KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 87


“Sepertinya kau sangat bahagia bisa melihatku lagi Ni Maryam, sampai-sampai kau sendiri yang menyambut kedatanganku he.. hee,” ucap Ki Jarot begitu dia menginjakkan kakinya di halaman rumah tua milik Ni Maryam.


“Lalu… apa kau senang dengan caraku menyambutmu?”


Ni Maryam mengikuti alur basa basi yang dimainkan oleh Ki Jarot.


“Ehm… lumayan,” Ki Jarot menganggukkan kepalanya ringan. “Tapi, apa cuma segitu kemampuanmu? Kenapa aku merasa kalau guru kita telah salah memilih murid. Dengan semua ilmu yang sudah guru turunkan padamu, kau hanya mampu menghindari kirimanku tanpa bisa melawan balik. Apa karena kau sudah bertambah tua, sampai kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu untuk melawanku?”


Sebelum mobil yang dikendarai oleh Yuli sampai ke tempat Ni Maryam, ternyata Ki Jarot sudah mengirimkan beberapa makhluk peliharaannya terlebih dahulu. Makhluk kirimannya itu ditugaskan untuk menyerang Ni Maryam dengan segala kemampuan mereka.


Namun sayangnya itu tidak berhasil, Ni Maryam mampu mengirim balik semua jin dan ilmu hitam milik Ki Jarot. Tapi Ni Maryam tidak membalas apa yang dilakukan oleh Ki Jarot, dan itu membuat laki-laki tua itu merasa senang. Dia merasa kalau Ni Maryam bukanlah tandingannya. Dan itu pasti akan mempermudah jalannya untuk merebut apa yang menjadi tujuannya datang ke tempat ini.


“Itulah perbedaanku denganmu. Aku tidak pernah menyerang orang lain lebih dulu, tanpa alasan yang jelas. Apalagi aku tidak pernah merasa punya masalah denganmu,” jawab Ni Maryam.


Tapi apa yang baru saja Ni Maryam ucapkan, malah membangkitkan emosi Ki jarot yang memang sudah lama tidak menyukainya. Hubungan mereka berdua di masa lalu yang terjalin kurang baik, ternyata masih harus berlanjut sampai saat ini.


“Kau selalu saja berlagak sok baik. Mungkin kau bisa menipu guru dengan tampang dan semua perkataanmu, tapi tidak denganku!”


Seolah tidak terpengaruh dengan tingkah laku kurang bersahabat yang ditunjukkan oleh lawan, Ni Maryam malah bertanya dengan sikap tenang.


“Sebenarnya apa maksud kedatanganmu ke tempatku ini Jarot? Apa kau berniat mengembalikan jiwa yang telah kau ambil pada pemiliknya?” tanya Ni Maryam tanpa ingin mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk.


“Jangan harap. Aku datang kesini karena aku ngin mengambil semua ilmu yang guru berikan padamu.”


“Untuk apa? Bukankah dulu kaulah yang pergi meninggalkan tempat ini atas kemauanmu sendiri, bahkan kau tidak mau mendengar perkataan guru yang memintamu untuk tetap tinggal. Lalu sekarang, setelah guru tidak ada, kau berani datang padaku dan meminta ilmu yang sama sekali memang bukan untukmu! Kau ini lucu sekali Jarot.”


“Ilmu yang guru berikan padamu bisa membuatku semakin kuat, dan kalau aku bisa memilikinya, maka aku akan jadi dukun paling sakti di dunia ini.”


“Niatmu sangat kotor Jarot.” Ni Maryam menarik nafasnya dalam untuk menekan amarahnya yang mulai naik.


“Sepertinya sekarang aku tahu apa alasannya, kenapa dulu guru begitu tidak menyukaimu. Kau akan menggunakan ilmu-ilmu itu untuk hal buruk, dan itu membuat guru lebih memilihku dari pada dirimu, kakek tua.”


“Jangan sombong Maryam!” Ki Jarot semakin menunjukkan kemarahannya.


“Aku juga tidak menyangka kalau guru akan memberikan semua ilmunya pada manusia yang tidak berguna sepertimu! Kau tidak bisa memanfaatkan apa yang sudah guru turunkan padamu. Bukankah akan lebih baik kalau kau memberikan semua ilmu itu padaku? Dan aku akan menjadi dukun sakti yang tidak tertandingi ha… haa…”


Ki Jarot mulai membayangkan kehidupannya di masa depan yang akan berjalan begitu cerah, andai dia bisa menguasai semua ilmu yang dimiliki Ni Maryam. Hidup menjadi orang terkuat dan tersakti tanpa ada yang bisa mengalahkan, sungguh membuat laki-laki tua itu berbangga diri.


“Apa kau mau memberikannya padaku?” tanya Ki Jarot.”Aku tidak keberatan jika kau meminta untuk menjadi pendampingku sebagai syarat pertukaran. Dan aku juga akan dengan senang hati membuatmu menjadi istri dari seorang Ki Jarot, sang dukun sakti ha… haa…” tambahnya.


Tidak ada tanggapan apapun dari Ni Maryam. Nenek tua itu hanya diam seribu bahasa dengan terus menatap ke arah Ki Jarot yang masih tertawa sendiri.


Serena, Sekar, Joni dan juga Juan, hanya bisa melihat semua kejadian itu dari jarak jauh. Ni Maryam memang menyuruh mereka untuk tidak berada terlalu dekat dengan para tamu yang datang tanpa diundang itu untuk mencegah terjadinya salah paham. Ki Jarot akan menganggap kehadiran mereka sebagai sebuah tantangan, dan itu akan menambah kesulitan Ni Maryam.


Tentu Ki Jarot bisa melihat siapapun yang ada di sekitar rumah Ni Maryam walau mereka bersembunyi. Tapi setidaknya kakek tua itu tidak merasa sedang diprovokasi secara terang-terangan untuk sebuah peperangan antara dirinya dan Ni Maryam.


“Bagaimana penawaranku? Apa kau setuju Maryam?” tanyanya penuh dengan seringai. “Kita berdua akan menjadi pasangan yang paling ditakuti di dunia ilmu hitam, kau pasti tertarik kan?” ulangnya.


Ni Maryam tertunduk. Penawaran yang diberikan oleh Ki Jarot sama sekali tidak membuatnya tertarik, yang ada dia malah merasa jijik. Apalagi mendengar usulan Ki Jarot yang memintanya untuk menjadi pendamping hidup laki-laki tua itu, mampu membuat perut Ni Maryam langsung bergolak. Dia ingin muntah melihat senyuman licik yang ditampilkan oleh teman seperguruannya yang benar-benar tidak tahu diri.


“Kau pasti sangat terharu menerima tawaran dariku kan Maryam? Aku rasa kita bisa melanjutkan kisah masa lalu kita walau umur kita berdua sudah tidak lagi muda.”


Ki Jarot bisa melihat senyuman dari bibir Ni Maryam yang sedang mengarahkan pandangan pada dirinya. Dalam hatinya dia bersorak. Tawaran manis yang dia ajukan pada wanita tua yang ada di depannya, sudah pasti sulit untuk ditolak.


“Bangunlah dari mimpimu Jarot!” ucap Ni Maryam.


“Apa maksudmu?!”


Ki Jarot tidak mengerti dengan tanggapan yang diberikan oleh Ni Maryam. Dalam bayangannya, wanita tua itu pasti akan langsung menjawab iya untuk penawaran yang dia ajukan. Dan dia sudah terlanjur merasa senang bukan kepalang. Tapi kenyataan ternyata tak sesuai harapan.


“Bangunlah dari mimpimu dan segeralah pergi dari sini!” ucap Ni Maryam yang mulai beranjak pergi meninggalkan Ki Jarot di halaman depan rumah tuanya.


“Kau… kau menolakku Maryam? Apa kau tidak tertarik dengan semua saran yang kuberikan?” perkataan Ki Jarot membuat Ni Maryam menghentikan langkah dan berbalik badan.


“Apa aku terlihat tertarik?” tanya Ni Maryam sambil sedikit memiringkan wajahnya.


“Kau benar-benar menolakku Maryam?! Aku akan menganggap ini sebuah tantangan darimu, karena kau pasti tahu apa akibatnya jika menolak seorang Ki jarot?! Aku tidak akan mengampunimu, walaupun kau adalah wanita yang pernah aku sukai!” ancam Ki Jarot.


“Jelas aku tahu. Ha.. haa… akhirnya kau menunjukkan wajah aslimu yang sebenarnya. Kau memang tidak pernah berubah ya kakek tua.”


“SIALAN!! Apa kau tidak takut menantangku, Maryam? Aku yakin kalau aku mampu mengalahkanmu dengan mudah meskipun kau memiliki semua ilmu dari guru.”


“Dugaanmu benar jika kau mengatakan aku menolak tawaranmu. Tapi kau juga salah kalau mengira aku sedang menantangmu. Bukannya aku takut pada seorang Ki Jarot yang hebat, aku hanya tidak mau membuang waktuku bersamamu. Dan perlu kau tahu… aku sama sekali tidak keberatan kalau harus meladeni permainanmu.”


-------------------------------------------


Tangan kecil Sekar menarik-narik ujung baju milik Serena. Terlihat jelas kalau gadis kecil itu sedang gelisah. Tubuh mungilnya bersembunyi di belakang kaki Serena. Sedikit bergetar dan wajah cemas.


“Ayo pergi dari sini…” ucapnya dengan tatapan penuh permohonan.


Joni mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut pucuk kepala Sekar. Dia tahu sebesar apa ketakutan yang dirasakan untuk ukuran anak kecil dalam situasi yang mencekam seperti ini.


Sementara itu Juan hanya berdiam diri. Dia terlihat begitu tegang dan bersiaga dengan kemungkinan terburuk yang sebentar lagi akan terjadi.


“Apa kau juga sedang ketakutan Juan?” tanya Joni. Terselip sebuah ejekan dalam pertanyaan yang dia lontarkan.


“Cih… bukankah kau pernah bilang, kalau kita tidak boleh meremehkan lawan?” jawabnya ketus.


“Iya. Aku memang merasa takut. Karena kalau sampai Ni Maryam kalah, maka aku juga akan menjadi salah satu peliharaannya.” lanjut Juan yang menunjuk Ki jarot dengan ujung dagunya.


“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Serena.


“Entahlah… aku masih belum tahu. Aku perlu melihat situasinya lebih dulu, sebelum memutuskan apa yang akan aku lakukan untuk membantu Ni Maryam.”


---------------------------------------------


“Berhenti di sini!”


“Kenapa begitu paman? Kenapa kita tidak langsung ke sana saja?”


“Apa kau gila? Kita hanya akan mati konyol kalau mendekati mereka sekarang. Apa kau tidak lihat, kalau di sana ada Ki jarot? Dia itu dukun hebat yang terkenal dengan kekejamannya. Jadi tunggulah disini, dan kita lihat perkembangan yang akan terjadi nanti.”


“Tapi bagaimana dengan mamaku? Bukankah kau kesini karena ingin menyelamatkan Serena juga?”


“Iya, tapi kita hanya akan celaka jika bertindak gegabah. Yang kita hadapi di depan sana bukanlah orang-orang biasa. Mereka menguasai ilmu hitam tingkat tinggi. Bahkan kita akan dengan mudah terluka parah jika terkena efeknya sedikit saja.”


“Tapi paman…”


“Syuut… diamlah! Atau mereka akan mendengar suara kita!”


-------------------------------------------


Ni Maryam sudah bersiap menerima serangan ilmu hitam dari Ki Jarot yang tak kasat mata. Dua orang yang pernah menjalin pertemanan di masa lalu, kini berhadapan untuk sebuah pertarungan.


.


.


.


***


Hari ini upnya sore, karena semalam sama sekali ngga dapet apa-apa setelah berjam jam duduk di depan laptop.


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.