dengan masuk ke dalam rumah baru di depannya. Dia tidak mau mengikuti laki laki itu, memilih pergi ke tempat yang bisa menghiburnya saat ini.


-


Satu minggu berlalu dengan tenang. Joni sudah keluar dari rumah sakit, jahitan bekas luka tembakannya juga sudah membaik, dia juga telah kembali ke pekerjaannya menjadi sopir Serena.


Hari hari Serena terasa begitu cerah, karena Farrel tidak lagi menemuinya setelah kejadian waktu itu. Suami astralnya juga sesekali menemuinya, mengajaknya makan siang dengan memanfaatkan tubuh Juan.


Zahra menjalani masa magangnya di rumah sakit tempat Bang Jon di rawat kemarin, begitu bangga mengenakan pakaian seragam resmi, memulai aktifitasnya sebagai dokter yang memang menjadi cita citanya.


“Rena sayang…..” panggil ibu Serena


“Iya bu” saat ini, Serena sedang mampir sebentar ke rumah untuk melihat keadaan ibunya, sebelum berangkat ke lokasi pemotretan.


“Apa kamu ingat Adit?”


“Adit?” ulang Serena


“Anak Bu Yuli, teman sekolah kamu waktu sma, yang rumahnya di ujung jalan ini”


“Lupa lupa inget sih bu, kenapa?”


“Adit minta izin sama ibu, katanya dia pengen banget ketemuan sama kamu. Dia juga sering main kesini loh buat negokin ibu, terus nanya nanya tentang kesibukan kamu sekarang”


“Ibu ngga lagi nyoba jodohin Rena kan?” Tebak Serena. Dari arah pembicaraan ibunya, Serena bisa menyimpulkan maksud dan keinginan wanita tua kesayangannya itu.


“Rena masih sibuk bu…” belum selesai ucapan Serena, ibunya langsung memotong


“Tapi ibu udah pengen nimang cucu sayang, ibu udah tua, ibu juga merasa umur ibu sudah tidak lama lagi”


“Sstt…ibu ngga boleh ngomong kayak gitu, Rena dan Zahra masih sangat membutuhkan ibu. Soal jodoh, biar Rena cari sendiri, ibu ngga usah repot repot nyari yah”


“Sampai kapan Rena? Berapa lama lagi ibu harus menunggu sayang” suara putus asa ibu Serena terdengar jelas. Tertunduk lesu karena dia tidak bisa membujuk putri sulungnya.


“Akan ada waktu yang tepat bu, bersabarlah sedikit lagi”


Serena mengakhiri obrolan paginya dengan sang ibu, meraih tangan pucat yang sudah terlihat keriput, lalu mencium pipi sebagai tanda pamit.


Sibuk dengan pekerjaan adalah cara paling tepat untuk menghindari pembahasan jodoh itu berakhir.


Joni menatap Serena dengan pandangan menelisik, heran dengan raut wajah yang ditampilkan gadis itu.


“Ada apa dengan Mbak Rena? Tadi masih baik baik aja, kenapa sekarang keliatan bete?” batin Joni


“Bang Jon…” Serena membuka mulut saat mobilnya mulai berjalan meninggalkan halaman rumah.


“Iya mbak”


“Bang Jon…. kenal Adit ngga?”


“Adit?”


“Hemm”


“Yang sering ke rumah itu ya?”


“Iya kali, kalau Rena udah tahu ngapain nanya ke Bang Jon”


“Pernah ketemu sekali mbak, kata Bi Sari dia sering main kerumah terus nanyain mbak Rena. Kenapa memangnya mbak?”


Serena menghela nafas sebelum menjawab “Kayaknya ibu pengen ngejodohin tuh cowok sama Rena deh”


“HAH!” Bang Jon menginjak Rem mendadak. Hampir saja kepala Serena beradu dengan dashboard mobil, kalau saja tangan laki laki itu tidak melindungi dengan tangannya.


“Apa apaan sih Bang Jon! Hati hati dong”


“Maaf… maaf mbak, saya kaget”


“Kaget apa?” Tanya Serena heran


“Saya kaget dengar mbak mau dijodohin sama laki laki begituan”


“Begituan apa?”


Belum sempat Joni menjawab pertanyaan, handphone Serena bergetar dan mengalunkan nada dering telepon masuk. Tertera nama Juan disana.


Serena mengabaikan panggilan itu setelah memergoki Joni sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya. Sampai detik ini Joni tidak tahu hubungannya dengan Juan, laki laki yang tubuhnya dipinjam oleh suaminya, tubuh yang pernah menembaknya. Akan seperti apa reaksi Joni nanti?


“Aku sedang sibuk” hanya itu pesan yang dikirim untuk menghentikan handphonenya terus bergetar


"Aku akan membunuh semua laki laki yang berani menikahimu!!" balasan pesan yang diterima membuat Serena bergidik ngeri


***


Akhirnya Serena membalas