KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 103


Saat Joni baru masuk ke dalam kamar mandi, telepon genggamnya yang berada di atas meja berdering. Mengetahui akan hal itu, Serenalah yang mengambil dan menjawab telepon yang sebenarnya ditujukan untuk Joni. Di layar handphone, tertera nama salah satu karyawan suaminya, yaitu sang manager yang mengurus kafe.


“Hallo, Pak Joni?”suara yang terdengar dari ujung telepon.


“Maaf, sekarang suami saya sedang ada di dalam kamar mandi. Kau ada perlu?”


“Eh Ibu, maaf kalau sudah menganggu. Saya Ian yang mengurus kafe. Kalau boleh tahu, jam berapa Pak Joni akan berangkat ke kafe ya, bu?”


“Saya sendiri belum tahu, apa ada hal yang mendesak?”


“Begini bu. Sekarang di kafe sudah ada pak Bram, beliau ingin segera bertemu dengan pak Joni. Pak Bram ingin tahu, apakah Pak Joni berniat untuk membuka cabang kafe di kota lain? Kalau Pak Joni setuju, maka Pak Bram ingin menjalin kerja sama, sebagai investor.”


“Benarkah?”


“Iya bu,” jawab mantap sang manager.


“Kamu tunggu saja di kantor, bilang ke pak Bram kalau suami saya sebentar lagi akan berangkat.”


“Baik bu, akan saya sampaikan. Terima kasih bu, saya tutup dulu.”


Serena segera berjalan menuju pintu kamar mandi, setelah memutuskan sambungan telepon. Dia mengetuk pintu, dimana Joni sedang mandi didalamnya.


Tok tok tok


“Mas…”


Mendengar istrinya memanggil, Joni mematikan kran shower dan menjawab.


“Iya, kenapa?”


“Mandinya udah selesai belum?” tanya Serena.


“Belum. Apa kau mau ikut mandi denganku?” tanya Joni. Keisengannya muncul begitu saja dan tidak tahan untuk menggoda sang istri sambil menahan senyum.


“Ngga!”


“Terus ngapain manggil-manggil?”


“Barusan manager kamu telepon,” jawab Serena yang menyenderkan tubuhnya di samping daun pintu kamar mandi.


“Ngapain?” tanya Joni.


“Dia nanya, kapan kamu berangkat ke kafe?”


“Bilang aja, hari ini aku libur.”


“Kenapa?” tanya Serena bingung.


“Kenapa apanya?”


“Kenapa mas ngga berangkat ke kafe?”


“Itu kamu yang nanya, apa Ian?”


“Aku yang nanya, mas...” sungut Serena.


“Ngga kenapa-napa. Emang aku ngga boleh libur, sekali-kali? Kan aku bosnya.”


“Bukan gitu mas. Tadi kata Ian, ada orang yang nyariin kamu. Dan dia mau jadi investor, kalau kamu mau buka cabang kafe.”


Sejenak tidak ada suara jawaban apapun dari Joni. Serena segera menegakkan cara berdirinya yang tadi bersender. Menempelkan telinga di daun pintu untuk mencari suara yang berasal dari dalam.


Tok tok tok


“Mas….”


Serena mulai gelisah. Pikiran buruk mulai menari-nari di kepalanya. Dia takut kalau suaminya mengalami hal buruk di dalam sana.


Tok tok tok


“Mas….”


Ceklek


Pintu kamar mandi mulai terbuka. Kepala Joni melongok keluar dari celah pintu yang sengaja tidak dibuka lebar. Lalu tangan laki-laki itu meraih tangan Serena dan menariknya lembut.


Mata Serena sontak membulat sempurna, saat mengetahui suaminya saat ini tidak memakai apapun untuk menutupi tubuhnya.


“Mas! Kenapa ngga pakai baju?” tanyanya sambil memalingkan wajah. Pipinya bersemu malu.


“Karena mas belum selesai mandi.”


“Ya udah, cepetan. Aku mau ngomongin soal investor tadi,” ucap Serena yang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Joni.


“Ngobrolnya nanti saja. Sekarang bantu mas mandi dulu.”


“Ngga mau! Kalau sama kamu judulnya bukan cuma mandi, nanti pasti minta yang lain-lain.”


Wajah Serena cemberut, dia tahu pasti apa yang diinginkan oleh Joni Padahal saat ini, dia sangat ingin membicarakan orang yang kemungkinan akan membuat usaha suaminya bertambah maju.


“Mas….”


“Nanti sayang. Kita akan ngobrol setelah urusan kita selesai. Kamu harus dapat hukuman, karena udah ganggu acara mandi mas.”


Joni mulai membuka kancing baju yang menghalanginya mendapat pemandangan indah. Laki-laki itu pun menghujani istrinya dengan banyak ciuman di sana sini untuk merayu dan membangkitkan hasrat Serena. Olah raga pagi paling menyenangkan versi Joni, setelah sebagian pengghuni rumah pergi dan sibuk dengan urusan masing-masing.


-


“Ayo, sana berangkat! Jangan malas-malasan.”


“Ck, apa hari ini mas ngga boleh libur?”


Kepala Serena menggeleng. “Ngga boleh. Ada orang penting yang lagi nungguin kamu, sekarang. Jadi cepet berangkat, nanti rejeki kamu dipatok ayam.”


“Cih dasar mata duitan,” gerutu Joni.


Serena membuang nafasnya perlahan. Dia tahu kalau suaminya bukan malas bekerja, tapi hanya ingin menemaninya di rumah.


“Mas… aku tahu, kalau kamu khawatir sama aku. Aku juga tahu, kalau tadi pagi Sekar melarang kamu untuk berangkat kerja. Aku janji, aku ngga akan kemana-mana. Di rumah juga ada ibu dan Bi Sari. Jadi kamu bisa berangkat ke kafe dengan hati tenang.”


“Tapi….”


Serena mengulas senyum. Dia berusaha menghilangkan kegeliasahan Joni yang membuat laki-laki itu masih tidak mau bergerak dari tempatnya.


“Apa kamu ngga apa-apa, kalau mas berangkat ke kafe?” tanya Joni cemas.


“Iya mas, aku ngga apa-apa. Aku baik-baik aja. Sekarang cepet berangkat, dan pulangnya bawa uang yang banyak.”


“Sejak kapan istriku ini jadi gila harta, hem?” tanya Joni sambil menjepit ujung hidung Serena.


“He hee, tapi nanti pulangnya bawain aku makanan yang biasa aku pesen itu ya mas!”


Joni menghela nafas. Entah kenapa, tiba-tiba dia merasa kalau ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi. Ada hal yang sangat mengganjal di dalam hati dan memberatkan langkahnya. Tapi melihat wajah istrinya yang begitu antusias dengan tawaran baik untuk kemajuan kafe miliknya, dia pun menjadi luluh. Apalagi mendengar pesanan Serena yang sedang ingin memakan makanan favorit yang memang biasa dia makan setiap datang ke kafe. Membuat Joni ingin segera pergi dan pulang secepatnya setelah urusannya selesai.


“Baiklah. Mas akan berangkat. Tapi kamu harus janji, hari ini kamu ngga boleh keluar rumah. Walaupun ada ibu dan bi Sari, kamu tetap ngga boleh keluar rumah. Mas ngga mau tahu, kamu harus…”


Cup


Sebuah kecupan dari Serena mendarat mulus di bibir suaminya. Ciuman itu sukses membungkam mulut Joni yang terus mengoceh tiada henti.


“Aku udah ngasih vitamin doble loh. Jadi sekarang, silahkan berangkat kerja yang tenang. Ok, suamiku sayang?” ibu jari dan telunjuk Serena beradu, membentuk huruf O yang dia arahkan pada Joni.


“Okeh…” jawab Joni.


Pria itupun mencium kening sang istri dan memeluknya erat. Memejamkan mata dan berdoa dalam hati untuk keselamatan Serena dan calon bayinya. Beberapa waktu berlalu, dan Joni masih betah menempel dengan tubuh yang ada dalam pelukannya. Lalu tangan Serena mengelus lembut punggung Joni.


“Apa sudah selesai pelukannya?” cicit Serena dalam dekapan Joni.


“Lima menit lagi.”


-


Joni menjalankan mobilnya menuju kafe, setelah drama pagi yang dia lakukan pada Serena. Dia berpura-pura tidak enak perut, agar Serena membiarkannnya tetap di rumah.


“Aku ngga usah ke kafe ya? Ian pasti bisa mengurus semuanya dengan baik kok,” rayu Joni.


“Tapi orang itu pengen ketemunya sama kamu, mas.”


“Ck biarin aja, sayang. Kalau dia memang serius, besok dia pasti bakal datang lagi.”


“Ngga baik nolak rejeki,” sanggah Serena.


“Aku ngga nolak. Di kafe kan ada Ian. Dia di bayar kan memang untuk menggantikan aku dan mengurus urusan yang seperti ini.”


“Mas…”


“Ngga mau! Aku mau bersantai di rumah aja.”


“Ya sudah. Mas berangkat dulu. Ingat pesan mas tadi,” ucap Joni.


“Iya iya.”


Drama yang dimainkan oleh Joni, tidak berhasil menipu Serena. Jadi mau tidak mau, laki-laki itu pun pergi meninggalkan istrinya dengan berat hati.


Mobil yang dikendarai oleh Joni sudah memasuki area parkir yang tidak terlalu luas, yang terdapat di depan kafe. Ian, sang manager kafe muncul dan menyambut kedatangannya.


“Dimana orangnya?”


“Maaf Pak. Pak Bram-nya baru saja pergi. Tapi tadi pengawalnya berpesan kalau beliau akan kembali lagi saat jam makan siang.”


Mendengar hal itu, Joni langsung hilang semangat. Ingin rasanya dia kembali masuk ke dalam mobil dan segera pulang ke rumah. Tapi sedetik kemudian dia mengurungkannya. Butuh waktu cukup lama untuk bisa kembali ke kafe, kalau dia pulang sekarang. Belum lagi, mendengar omelan Serena jika dia mengatakan tidak bertemu dengan orang yang akan menjadi investor kafe miliknya.


“Baiklah, kalau begitu saya akan menunggu di dalam.”


“Silahkan pak,” ucap Ian.


“Tunggu!”


“Ada apa, pak?” tanya sopan sang manager.


“Nanti sebelum pulang, tolong buat dan bungkuskan makanan favorit istri saya, ya.”


“Siap pak. Saya akan memberi tahu koki, untuk membuat makanan favorit Ibu Serena.”


Setelah mengangguk tanda mengerti, Joni melangkahkan kaki menuju kantor berukuran sedang yang berada di samping kafe.


-


Tepat jam makan siang. Sebuah mobil mewah berhenti di pelataran kafe. Sang sopir turun lebih dulu untuk membukakan pintu belakang, dimana sang majikan duduk dengan nyaman.


Joni bisa melihat sang tamu istimewa dari balik kaca jendela yang terdapat di samping kantor kafe. Dia merasakan aura kuat yang menguar dari sosok tinggi besar yang baru saja turun dari mobilnya.


“Diakah orangnya?” gumam Joni.


“Silahkan masuk!” perintah Joni pada orang yang mengetuk pintu kantor tempat dia berada.


Ian membuka pintu dan masuk ke dalam kantor bersama seseorang yang berjalan di belakangnya.


Ian mendahului percakapan. “Pak Bram, perkenalkan. Ini adalah bos kami, sekaligus pemilik kafe ini.”


Joni dan orang yang dipanggil dengan nama Pak Bram itupun saling mengulurkan tangan.


“Joni.”


“Bram.”


Joni merasa sedang tersengat listrik saat tangannya bersalaman dengan Bram. Senyuman yang tersungging di bibir laki-laki itu pun membuatnya sedikit mengerutkan kening.


“Silahkan duduk, Pak Bram.”


“Terima kasih.”


Ian langsung meninggalkan keduanya agar berbincang dengan nyaman. Dia lalu memerintahkan seorang pelayan untuk membuatkan minum untuk Joni dan juga Bram.


“Sebelumnya, saya minta maaf kalau maksud dan kedatangan saya telah membuat Pak Joni terkejut. Saya ingin menawarkan kerja sama pada Pak Joni.”


“Kerja sama yang bagaimana ya, pak?”


Joni sudah tahu, apa tujuan Bram datang ke kafenya. Tapi dia perlu mendengarnya secara langsung dan menilai kesungguhan niat dari sang lawan bicara.


“Kalau Pak Joni berniat untuk membangun cabang kafe, saya menawarkan diri untuk menanamkan modal di sana.”


“Tapi sampai detik ini, saya belum punya niat untuk ke sana.”


“Kenapa?”


“Saya tidak mau menghabiskan waktu terlalu banyak di luar, karena saya harus menjaga istri saya yang sedaang hamil.”


“HAMIL!!!”


Keterkejutan tidak wajar diperlihat Bram pada Joni. Laki-laki itu sampai terperanjat kaget dan bangkit dari duduknya begitu mendengar kata hamil. Joni tidak mengira kalau ucapannya mampu membuat orang yang ada di hadapannya itu pucat pasi.


“Anda kenapa, Pak Bram?”


“Ti-tidak apa-apa. Sa-saya hanya tidak mengira kalau istri bapak sedang mengandung.”


“Untuk sepasang suami istri yang a


sudah menikah, bukankah sebuah kehamilan itu hal yang wajar, pak? Bapak juga pasti pernah mengalami hal ini, kan?” tanya Joni menyelidik. Dia merasa curiga dengan reaksi berlebihan yang ditampilkan dari wajah Bram.


“I-iya. Saya juga pernah, bahkan bukan sekali.”


“Kalau boleh tahu, berapa jumlah anak Pak Bram, sekarang?” tanya Joni, lagi.


“A-anak saya… anak saya sudah dua. Tapi….”


“Tapi?”


“Dua-duanya sudah tiada, menyusul ibunya.”


“Oh maaf Pak Bram, saya tidak tahu. Saya turut berduka,” ucap Joni merasa bersalah.


“Tidak apa-apa Pak Joni, saya sudah menerimanya dengan ikhlas. Sekarang, saya sedang mencari penggantinya. Doakan semoga cepat dapat, ya Pak Joni.”


“Iya pak.”


Ditengah perbincangan, tiba-tiba ponsel milik Joni bergetar. Pria itu pun langsung meraih handphonenya yang berada di atas meja. Dia tersenyum cerah, ketika melihat layar handpone yang menampilkan nama dan wajah sang istri.


“Maaf Pak Bram, saya harus menerima telepon dari istri saya dulu.”


“Iya, silahkan.”


Joni bangkit dari kursinya dan berjalan menjauh. Dia menekan tombol berwarna hijau dan menjawab pangglan Serena.


Bram yang ditinggalkan sendiri, mulai menjalankan aksinya sesuai rencana. Dia mengambil sebuah botol kecil yang berisi beberapa butir obat dari saku yang berada di balik jas miliknya. Dengan penuh kehati-hatian, dia mulai membuka tutup botol agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun yang bisa mengundang kecurigaan dari Joni.


“Sepertinya dua butir saja sudah cukup,” gumamnya lirih.


Dia memasukkan dua butir obat yang dia bawa, ke dalam gelas milik Joni. Mengaduknya perlahan agar obat itu larut sebelum Joni kembali dan duduk kembali di tempatnya.


“Aku harus bisa mendapatkan wanita itu. Apapun caranya,” tekadnya dalam hati.


Joni sudah selesai dengan urusannya, dan kembali melanjutkan perbincangannya dengan Bram.


“Kok saya jadi ngantuk ya, Pak?” tanya Joni. Sudah berkali-kali dia menggeleng-gelengkan kepala, untuk mengusir rasa kantuk yang tiba-tiba datang menyerangnya.


“Mungkin bapak kecapean, karena harus menjaga istri yang sedang hamil.”


“Mungkin saja. Tapi saya tidak pernah kurang tidur sebelumnya, karena istri saya memang tidak pernah rewel seperti wanita hamil lainnya yang ngidam di tengah malam.”


“Kalau begitu, sebaiknya bapak istirahat saja. Perbincangan kita, bisa disambung lain kali, kalau bapak sedang punya banyak waktu luang.”


“Baiklah.”


Joni sudah tidak dapat menahan matanya untuk tertutup. Dia benar-benar pulas, sampai tidak peduli lagi dengan tamu yang belum pergi dari ruangannya.


“Sekarang, biarkan saya yang menjaga istrimu, Pak Jo ni.”


Ucap Bram dengan seringai licik. Dia merasa senang karena telah berhasil membuat Joni tertidur dengan cepat.


“Aku sudah menahannya disini, sekarang giliranmu!”


Tidak ada siapapun yang berada di dalam kantor selain Joni dan Bram. Lalu untuk siapa perintah yang dia ucapkna itu?


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.