
Sebelumnya….
“Bagaimana paman bisa ada disini?”
“Gerbang depan tidak dikunci, jadi paman tinggal masuk saja.”
“Apa kau bisa berjalan sendiri?”tanya Yudi yang melihat Adit bangkit dari lantai dan berkali-kali menggelengkan kepala.
“Bisa,” jawab Adit. “Ini sangat aneh paman, bagaimana aku bisa tertidur di lantai begitu saja? Aku bahkan tidak ingat sama sekali dengan kejadian sebelumnya.”
“Itu karena kau terkena ajian sirep,” jawab Yudi. Dalam hati dia berharap kalau Adit tidak akan banyak bertanya tentang ucapannya barusan. Karena jika itu terjadi, dia akan bingung sendiri untuk menjelaskannya secara terperinci.
“Apa kau juga tidak tahu kalau Yuli sudah dibawa pergi oleh Ki Jarot, ayahmu?” tanyanya buru-buru untuk membungkam pertanyaan yang akan diajukan oleh Adit.
“Mama? Mama dibawa pergi oleh kakek tua itu? Kapan? Kemana?”
“Nanti paman ceritakan di jalan. Ayo! Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Kita harus cepat mengejar mobil mama kamu, sebelum terlambat.”
Yudi dan Adit sama-sama pergi meninggalkan rumah yang pernah menjadi tempat penyekapan Serena. Adit menawarkan diri untuk menyetir mobil dan Yudi duduk di kursi penumpang depan sebagai penunjuk jalan.
Saat mobil yang dikendarainya sudah mulai memasuki wilayah asing dengan jalanan yang bukan lagi terbuat dari aspal. Adit memberanikan diri untuk bersuara.
“Apa paman yakin kalau ini jalan yang benar untuk bisa mengejar mama?” tanya Adit yang menanggung rasa penasaran.
“80% yakin.”
“Kenapa cuma 80% ?”
“Ya karena paman tidak yakin 100%,” jawab Yudi datar.
“Ck.” Adit berdecak sambil memutar bola matanya. “Jawaban macam apa itu?” gerutunya dalam hati.
“Bisa kau tambah kecepatannya?! Kenapa kau lambat sekali!” protes Yudi pada Adit yang mengendarai mobil hanya dengan kecepatan rata-rata.
“Karena Adit tidak yakin 100% pada arah yang ditunjuk paman,” Adit seolah sedang membalas perkataan Yudi.
“Cih! Kau berani mengajakku berdebat ya?” Yudi memiringkan badannya menghadap Adit dan menatapnya garang.
“Tidak seperti itu paman. Kalau paman sendiri tidak yakin dengan jalan yang akan kita lewati, bukankah perjalanan ini akan jadi sia-sia?”
“Sebelumnya aku pernah datang ke tempat yang akan kita tuju, tapi aku sedikit lupa dengan jalanannya.”
“Itu pasti karena efek samping dari usia, paman.”
“Maksudmu aku ini sudah tua, begitu?! Kenapa kau harus bawa-bawa umur dalam hal ini, hah?! Sudahlah! Kau selalu saja membantah ucapanku. Lebih baik kau menyetir saja yang benar dan ikuti semua arahan dariku, mengerti?”
“Iya paman,” jawab Adit pasrah. Dia sama sekali tidak tahu kemana arah tempat yang akan mereka tuju, jadi mau tidak mau dirinya harus mengikuti perintah dari laki-laki tua yang sedang duduk disampingnya.
---------------------------------------------
“Aku akan memintamu dengan cara baik-baik sekali lagi Maryam. Serahkan semua ilmu yang kau miliki padaku!” ucap Ki Jarot tidak sabaran.
“Tidak akan! Aku tidak akan memberikannya pada siapapun, apalagi padamu!”
“Kalau begitu, tidak ada jalan lain. Kali ini aku akan memaksamu dengan caraku!”
Ki Jarot sudah duduk bersila di tanah yang ada di halaman rumah Ni Maryam. Mulai membaca mantra untuk memanggil jin-jin peliharaannya. Keinginannya saat ini cuma satu, yaitu bisa mengalahkan Ni Maryam, lalu menyerap ilmunya sampai tak tersisa.
Ni Maryam juga melakukan hal yang sama. Dia duduk bersila tepat di teras rumahnya yang terbuat dari bambu. Kedua tangannya dia tumpukan pada lutut yang tertekuk, menekan ujung jari telunkuk pada ujung ruas terakhir ibu jari, lalu melipat tiga jari lainnya.
Pertempuran antara dua dukun yang ilmunya hampir sepadan itu, hanya terjadi pada makhluk-makhluk astral saja. Sedangkan para majikannya terlihat hanya duduk diam. Sepertinya semua orang berharap kalau Ki Jarot yang akan kalah, tak terkecuali Yuli sendiri. Dia begitu ingin lepas dari jeratan suaminya yang jahat dan kejam.
Sekar terus menggenggam tangan Serena, membuat gadis itu bisa melihat hal-hal tak kasat mata secara tiba-tiba. Mata Serena membulat disertai nafas yang memburu, saat dia bisa menyaksikan pertarungan ilmu hitam antara Ni Maryam dan Ki Jarot.
Juan dan Joni berdiri tepat di depan Serena. Mereka kompak menutupi tubuh Serena untuk menghindarkan gadis itu dari serangan Ki Jarot yang juga sedang mengincarnya. Hanya ada sedikit celah yang bisa Serena gunakan untuk mengintip pertarungan sengit di depan sana.
DUAAARRRR….
Ki Jarot tersungkur dari duduknya yang bersila. Bibirnya mengeluarkan darah segar yang mengalir ke dagu. Lalu tangannya bergerak mengusap dada yang terasa nyeri, dan kembali membetulkan duduknya yang sempat pindah posisi. Dia terkena imbas dari matinya salah satu jin bawahannya yang dia tugaskan untuk mengikat jiwa Zahra.
“Aku tidak menyangka kau bisa mengalahkan salah satu yang terkuat milikku Maryam,” ucap Ki Jarot sambil meringis sakit.
Matinya jin penjaga jiwa Zahra, membuat semua jiwa-jiwa lain yang terkunci selama ini ikut terbebaskan. Melihat kejadian itu, Serena melepas paksa tangannya dari genggaman Sekar. Menyingkirkan dua laki-laki yang berdiri di depannya, lalu berlari ke arah jiwa Zahra yang terbang melayang tanpa arah untuk menangkapnya.
“SERENAAAAA!!” teriak Juan dan Joni bersamaan.
Gadis itu tidak mendengar suara Juan dan Joni yang terus memanggilnya. Yang Serena tahu, dia harus segera menangkap jiwa Zahra agar bisa membawanya pulang. Serena benar-benar tidak bisa menahan diri untuk segera bertindak saat melihat ada kesempatan demi menyelamatkan adiknya Zahra.
Namun gerakan Serena ternyata salah besar. Ujung bibir Ki Jarot tersungging senyuman licik saat melihat gadis itu sedang berlari mendekat. Jari tengah tangan kanannya dia tempelkan pada ujung ruas ibu jari, mengikuti gerakan orang yang akan menyentil koin karambol.
Cukup dengan satu hentakan. Sebuah sinar kecil sebesar kelereng melesat cepat ke arah Serena yang tidak menyadari kalau dirinya sedang dalam bahaya.
DUAARRR…
Serangan pertama dari Ki Jarot dengan target Serena, gagal. Ni Maryam menangkisnya dan membawa sinar kecil itu ke atas lalu meledakkannya di sana.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Ki Jarot terus menerus melemparkan serangan. Targetnya kini berubah. Dia memilih memburu Serena setelah sadar kalau dia tidak akan bisa mengalahkan Ni Maryam.
Jari Ki Jarot terus mengeluarkan serangan yang dia arahkan pada tubuh Serena. Gadis itu sedang mencoba meraih jiwa Zahra dengan melompat-lompat ke udara. Jiwa Zahra melayang tak tentu arah. Membuat Serena kesulitan untuk mendapatkannya.
Juan dan Joni tidak tinggal diam. Dua laki-laki itu ikut berlari menuju Serena dengan kewaspadaan tinggi.
Tapi sayang. Kali ini sepertinya kejahatan memiliki kesempatan untuk menang. Ki Jarot mendapatkan peluang untuk mendapatkan Serena, gadis yang sudah lama dia inginkan.
Setelah yakin kalau serangan kali akan berhasil, Ki Jarot kembali menjentikkan jarinya. Menatap ke depan sambil menunggu hasil dari gerakan cepatnya itu bisa mengenai sasaran dengan tepat.
Serena mulai kelelahan. Dia membuang nafas sejenak sambil mengumpulkan tenaganya lagi. Bersiap untuk melompat untuk meraih Jiwa Zahra yang berada tepat di atas kepalanya. Dan…
HAP
"Kena!!" seru Serena. Dia senang karena berhasil mendapatkan jiwa Zahra. Senyum bahagia langsung terukir di wajahnya tanpa menyadari kalau bahaya hampir menyentuh tubuhnya secepat kilat.
AAKHHH….
Itu bukan suara Serena, melainkan Yuli. Wanita tua itu menjerit sebelum kesadarannya hilang sempurna. Tubuhnya berlumur darah dan berguling di tanah.
“MAMAAAA….” teriak Adit yang sudah menghambur keluar dari persembunyian.
Juan dan Joni terlambat menghalau serangan Ki Jarot, sehingga ada korban yang harus tumbang. Mata Serena pucat pasi. Tepat di dekat kakinya, Serena melihat tubuh Yuli yang tergeletak bersimbah darah akibat kebodohan dirinya. Dia telah bertindak egois tanpa memikirkan keselamatan orang lain yang juga berada di sana.
“Mama…” cicit Serena. Air matanya jatuh tak terbendung menyaksikan Adit yang memeluk tubuh lemah Yuli. Biar pun wanita tua itu pernah menyekapnya dan memaksakan pernikahan dengan Adit, tapi tidak bisa dipungkiri kalau Serena masih tetap menyayangi Yuli. Mengingat semua kebaikan yang pernah diberikan padanya.
Tubuh Serena ikut luruh, tangannya yang terulur untuk menyentuh tubuh Yuli bergetar hebat. Rasa sesak memenuhi seluruh rongga dadanya.
“Mah… maafin Rena,” isak Serena.
Pandangan Serena kemudian beralih pada Adit yang sedang menangis sambil memeluk tubuh mamanya. Laki-laki itu terus memanggil-manggil sang ibu. Berharap dengan begitu, mamanya akan bangun seperti sedia kala.
“Maaf Dit…” lirih Serena dengan linangan air mata.
Tidak ada waktu untuk bersantai. Ki Jarot terus memanfaatkan situasi dan kondisi yang mungkin akan memberinya kemenangan. Laki-laki tua itu terus saja menjentikkan jarinya mengincar Serena sambil terus mengirim serangan juga ke arah Ni Maryam.
.
.
.
***
Maaf ya kalau sengaja Si_Ro cut, soalnya kepanjangan.
Jadi… tarik nafas dulu ya, besok kita lanjut.
Semoga besok moodnya bagus.
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.