KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 69



“Apa kau sudah bangun sayang?"


Tubuh yang tadinya terkulai lemas langsung menegang seketika, saat mendengar seseorang menyabutkan namanya. Posisinya yang sedikit tengkurap, menyulitkannya untuk mengetahui siapa orang yang ada bersamanya di ruangan itu.


“Siapa kau?”


“Ck ck ck kenapa kau begitu mudah melupakanku sayang? Aku kira kita sudah cukup akrab, tapi bahkan suaraku saja tidak kau kenali heh…”


“Ta.. tante?”


“Ralat! Mama!”


Serena terdiam, dia masih sibuk untuk mengingat semua kejadian yang dialaminya sebelum ini. Terakhir yang dia tahu adalah tentang kamar mandi. Dan ketika ingatannya sudah didapatkannya kembali, Serena tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


“Kau sudah ingat?”


Yuli bisa melihat raut wajah takut dan tegang dari Serena. Sekilas senyuman terlukis di ujung bibirnya, tapi di detik berikutnya senyuman itu menghilang.


“Mama harus melakukan ini untuk bisa memilikimu,” ucap Yuli.


“Apa maksud ma…” Serena tidak menyelesaikan ucapannya, dia sangat enggan menyebutkan panggilan yang diinginkan oleh Yuli padanya.


“Mama pengen kamu jadi menantu mama sayang, dan ini adalah cara yang bisa terpikirkan oleh mama.”


Keinginan memiliki sesuatu adalah hak setiap orang, tapi sebesar apapun keinginan itu, gunakanlah cara yang baik untuk mendapatkannya. Sebuah keinginan yang terlalu besar bisa menjadi sebuah obsesi. Dan obsesi yang besar, mungkin saja akan berakibat buruk ketika tidak ada pengendalian diri. Satu hal yang harus diketahui, bahwa setiap keinginan tidaklah selalu bisa tercapai. Karena semua yang terjadi dan yang akan terjadi, sudah ada yang menggariskannya.


Begitu juga dengan yang dilihat oleh Serena saat ini. Seorang wanita paruh baya yang menginginkannya untuk dijadikan menantu, sudah melewati batas kewajaran. Cara yang digunakannya untuk mendapatkan Serena, tidak lagi bisa dibenarkan.


“Kamu mau makan apa sayang? Kamu pasti laper kan?” tanya Yuli.


“Serena mau pulang ma,” jawab Serena lirih.


“Mau pulang kemana? Inikan rumah kamu juga sayang. Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Adit, dan semua milik mama akan mama kasih buat kamu. Mama akan menjadikan kamu menantu paling bahagia di dunia ini, kamu ngga perlu lagi memikirkan apa apa. Cukup duduk manis dan jadi anak menantu yang baik.”


“Serena juga punya keluarga ma, mereka pasti khawatir kalau Rena menghilang tanpa kabar.”


“Itu urusan gampang. Nanti mama yang akan menghubungi ibu kamu, sekalian minta restunya buat nikahin kamu sama Adit.”


Yuli langsung meninggalkan Serena di dalam kamar, tidak mau memperpanjang obrolan yang mungkin akan melemahkan hatinya, dengan tidak lupa mengunci pintu dari luar. Menyadari kalau kini dirinya kini menjadi tawanan, Serena mencoba membujuk Yuli dari balik pintu.


Ceklek ceklek


“Mah… kenapa harus dikunci ma? Serena mau keluar ma…”


Tok tok tok


“Mah… bukain pintunya… mah, Serena mau pulang!” teriak Serena.


Tubuh Serena yang bersandar di daun pintu sudah luruh ke lantai. Entah apa yang diberikan oleh Yuli padanya, yang jelas sekarang Serena merasa tubuhnya sangat lemah dan tak bertenaga. Bahkan untuk berjalan ke kamar mandi saja, Serena harus sedikit merangkak.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Serena saat ini, dia hanya bisa mengikuti semua keinginan Yuli dan mengikuti permainannya.


“Bang Jon… hiks hiks… tolong Rena… Rena mau pulang”


---------------------------------------------


Adit dan Joni memutuskan akan mencari Serena dengan cara masing masing, mereka berdua berpikir ini adalah jalan paling tepat dan juga efisien, untuk bisa menemukan Serena secepatnya.


Awalnya Joni ingin mengikuti kemana pun Adit pergi, tapi setelah menerima telepon dari orang yang tidak dikenalnya tadi, Joni akhirnya memilih pamit. Joni tidak akan melewatkan satu pun peluang dimana dia bisa menemukan Serena, walaupun dia sebenarnya masih ragu, sebab mungkin saja kalau ini adalah sebuah penipuan.


Dengan mengendarai mobil Serena, Joni membelah kemacetan kota dengan perasaan yang tidak menentu. Pikiran dan hatinya terus saja mengkhawatirkan Serena.


“Sabarlah mbak Rena… Joni akan menemukanmu,” batinya yakin.


Tiba di parkiran sebuah kafe, Joni buru buru mencari orang yang diharapkan bisa membantunya mengetahui dimana Serena berada.


Dahi Joni langsung mengernyit, tatkala matanya bisa dengan jelas melihat orang yang sedang berdiri dan menatapnya.


“Sherly…” desisi Joni.


Tapi tak urung, kakinya tetap melangkah mendekati wanita yang menunggunya itu.


“Hai Bang Joni,” sapa Sherly.


“Basa basinya nanti saja, sekarang cepat kasih tahu saya dimana Serena?”


Senyuman yang tadinya menghiasi wajah Sherly hilang seketika, mendapat sambutan dingin dari laki laki yang disukainya, benar benar sukses meruntuhkan rasa percaya dirinya.


“Ini…” Sherly menyerahkan telepon genggamnya pada Joni. Awalnya pria yang ada dihadapannya itu enggan menerima, tapi langsung bisa paham pada maksud Sherly ketika gadis itu menampilakan layarnya.


“Bukalah vidionya,” perintah Sherly.


Dengan tangan yang sedikit bergetar, Joni pun menerima handphone itu. Tiba tiba rasa takut yang begitu kuat menjalar di seluruh tubuhnya. Takut kalau kalau gadis itu mengalami kejadian yang sadis, terluka parah, atau bahkan….


Joni terus menggeleng gelengkan kepala, menolak pikiran buruk tentang gadis kesayangannya. Menguatkan hatinya sendiri, merapalkan doa doa dan mengharapkan keselamatan Serena sampai dia bisa menemukannya.


Mata Joni langsung membulat sempurna. Di layar handphone milik Sherly, jelas terlihat siapa orang yang telah membawa Serena. Orang itu tidak sendiri, ada orang lain yang membantunya untuk menggendong tubuh Serena.


“Wanita itu… awas kau,” geram Joni.


Perubahan ekspresi di wajah Joni tidak luput dari perhatian Sherly, dia penasaran dengan alasan Joni yang menggeram marah.


“Apa Bang Joni mengenal orang yang membawa Serena itu?” tanya Sherly.


“Hmm…”


“Dia siapa?”


“Mamanya Adit”


“Siapa itu Adit?” Sherly terus membeo.


“Tidak penting. Apa kau punya vidio lain yang bisa dijadikan petunjuk dimana Serena dibawa oleh mereka,” tanya Joni sambil menunjuk layar handphone Sherly.


“Berikan nomormu,” pinta Sherly.


“Untuk apa?”


Sherly bisa melihat kecurigaan di mata laki laki itu, dan dia hanya tersenyum penuh ironi. Dia berbaik hati untuk membantu menemukan Serena, tapi malah mendapat tatapan curiga, terlebih orang itu adalah Joni, laki laki yang mungkin telah mencuri hatinya.


“Bukankah Bang Joni pengen tahu dimana Serena? Kalau begitu berikan nomormu, karena aku akan mengirim lokasi terakhir, dimana aku mengikuti mobil yang membawa Serena."


Dengan malas, Joni mengetikkan nomornya di layar handphone milik Sherly. Kalau bukan untuk Serena, dia tidak akan mungkin memberikan nomor itu. Laki laki itu memang tidak pernah memberikan nomornya pada siapapun, terkecuali orang orang yang dianggapnya sebagai keluarga. Selain Serena, hanya ada nama Zahra, Bi sari dan juga ibu Serena yang mengisi daftar nomor yang tersimpan di handphone pribadinya, tidak ada orang lain lagi.


Ting


Bunyi pesan masuk.


Dengan cepat Joni membuka kunci layar dan membaca pesan yang diterimanya. Dia tahu lokasi itu, memang cukup jauh. Tapi tidak untuk Joni yang akan mencari Serena dimanapun itu, meski ke tempat terpencil dan sulit ditemukan.


.


.


.


***


satu