KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 66



“Yey masih kenal Sherly sama Sarahkan cin?”


“Kenapa dengan mereka?”


Serena menjawab dengan malas, dua nama orang yang baru saja di sebut oleh Miki selalu membuatnya kehilangan rasa antusias dan kepedulian.


“Yey tahu ngga kalau Sherly dan juga Sarah masuk rumah sakit? Menurut berita yang beredar, mereka dianiaya orang ngga dikenal, bahkan mereka berdua membatalkan semua kegiatan mereka selama sebulan kedepan,” Miki menjelaskan dengan heboh.


“HAH! Kok bisa? Kalau Sarah masuk rumah sakit sih gue tahu, tapi gue malah baru dengar kalau Sherly juga masuk rumah sakit juga. Kok bisa barengan gitu ya?”


“Ekke jadi curiga nih cin”


“Hemm… mulai deh. Jangan suka nambah nambahin berita, kalau ngga mau ganti profesi jadi admin lamber turah.”


“Iiih…. yey ngga asik,” keluh Miki.


“Gue ngga mau jadi orang asik kalau hanya untuk gosip, ngga berguna. Dan lo pasti tahu itu dari dulu.”


“Iya iya… ekke tahu banget kalau yey emang paling ngga suka ngegosip, dan itu adalah salah satu dari sekian banyak alasan ekke lebih suka berteman sama yey. Ok deh, ekke lanjut melukis muka orang lagi ya nek”


“Hemm.”


Serena menggeleng gelengkan kepalanya setelah Miki memutuskan sambungan telepon, persahabatannya dengan makhluk aneh bin ajaib satu itu memang selalu membuat hidupnya lebih berwarna. Saat semua teman meninggalkannya, Miki selalu ada dan tidak ikut pergi menjauh. Meski bahasanya yang kadang tidak dimengerti oleh Serena, tapi untuk sebuah kata loyalitas, Miki tidak perlu diragukan lagi.


Serena telah menyelesaikan semua pekerjaannya, dia menyempatkan waktu untuk mengucapkan terima kasih pada tim pemotretan hari ini, sebelum kembali ke aparteman. Sudah menjadi sebuah kebiasaan, Serena memang selalu menjaga hubungan baik dengan semua orang yang bekerja sama dengannya, baik sebelum pekerjaan dimulai ataupun setelah pekerjaan itu selesai.


Salah satu keberuntungan Serena lainnya yaitu, bisa didampingi oleh laki laki baik dan setia, yang tentunya akan mengantar kemanapun Serena pergi, karena memang itu adalah tugasnya. Pekerjaan yang tidak mengenal waktu normal seperti orang kantoran, tapi tetap dikerjakan Joni dengan senang hati. Bukan karena gaji yang diterimanya setiap akhir bulan, tapi lebih kepada rasa setianya pada keluarga Serena yang telah memberinya tempat pulang disaat dia tidak memiliki siapa siapa.


Serena yang telah berganti baju dengan baju miliknya sendiri, berjalan mendekat lalu menitipkan handphonenya pada Joni, karena dia tidak bisa lagi menahan kandung kemihnya yang sudah penuh.


“Rena ke toilet dulu ya Bang Jon”


“Iya mbak”


“Jangan kemana mana!”


“Siaaap.”


Serena menuju ke toilet khusus wanita, dia langsung masuk ke salah satu bilik untuk menyelesaikan urusannya.


“Sepi banget nih toilet, tumben.”


Ketika hampir selesai, tiba tiba…


Zzztt... zzztt....


Lampu diruangan itu berkedip kedip dan akhirnya mati, dan membuat semua ruangan menjadi gelap gulita. Serena sempat tersentak, dia lumayan takut dengan kegelapan, tapi tak lama kemudian senyum terbit di bibirnya.


“Juan…kaukah itu?” ucap Serena.


“.……” tidak ada yang menjawab.


Zzztt... zzztt...


Lampu kembali hidup.


“Juan…jangan main main!” suara Serena mulai meninggi.


Perlahan Serena membuka pintu bilik setelah urusannya selesai, mencari orang yang dia kira akan datang untuk menemuinya tanpa menaruh rasa curiga sama sekali.


Kaki Serena melangkah menuju wastafel untuk mencuci tangan, menatap kaca besar disana sambil merapikan rambut yang sedikit berantakan.


Zzztt... zzztt...


Lampu mati kembali.


“JUAN! Saya ngga suka ya kamu kayak gini!” kali ini Serena benar benar marah, tapi tetap tidak mempedulikan keadaan sekitarnya.


BRAAKKK….


Pintu salah satu bilik terbanting dengan keras, entah siapa yang melakukan itu? Tapi sukses membuat Serena berjingkat kaget, dan dia tidak melihat siapapun ada di ruangan itu selain dirinya.


Serena mulai merasakan tengkuknya meremang, hawa dingin menyapa kulit tubuhnya yang berdiri sendirian. Sepi dan gelap, itu adalah perpaduan yang sangat baik untuk sesuatu yang tidak baik. Banyak orang yang tidak menyukai suasana seperti itu, termasuk juga dengan Serena.


Sekelebat bayangan melintas tepat di depan Serena. Bayangan itu seolah hanya ingin menyapa, keluar dari salah satu bilik dan bergerak menuju pintu ruangan khusus wanita itu.


Serena tidak berteriak, ini bukan pertama kali dirinya melihat makhluk yang bukan manusia. Serena mengira itu hanyalah makhluk penghuni toilet yang memang selalu ada di sebagian banyak toilet toilet di tempat lain. Toilet adalah tempat pembungan kotoran manusaia yang bau, juga bisa dipastikan kalau tempat itu selalu dalam keadaan lembab, dan makhluk makhluk halus banyak yang memilih tinggal disana.


Bayangan itu masih berdiri tepat berada di belakang pintu masuk ruangan toilet khusus wanita yang masih tertutup, tapi anehnya makhluk itu malah berdiam diri, seolah sedang kebingungan.


“Siapa kau?” Serena akhirnya bertanya, walau mungkin tidak akan ada jawaban yang terdengar, tapi Serena tetap bersiap untuk mendengar suara tawa yang pasti akan sangat menyeramkan.


Serena pun mulai merasa curiga, banyak dugaan dugaan yang muncul dibenaknya, jika bayangan itu adalah makhluk halus, tentu akan dengan mudah menembus pintu bahkan tembok yang tebalnya bersenti senti sekalipun.


“Siapa kau?” sekali lagi Serena bertanya, dan lagi lagi tidak ada jawaban.


“Siapa yang mengirimmu?”


Karena sudah cukup lama berada didalam kegelapan, mata Serena mulai bisa mengenali bayangan yang ada di depannya. Dan dia sangat terkejut ketika menyadari kenyataan kalau bayangan itu bukan sekedar bayangan biasa, tapi itu adalah sesosok tubuh manusia yang berpakaian serba hitam.


“SIAPA KAU!!” Serena berteriak kencang, suaranya bahkan terdengar hingga ke luar toilet dan membuat takut seorang cleaning servise yang hendak masuk. Tukang bersih bersih itu akhirnya membatalkan niatnya untuk membersihkan toilet, setelah mendengar suara jeritan dari dalam.


Sosok gelap itu mulai bergerak mendekati Serena, maju dan terus maju. Melihat adanya bahaya yang mengincar di depan mata, secara naluriah kaki Serena ikut bergerak mundur.


Tidak ada satupun barang diruangan itu yang bisa digunakan untuk melawan. Dan sialnya, Serena baru teringat dengan handphonenya yang dititipkan pada Bang Jon, padahal biasanya benda itu tidak pernah ditinggal kemanapun dia pergi.


“Bang Jon, tolong Rena,” lirihnya.


Hanya butuh waktu beberapa detik saja, ruangan itu kembali lengang, dibarengi dengan jatuhnya tubuh Serena ke lantai keramik yang dingin.


---------------------------------------------


Ckit….


Mobil mewah tiba tiba berhenti serampangan, tepat di depan mata Joni yang menatap tajam pada pengemudinya yang muncul dari dalam.


“Dimana Serena?” Adit berlari ke arah Joni dengan nafas yang tersengal sengal.


“Ngapain lagi lo nyariin Mbak Rena, hah?!” suara Joni sedikit meninggi sambil memalingkan wajah.


“Dimana Serena!” Adit tidak kalah galak.


“Apa urusan lo!” jawab santai Joni sambil merapikan barang barang milik Serena.


“Serena dalam bahaya! Dimana dia sekarang!”


.


.


.


***


Baru selesai nulis bagian ini, Si_Ro langsung mengalami hal yang hampir mirip.


Pas mau mandi malah mati lampu, terpaksa dong pake lilin.


Auto celingukan di dalam kamar mandi, karena masih kebawa suasana cerita.


Crazy up ke 6


Likenya jangan cuma di chapter terakhir ya