KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 75


“Bisakah kau membawaku pergi dari sini? Aku ingin pulang.” Serena menghentikan obrolan dengan sebuah permintaan yang tidak bisa ditolak oleh Joni.


“Perintahmu akan kulaksanakan, sayang…”


Joni membawa tubuh Serena pergi dari rumah besar milik Yuli tanpa di sadari oleh semua orang yang ada di sana. Mereka berdua melangkah bersama dengan santai, tanpa perlu harus tergesa-gesa dan mengeluarkan banyak tenaga untuk berlari. Meskipun berada di tengah kemurunan dengan banyak penjaga, tapi Juan bisa membuat semuanya tidak bisa melihat pergerakan Serena.


Sejenak Serena bingung dengan semua orang yang dia lewati. Mereka seolah tidak melihatnya dan tidak memberikan respon apapun. Mereka juga tidak berusaha untuk mengejar seperti yang ada dalam bayangannya.


“Joni… ehm maksudku Juan, kenapa mereka tidak mengejar kita?” tunjuk Serena pada para penjaga yang diam saja di tempatnya.


Senyum Juan mengembang, ”kau ingin mereka mengejarmu?” tanyanya.


“Bukankah harusnya memang seperti itu? Tapi kenapa mereka diam saja? Padahal kita lewat tepat di depan mata mereka.”


“Apa kau lupa, siapa suamimu?”


Serena menatap mata Joni yang terdapat Juan di dalamnya.


“Apa kau yang membuat mereka seperti itu?”


Juan hanya mengangkat kedua bahunya, “aku tidak mau membuatmu kelelahan, gara-gara harus berlari dari kejaran para pengawal tidak berguna itu. Karena hanya aku yang boleh melakukannya, terutama untuk urusan di atas ranjang.”


“Cih… di saat seperti ini, kenapa kau malah memikirkan hal itu?” sungut Serena.


“Memangnya kenapa? Kau kan istriku,” protes Joni. “Aku hanya bisa melakukannya setiap malam jum’at kliwon saja, apa kau tahu seperti apa rasanya? Kalau aku adalah seorang manusia, pasti aku akan menghabisimu setiap saat. Kau tidak perlu lagi pergi bekerja, kau hanya perlu berada di ranjang, dan itu bersama denganku.”


“Oh ya ampuuun, aku baru tahu kalau kau makhluk yang sangat mesum!” ucap Serena sambil berlalu.


“Itu kan memang bayaranku darimu sayang.”


“Iya aku tahu, tapi kau juga meminta lebih dari itu. Jadi apa aku boleh menggunakan hakku untuk menghukummu?” bantah Serena.


“Memang apa yang aku lakukan?” tanya Juan tidka mengerti.


“Kau melarangku menikahi laki-laki lain!”


“Ya, itu kan…” Joni kehabisan kata-kata untuk menjawab keluhan Serena. “Mana ada seorang suami yang ingin di duakan oleh istrinya hah?”


“Tapi kan kau bukan manusia. Dan pernikahan kita tidak tercatat di buku nikah.” Jawaban Serena membuat Joni kalah telak.


“Tetap saja, kau adalah istriku. Dan aku tidak mau berbagi istri dengan siapapun.”


“Tapi itu tidak ada dalam perjanjian. Aku hanya harus melayanimu setiap malam jum’at kliwon dan kau bertugas untuk menjadi perisaiku. Aku tidak menuntut banyak, jadi kau juga jangan meminta lebih.”


“Sekarang kalau aku bilang, aku akan menerima perjanjian dengan wanita lain, apa kau tidak akan marah?” tanya Joni.


“Tidak.” Serena menjawab singkat diiringi gelengan.


“Kenapa kau tidak marah? Eh tunggu dulu! Apa kau sedang mengajakku kompromi? Kau punya niat untuk menikah lagi?!” pertanyaan Juan penuh dengan tuntutan untuk sebuah jawaban.


“Mungkin,” singkat Serena.


“Mungkin?!”


“Ya ampun Juan, aku ini manusia. Akan sangat aneh kalau aku tidak menikah dan punya keluarga. Aku memang tidak super cantik, tapi aku ini manusia normal. Aku ingin hidup bersama dengan orang yang aku cintai dan juga mencintaiku, sampai maut memisahkan. Ibuku juga pasti berharap bisa menimang cucu, dan itu sangat wajarkan? Kalau aku hidup denganmu, yang ada nanti, aku udah mati dan kau akan tetap hidup sampai akhir dunia. Semua orang akan menilaiku sebagai perawan tidak laku, dan aku tidak mau menerima tatapan kasihan dari mereka.”


“Huft… kau membuatku marah, sayang.”


“Lain kali saja! Ayo, sekarang kita keluar dulu dari tempat ini,” ajak Juan.


Sebenarnya dia hanya tidak ingin Serena melanjutkan obrolan. Jika ini di teruskan , maka Juan akan luluh dengan mudah, karena dia tidak bisa menolak semua keinginan istrinya itu. Walaupun semua penjalasan Serena memang benar adanya, tapi Juan yang berada di dalam tubuh Joni itu belum mau menerima kenyataan.


Begitu sampai di halaman rumah, Joni menghentikan langkah.


“Ada apa lagi?” tanya Serena. Gadis itu sangat terlihat kesal, dengan apa yang dilakukan oleh Joni saat ini. Keinginan yang begitu besar, untuk segera meninggalkan rumah tempatnya disekap harus tertunda. Entah kenapa, semua bagian dari rumah ini mengingatkannya pada sikap kejam Yuli. Mulai dari penculikan dirinya sampai dengan tertembaknya Joni demi menyelamatkannya. Tapi mau tak mau, langkah kakinya pun ikut terhenti.


“Ck! Kenapa kau terlihat sangat cantik hari ini?” jawab Joni kesal.


“Aku di paksa berdandan seperti ini, dan mereka hampir saja berhasil membuatku menikahi Adit.” jelas Serena dengan wajah lesu.”Seandainya tadi kau tidak datang, mungkin aku sudah…”


Perkataan Serena belumlah selesai, ketika Joni memperlihatkan amarahnya. Tangan yang mengepal dan wajah yang berubah warna menjadi merah, dengan rahang yang mengeras, seolah menjadi sebuah peringatan untuk Serena.


“Wanita si*lan!”


Serena langsung menarik lengan Joni, ketika laki laki itu membalikkan badannya dan berjalan kembali ke arah dalam rumah.


“Kau mau kemana?”


“Aku harus memberikan pelajaran pada perempuan tua itu. Berani sekali dia menyekap dan memaksamu untuk menikahi anaknya yang brengs*k itu.” jawab Joni dengan nafas memburu.


“Jadi maksudmu, kalau aku tidak di paksa, aku boleh menikahi Adit?” goda Serena dengan kedipan mata yang diakhiri dengan senyuman.


“Disaat seperti ini, kau masih berani bercanda denganku?!” bentak Joni yang tidak menyangka dengan jalan pikiran sang istri.


“Sudahlah Juan… kita urus itu nanti. Sekarang ayo kita pergi dulu dari tempat ini.”


“Kenapa kau tidak mengizinkanku untuk membalas perbuatannya padamu?”


“Ada hal yang lebih penting dari sebuah balas dendam,” jawab Serena sambil tangannya menarik Joni untuk segera melewati pagar dan masuk ke dalam mobil yang di parkir sembarangan di depan rumah Yuli.


“Apa yang lebih penting dari balas dendamku pada wanita itu?!”


Serena menutup mata dengan menarik nafas dalam.”Tubuh yang kau pakai itu milik Joni, dan dia baru saja terkena tembakan. Dia harus segera di bawa ke rumah sakit, apa kau mengerti?”


“Cih… dasar manusia lemah,” keluh Joni.


“Apa kau bilang?!” Serena mulai tersulut emosi menghadapi sikap Juan yang menghina sopirnya.


“Dia tertembak karena aku! Dia terluka sampai seperti ini hanya demi untuk menyelamatkanku! Dia bahkan datang lebih dulu darimu! Dan sekarang kau bilang kalau dia itu lemah?!” lanjutnya dengan nada berapi-api.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan juga votenya ya.