KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 130


Sherly semakin bersemangat, karena langkahnya hampir berhasil mencapai ambang pintu. Udara yang dia hirup, jelas lebih segar jika dibandingkan dengan udara di dalam gudang yang pengap. Senyuman terbit di bibirnya, walau peluh mengalir deras. Dia mengabaikan rasa sakit pada kaki yang terkilir, bekas siksaan Sarah.


Tapi…


Serena dan Sherly sama-sama mundur satu langkah, karena mendapati dua orang laki-laki yang berdiri tepat di depan pintu gudang. Luntur sudah harapan untuk segera terbebas. Wajah sangar tanpa senyum, berjalan mendekat dan menarik mereka mendekati mobil. Bukan tarikan kasar, tapi tarikan penuh bantuan.


“Ikutlah dengan mereka, Serena. Aku bersamamu,” Jin Braja berbisik.


Tanpa todongan senjata tajam, Serena dan Sherly menurut masuk ke dalam mobil, yang pintunya sudah terbuka lebar. Seolah memang disediakan untuk menunggu keduanya datang.


Satu orang menyetir, dan satunya duduk tenang di samping kursi pengemudi. Tidak ada ancaman, tidak ada kekerasan ataupun bentakan keras. Dua pria itu tetap diam dan menjaga mulutnya untuk tidak mengeluarkan sepetah kata pun.


Berbeda dengan Serena yang bersikap tenang, Sherly malah sangat berkebalikan. Serena berulang kali harus mengusap lengan Sherly yang gemetar ketakutan.


“Tenanglah.. mereka tidak jahat,” bisik Serena.


“Darimana lo tahu? Mereka kan yang tadi bantuin Sarah, bawa kita ke tempat ini!” desis Sherly.


Serena tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum samar sembari mengusap lengan Sherly.


Mobil terus melaju tanpa ada yang mengeluarkan suara.


“Tidak! Jangan turunkan kami di kantor polisi!” Seru Serena.


Mobil berhenti mendadak, saat baru akan memasuki area kantor polisi. Dua orang berbaju hitam bertukar pandang, dan akhirnya melempar tatapan pada Serena sebagai pengganti kata bertanya.


“Bisakah kalian mengantar kami ke rumah sakit?” Tanya Serena. Tangannya menunjuk Sherly yang duduk disamping. Meminta perhatian untuk sang sahabat yang butuh bantuan medis secepatnya. Dia begitu mengkhawatirkan keadaan Sherly yang mengerang menahan sakit, sejak keluar dari gudang.


Dua orang di depannya terdiam. Sepertinya mereka tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Serena.


“Aduh gimana nih? Kayaknya mereka ngga ngerti gue ngomong apa,” Serena menggerutu sembari menggaruk kepala.


“Em.. hospital!” seru Serena dalam bahasa inggris.


Dua orang itu kembali bertukar pandang, dan sukses membuat Serena semakin gusar.


“Em.. byeong-won!” Serena kembali mengucapkan satu kata, dan kali ini dalam bahasa korea yang berarti rumah sakit.


Berhasil.


Dua laki-laki itu mengangguk. Mobil yang mereka tumpangi pun berputar balik dan melaju cepat.


-


Flashback


Bram mengikuti langkah anak buahnya menuju sebuah gudang, yang berada di bagian paling belakang rumah. Dia terus-menerus mengumpat saat mengetahui kenyataan, kalau Serena berada di dalamnya. Tempat yang kotor dan menjijikkan.


“Bebaskan keduanya! Perintahkan anak buahmu untuk mengantar mereka ke kantor polisi terdekat.”


Seolah mengerti tatapan bingung dari anak buahnya, Bram kembali mengeluarkan perintah.


“Biarkan mereka bebas. Aku tidak mau bermasalah di negara orang. Perintahkan pada semua anggotamu, untuk tidak lagi menuruti perintah Sarah. Hanya perintah dariku saja. Hanya aku! Karena akulah yang membayar kalian. Kau mengerti?”


Bram bersembunyi di balik pintu. Dia sama sekali tidak mau, kalau sampai Serena melihatnya dan menganggapnya sebagai kaki tangan Sarah. Bram tidak boleh terlihat. Dia harus menjaga nama baik di mata Serena, wanita pujaannya.


-


Sarah mengerang. Kepalanya terasa sangat berat dan juga berputar, bagai ditindih oleh baru berkilo-kilo.


“Kau sudah bangun?”


“Apa yang kau lakukan padaku?” Tanya Sarah dengan suara serak, khas orang yang baru bangun tidur.


“Tidak ada. Aku hanya melakukan sesuatu yang seharusnya saja.”


Bram mengambil satu puntung roko dan menyalakannya. Pintu kamar terbuka dan satu anak buah kepercayaan Bram masuk, setelah mengetuk pintu sebelumnya.


“Ada apa?” Tanya Sarah, setelah anak buah Bram pergi.


“Sepertinya dua tawanannu telah lepas,” Bram menjawab santai. Dia tampak begitu tenang.


“APA?!”


Mendengar jawaban Bram, Sarah langsung menyingkirkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dengan kasar. Melompat dari kasur empuk dan berjalan cepat menuju bagian belakang rumah. Emosinya naik drastis.


Dari jarak yang masih cukup jauh, Sarah sudah bisa melihat pintu gudang yang terbuka. Langkahnya semakin lebar, dengan Hati yang juga semakin panas. Kepalanya menggeleng cepat, menolak berbagai kemungkinan yang pasti tidak menyenangkan.


Nafas yang memburu, dan kepalan tangan adalah bukti kemarahan Sarah. Dia benar-benar tidak menerima kenyataan yang terpampang di depan matanya. Kamar kotor, tempat dia menyandera Serena dan Sherly telah kosong. Kosong tanpa penghuni.


Dua wanita yang dia bawa dengan susah payah, lenyap tanpa jejak.


“BRENGS*K!!”


Sarah melampiaskan emosi dengan menendangi pintu gudang. Cuma ada makian dan umpatan yang keluar dari mulutnya.


“Ck ck ck ck.. apa mereka sangat penting?” Tanya Bram sambil bersedekap. Laki-laki itu bersender di kepala ranjang. Menyambut kedatangan Sarah dengan seringai mesum.


“Apa kau yang membebaskan mereka?” Sarah menatap nyalang dengan melempar tuduhan.


Bram acuh tak acuh. Dia hanya mengangkat bahu sekilas.


“Katakan Bram! Apa kau yang membebaskan mereka?” Tanya Sarah, lagi.


“Kalau iya, kenapa? Dan kalau tidak, kenapa? Memang apa yang akan kau lakukan kalau aku adalah pelakunya?”


“Kalau kau yang melakukannya, maka aku akan membunuhmu sebagai pengganti mereka!” Sarah mengancam.


“Hahahaa.. aku tidak yakin, kau mampu untuk melakukan itu.”


Bram meremehkan tekad Sarah. Dan kalaupun itu benar, Bram sama sekali tidak takut. Walaupun Sarah kejam, tapi wanita itu jelas bukanlah tandingan Bram. Banyak yang belum diketahui oleh Sarah dari seorang Bram. Dia hanya kenal luarannya saja.


“Tebakanmu benar. Memang aku yang telah melakukannya,” Bram menegakkan punggung. Wajah santainya telah berganti dengan kilatan emosi.


“Kenapa?” Sarah menggeram.


“Karena aku tidak mau, kau melukai wanitaku.”


“Wanitamu? Ma-maksudmu… Sherly adalah wanitamu?” Sarah tercengang.


“Bukan.”


“Lalu si-a… Serena?!” mata Sarah hampir melompat dari tempatnya berada. Dia tidak menyangka akan mendapat berita langka seperti saat ini.


.


.


.


***


Tadinya Si_Ro mau up sekalian sampai tamat. Tapi sayangnya belum selesai.


Takut kelamaan nunggu, jadi Si_Ro kasih dua bab dulu sebagai obat kangen. Yang lain nanti menyusul.


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.