KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 118


Hai semuanya…


Si_Ro yakin banget nih, kalau diantara para pembaca ada yang marah-marah karena novel ini lama ngga up.


Si_Ro juga yakin gologokin, kalau ada yang malah janji ngga akan membaca kelanjutan cerita ini lagi.


Hampir 2 minggu lebih Si_Ro sakit, belom lagi ditambah masa penyembuhan. Jadi… apa ya? Bingung juga mau ngomonginnya.


Tapi ya udahlah ya, ngga usah banyak basa basi. Karena bukan itu yang ditunggu. Iya kan?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


*Ini bagian dari bab kemarin, sekedar untuk mengingat cerita terakhir.


Istri Pak Andi memberanikan diri untuk membuka pintu kamar yang sangat dilarang oleh suaminya. Dia tidak menemukan keberadaan Pak Andi dimanapun sejak subuh tadi. Hatinya tiba-tiba menjadi khawatir.


Dengan tangan gemetar, istri Pak Andi mendorong daun pintu kamar yang dia ketahui sebagai tempat menyimpan hasil kerja makhluk kecil yang mereka pelihara.


“Ya ampun! Bapak kenapa?” teriak istri Pak Andi.


“Dasar perempuan tidak berguna! Sudah berjam-jam aku berteriak, tapi kau tidak dengar. Cepat bantu aku mengangkat brangkas sialan ini!”


Dengan bersusah payah, istri Pak Andi berusaha menolong suaminya. Brangkas yang besar dan berat itu sangat sulit untuk dipindahkan. Pak Andi tak henti-hentinya meringis kesakitan. Dia mulai merasakan mati rasa di bagian lutut sampai ke telapak kaki.


Saat ini Pak Andi sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit menggunakan mobil ambulance. Tetangga yang dimintai tolong untuk membantu mengangkat brangkas pun mulai bergunjing. Mereka merasa curiga dengan keberadaan brangkas besar yang hanya berisi daun kering dan juga arang hitam.


-


“Untuk semetara waktu, Pak Andi tidak akan bisa berjalan. Maaf, tapi kami sudah berusaha sebisa mungkin.”


Penjelasan dari dokter membuat istri Pak Andi meneteskan air mata. Dia senang karena pada akhirnya dia bisa terbebas dari makhluk yang menyiksa hidupnya selama ini. Tapi dia juga bersedih melihat keadaan suaminya yang kini harus hidup mengandalkan kursi roda.


* Kita lanjutkan ceritanya.


Saat memasuki lingkungan tempat tinggalnya, Joni memperlambat laju mobil yang dia kendarai. Dia cukup merasa lelah karena harus menyetir bolak balik dengan jarak tempuh yang lumayan jauh. Meskipun begitu, Joni tetap tidak akan tega meminta sang istri duduk di kursi pengemudi untuk menggantikannya.


Bukan kawasan elit yang mereka tuju, bukan juga tempat yang memiliki pengamanan berlapis-lapis dengan sistem super rumit menggunakan teknologi tinggi (seperti dalam cerita tentang CEO). Mereka tinggal dengan nyaman di lingkungan biasa, serta dikelilingi banyak rumah-rumah lain sebagai tetangga.


Bicara soal tetangga, bagi sebagian orang mungkin satu kata itu sangat merepotkan. Kenapa? Karena mereka punya tingkah dan pemikiran yang jelas berbeda dengan kebiasaan kita. Ada tetangga yang sukanya menggosipkan orang. Ada tetangga yang hobinya merepotkan orang, minjem duit misalnya. Ada juga tetangga yang terlalu cuek dengan tetangga sebelahnya, sampai-sampai dia bertingkah bebas dengan membunyikan musik bervolume tinggi di siang hari dengan cuaca panas. (seperti nasib author)


Tapi justru disitulah letak uniknya bertetangga. Maya, ibunya Serena memilih tinggal di tempat seperti itu saat dulu Serena mengajaknya untuk tinggal di apartemen yang terkenal dengan kehidupan individualnya. Apalagi sekarang, Joni dan Serena telah memiliki Sekar. Bocah lincah yang diusianya sekarang tentu perlu teman sebaya untuk mengasah sikap bersosialisasi mengenal kehidupan.


-


Tin tin tin


Joni menekan tombol klakson mobil sebagai tanda kepulangan mereka. Bi Sari keluar rumah dan membukakan pintu gerbang, agar mobil bisa masuk ke garasi.


“Joni, Mbak Rena… di dalam ada istrinya pak Andi. Dia udah nunggu lama demi bisa ketemu sama kalian. Katanya ada yang mau diomongin,” ucap Bi Sari.


“Ada apa ya, Bi?” tanya Serena.


“Bibi kurang tahu Mbak, tadi sih dia cuma bilang mau berterima kasih.”


“Berterima kasih?” Joni mengulang ucapan Bi Sari dengan mengerutkan dahi. Apa yang telah dia lakukan? Sampai istri dari tetanggganya itu datang ke rumah dan menunggu untuk bertemu, apalagi dengan alasan untuk berterima kasih.


Joni mendekap tubuh mungil Sekar dalam pelukannya. Gerakannya begitu hati-hati, karena takut akan membangunkan sang putri dari dunia mimpinya. Dia segera berjalan memasuki rumah melewati pintu samping untuk memindahkan anaknya ke kasur, yang tentunya lebih nyaman untuk tidur. Serena mengikuti langkah sang suami dengan pikiran yang dipenuhi banyak pertanyaan. Apakah ini berhubungan dengan bocah botak teman Sekar, yang baru saja mereka kembalikan ke tempat asalnya?.


“Kamu mau di kamar, atau mau ikut turun ke bawah?” tanya Joni pada Serena. Saat ini mereka ada di dalam kamar, setelah Joni menarik selimut untuk menutupi tubuh Sekar.


“Sebenarnya aku pengen mandi, badan rasanya lengket banget. Tapi aku juga penasaran sama bu Andi, jadi aku ikut mas turun aja deh. Mandinya nanti, bareng sama mas,” jawab Serena. Dia benar-benar tidak tahu kalau tubuh Joni langsung bereaksi mendenggar jawaban dari sang istri.


Senyum mengembang dari bibir Joni. Dia menganggap jawaban dari Serena barusan sebagai sebuah undangan atau lampu hijau, untuk melakukan hal lain yang lebih dari sekedar mandi bersama.


“Kenapa mas senyum-senyum?”


“Kamu tahu kan, kalau mandi sama mas pasti ada pajaknya?” tanya Joni dengan alis terangkat.


“Tahu,” jawab enteng Serena.


“Apa?”


“Pijat plus plus.”


“Kita baru pulang dari perjalanan jauh, apa kamu ngga capek?” tanya Joni menarik tubuh Serena dalam pelukannya.


“Justru mandi bareng dan pijat adalah obat paling manjur untuk menghilangkan rasa capek. Mas kali yang capek,” Serena membalikkan pertanyaan.


“Cuma mandi dan pijat? Ngga ada yang lain gitu?” tanya Joni. Laki-laki itu terlihat sedikit kecewa karena Serena tidak berniat melakukan hal lebih seperti yang ada dalam bayangannya.


“Iya.”


Hembusan nafas panjang terdengar dari balik punggung Serena. Perempuan itu menggigit bibir bawahnya sendiri, supaya suara tawa dari mulutnya tidak keluar. Sebenarnya dia tahu dengan jelas apa yang diinginkan oleh suaminya sekarang, tapi dia sengaja menggoda untuk melihat wajah suaminya yang sedang menahan hasrat. Jahat banget ya sama suami? Kualat nanti kamu Serena.


“Ya sudah, ayo cepet kita ke bawah! Udah ditungguin,” perintah Joni. Walaupun wajah pria itu berubah datar, tapi tetap tidak melepas pegangan tangannya dari pinggang Serena.


Ada perasaan puas dalam hati Serena, karena telah berhasil mengerjai sang suami. Dia sampai harus berkali-kali memalingkan muka dengan mata terpejam dan sekuat tenaga untuk tidak terbahak.


Serena menggandeng tangan Joni ketika menuruni tangga, dan menemui istri pak Andi yang sudah menunggu mereka sedari tadi. Joni dan Serena sama-sama bisa melihat rasa bahagia yang terpancar dari wajah wanita paruh baya itu. Tanpa mereka duga, istri pak Andi langsung menarik tangan Joni dan Serena dengan linangan air mata.


“Terima kasih banyak ya Mas Joni dan Mbak Rena… akhirnya saya bisa hidup bebas.”


“Terima kasih untuk apa ya Bu? Dan hidup bebas dari apa?” tanya Serena.


Maya dan Bi Sari saling bertukar pandang. Mereka sama-sama tidak tahu apa alasan di balik sikap aneh istri pak Andi hari ini, karena wanita itu terlihat sangat berbeda. Biasanya setiap keluar rumah, akan ada banyak perhiasan yang menempel di tubuhnya, hampir mirip toko mas berjalan. Tapi hari ini, malah kosong. Tidak ada satupun barang mewah yang mampu tertangkap oleh mata dari penampilannya.


“Sebaiknya ibu duduk dulu,” pinta Joni. Dia membimbing istri pak Andi untuk kembali duduk di sofa tempatnya semula. Sedangkan dirinya sendiri, sudah tentu tidak mau jauh dari sisi sang istri.


“Saya dan istri saya, sama sekali tidak mengerti apa maksud dari omongan Bu Andi, barusan. Apa… Ibu bisa menjelaskan?” tanya Joni.


“Sa-saya mau berterima kasih karena kalian telah membebaskan saya dari makhluk peliharaan suami saya.”


Maya dan Bi Sari membulatkan mata bersamaan. Mereka mulai menerka-nerka kemana arah pembicaraan Bu Andi dengan Serena dan Joni. Makhluk peliharaan yang di maksud oleh Bu Andi, apakah sama dengan apa yang ada dalam pikiran mereka?


“Kalian juga pasti sudah tahu, apa yang sudah suami saya lakukan pada keluarga ini? Saya minta maaf, tapi juga berterima kasih untuk semua yang sudah kalian lakukan. Selama ini saya hanya bisa pasrah tanpa bisa membantah apalagi melawan keinginan suami saya. Jadi saya sangat bersyukur, karena ada orang yang membantu mewujudkan impian saya.”


Joni dan Serena masih belum mengelurkan kata-kata untuk menangggapi penjelasan dari Bu Andi. Mereka mendengarkan dengan tenang, dan menunggu waktu yang tepat, sampai wanita yang duduk di depan mereka, selesai menumpah semua beban yang ada dalam hatinya.


“Sekarang saya bisa bernafas lega. Suami saya juga sudah mendapatkan ganjarannya,” ucap Bu Andi kembali.


“Maksudnya?” Tanya Serena. Joni, Maya dan juga Bi Sari hanya menahan nafas dan ikut menunggu jawaban.


“Saat ini, suami saya tidak bisa berjalan seperti biasanya lagi. Dokter mengatakan, kalau mulai sekarang suami saya harus menggunakan kursi roda.”


“APA!!” ucap mereka serempak, kecuali Bu Andi tentunya.


“Iya. Ini hukuman yang harus diterima suami saya, akibat dari semua dosa-dosa yang sudah dia lakukan. Walaupun saya merasa ini masih kurang, tapi setidaknya… dia tidak akan bisa seenaknya menginjak-nginjak dan memukuli saya lagi. Untuk itulah saya datang kesini, dan mengucapkan banyak terima kasih pada kalian.”


“Lalu apa yang akan Bu Andi lakukan sekarang?” tanya Joni.


“Saya akan memulai hidup saya lagi mas. Hidup sederhana yang menentramkan. Saya akan meninggalkan kota ini dan pindah ke kota tempat tinggal adik saya. Disana saya bisa memulai hidup baru, karena ternyata anak saya juga menginginkan hal yang sama.Tapi…”


Bu Andi jelas terlihat ragu-ragu dengan kalimat yang akan dia ucapkan. Wanita itu menjalin jari-jari tangannya dan juga menunduk.


“Tapi apa bu?” kali ini pertanyaan terdengar dari Maya.


“Bi-Bisakah kalian membantu saya menyimpan rahasia ini? Saya takut kalau ada warga lain yang tahu lalu, akan menyebarkan gosip yang sudah ditambah-tabahi. Atau malah berbuat brutal karena marah pada perbuatan suami saya.”


Serena, Maya dan juga Bi Sari, sama-sama menatap Joni. Mereka seolah-olah sedang memberi perintah pada satu-satunya pria yang ada dirumah itu untuk menjawab permintaan Bu Andi.


“Kalau soal itu, Bu Andi tidak usah khawatir. Kami sekeluarga akan menjaga rahasia ini. Tapi….”


“Tapi kenapa mas?” tanya Bu Andi penuh rasa takut.


“Kami tidak akan bicara apa-apa soal ini pada tetangga yang lain. Tapi kalau ternyata sudah ada warga yang tahu perkara ini, kami juga tidak bisa melakukan apa-apa. Bu Andi juga pasti tahu, kalau makhluk peliharaan Pak Andi sudah pernah mencuri di wilayah kita ini.”


Bu Andi menganggukan kepala tanda setuju, dan Joni melanjutkan penjelasannya.


“Dan saya tidak bisa menjamin rahasia ini tersimpan selamanya. Mungkin saja diantara mereka yang pernah kehilangan, sudah ada yang menyelidiki masalah ini dengan cara mereka sendiri. Pergi ke orang pintar misalnya? Atau malah lapor polisi.”


“Berarti saya harus segera pergi dari wilayah ini?” Tanya Bu Andi memotong penjelasan Joni.


“Maafkan ucapan saya ya Bu. Saya tidak sedang mengancam, saya hanya memberikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi setelah ini. Saya harap Ibu bisa menyiapkan diri untuk hal terburuk,” ucap Joni sambil menunduk tidak tega.


“Saya mengerti mas. Sekali lagi, terima kasih untuk bantuan kalian semua. Sekarang saya akan berkemas dan segera pergi. Saya juga meminta maaf untuk kesalahan suami saya pada kalian. Permisi….”


Bu Andi bangkit dari sofa yang didudukinya, tidak lupa dia menjabat tangan semua penghuni rumah Maya dengan tergesa-gesa.


Begitu Bu Andi tidak lagi terlihat, Serena langsung naik ke lantai dua dan menuju kamar mandi. Dia sudah tidak tahan dengan kulit tubuhnya yang terasa sangat lengket. Joni mengikuti langkah istrinya tanpa suara, sambil membuka baju yang dia kenakan.


Emmph


Mulut Serena yang terbungkam hanya mengeluarkan suara gumaman. Tangan Joni membekap serta memeluknya dari belakang.


“Jangan brisik! Nanti Sekar bangun,” kata Joni yang menutup dan mengunci kamar mandi.


“Mas apa-apaan sih?” Serena berbisik dengan wajah sewot.


“Katanya mau mandi bareng, tapi kenapa mas ditinggal?”


“Rena udah ngga tahan mas,” jawab Serena.


“Ya udah kita langsung aja ya?”


“Langsung apa?”


“Katanya udah ngga tahan,”


“Ih… maksudnya, Rena udah ngga tahan pengen mandi. Badan rasanya lengket banget.”


“Ngga pake alasan!” Potong Joni. Dia segera membuka semua pakaian yang melekat pada tubuhnya dan langsung bergabung dengan Serena yang sudah lebih dulu masuk ke dalam bathtub.


(untuk adegan selanjutnya, silahkan dibayangkan sendiri ya)


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.