KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 32.



Sebelumnya…..


Ditempat lain, Zahra bangkit dari kursi yang sudah mau menerima beban tubuh lelahnya. Lampu yang berada di depan ruangan juga telah dimatikan, dan itu berarti operasi yang tadi dilakukan sudah selesai.


“Bagaimana kakak saya dok?” Tanyanya dengan tidak sabar, ingin segera mengetahui bagaimana keadaan pria yang danggapnya sebagai kakak.


“Dia sudah melewati masa kritisnya dengan baik. Tubuhnya juga tidak menolak tranfusi yang harus dilakukan tadi.” ucap dokter menjelaskan


“Apa pasien sudah bisa dijenguk dok?”


Dokter menganggukkan kepalanya dengan senyuman tipis “Tapi dia masih dalam pengaruh obat bius”


“Terima kasih dok”


“Ya, sama sama”


Zahra segera masuk ke ruangan, dimana terbaring tubuh Bang Jon yang masih memejamkan mata karena efek anastesi yang belum hilang.


“Syukurlah…terima kasih Bang Jon. Terima kasih sudah mau bertahan untuk kami”


Zahra tiba tiba teringat, kalau dia belum mengabari ibu dan juga Bi Sari. Dia langsung mencari cari keberadaan telepon genggam milik Serena, yang sempat terinjak olehnya saat dia ikut berlari mengikuti petugas medis yang membawa Bang Jon.


Ditekannya nomor yang bisa menghubungkannya dengan sang ibu atau Bi Sari. Ibunya


langsung menangis mendengar kabar Bang Jon dan bahkan pingsan setelah mendengar keadaan yang dialami oleh anak sulungnya, Serena.


“Aku terima kau menyakitiku, tapi aku tidak rela kalau anak anakku yang menjadi korbanmu” ucapnya lirih sebelum matanya terpejam


Malam ini Bi Sari tidak bisa menjenguk Bang Jon, keponakannya. Dia harus mengurus ibu Zahra dirumah, jadinya Zahralah yang kini bersiap menginap di rumah sakit untuk menunggui Bang Jon.


----------------------------------------------


Serena tiba tiba menghentikan langkahnya dan tersenyum.


“Ada apa?” Tanya laki laki sangar itu pada Serena


“Maaf bos. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu.” jawan Serena “Aku hanya bisa memberimu pemandangan tubuhku tanpa bisa menikmatinya” tambahnya lagi


“Jangan mempermainkanku! Kau pikir kau siapa? Berani beraninya menolakku hah! Jangan lupa, kalau kau sampai menolak, aku akan membunuh ayahmu dan membawa adikmu untuk menggantikanmu disini!” emosinya tidak terbendung


“Kau harus meminta izin suamiku dulu sebelum bisa memiliku” ucap Serena santai


“Suami? Ha….haa..Yudi bilang kau belum menikah, bagaimana bisa ada suami. Tapi kalau memang benar kau sudah menikah, lalu dimana suamimu? Kenapa dia membiarkamu memasuki markasku dan tidak menolongmu?” Sinisnya


“Suamiku? Dia ada dibelakangmu”


Jawaban Serena sukses membuat seringai di wajah laki laki sangar itu lenyap seketika. Dia tidak percaya dengan ucapan Serena yang menyebut kalau, suaminya ada dibelakangnya. Setahu dia, tidak akan ada yang bisa melewati pintu besi tebal yang berada di balik badannya itu dengan mudah. Dia juga yakin kalau sudah menguncinya, dan pintu itu bahkan anti peluru.


Tapi tak urung, hatinya dijejali rasa penasaran yang begitu besar sampai tak tertampung. Perlahan membalikkan badan, untuk membuktikan kebenaran ucapan Serena.


Kepalanya bergerak lebih dulu daripada badan besarnya. Matanya memindai, mencari apa yang sama sekali tidak dia inginkan.


Kosong….


Tidak ada satupun manusia yang bisa ditangkap oleh penglihatannya


“Sampai kapan kau akan terus mempermainkanku hah! Tidak ada satu manusia pun disini, kecuali kita berdua”


“Siapa juga yang bilang, kalau suamiku itu manusia?” Serena melangkah ke arah lemari baju. Dia melepaskan handuknya begitu saja, tanpa memperdulikan tatapan lapar yang sebentar lagi akan menerkamnya. Memilih pakaian yang dianggapnya paling layak untuk menutupi keseksian tubuh polos dan menggoda.


“Aku juga akan langsung menghabisinya karena sudah menganggu waktuku bersamamu sayang” melangkah maju mendekati Serena


“Suamiku benar benar ada dibelakangmu” ucap Serena lagi tanpa menatap lelaki itu


“Bercandamu sungguh keterlaluan jal*ng” senyumnya kembali merekah karena merasa menang


“Aku tidak bercanda bos. Apa kau benar benar tidak melihatnya?” ucap Serena dengan nada mengejek


Laki laki sangar mulai melangkah mendekati Serena yang juga tersenyum ke arahnya. Tidak ada yang tahu apa arti dari senyuman yang terlukis di wajah cantik Serena. Dia tetap tenang, walau melihat sorot mata tajam dari laki laki yang sudah menggebu gebu antara hasrat dan juga amarah.


Belum sempat menyentuh pundak mulus milik Serena, tangan laki laki itu tiba tiba terasa kaku. Tangan itu hanya terjulur tanpa bisa meraih yang dia inginkan. Sekuat tenaga dia berusaha bergerak, tapi tetap tidak berhasil.


Bukan hanya tangannya. Kini seluruh tubuhnya terasa juga terasa berat.


“Ada apa ini?” ucapnya heran


“Sudah kubilangkan, kalau disini ada suamiku. Tapi kau tidak percaya. Ck ck ck…”Serena menggelengkan kepalanya.”Inilah akibat dari keinginanmu menyentuh sesuatu yang sudah ada pemiliknya”


“Sebenarnya siapa kau?!” frustasinya terdengar jelas di telinga Serena yang malah duduk santai di pinggir ranjang, sambil tertawa riang.


“Aku? Kau tanya siapa aku?” Serena menunjuk dirinya sendiri, sejenak mengatur nafasnya agar berhenti tertawa “ Aku bukan siapa siapa. Mungkin akan lebih tepatnya…. kalau yang kau tanyakan itu adalah, siapa suamiku, bukan siapa aku?” Serena memberikan saran


“Apa maksudmu!” Teriaknya penuh ketakutan. Dia sudah merasakan seluruh tubuhnya semakin tak berdaya


“Aku tidak bermaksud apa apa. Tapi kaulah yang seharusnya lebih tahu. Jadi….kau masih ingin terus atau berhenti”


Mata laki laki sangar itu mulai melotot. Lehernya terasa tercekik oleh sesuatu yang tidak bisa dilihatnya. Detak jantungnya semakin tidak terkendali, belum pernah dia merasakan takut yang begitu hebat sampai keringat dinginnya bercucuran.


Biasanya dia akan langsung mengeluarkan pistol yang selalu di bawanya kemanapun dia melangkah. Lalu akan menembak siapapun yang dirasa menganggunya tanpa banyak berpikir.


“He…hen….tikan…”begitu kencangnya cekikan itu sampai membuatnya hampir tidak bisa mengeluarkan kata kata


“Apa?” Tanya Serena


“He…n…ti…kan”


“Apa yang bisa kau berikan, kalau aku bisa membuatmu terlepas dari siksaan suamiku?” Serena menaikkan sebalah alisnya


“Apa…pun” makin sedikit kata yang bisa terdengar


Serena menghela nafasnya. Berpikir sejenak, agar bisa menemukan keinginan yang mungkin bisa dia ajukan untuk laki laki yang sedang menggelepar di depan matanya.


“Baiklah” Serena sudah menemukan jawabannya “Suamiku…cukup” ucapnya kemudian


Tubuh laki laki sangar langsung terbanting keras ke lantai yang terasa begitu dingin. Kini dia bisa melihat asap berwarna merah bergerak mengelilingi tubuh Serena. Asap itu membentuk sosok manusia yang berperawakan laki laki dengan tubuh besar dan tegap.


Nafasnya juga masih tersengal dan terbatuk batuk akibat cekikan yang baru saja melepaskan lehernya.


Ukhuk uhuk…..hah….hah


Tindakan selanjutnya adalah tindakan yang paling bodoh, yang tidak seharusnya dia lakukan. Dia mengembil pistol dibalik bajunya dan menembaki asap itu dengan membabi buta. Peluru itu terus melesat meninggalkan tempatnya sampai habis tak tersisa.


“Dasar manusia tidak tahu diuntung!!!”


Bentakan itu berasal dari mulut Serena. Tapi suaranya bukan lagi suara Serena.


***


Haiii


Pasti pada KEZEL deh digantung, kabuuuuur....


Bab ini udah ditambahin ya, lumayan panjang


Info juga


Hari ini, Si_Ro dalam perjalanan pulkam


Semoga lancar sampai tujuan


Dan….


Semoga signal disana bagus, jadi bisa up tiap hari