
Sarah terus menatap jauh ke depan sana. Menggunakan kaca mata hitam dan juga topi lebar untuk membantu penyamaran. Tujuannya bukanlah untuk melihat pantai yang indah, tapi memantau kegiatan Farrel dan Sherly. Seperti sekarang ini.
Tangan Sarah mengepal berulang kali, setiap melihat sepasang kekasih di sana melakukan skinship. Hatinya terasa terbakar, saat Farrel terus menempel pada Sherly. Bergandengan tangan dan memeluknya dengan erat. Tidak jarang juga, Farrel mencuri ciuman di bibir Sherly.
“Kenapa Farrel tidak pernah bersikap semanis itu padaku? Apa yang membuatnya lebih memilih wanita itu dari pada aku? Dulu ada Serena , dan sekarang malah Sherly. Apa yang tidak aku miliki, jika dibandingkan dengan mereka berdua?” Sarah menggeram.
Drrrt drrt drrt
“Haloo!” Sarah menyapa dengan sebuah bentakan.
“Ck! Kau pasti sudah tahu kalau ini akan menyakitimu, lalu kenapa masih diteruskan?”
“Diam kamu! Jangan coba-coba mengaturku. Kita sudah membuat kesepakatan, dan aku juga sudah membayarmu dengan tubuhku. Jadi jangan ikut campur!”
“Terserah. Aku hanya ingin mengingatkanmu saja. Farrel bukan orang biasa, dia pasti punya pengawal yang dia sebar untuk memastikan keselamatan kekasihnya itu. Jadi jangan sembarangan bertindak. Atau namamu saja yang akan pulang ke negara asalmu.”
“Tidak perlu menggurui. Urus saja urusanmu. Kau pasti punya kesibukan, kan? Jadi pulanglah dulu. Aku sudah punya tiket untuk pulang, khusus untukku dan Farrel.”
“Baiklah. Aku tidak akan banyak bicara lagi. Berhati-hatilah…”
Bram menghela nafas panjang. Sebenarnya bukan Sarah yang dia khawatirkan, tapi Serena. Dia akan memantau keselamatan Serena, tanpa sepengetahuan Sarah.
-
Matahari hampir tenggelam, saat Farrel berbaring dengan berbantal paha Sherly. Agenda hari ini, adalah bermain di pantai sepuasnya.
“Serena mengundang kita makan malam. Kau bersedia?”
“Tentu,” jawab Sherly.
“Besok kita akan pergi ke taman hiburan paling terkenal di sini, kamu bersedia?”
“Tentu!”
“Kalau sekarang aku mengajakmu ke KUA, apa kau juga bersedia?”
“Tentu!”
“Benarkah?” Farrel segera bangkit. Dia memegang kedua pundak Sherly dan menggoyangkannya berulang kali. Dia tidak menyangka kalau Sherly akan memberinya jawaban yang sangat dia dengar. Penantiannya sudah berakhir dan itu tidak sia-sia. Farrel bersedia menunggu sampai sang kekasih benar-benar menerimanya.
Sherly mangangguk dan tersenyum bahagia. Akhirnya dia bisa mengatakan apa yang dia simpan selama ini. Dia telah siap menerima Farrel di dalam hidupnya.
“Kamu ngga bohong kan, sayang?” Tanya Farrel. Dia masih perlu diyakinkan sekali lagi.
“Iya Farrel. Aku bersedia untuk di bawa ke KUA olehmu, dan meresmikan hubungan kita. Tapi setelah urusanmu dengan wanita itu,selesai.”
Farrel bangkit dari pasir dan meraih tubuh Sherly, mengangkat dan mengayunkannya di udara. Menciumi seluruh wajah sang kekasih dengan perasaan yang membuncah. Serasa ada yang sedang meledak di dalam dirinya. Dan itu adalah kebahagiaan.
“Tentu. Aku akan segera menyelesaikannya. Terima kasih. Terima kasih, sayang. Hari ini kamu telah memberiku dunia baru untukku. Dunia yang akan aku isi dengan cinta, untukmu. Aku benar-benar bahagia banget mendengarnya,” Farrel memeluk Sherly dengan begitu erat.
“Aku mencintaimu Farrel,” cicit Sherly.
“Aku lebih mencintaimu. Terima kasih karena telah bersedia menjadi pendamping hidupku,” Farrel terus menghujani Sherly dengan kecupan di puncak kepala dan wajah.
“Ayo kita kembali ke kamar. Kita harus segera bersiap untuk undangan makan malam, sebelum dua orang itu ceramah.”
“Ayo…”
Sherly dan Farrel sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang yang mengikuti langkah mereka. Mengumpat dan hampir lepas kendali untuk menarik dan memisahkan keduanya.
-
“Kenapa lo? Dari tadi senyum-senyum terus, abis dapat lotre lo ya? Atau jangan-jangan… kesambet hantu kamar hotel?” Tanya Serena pada Farrel.
“Terus kenapa?”
“Sherly telah bersedia menikah denganku,” ucap Farrel yang tidak bisa menahan diri untuk kembali tersenyum ceria. Dia tidak sedetik pun melepas genggamannya pada jemari Sherly.
“Benarkah?” Serena terkejut, begitu pula Joni.
“Bener itu Sherly?” Tanya Serena.
Sherly hanya mampu mengangguk malu dan menunduk.
Serena dan Joni sama-sama bangun dari duduk, lalu menghampiri Farrel dan Sherly.
“Selamat ya…” Serena memberikan pelukannya pada Sherly.
“Selamat ya…” Joni memberikan ucapan selamatnya pada Farrel sambil bersalaman.
“Makasih,” kata Sherly dan Farrel bersamaan.
“Heh lo! Mulai sekarang jagain Sherly dengan baik. Dia temen gue, jangan di bikin nangis. Dan awas kalau lo sampai selingkuh! Gue potong-potong burung lo nanti,” ancam Serena pada Farrel.
“Busyet! Sejak kapan kamu jadi bar-bar kayak gini sih Serena? Ngga ada anggun- anggunnya banget. Katanya model, tapi kelakuan kayak preman pasar.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan. Sanggup ngga?!”
“Iya Serena. Aku sanggup. Apapun akan aku lakukan untuk Sherly. Aku janji,” ucap Farrel, kemudian. Bukan karena takut akan ancaman Serena, tapi itu semua memang berasal dari dalam hatinya. Dia akan menjaga dan melimpahi Sherly dengan cinta dan kasih sayang. Sekali dalam hidup, dia ingin melakukan hal yang benar bersama seseorang yang dia cintai.
Farrel mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku yang dalam kantong celananya. Dua buah cincin dengan bentuk yang unik berdiri sejajar di dalamnya.
“Kalian jadi saksi kalau aku serius sama Sherly,” kata Farrel pada Serena dan Joni. “Dan ini hanya simbol sementara, sebelum kami baner-benar sah di mata hukum agama dan negara.”
Farrel menyematkan cincin yang bentuknya lebih kecil, ke jari manis Sherly. Butiran air mata kebahagiaan tidak sanggup Sherly tahan. Dia begitu terharu mengingat semua yang telah Farrel lakukan untuknya.
“I Love You Sherly…”
“I Love You too Farrel…”
-
“SIALAN!! Aku tidak akan membiarkan kalian melangkah lebih jauh dari ini. Aku akan melakukan apapun untuk menghancurkan mimpi kalian. APAPUN!”
.
.
.
***
Maaf ya... Si_Ro lama ga up, soalnya lagi nyicil cerita Sekar.
Mendekati klimaks terakhir ya. Akan di teruskan dengan cerita Sekar.
Tapi mungkin akan di buat judul baru, karena kalau di sambung disini, babnya udah terlalu banyak.
Minta pendapatnya ya...
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.