KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 37.



“Kenapa kau belum tidur Bang Jon?”


“Saya…saya belum ngantuk mbak” Joni menyembunyikan rasa terkejutnya, saat tiba tiba pintu kamar perawatannya terbuka lebar dan menampilkan wajah Serena. Sedari tadi dia mengkhawatirkan gadis itu, merasa takut kalau Serena tidak kembali lagi. Walau sebenarnya, dia juga tidak akan merasa nyaman berada satu ruangan dengannya.


“Mbak tidur diranjang aja, biar saya yang tidur disofa” ucap Bang Jon yang melihat Serena telah bersiap merebahkan diri di sofa yang tersedia di kamar itu


“Apa Maksud lo. Disini yang sakit itu siapa sih, kenapa Rena yang malah disuruh tidur di ranjang?!” Serena sedikit tidak suka dengan tawaran yang didengarnya


“Bukan…bukan gitu mbak. Saya….saya cuma takut mbak ngga nyaman tidur di sofa itu” ucap Bang Jon tidak enak hati


“Bang Jon takut Rena ngga nyaman, atau…. Bang Jon sendiri yang ngga nyaman karena ada Rena disini?”


Serena cukup mengerti dengan kekhawatiran supirnya itu “Ngga papa kok Bang Jon. Mending bang Jon cepetan istirahat, ngga usah banyak pikiran.” tidak mau memperpanjang perdebatan tidak berarti


Tidak butuh waktu lama untuk membuat seorang Serena meninggalkan dunia nyata dan pergi ke alam mimpi. Dari pagi buta dia mengalami hal hal diluar dugaan yang benar benar menyita tenaga dan pikirannya, kini saat semuanya telah selesai dan perutnya juga dalam keadaan kenyang, maka tidur adalah cara untuk mengakhiri hari yang melelahkan.


Lain halnya dengan manusia yang berada di atas ranjang. Walau di sekujur tubuhnya terdapat banyak luka, belum lagi dengan bekas oprasi akibat tembakan, tetap tidak mampu membuatnya cepat terlelap.


Bagaimana dia bisa istirahat, saat di hadapannya ada seorang wanita cantik yang tertidur pulas tanpa memiliki rasa takut sedikitpun padanya. Menutup mata dengan begitu nyaman tanpa ingin melindungi diri dari tindakan yang mungkin bakal terjadi, jika hanya ada dua orang manusia berbeda jenis dalam satu ruangan.


“Bagaimana bisa tidur kalau begini?” gerutu Joni


Semalaman dia terus berganti posisi untuk mencari kenyamanan, yang akhirnya membuat dia tertidur saat menjelang subuh.


-


Zahra perlahan membuka pintu kamar, dimana terdapat dua manusia yang masih terlelap dengan mimpi masing masing.


“Assalamualaikum” ucapnya nyaris berbisik karena takut akan membangunkan penghuni kamar.


Zahra meletakkan kotak makan yang di bawanya dari rumah, dan meletakkannya di nakas samping brangkar.


Serena mulai mengerjapkan matanya. Walaupun tidur di atas sofa yang tidak bisa disamakan dengan kenyamanan kasur di rumahnya, tapi ini adalah tidurnya yang paling nyenyak.


“Tidur di rumah sakit ternyata tidak buruk” ucapnya pelan. Matanya langsung tertuju pada kotak makan yang mengeluarkan aroma makanan yang sangat disukainya.


“Pagi mbak” Zahra menyapa sang kakak yang masih dalam keadaan setengah sadar. Dengan keadaan rambut yang masih awut awutan dan juga posisi yang ngga banget untuk seorang model, yang biasa sangat anggun saat diatas catwalk.


“Lo bawa apa?” Tanyanya pada Zahra


“Bi Sari masak makanan kesukaan mbak Rena. Oh iya, ibu pengen ketemu mbak, sebelum mbak berangkat kerja. Bisa kan?” ucapnya dengan banyak harapan


“Iya. Mbak akan pulang setelah sarapan. Lo jagain Bang Jon selama gue pergi” perintahnya pada Zahra pelan. Dia tidak mau menganggu tidur Bang Jon.


----------------------------------------


“Masuk Rena, ibu dikamar” Teriak Ibu Serena saat mendengar suara anak sulungnya memanggil


Ibu serena langsung memeluk putrinya dan menangis haru. Dia sangat bersyukur Rena kembali dalam keadaan baik baik saja dan tanpa luka. Dia tidak perlu mengucapkan banyak pertanyaan untuk bisa mengetahui apa saja yang sudah di lalui oleh anak gadisnya itu.


“Apa kau baik baik saja Rena hiks hiks?”


“Iya bu. Ibu ngga usah khawatir. Jangan banyak pikiran ya, nanti ibu tambah sakit” Serena mencoba menenangkan hati ibunya


Tangan lemah itu mengelus pipi, pundak dan punggung Serena dengan kelembutan seorang ibu. Inilah titik lemah Serena. Dia akan langsung terisak, saat tangan ibunya membelainya penuh kasih sayang, walau tanpa banyak berkata.


Serena bersimpuh di kaki ibunya dengan posisi memeluk kedua kaki sang ibu yang terjuntai ke lantai.


“Maafin Rena ya bu. Rena udah bikin ibu khawatir” isakan membuatnya sulit mengeluarkan kata kata yang ingin diucapkan


“Tidak Rena sayang. Ibu yang seharusnya minta maaf sama kamu. Seandainya ibu tidak menikah dengan laki laki itu, kamu dan juga Zahra pasti tidak akan mengalami ini semua. Ini adalah salah ibu”


Bi Sari ikut menangis melihat Serena dan ibunya yang saling menyalahkan diri mereka masing masing.


--------------------------------------------


“Rena pergi dulu ya bu” Serena menyalimi tangan lemah milik ibunya. Dan beralih menghadap Bi Sari, orang kepercayaan yang bertugas untuk merawat sang ibu dan juga rumahnya.


“Bi…titip ibu ya. Serena ada kerjaan yang ngga bisa ditinggal” Bi Sari mengangguk sambil menerima amplop berisi uang, yang Serena berikan untuk kebutuhan sehari sehari selama dia pergi.


Serena mengemudikan mobilnya ke arah apartemen. Tanpa dia sadari, ada sebuah mobil yang sedari tadi mengikutinya kemanapun mobil Serena melaju.


“Gue harus beli keperluan buat nanti malam sebelum pulang” ucap Serena sambil memutar kemudi menuju pasar tradisional yang menyediakan keperluan yang dia butuhkan untuk sesaji.


Setelah mendapatkan semua yang yang dicari, Serena kembali membawa mobilnya ke apartemen.


“Hallo…ada mobil yang ngikutin gue dari tadi. Urus itu” ucapnya pada seseorang di ujung telepon


***


Maaf telat up


lingkungan tempat tinggal Si_Ro termasuk wilayah yang terkena pemadaman listrik akibat banjir