KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 25.



“Gini aja deh. Kamu ngadain pengajiannya di rumah ibu aja.Terus kamu kirimin do’a juga buat tempat ini. Sama aja kan? Nanti mbak kasih kamu uang buat santunannya. Ok?” Serena memberi solusi untuk adiknya


Zahra tidak memberi jawaban apapun.


“Ya kayak orang kirim do’a buat orang yang udah meninggal. Baca do’anya ngga harus dikuburan langsung kan?” Rayu Serena lagi.


Dalam hatinya, Serena juga sedang berdo’a. berdo’a semoga Zahra bisa terbujuk dengan semua perkatan yang sudah dia ucapkan. Mengatakan semuanya dengan tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Ibu dan juga Zahra adalah orang yang paling dilindunginya. Serena jelas tidak ingin, pernikahannya dengan makhluk itu berakibat buruk untuk adiknya itu. Serena tidak mau kalau adiknya akan menerima teror bahkan hukuman dari suaminya.


Serena bangun dari duduknya. Tiba tiba dia teringat sesuatu. Sesuatu yang sangat penting menyangkut masa depan dan kelangsungan karir modelnya.


“Gila. Gimana gue bisa teledor kayak gini. Untungnya masih ada waktu. Dan untung Zahra tadi ngingetin. Kalau Zahra ngga bilang, bisa ancur semuanya” gumamnya.


Jari telunjuknya masih menepel di lembaran kalender. Jari itu berkali kali mengetuk angka dan hari yang sama sedari tadi. Kamis malam jum’at. Dan jum’at itu adalah jum’at kliwon. Hari dimana dia akan menyediakan tubuhnya secara suka rela untuk dinikmati. Secara suka rela menelanjangi diri dan terlentang sepanjang malam.


“Kenapa ngga boleh disini langsung mbak?” sekali lagi Zahra bertanya, seolah semua penjelasan kakaknya itu masih tidak bisa memenuhi rasa puasnya.


Serena menghela nafas dan kembali mendudukan dirinya di sofa. Habis sudah alasan alasan yang bisa dia pikirkan.


“Zahra….gue tahu maksud lo baik. Tapi gue ngga enak sama tetangga tetangga disini. Orang yang tinggal disini itu banyak macamnya. Dan juga berbeda beda keyakinan. Kalau kita ngadain acara itu disini, gimana sama ibu?. Ibu pasti pengen hadir juga kan, padahal ibu paling ngga boleh capek. Jarak rumah ke sini tuh lumayan Zahra. Selain itu, gue juga takut ada yang ngga suka dan protes ke pengelola wilayah ini.” Serena menggaruk kepalanya


“Ya udah deh. Acaranya di rumah ibu aja” Zahra menyerah


Melihat Serena yang menolak dengan berbagai alasan membuat Zahra diam. Ada rasa kecewa yang terselip dihatinya. Segitunya sang kakak tidak ingin diganggu.


Zahra tahu kalau Serena mempunyai sifat yang sulit ditebak. Kakaknya telah berubah menjadi lebih pendiam sejak kepergian ayah mereka. Memendam semua masalah pribadinya sendiri, demi tidak mau membuat sang ibu khawatir.


“Minggu depan mbak”


“Kerja yang bener, jadi dokter yang baik. Harus bisa bikin ibu bangga sama kamu” Nasehat tulus Serena, sambil mengelus pucuk kepala Zahra


Zahra mengangguk, matanya berkaca kaca.


“Dari pada ibu, Zahra malah lebih pengen bikin mbak bangga punya adik kayak Zahra. Mbak yang banting tulang buat cari biaya Zahra kuliah sampai lulus. Kalau pendapatan Zahra udah stabil, mbak berhenti jadi model yah?”


“HAH!!”


Serena benar benar tidak habis pikir dengan keinginan Zahra yang baru didengarnya. Tiba tiba pikirannya carut marut.


Ting tong


Suara bel membuyarkan lamunan Serena. Zahra bahkan memperlihatkan keterkejutan yang tidak biasa. Mungkin karena dia masih terbawa suasana aneh di apartemen kakaknya yang baru saja dialami.


Tanda waktu subuh baru saja berkumandang, siapa yang datang bertamu di pagi buta seperti ini. Bukankah itu terlalu tidak sopan.


Sejenak Serena dan Zahra saling beradu pandang


***


Siapa hayoooo?