
Serena hanya menggeliat, saat Joni memindahkan posisi kepalanya dari lengan kekar ke bantal. Sejak datang ke negara yang terkenal dengan ginsengnya itu, Joni jarang mengizinkan tubuh istrinya berbalut kain bahkan satu helai pun, tidak. Keduanya benar-benar menghabiskan waktu, hanya untuk memuluskan program adik untuk Sekar.
Joni segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Dengan masih berbalut kimono mandi, Joni mencoba membangunkan Serena yang masih betah bergelung selimut. Menghujaninya dengan kecupan disana sini dan sedikit menggelitik.
Drrrt drrrt drrt
Dengan cepat, Joni meraih gawainya di atas nakas. Dia segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan vidio call dari Zahra. Joni tahu kalau yang menelponnya adalah putri tersayang yang meminjam handphone milik sang tante.
“Papaaa…” suara Sekar menyapa dengan semangat.
“Hai anak papa, apa kabar sayang?” Tanya Joni.
Bukannya menjawab pertanyaan, Joni malah melihat raut wajah Sekar yang tiba-tiba berubah murung.
“Loh… kenapa? Kok mukanya jadi sedih gitu?” Tanya Joni khawatir.
Serena bangun dari tidur, saat telinganya mendengar percakapan Joni dengan Sekar, putrinya. Takut sang anak melihatnya dalam keadaan *****, dia memanfaatkan selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya.
“Papa cepet pulang!” ucap Sekar dengan nada yang agak keras. Dan itu bisa di dengar dengan jelas oleh Serena, yang masih belum menunjukkan wajahnya di depan layar. Handphone langsung saja berpindah tangan.
“Memang kenapa, sayang?” Tanya Serena.
“Pokoknya cepet pulang! Nanti adeknya Sekar pergi lagi!”
Serena dan Joni beradu pandang. Terkadang mereka sulit mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Sekar.
“Cepet pulang! Sekar mau ketemu mama sama papa!” Sekar mengulang permintaannya.
“Iya iya baiklah. Papa sama mama segera pulang, Sekar sabar ya….”
“Ada apa dengan Sekar, mas?” Tanya Serena. Dia menjadi ikut-ikutan tidak tenang, setelah mendengar permintaan Sekar yang begitu mendadak. Padahal anak itulah yang sangat semangat menyuruh keduanya untuk pergi bulan madu. Dan sekarang, malah memerintahkan keduanya untuk segera pulang.
“Sebaiknya kita menuruti keinginannya. Kamu tahu sendiri kan, kalau anak kita memiliki kemampuan untuk melihat apa yang tidak kita lihat?”
“Iya. Dan karena itulah hatiku menjadi tidak tenang.”
“Kalau begitu,sekarang mas akan cari tiket untuk pulang dulu.”
“Iya. Biar aku yang akan membereskan semua baju dan lainnya.”
Serena dan Joni sama-sama bergerak cepat.
Saat Joni sibuk menghubungi seseorang dan memberi instruksi, Serena pun mulai memisahkan pakaian kotor milik Joni dan juga dirinya sendiri. Membereskan sedikit barang yang tercecer, karena sebagian besar masih berada di dalam koper.
“Apa kamu tidak merasa ada yang aneh, sayang?”
Joni sudah selesai dengan tugasnya. Dia sukses mendapatkan tiket untuk pulang pada jam 8, besok pagi. Lalu dia duduk di tepian ranjang sambil memandangi Serena yang masih mondar mandir di depannya.
“Apa?” Tanya Serena tanpa menolah. Tugasnya beres- beres belum selesai.
“Kata-kata Sekar, tadi?”
“Yang mana?” Serena berhenti sejenak, mendongak dan menatap Joni yang juga sedang memperhatikan dirinya.
“Tadi kalau mas tidak salah dengar, Sekar menyuruh kita cepat pulang karena takut adeknya pergi lagi. Apa kamu tahu artinya?”
“Adeknya pergi lagi?” Ulang Serena. Alisnya menyatu dengan jari telunjuk yang mengetuk-ngetuk dagunya. “Adek?” Saking seriusnya, kepala Serena sampai miring tanpa dia sadari.
“ADEKKK!!” teriak Joni dan Serena bersamaan.
“Benarkah?” Teriak Joni.
“Mungkinkah?” Teriak Serena.
Walaupun mereka belum melakukan pemeriksaan ke dokter, tapi Joni dan Serena tahu kalau ucapan Sekar sering mendekati 100 % kebenaran. Anak itu bisa melihat dan merasakan apa yang belum terlihat oleh mata orang lain.
Joni segera bangkit dan memeluk tubuh Serena, erat. Mereka tahu apa yang di maksud oleh Sekar. Senyuman bahagia terukir jelas di wajah suami istri yang sedang merapalkan ribuan syukur di dalam hati.
“Alhamdulillah.. semoga ini benar,” ucap keduanya bersamaan.
“Dan kalau memang benar, kali ini kita harus lebih hati-hati.”
Kepala Serena mengangguk, setuju. Mereka pernah kehilangan janin yang bahkan belum berumur tiga bulan, buah cinta pertama. Dan tentu mereka, tidak mau mengalami hal serupa. Serena telah berjanji, akan menuruti semua nasehat tanpa banyak bertanya. Selama itu dirasa tidak merugikan apalagi membahayakan.
“Aku lapar, apa mas sudah memesan sarapan?” Tanya Serena.
“Oh ya ampun, mas lupa! Maaf sayang…,” Joni memukul kepalanya sendiri. Bergegas mencari keberadaan telepon kamar hotel dan memesan sarapan.
“Perutmu masih bisa menunggu, kan?” Tanya Joni dengan tatapan penuh rasa bersalah.
“Hahahaa… iya mas. Tenanglah, jangan berlebihan. Seandainya benar dia ada di dalam perutku, pasti masih sangat kecil. Dan pastinya belum meminta yang aneh-aneh.”
“Baguslah. Aku hanya takut, kalau dia begitu kelaparan di dalam sana.”
Joni mengulurkan tangan, lalu mengelus lembut perut rata milik Serena.
“Jadilah kuat. Kakakmu sudah menunggu, dia sangat tidak sabaran untuk bertemu. Dan ingat, kau harus memanggilnya dengan sebutan ’kakak’, apa kau mengerti?”
Serena hanya tersenyum melihat tingkah konyol yang ditunjukkan oleh suaminya. Joni mendaratkan sebuah kecupan di kening Serena. “Semoga kalian berdua selalu sehat.”
“Aamiin…,” timpal Serena.
-
Tok tok tok
Sherly sedang menonton peragaan busana dari televisi, saat bunyi ketukan pintu kamar menganggunya. Dia sendirian, karena Farrel sedang keluar untuk bertemu seseorang.
Tok tok tok
Pintu kembali di ketuk, dan makin keras dari sebelumnya.
Sherly masih terdiam. Entah kenapa, kakinya begitu enggan beranjak. Sesaat dia teringat dengan ucapan Farrel, sebelum pria itu pergi.’Jangan keluar dari kamar, saat aku tidak bersamamu.’
Tok tok tok
Lagi-lagi pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Sherly meraih handphone dan menghubungi Farrel.
“Ha-hallo Farrel…,” suara Sherly sudah gemetar.
“Ada apa sayang?”
“Ada seseorang yang mengetuk pintu. Apa itu kamu?” Tanya Sherly.
“Jangan dibuka dan jangan keluar! Tunggulah… aku pulang sekarang!” Joni memberi perintah dan meninggikan suara.
“I-iya. Cepatlah, aku takut….”
Sherly segera bangkit dan lari masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa lupa menutup dan mengunci pintunya dari dalam. Dia akan bertahan di dalam sana, sampai Farrel datang.
Sementara di tempat lain, Farrel terus mengumpat dan meruntuki kebodohannya sendiri.
“SIAL!! Kenapa tadi aku tidak membawanya saja!”
Farrel berulang kali memukul setir mobil yang sedang dia kendarai.
“Awas kau Sarah! Kalau sampai Sherly tergores sedikit saja, maka aku akan menuntut balas ribuan kali lipat. Aku tidak akan membiarkanmu menghirup udara lagi, besok pagi!”
“SIAL SIAL SIAL!!!”
.
.
.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.