
Joni melangkah keluar dari kamar itu, menutup pintu dan menguncinya dari luar. Menyandarkan tubuhnya pada daun pintu dan langsung merosot ke lantai yang dingin, disertai dua tetes cairan bening yang tiba tiba mengalir dari matanya walau tanpa isakan. Dia merasa begitu tidak berguna, begitu bersedih untuk gadis yang ada di dalam sana.
Ceklek ceklek ceklek
Pintu berusaha di buka dari dalam oleh Serena.
“Bang Jon….kok pintunya di kunci?”
Tok tok tok
“Bang Joooon….buka pintunya, mana baju Rena Bang Jon?”
Tok tok tok
“Bang Jooon….Rena marah nih ya, buka pintunya”
Joni masih terduduk dilantai, mencoba tidak perduli dengan suara suara yang berasal dari balik pintu. Dia masih menyimpan wajahnya di antara kedua lengan yang di lipat dan bertumpu pada kedua lututnya.
“Hiks hiks Bang Jon….bukain pintunya, Rena mau keluar hiks hiks”
Tidak tahan dengan suara isakan Serena, Joni mendongakkan wajahnya dan mulai bergerak untuk berdiri. Berjalan ke arah dapur dan mengambil gelas kosong yang berada di rak, mengisinya dengan air putih sampai penuh dan meminumnya sampai habis.
Menenangkan diri dengan menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan, tidak ingin menganggu tidur ibu Serena, Joni langsung mengisi gelas kosong itu dengan air putih kembali sampai penuh dan di letakkan di atas meja.
Memasukkan kunci ke tempatnya dan memutarnya perlahan, menekan handle pintu dan mendorongnya dengan penuh hati hati. Begitu pintu terbuka, Joni melihat Serena dengan wajah berurai air mata. Tangannya terulur menghapus sisa kristal yang membasahi pipi mulus itu tanpa di perintah.
“Kenapa nangis hmm?”
“Hiks hiks….” suara isakan menjawab pertanyaan pertama dari Joni.
“Rena mau ketemu Adit….ayo anterin” rengekan itu ternyata belum berhenti. Mengunci Serena di dalam kamar khusus ternyata tidak memberikan efek apapun pada ingatan Serena.
Joni tidak menjawab, dia hanya diam dan terus menatap mata Serena yang basah. Tidak tahu lagi apa yang harus di lakukan untuk membuat gadis itu mengurungkan niatnya menemui laki laki yang tidak disukainya.
Tiba tiba Serena berdiri dan merangsek ke arah pintu utama apartemen, tangannya menjulur dan hampir menekan knop pintu. Tapi sayangnya Joni tidak kalah cepat, dia langsung memeluk tubuh Serena dari belakang dan menahannya sekuat tenaga.
“Lepas!”
Joni tambah mengencangkan pelukannya saat Serena terus memberontak dan ingin melepaskan diri dan Itu berlangsung untuk beberapa saat.
“Lepas Bang Jon!”
“Tidak akan,” ucapnya santai
Akhirnya gerakan Serena mulai melemah, dia tidak lagi ingin melawan tenaga Joni yang jauh lebih kuat darinya. Sudah pasti Serena kehabisan tenaganya, lalu di gantikan dengan isakan yang kembali terdengar jelas di telinga Joni.
Joni melepaskan pelukannya dan memberikan minum pada Serena “Ini….minum dulu”
Serena menerima gelas itu dan meminum isinya. Dari tadi Serena lupa dengan rasa hausnya karena terus memikirkan Adit, tapi begitu tegukan air pertama membanjiri tenggorokannya, dia langsung merasakan rasa kering yang menyiksa sampai sedikit perih.
Satu gelas penuh itu habis tanpa sisa, bahkan Serena berlari ke dapur hanya untuk menambah isi gelas yang sudah kosong. Dia sangat kehausan setelah menangis dan juga kehilangan banyak tenaga.
Joni terus memperhatikan Serena, matanya tidak meninggalkan satu detik pun gerakan dari gadis yang menjadi majikannya, senyum tipis tersungging di ujung bibirnya setelah melihat Serena jadi lebih tenang.
“Bang Jon…Rena ngantuk”
Joni menghampiri Serena yang duduk di kursi dapur depan lemari es, dia mengusap sisa air yang menempel di dagu Serena.
“Ayo tidur…ini udah malam”
Serena mengangguk, lalu menggandeng tangan Joni menuju kamarnya. Pintu kamar itu terbuka, lalu terlihat tubuh ibu Serena yang sudah terlelap di atas kasur.
“Masuklah…” perintah Joni.
“Rena tidur di kamar sebelah aja deh, Rena ngga mau ganggu ibu”
“Tidurlah…” Joni menyempatkan diri untuk mengelus puncak kepala Serena yang sudah terlihat sangat mengantuk.
Serena merebahkan dirinya di atas kasur, dia tidak lagi merengek dan meminta Joni mengantarkannya ke rumah Adit.
“Bang Jon jangan pergi dulu ya, temenin Rena disini” Tangan Serena memegangi lengan Joni yang hampir beranjak, menahan pria itu untuk tetap berada di sampingnya. Tentu dengan senang hati Joni mengangguk dan menuruti keinginan Serena.
Laki laki itu duduk di atas kasur, tepat di sebelah Serena yang sudah memejamkan mata tapi tidak melepaskan genggamannya pada lengan Joni.
Joni meraih kunci mobil yang selalu di letakkan di gantungan yang tersedia di samping pintu utama, dia kembali memalingkan wajahnya ke arah pintu kamar khusus dimana Serena tidur disana. Serena tertidur dengan cepat dan melupakan semua obsesinya untuk bertemu dengan Adit.
Begitu Joni berada di parkiran area apartemen, dia biasa melihat mobil Farrel yang terparkir tepat di samping mobil Serena.
“Ngapain lo kesini?” tanyanya sinis.
“Cih terserah guelah mau kemana, kaki kaki gue,” Farrel menjawab tidak kalah sinis.
“Darimana lo tahu apartemen Serena?”
“Itu soal gampang. Gua bisa tahu dimana pun pacar gue berada”
“Ngarep banget”
Joni menutup pintu mobil dan mulai menyalakan mobil. Farrel langsung memajukan mobilnya dan menghadang mobil Serena yang akan melaju keluar dari area parkir.
“Gue lagi khawatir nih sama Serena, lo mau kemana?” tanyanya dari dalam mobil.
“Nyari orang yang udah bikin Serena seperti tadi”
“Gue ikut!” Farrel berseru.
“Terserah”
Farrel dan Joni membawa mobilnya masing masing. Di saat orang orang lebih memilih untuk meringkuk di balik selimut, mereka berdua malah membelah jalanan kota yang mulai lengang di waktu tengah malam.
Joni memimpin jalan yang di ikuti oleh Farrel di belakangnya. Joni sudah tahu dimana keberadaan orang yang dicarinya, karena dia meminta bantuan anak buah Juan yang memang di tugaskan untuk membantu melindungi Serena.
Baik Joni ataupun Farrel sama sama menahan kemarahan, mereka ingin membuat perhitungan pada orang yang sudah membuat Serena berubah menjadi bukan dirinya sendiri dengan cara yang sangat licik.
---------------------------------------------
Asap kemenyan mulai menguap dari tungku pembakaran yang memang sudah biasa digunakan, terbang ringan ke segala arah dengan mambawa aroma yang khas.
“Serena…..”
“Serena…..”
“Serena…..”
Seseorang sedang duduk bersila dengan tenang, mengalunkan mantra mantra yang sepertinya sangat dihafal di luar kepala, dengan mulut yang sesekali menyebut nama buruannya.
Suara suara itu terus menghiasai ruangan kecil yang sedikit pengap dan terletak di sudut rumah. Tempat itu seolah memang di sediakan untuk kegiatan kegiatan yang tidak ingin diketahui siapapun.
.
.
.
***
Crazy up 3
Likenya jangan cuma di chapter terakhir ya