
Serena tidak bisa melawan tenaga dari laki laki yang kini telah mendekapnya, tubuhnya tepat berada di pangkuan pria yang pernah mengisi hari hari dan memiliki hatinya. Jika perlakuan ini dia terima dulu saat masih pacaran , tentu dia akan menerimanya dengan suka hati. Tapi tidak untuk sekarang.
“Farrel, lo cuma bikin gue dalam bahaya jika Sarah sampai tahu kejadian hari ini” Serena tertunduk di pangkuan Farrel
“Aku yang akan mengurusnya”
“Kenapa lo sangat keras kepala banget sih, lo tahu kan gimana sifat istri lo itu? Biar bagaimana pun dia adalah wanita yang udah jadi istri lo, resmi di mata hukum dan juga agama”
“Tapi aku tidak mencintainya” Jawab enteng Farrel sambil mencium punggung tangan Serena yang terasa dingin. “Selama ada aku, Sarah tidak akan menyakitimu”
“Bukankah lo tahu kalau Sarah menemui seorang dukun? lo ngga bisa melawan ilmu dukun dengan senjata Farrel. Biarin gue ngurus diri gue sendiri, jangan melibatkan diri diantara pertarungan gue sama Sarah”
“Aku akan mengambil semua miliknya, sampai dia tidak punya apa apa dan tidak bisa pergi ke dukun lagi karena tidak punya uang. Kecuali dia membayar dengan tubuhnya”
“Lo rela, tubuh istri cantik lo itu di sentuh orang lain?”
“Kenapa tidak? Aku bahkan tidak peduli. Dan ah… aku punya satu rahasia. Selama usia pernikahan kami eh salah, maksudku selama aku sama dia berhubungan, aku tidak pernah menyentuhnya sedikitpun, aku lebih memilih menghabiskan malam dengan para jal*ang di luar rumah dari pada menidurinya.”
“Itu konyol Farrel! Dia cinta banget sama lo, kenapa lo bisa begitu kejam.”
Farrel menggidikkan pundaknya” Karena cintaku hanya buat kamu”
“Jangan pedulikan gue lagi Farrel”
“Maaf… aku ngga bisa. Aku ngga bisa ngga peduli sama kamu”
---------------------------------------------
“Apa!!”
Semua barang yang berada di atas meja rias hancur berantakan, terlempar ke sembarang arah dan berakhir tak berbentuk.
Sarah mendapat kabar dari pemilik kafe yang merupakan sahabatnya, kalau suami tercintanya sedang berada di sana dengan seorang wanita. Yang paling membuat sarah marah adalah, ketika pemilik kafe itu menyebutkan nama Serena.
“BRENGSEK KAU FARREL !! Kau masih saja mencari wanita jal*ang itu, apa aku sama sekali tidak terlihat dimatamu?”
Sarah menghancurkan apapun yang bisa diraihnya, dia tidak lagi bisa menahan amarah yang sudah naik ke level paling atas. Di selingi air mata yang mengalir, Sarah terus mengumpat pada dua orang yang menjadi sumber kemurkaannya, walau dia tahu suaranya tidak dapat di dengar oleh Serena dan Farrel.
“Apa mereka masih disana?”Tanyanya pada orang yang masih berada diujung telepon
Sarah membasuh wajahnya dan memakai make up secepat yang dia bisa, memakai baju pertama yang dilihatnya begitu membuka lemari. Dia ingin secepatnya mendatangi kafe dimana suaminya berada dengan wanita yang dia jadikan musuh.
“Lihat saja Farrel, gue akan melakukan sesuatu yang akan lo sesali”
Dengan mengusap air matanya yang lagi lagi turun membasahi pipi, Sarah memberikan perintah pada sopirnya untuk mengantarkannya ke tempat tujuan.
-
Mobil Farrel sudah berhenti di depan rumah besar dan mewah, halaman luar yang ditumbuhi banyak tanaman seolah menyambut pemiliknya dengan riang.
Farrel keluar dari dalam mobilnya dengan membawa Serena yang berada di gendongannya, menurunkannya perlahan karena tubuh itu sudah berontak dan menolak.
“Gue mau pulang Farrel, gue ngga mau kesini”
“Apa kau tidak mau melihat isi rumah kita dulu sayang? Aku membangun rumah ini khusus untukmu dan untuk anak anak kita nanti”
“Omong kosong!”
“Masuklah dulu, sebentar saja. Ayo…” Farrel menarik tangan Serena lembut, memegang pundaknya dan mendorongnya pelan dari belakang. “Kalau ada perabotan yang tidak kamu suka atau yang ingin kau beli, tinggal bilang saja padaku. Aku akan langsung membelikannya untukmu, kau mengerti?”
“Kita udah berakhir Farrel, dan lo sendiri yang telah mengakhirinya” ucap lirih Serena, rasa sakit perpisahannya dulu kembali dia rasakan, dia masih mengingat dengan jelas betapa getirnya ditinggalkan laki laki yang sangat dicintai.
“Aku minta maaf untuk segalanya sayang” Farrel merengkuh tubuh Serena ke dalam pelukannya “Aku akan memperbaiki semuanya untukmu, aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku” Sejenak terdengar Farrel menghirup dan menghembuskan nafasnya dengan suara yang terdengar sangat putus asa “ Beri aku kesempatan”
Serena terisak di dada laki laki yang terus mengucapkan kata kata manis sambil membelai rambutnya. Serena bisa merasakan ketulusan dari semua perkataan Farrel, tapi dia juga ragu untuk membalas pelukan hangat dari laki laki itu.
“Sekarang ayo kita masuk, kodenya tanggal jadian kita” Farrel menunjuk pengaman pintu rumah itu, membimbing Serena memasuki rumah yang belum lama jadi, bau catnya bahkan masih tercium.
Baru saja beberapa langkah, terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah itu, tepat di samping mobil milik Farrel.
“Inikah rumah kita sayang?” Sarah senyum ceria dan melangkah cepat ke arah Farrel, meraih lengan suaminya itu dan menggelayut disana. Memberikan tatapan tajam pada Serena lalu berpura pura tidak melihatnya.
Farrel melepas paksa tangan Sarah yang menempelinya, dia tidak mau lagi melanjutkan drama pernikahan dengan wanita itu, seperti yang mereka lakukan selama ini.
“Kok kamu ngga bilang sih, kalau kamu bangun rumah baru buat aku” Sarah tetap tidak mau menjauh dari tubuh Farrel, walau berulang kali mendapat penolakan.
“Cukup Sarah, aku tidak mau berakting lagi, pernikahan kita harus segera diakhir”
“Memangnya kenapa? Pernikahan kita baik baik saja sayang, aku dan kamu saling mencintai” Sarah terus mengucapkan penyangkalan
Serena hanya melihat keduanya dengan tatapan nanar, entah siapa yang harus dia percaya. Farrel yang sedari tadi menunjukkan keseriusan dan ketulusannya atau Serena yang terlihat begitu manja dan mencintai laki laki itu.
Satu lagi mobil mewah berhenti di halaman rumah itu, kali ini yang keluar dari mobil itu adalah seorang laki laki. Laki laki dengan perawakan tinggi besar dan juga sangar, berpakaian rapi dengan kacamata hitam yang bertengger di tempatnya, memasang raut wajah marah.
“Juan” lirih Serena
“Tuan Juan, bagaimana bisa kau sampai disini? Apa rumahmu di sekitar sini juga?” Tanya Farrel yang mengenali wajah laki laki itu
“Aku datang menjemput wanitaku” Jawab Juan
“Wanitamu? Siapa? Dimana rumahnya? Kalau dia tinggal di lingkungan ini, mungkin aku mengenalnya” Farrel semangat bertanya, dia merasa beruntung karena berpikir akan memiliki tetangga seperti laki laki yang ada di depannya.
“Dia pacarnya Serena” bisik Sarah di telinga Farrel, sontak mata Farrel melebar. Tidak percaya dengan ucapan yang baru saja didengarnya.
Farrel menggelengkan kepalanya perlahan, menolak mentah mentah untuk mempercayai Sarah. Wanita itu pasti sedang berbohong, wanita itu pasti sedang memfitnah Serena dan membuatnya menjauhi gadisnya.
“Ayo” Juan menggiring Serena untuk masuk ke dalam mobilnya, tidak memperdulikan keberadaan Farrel dan Sarah disana
“Apa maksudmu Tuan Juan? Serena adalah wanitaku, kenapa kau ingin membawanya?” Tanya Farrel bingung menatap Serena yang tidak melakukan penolakan pada Juan
“Kau laki laki beristri, bagaimana bisa kau menyebut Serena sebagai wanitamu?”
Farrel tidak bisa menjawab perkataan Juan, matanya terus memandangi Serena, seolah menuntut penjelasan.
Serena berjalan menuju mobil dengan Juan di belakangnya, sejenak dia berhenti dan berbalik ke arah Farrel yang menatap sedih “Aku pulang” ucapnya
“Jangan menganggu hidup Serena lagi, aku memperingatkanmu” Ancam Juan
.
.
.
***
Jadi rebutan deh