KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 55.



Serena mengernyitkan dahinya, dia masih bingung dengan permintaan sang sopir setianya itu.


“Aku memintamu untuk tersenyum, bukan memasang wajah bingung” protes Joni yang tak kunjung melihat senyuman yang diinginkannya.


Serena tetap tidak memberikan senyumannya, dia terus memandangi Joni dengan perasaan yang tidak dimengerti oleh dirinya sendiri, laki laki yang sedang ada di depannya ini terlihat seperti orang lain. Entah sejak kapan mereka bisa sedekat ini, bercanda tanpa rasa malu bahkan berpelukan layaknya sepasang kekasih.


Tidak ada lagi kecanggungan yang biasa menjadi jarak antara Serena dan juga Joni, bukan Serena yang membangun tembok pemisah, tapi Jonilah yang akan menarik benang pembatas yang sangat sulit di lewati oleh Serena. Seolah pria itu lebih nyaman dengan dunianya sendiri, dan Serena juga tidak pernah terganggu dengan hal itu.


Dengan sikap dingin yang dimiliki Joni, tidak jarang Serena dan Joni malah terlibat perdebatan tanpa ujung, keduanya lebih cocok di sebut dengan musuh bebuyutan karena saking tidak akurnya. Tapi untunglah keduanya tetap bisa menjaga sikap profesional kerja.


“Kenapa mbak?” Joni akhirnya memecah kesunyian, menunggu terlalu lama untuk senyuman yang tak kunjung terbit.


“Ngga papa Bang Jon, Rena cuma merasa agak aneh aja”


“Aneh apanya?”


“Sejak kapan kita jadi begini?” Serena memiringkan kepalanya dan menyentuh pelipis kanan dengan ujung jari.


“Begini? Begini gimana maksudnya?” Joni masih tidak mengerti.


“Ya….begini.” Serena menunjuk tubuh keduanya yang masih berdempetan.


“Pelukan maksudnya?” Serena mengangguk dan Joni malah tambah mengeratkan pelukannya pada tubuh Serena.


Tapi sayangnya, keintiman yang terjadi saat ini harus terhenti dengan sebuah paksaan saat Juan tiba tiba sudah berdiri disamping Serena dan menatap tajam pada Joni.


“Mau sampai kapan kau memeluknya hah!” Juan menarik paksa tangan Joni yang meliputi pinggang Serena, dan Joni yang tidak terima dengan kekasaran yang diterimanya langsung menarik kerah baju Juan.


Terjadilah tarik menarik kerah baju antara Juan dan Joni, tidak ada satupun yang mau melepas lebih dulu, saling menatap tajam dan mengeratkan rahang.


“Apa kalian sedang syuting film BL, sampe mesra banget gitu? Dari tadi tatap tatapan mata terus, risih gue liatnya” Serena jengah melihat dua laki laki yang berkelakuan seperti anak kecil.


“Sama dia? Najis!!” seru Juan dan Joni bersamaan dan serta merta melepaskan cengkraman tangan keduanya.


“Gantengan juga gue” Juan dan Joni kembali bersuara bersamaan.


Serena tertawa terbahak bahak menyaksikan dua pria itu terus terjebak situasi “Cie cieeee cuit cuiiiit…. barengan terus dari tadi ha haa haaa ”


Setelah dirasa perutnya mulai kram karena terlalu banyak tertawa, Serena mulai merubah raut wajahnya menjadi serius bahkan lebih bisa dikatakan menyeramkan “Kalian mau terus bertengkar atau membantuku membawa Zahra ke rumah sakit?!” bentaknya tidak sabar.


“Ke rumah sakit” lagi lagi Juan dan Joni menjawab bersamaan.


“Huft…terserahlah” Serena tidak lagi memperdulikan dua pria itu, berjalan mendekati Zahra yang masih tergeletak di lantai. Joni dengan sigap mengangkat tubuh Zahra di gendongannya, membawanya keluar aparteman menuju parkiran.


Serena sudah masuk lebih dulu untuk menyediakan pahanya sebagai bantalan kepala Zahra, lalu Joni secara perlahan meletakkan tubuh Zahra di kursi tengah dengan penuh kehati hatian.


“Saya yang menyetir” Joni berseru pada Juan yang sudah menarik handle pintu kemudi.


“Gue aja” sanggah Juan dengan cepat


Terjadilah perdebatan kembali, Juan dan Joni sekali lagi terlibat adu mulut yang tidak bermutu di pandangan Serena. Awalnya Serena ingin diam saja, tapi melihat adiknya yang sudah terlalu lama tidak dapat perhatian, membuatnya berdecak marah.


Tanpa diketahui oleh Juan dan Joni, Serena telah turun dari mobil dan duduk di kursi pengemudi, lalu menekan tombol star stop engine tanpa memperdulikan dua orang yang masih beradu mulut.


“SERENA!!” Juan dan Joni memanggil manggil nama Serena yang sudah melesat meninggalkan keduanya, Juan langsung berlari ke mobilnya yang juga terparkir di area apartemen tempat tinggal Serena.


Joni tidak lagi meminta izin pada Juan, dia membuka pintu penumpang depan mobil Juan dan menutupnya cepat, dia tidak mau ditinggalkan seorang diri di tempat ini. Di dalam mobil Juan, tidak terjadi perbincangan sama sekali, keduanya memilih diam dan menyalahkan diri sendiri dalam hati. Karena sikap kekananan merekalah, Serena akhirnya pergi membawa Zahra dengan menyetir mobilnya sendiri.


Setibanya di rumah sakit, Zahra langsung mendapat penanganan di unit gawat darurat dengan dokter yang sigap memberi pertolongan. Serena mencoba menenangkan diri dengan duduk di kursi yang tersedia di selasar rumah sakit.


Juan dan Joni terus memperhatikan kegelisahan yang terpancar dari wajah Serena. Gadis itu terlihat meneteskan air matanya, dan terus merapalkan doa doa yang sebenarnya membuat Juan sedikit tersakiti.


Dokter keluar dari ruangan UGD dengan wajah pucat pasi, tergesa gesa menghampiri Serena yang juga menunggu kabar tentang adiknya.


“Bagaimana keadaan adik saya dok?” Serena bertanya dengan penuh kecemasan.


“Adik anda harus segera di oprasi, ada luka dalam yang butuh penanganan darurat” ucapan yang keluar dari dokter sukses membuat kaki Serena melepas, dia tidak lagi mampu menopang tubuhnya sendiri.


Juan dan Joni menahan limbungnya tubuh Serena dengan penuh kasih sayang, mencoba menenangkan Serena yang saat ini sedang dilanda kalut.


“Aku akan masuk ke dalam” Juan bersuara lirih seolah takut terdengar oleh para medis di sana.


“Mau apa lo?” Joni menyela.


“Serena…biarkan aku masuk ke dalam, aku bisa mengobati luka dalam Zahra, mungkin dengan ini Zahra tidak perlu melakukan oprasi” Juan menatap Serena, meminta izin istrinya terlebih dahulu sebelum bertindak adalah bentuk kewajibannya sekarang, tidak seperti dulu yang bersikap sesuka hati.


“Masuklah…aku titip Zahra. Dia adikku satu satunya, kalau sampai terjadi sesuatu padanya, pasti ibu akan sangat bersedih” Serena kembali menitikkan embun di ujung matanya yang sudah bengkak.


Joni memapah tubuh lemah Serena untuk kembali duduk di kursi, dan Juan ikut duduk tepat di samping istrinya itu, dia lalu menutup mata untuk keluar dari tubuh manusianya.


Joni terlihat tidak kaget dengan semua yang sedang terjadi di depan matanya, dia malah lebih memfokuskan perhatiannya pada gadis yang kini ada di pelukannya “Tenanglah….biarkan Juan melakukan tugasnya” Joni bisa merasakan kalau Serena mengangguk dalam dekapannya, dia kembali mengelus punggung Serena dan memberikan ketenangan.


Seorang perawat datang pada Serena, memberitahukan kalau Serena harus menanda tangani surat persetujuan dilakukannya oprasi untuk Zahra, serta biaya yang harus dibayarkan segera.


-


Serena sudah berada di depan meja perawat dan membaca semua isi dari surat persetujuan itu, tiba tiba dokter yang tadi bertemu Serena datang dengan senyuman di wajahnya.


“Maaf ibu Serena, sepertinya kami salah mendiagnosa adik anda. Pasien atas nama Zahra tidak perlu melakukan oprasi apapun, hanya perlu melakukan perawatan dan rawat inap beberapa hari saja. Sekali lagi maaf ya bu Serena, sudah membuat anda cemas”


Serena tersenyum gembira mendengar perkataaan dari dokter “Beneran dok? Adik saya tidak perlu oprasi?” dokter itu mengangguk mantap “Alhamdulillah….” Serena memeluk tubuh Joni, dia sangat senang dan bersyukur.


“Tolong lakukan yang terbaik untuk adik saya dok” Serena menjabat tangan dokter yang menangani Zahra sebelum dokter itu berlalu.


Tapi kebahagiaan Serena ternyata tidak berlangsung lama, matanya menangkap pergerakan tubuh Juan yang tiba tiba ambruk di kursi “Juaaan…” teriak Serena yang langsung berlari ka arahnya.


Joni menatap kosong pelukannya yang sudah tidak lagi ada tubuh Serena disana, ada perasaan kosong yang menjalar begitu saja tanpa permisi.”Sebenarnya apa arti perasaan ini?” gumamnya lirih sambil mengelus dadanya sendiri


.


.


.


.


.


***


Besok lagi ya, tangannya udah mulai pegel lagi nih.