KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 45.



“Pikirkan baik baik, kita pergi dulu” ucap Sarah sambil melangkah pergi. Sementara Sherly kembali mencolek dagu Joni, menyentuh laki laki itu ternyata membuat dia ketagihan.”Sampai jumpa lagi ganteng” bisiknya di telinga Joni


Zahra memandang tidak suka pada wanita wanita itu. Dia tidak tahu banyak tentang lingkungan kerja sang kakak, tapi dia tahu kalau dua orang yang baru saja mengunjungi Joni adalah model model terkenal, karena dia pernah melihat mereka di tv.


“Mereka siapa Bang Jon?” Tanya Zahra sesaat setelah kepergian sang tamu


“Model”


“Kalau itu mah Zahra juga udah tahu, yang Zahra tanya mereka itu siapa? Terus kenapa mereka ada disini? Bang Jon kenal? Apa mereka teman temannya mbak Rena?” Zahra jengah dengan jawaban singkat Joni.


“Ngga kenal”


Lagi lagi Joni menjawab dengan singkat, bahkan sangat singkat. Pertanyaan pertanyaan dari Zahra membuatnya sedikit pusing, meluncur mulus seperti gerbong kereta expres yang lupa menginjak rem.


Zahra sedikit menjambak rambutnya, dia tidak habis pikir, kenapa ada manusia yang seperti Joni di muka bumi ini. Cuek, dingin dan penyendiri. Jika tidak sangat terpaksa, Zahra sangat malas bertanya pada Joni, karena akhirnya hanya akan meninggalkan pertanyaan lebih besar dan bikin penasaran.


“Selalu saja irit ngomong, kalau ngga kenal kan ngga mungkin mereka kesini. Ditanya apa, jawabnya apa huft…” Zahra terus menggerutu, tentunya sengaja dengan suara yang bisa di dengar oleh Joni


Joni merebahkan tubuhnya perlahan, menahan gerakan tubuhnya agar tidak membuat lukanya kembali mengeluarkan darah seperti tadi pagi. Tidak memperdulikan gerutuan dari Zahra yang menyerang telinganya seperti nyamuk haus darah, pikirannya melayang pada gadis yang dia tinggalkan di aparteman.


“Bang Jon, kalau ditinggal lagi sama Zahra ngga papakan?” Zahra mengganggu rencana tidur Joni


“Mau kemana?” Tanya balik Joni masih dengan mata yang mulai tertutup


“Zahra mau ke apartemennya mbak Rena” Jawaban Zahra sontak membuat Joni membuka mata dan mendudukkan diri


“Ngapain?”


“Mau ambil baju yang tertinggal disana”


“Tidak boleh!” Joni melarang kepergian Zahra. Bukannya apa apa, di dalam apartemen pastinya ada Serena. Sedangkan setau Zahra dan keluarga, gadis itu sudah berpamitan untuk pergi kerja dan tidak akan pulang selama tiga hari. Tentu Joni tidak mau Zahra mengetahui keberadaan Serena, yang saat ini pasti dalam keadaanya masih kurang baik.


“Kenapa?” Zahra heran dengan larangan dari Joni


“Sendiri?"


"Iya"


"Ngga takut?"


Zahra tiba tiba terdiam. Dia mulai mengingat kejadian hari itu, hari dimana dia dan Serena kedatangan pria pria sangar menghajar Joni di depan matanya, dan juga menembak tanpa rasa kasihan.


Sungguh kejadian itu masih sangat membekas di dalam memori Zahra. Gadis itu bergidik ngeri, saat terlintas baku hantam antara Joni melawan laki laki tinggi besar di kamar apartemen itu. Kepalanya menggeleng berulang kali, berusaha mengusir kenangan yang tidak diinginkannya.


“Ngga jadi deh. Kapan kapan aja, kalau mbak Rena udah pulang” Zahra mengurungkan niat dan Joni bernafas lega dibuatnya


Kemudian Zahra masuk ke dalam toilet, dan itu menjadi kesempatan untuk Joni mengetik sebuah pesan yang mengirimkannya.


“Apa kau sudah baik baik saja?”


Ingin rasanya Joni menceritakan perihal kedatangan Sarah dan Sherly, tapi Joni mengurungkan niat itu dan menyimpannya. Dia tidak akan membebani Serena dengan hal hal yang dianggapnya sepele.


--------------------------------------------


Sedari tadi senyuman itu tidak pernah pudar dari wajah Sherly. Pertemuannya dengan pria yang tidak menunjukkan ketertarikan padanya, telah mengusik jiwa keangkuhan dan harga dirinya.


Biasanya para pria akan dengan mudah luluh, dia tidak perlu bersusah payah untuk menaklukkan laki laki yang sudah pasti menginginkan tubuhnya,hal itu sudah biasa. Dia telah terbiasa dengan pandangan memuja dan mendamba dari para pria, tapi berbeda dengan laki laki itu, Joni malah memberinya pandangan malas juga terkesan jijik.


Padahal Sherly memiliki tubuh seksi dan juga bermulut manis , sungguh perpaduan komplit untuk membuatnya di sebut sempurna. Dan penolakan dari Joni ternyata malah menumbuhkan keinginan untuk menundukkan laki laki dingin yang setia pada sang musuh.


“Ck lo naksir ya sama tuh sopir?” sindir Sarah


“Gue yakin, kalau lo juga ngerasain apa yang gue rasa sama tuh cowok. Selain ganteng, setia, dia juga keliatan baik. Bukankah dia sangat berbeda dengan pria pria yang biasa ada di sekeliling kita?” Sherly menyerukan kekagumannya


Sarah terdiam, ucapan Sherly dirasa benar. Dalam hati, Sarah menyetujui semua yang disebutkan oleh Sherly.


Kehidupan mereka berdua memang penuh dengan kepalsuan, selalu di hadapkan dengan orang orang yang memiliki kepentingan terselubung.


Baru kali ini, mereka bertemu dengan laki laki yang sangat berbeda dari yang biasa mereka temui. Laki laki yang sama sekali tidak tertarik melihat keseksian yang mereka pamerkan dengan suka rela. Tapi sayangnya laki laki itu malah berdiri di sisi perempuan yang begitu mereka benci.


Sarah dan Sherly terdiam. Mobil yang sedang melaju itu di penuhi keheningan, penumpangnya sibuk dengan pikiran dan hayalan masing masing.


“Kenalan lo bener bener orang pinter ngga sih?” Sarah bertanya dan memecah kesunyian


“Kenapa lo nanya gitu?”


“Kalau dia orang pinter, dia seharusnya tahu dimana dukunnya Serena”


“Ya udah kita kesana aja sekarang” Sherly tidak mau diragukan


Mobil itu memutar balik arah sesuai perintah Sarah sebagai pemilik mobil dan majikan dari supir yang duduk di balik kemudi, melaju ke tempat yang telah disebutkan.


Cukup lama mobil itu bergerak untuk bisa sampai tujuan.


Rumah joglo tua beraura mistis kental, dengan cat yang sudah mulai usang, berdiri tegak seolah sedang menantang siapapun yang ada di depannya. Ditambah dengan pohon beringin besar di depannya, semakin menambah kesan seram dan pastinya mampu membuat bulu kuduk berdiri.


“Ini rumahnya?” Tanya Sarah sedikit ngeri dengan pemandangan di depannya


“Iya. Ayo masuk”


“Lo kayaknya akrab banget sama rumah ini, lo sering kesini?”


“Lumayan”


“Biasanya kalau kesini, lo ngapain aja” Tanya Sarah penasaran


“Minta santet buat lo”


Sherly tertawa setelah melihat raut wajah kaget Sarah “Becanda kali ha…haa… muka lo pucet tuh”


Sherly sebenarnya bersungguh sungguh dengan jawabannya, dia sudah cukup merasa tersakiti dengan semua hinaan yang dia terima dari mulut Sarah. Sengaja memberi peringatan pada lawannya, kalau dia juga bisa melakukan hal yang mungkin tidak dibayangkan oleh wanita sombong di depannya.


“Lo berani sama gue?” Sarah menutupi kegugupannya


“Tergantung. Kalau terpaksa, gue saking bisanya kok buat melakukan itu. Yang perlu lo tahu, gue bukanlah Serena yang akan diem aja diperlakukan tidak adil.” Sherly mengucapkannya dengan penuh rasa percaya diri.


Sarah tidak mau menjawab omongan Sherly, itu pasti akan memperkeruh keadaan, dia sadar kalau ini bukanlah wilayahnya untuk melawan. Untuk saat ini dia menahan diri dengan hanya mengepalkan tangan, tapi dia bertekad akan membalas di waktu yang tepat.


“Berani beraninya nih jal*ang ngancam gue” batinnya


Pintu rumah terbuka, muncul seorang laki laki dengan pakaian tradisional jawa dengan warna yang sudah agak pudar. Tersenyum menyambut tamu dan mempersilahkan masuk.


***


Tadinya Si_Ro pengen crazy up


Tapi menurut pengalaman, para reader hanya akan ngasih like di chapter terakhir


Jadi Si_Ro bagi tiga aja sehari (udah kayak minum obat)


Ngga papa yah?


Oh iya, bantu Si_Ro dengan bintang dan like ya, karena novel ini diikutkan kontes yang sebentar lagi masa publikasinya berakhir.


TERIMA KASIH