
Joni turun dari mobil dan berjalan dengan begitu tergesa gesa, matanya memancarkan kemarahan yang tidak pernah dia perlihatkan pada siapapun. Selama ini dia selalu hidup dengan menutup mata dan telinga dari kehidupan orang lain, bersikap cuek dan tidak peduli.
Nyatanya dia tidak bisa bersikap seperti biasanya lagi jika itu menyangkut dengan Serena, gadis yang disayanginya dari awal mula bertemu. Gadis itu selalu berhasil membuatnya kelimpungan hanya dengan senyuman kecil yang jarang dia berikan secara tulus.
BRUUUKK
Pukulan kuat langsung di layangkan Joni pada laki laki yang sedang duduk santai dan menikmati minuman di tangannya. Tidak peduli tempat dan siapa yang ada di sekitarnya, Joni meraih kerah baju laki laki yang sedang berusaha bangkit dari jatuhnya.
“Berani beraninya lo ngerjain Mbak Rena, hah!! Lo bener bener cowok brengsek!”
Farrel yang sejak tadi terus mengikuti Joni mulai dari apartemen, hanya diam dan menatap bingung, dia masih belum mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Joni.
“Maksud lo apa?!”
“Ngga usah pura pura bego! Lo yang harusnya lebih tahu apa yang terjadi dengan Mbak Rena hari ini, setelah lo bawain dia makanan,” jawab Joni penuh emosi.
“Kenapa dengan makanan yang gue bawa buat Serena?” tanyanya bingung.
“Cukup Adit! Gue ngga nyangka kalau lo tipe orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang lo mau”
“Kenapa dengan Serena?” tanya Adit tambah bingung.
Joni masih mencengkram kerah baju Adit, bibir pria itu sudah berdarah akibat pukulan darinya. Meski begitu, Joni tetap tidak mau melepaskannya dengan mudah.
“Oooh…. ini yang namanya Adit,” sinis Farrel, dia baru paham dengan kemarahan Joni yang berakhir dengan memukul orang.
Masih dalam cengkraman Joni, Adit memalingkan wajah, dia menatap ke arah Farrel yang kini sedang berjalan santai mendekatinya dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Siapa lo?”
“Ngga penting siapa gue. Gue hanya orang yang ngga akan tinggal diam kalau ada orang yang berniat tidak baik sama pacar gue.”
“Pacar lo? Siapa ? Dan apa hubungannya sama gue?”
“Bukankah dia adalah orang yang udah bikin Serena berubah hari ini?” Farrel mangarahkan pandangannya pada Joni, meminta jawaban dari pria yang masih tidak mau melepaskan tangannya dari leher Adit.
Walaupun kata kata itu terucap santai tanpa bentakan, tapi tetap terdengar seperti sebuah ancaman.
“Sebenarnya ada apa dengan Serena?” Adit menatap Joni dan Farrel bergantian
Akhirnya Joni melepaskan tangannya dari kerah baju Adit, dia dapat melihat ketidaktahuan dari mata Adit. Walau masih dihantui dengan rasa curiga, tapi Joni tetap tidak menemukan kebohongan dari semua ucapan laki laki yang baru saja merasakan bogem mentah darinya.
“Jadi lo ngga tahu apa apa?” selidik Joni pada Adit.
“Tahu apa? Ini sebenarnya ada apa?” sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah, Adit terus bertanya, dia tidak tahu apa penyebab kemarahan dari dua laki laki yang ada di hadapannya.
“Gue pergi dulu,” ucap Joni sambil ngeloyor begitu saja.
Adit dan Farrel sama sama berlari mengejar Joni yang berjalan cepat ke mobil di parkiran tempat hiburan, mereka butuh penjelasan yang bisa mengurangi rasa penasaran mereka.
Adit mencekal tangan Joni yang hampir memegang handle pintu mobil “Sebenarnya ada apa dengan Serena, hah?”
“Hari ini Mbak Rena bersikap aneh. Dia tiba tiba nangis dan maksa gue buat nganterin ke rumah lo. Dia bilang kangen sama pacarnya dan nama lo yang di sebutnya,” jawab Joni sambil menghela nafas frustasi.
“HAH!!” Adit dan Farrel sama sama kaget dengan cerita Joni.
“Zahra bilang, lo yang bawain makan malem buat dia, dan setelah itu Mbak Rena seperti orang yang……”
“Kena pelet?!” Farrel memotong penjelasan Joni.
“Seperti itulah…gue pikir lo yang udah bikin dia kayak gitu” tunjuk Joni pada Adit.
“Enak aja. Gue ngga serendah itu ya” Adit membela diri.
“Jangan ngelak lo, buktinya udah jelaskan! Gara gara makanan dari lo, Serena jadi begitu!” kini giliran Farrel yang mengepalkan tangannya dan hampir memukul Adit.
“Maling mana ada yang ngaku!” Farrel terus berusaha memukul Adit tapi dihalangi oleh Joni.
“Sudahlah….Mbak Rena juga udah tenang kok,” ucap Joni.
“Kok bisa? Lo ngapain dia?” tanya Farrel, dan Adit ikut menatap horor pada Joni.
“Terserah gue mau diapain, yang penting dia udah tenang dan ngga ngerengek lagi buat ketemu sama dia” telunjuk Joni mengarah pada Adit sambil memasuki mobil milik Serena dan meninggalkan dua pria yang sedang menahan rasa penasarannya masing masing.
Sebelum mobil itu bergerak lebih jauh, Joni menghentikan mobil “Sekarang Serena lebih membutuhkan gue dibanding kalian berdua, heh” ujung bibir Joni naik, mencibir dan langsung tancap gas.
“Serena milik gue!” teriak Farrel pada Joni yang sudah pasti tidak bisa mendengarnya.
Sepeninggal Joni, Adit juga langsung berjalan menuju mobilnya dan pergi dengan kecepatan tinggi.
“Brengsek!”
Farrel menendang ban mobilnya, mencoba menyalurkan rasa marah yang dia tahan sejak tadi. Dia tidak tahu harus marah pada siapa? Pada Adit yang sudah mengguna guna Serena atau pada Joni yang kini berada di samping gadis yang dia klaim sebagai kekasihnya.
----------------------------------------------
Joni telah sampai di apartemen, tidak lupa mengunci pintu utama dan memeriksa keadaan ibu Serena terlebih dahulu sebelum menuju kamar khusus, tempat gadis itu tidur malam ini.
“Dari mana Jon?”
Joni terlonjak kaget mendengar suara ibu Serena yang ternyata sedang duduk di atas ranjang.
“Tadi Joni ada urusan bu. Apa ibu butuh sesuatu? Ibu mau minum?” tanyanya pada wanita tua kesayangannya itu.
Ibu Serena mengangguk dan berjalan mengikuti Joni ke dapur.
“Apa ibu tidak nyaman dengan kamar Mbak Rena?” Joni menyerahkan gelas berisi air.
“Hanya tidak terbiasa tidur di tempat seperti ini, mungkin karena ibu sudah lama tidak keluar rumah” menenggak habis air pemberian Joni.
“Gimana Serena Jon?” teringat dengan keadaan terakhir sang putri.
“Mbak Rena sudah baik baik saja bu, dia tidur di kamar sebelah. Ibu mau lihat?” wanita itu menggelang.
“Ngga usah Jon, biarin aja dia istirahat”
Joni kembali mengantar ibu Serena ke kamar, membiarkan wanita itu berbaring dan berusaha memejamkan mata. Setelah memastikan ibu Serena tertidur, Joni keluar dari kamar dengan menyisakan lampu kecil di samping ranjang menyala.
Eegghhh….
Mata Joni terbuka lebar, dia berlari ke kamar khusus saat mendengar suara Serena dari arah kamar khusus, dia berjalan cepat menghampiri ranjang, ternyata gadis itu masih tertidur dan hanya mengigau.
Joni menyingkirkan rambut berantakan yang menutupi wajah Serena, gerakannya sangat halus karena takut mengganggu atau malah membangunkannya.
“Joni akan selalu ada buat Mbak Rena,” batin Joni.
Sebenarnya Joni masih tidak yakin dengan apa yang dirasakannya, dia begitu memperlihatkan kepeduliannya pada Serena dengan tanpa batasan. Dia mengutamakan Serena di atas semua kepentingan lainnya. Dia juga begitu menyayangi gadis itu melebihi dirinya sendiri.
.
.
.
***
Crazy up ke 4
Likenya jangan cuma di chapter terakhir ya