
Joni mulai melajukan mobil yang dia kendarai. Perlahan meninggalkan rumah Ni Maryam dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Sesekali matanya melirik Serena yang terbaring di sampingnya, namun gadis cantik itu masih setia menutup mata.
Ada tugas besar yang sudah menunggunya untuk bergerak cepat. Sebelum mempersiapkan pernikahan yang begitu mendadak, Joni harus lebih dulu meminta restu dari ibunya Serena. Meskipun ayahnya Serena sudah memberinya lampu hijau, tapi orang yang paling utama sebagai penentu kelancaran pernikahannya adalah sang calon ibu mertua.
Berbeda dengan Joni, Sekar yang duduk di kursi belakang malah tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya. Anak kecil itu menatap takjub pada jalanan yang dilewatinya dengan mata berbinar. Ini pertama kalinya dia naik mobil, dan ini pertama kalinya dia melihat dunia luar. Dengan alasan apapun itu, nyatanya membuat si gadis kecil tidak berhenti menggerakkan kepalanya ke sana kemari untuk melihat semua bagian dalam mobil yang dia tumpangi. Dan ekspresinya terlihat sangat lucu di mata Joni.
Selama ini, Sekar tinggal di kampung yang berada jauh dari kota. Hanya bisa berteman dengan pepohonan rindang dan juga lingkungan sepi. Memang dia sesekali bertemu dengan warga lain yang tinggal cukup jauh dari rumah Ni Maryam, tapi itu sangat jarang. Selain kendaraan modern milik para tamu Ni Maryam, Sekar tak pernah melihatnya di sekitar tempatnya tinggal.
“Apa itu?!” seru Sekar. Dia menunjuk gedung yang berdiri lumayan tinggi, ketika mobil Serena sudah memasuki wilayah pinggiran kota.
Joni mengikuti arah telunjuk Sekar, dan laki-laki itu menyempatkan diri untuk tersenyum sebelum menjawab.
“Itu?” Joni mengulang pertanyaan. “Itu namanya gedung” jawabnya.
Entah sudah berapa kali Joni terus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang anak kecil itu ajukan. Mulai dari jalanan yang beraspal, yang jelas belum pernah Sekar lihat sebelumnya. Juga lampu penerangan pinggir jalan, sampai berbagai bentuk mobil yang kebetulan berpapasan dengan mobil Serena.
“Apa jalan itu tidak akan jatuh?!”
Kali ini Sekar menunjuk jalan tol layang. Jalanan yang memang dibuat mengambang dari tanah dan seolah terbang diudara itu, mengusik keingintahuan Sekar yang memang belum tahu apa-apa.
“Tentu saja tidak.”
Joni sedang berpikir bagaimana cara menjelaskan tentang jalan tol layang pada Sekar. Dia tidak mau memberi penjelasan yang asal-asalan dan akhirnya akan mempermalukan anak kecil itu suatu hari nanti. Tapi dia juga tidak bisa memberi penjelasan yang rumit, sampai membuat Sekar jadi bingung nantinya.
“Jalan itu tidak akan jatuh, karena dia punya banyak kaki,” ucap Joni.
“Kaki?” tanya Sekar bingung.
Jawaban Joni otomatis membuat Sekar menatap ke arah kedua kakinya. Matanya berkali-kali melihat jalan tol layang dan kakinya secara bergantian, seolah sedang membandingkan.
Senyum Joni lagi-lagi merekah. “Bukan kaki yang itu,” diam sejenak.
“Apa kau lihat benda-benda yang ada dibawah jalanan itu? Tiang-tiang besar yang menyangga jalanan itu?” lanjut Joni.
Sekar menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. “Apa itu kakinya?”
“Bisa dibilang seperti itu. Karena jalanannya panjang, maka kakinya juga banyak.’
Penjelasan Joni sepertinya masih kurang memberikan kepuasan untuk Sekar. Dan Joni harus berpikir sekali lagi untuk menjawab pertanyaan yang sama.
“Hmmm… apa Sekar pernah lihat binatang kaki seribu? Yang warnanya merah dan bergerak agak lambat di tanah?”
Kepala Sekar kembali mengangguk.
”Iya Sekar sering lihat, dan di belakang rumah Ni Maryam malah ada banyak. Tapi Sekar ngga suka sama binatang itu. Sekar jijik, dan jalannya juga sangat lambat” jawab polos Sekar.
Mata Sekar masih terus mengawasi jalanan yang ternyata sangat panjang menurutnya. Semakin mobil masuk ke tengah kota, maka semakin banyak juga yang bisa dilihat oleh Sekar.
“Ooh… “ setelah sekian detik, Sekar akhirnya bersuara. Kini gadis itu sepertinya sudah paham dengan penjelasan Joni.
“Apa kau sudah mengerti?” tanya Joni untuk memastikan. Dan anggukan kepala Sekar jadi jawaban.
Tapi Joni jadi sedikit merasa bersalah pada Sekar. Penjelasan sederhana yang mampu dia pikirkan kali ini, bisa jadi akan kembali dipertanyakan suatu hari nanti. Mungkin Sekar akan menilai kalau Joni adalah orang bodoh, saat anak kecil itu bener-benar mengerti tentang jalan tol layang.
Sekar mencari posisi ternyaman di jok bagian tengah mobil, ketika dia mulai terserang rasa kantuk. Bantal yang biasa dipakai oleh Serena pun menjadi sasarannya untuk dijadikan sebagai penyangga kepala. Joni mencuri pandang menggunakan kaca spoin tengah. Sekilas tersenyum lega, karena tidak harus berpikir keras untuk menjawab berbagai pertanyaan dari Sekar.
“Lucu,” gumamnya.
-------------------------------------------
“Paman mau dianter kemana?”
“Turunkan saja paman di jalan depan sana.”
“Kenapa ngga langsung ke rumah paman saja?”
“Paman ngga punya rumah Dit,” jawab Yudi.
Adit terus menjalankan mobilnya melewati tempat yang ditunjuk oleh Yudi tanpa niat berhenti.
“Ke rumah Adit. Rumah pasti sepi ngga ada mama, dan Adit ngga mau sendirian.”
“Cih! Jadi cowok kok penakut.”
“Adit bukan takut, paman. Adit cuma benci kalau harus makan sendirian di rumah. Akan terasa sangat menyedihkan kalau kita tidak punya siapapun untuk berbagi, termasuk teman. Meskipun itu sebuah kenyataan.”
“Kamu kan punya pembantu,” Yudi mencibir.
“Iya sih. Sebenarnya ngga ada alasan khusus. Adit cuma pengen paman ikut Adit aja, dari pada sendirian di kontrakan.”
“Cih! Darimana kau tahu kalau paman tinggal dikontrakan? Tapi paman ini normal loh. Jadi jangan berpikir macam-macam, hanya karena paman ikut tinggal di rumahmu.”
Adit terkekeh pelan. “Paman ngga usah takut, Adit juga masih doyan perempuan. Adit bukan cowok yang macho di luar tapi gemulai di dalam.”
Untuk sesaat mereka berdua sama-sama tertawa. Sampai dimana keduanya terdiam kembali, karena tidak tahu apalagi topik yang bagus untuk dijadikan bahan obrolan.
“Apa kau masih menyukai Serena?”tanya Yudi tiba-tiba.
*Jleb*
Pertanyaan yang meluncur dari mulut Yudi mampu membuat Adit bungkam. Kalau bisa, dia akan memilih untuk tidak menjawab, tapi itu tidak mungkin. Yudi adalah ayahnya Serena, dan sangat wajar jika laki-laki yang duduk di sampingnya itu merasa penasaran.
“Apa Adit harus jawab paman? Bukankah sebentar lagi Serena juga akan menikah, dan itu bukan dengan Adit. Jadi untuk pertanyaan paman, tidak perlu Adit jawab."
Hembusan nafas berat begitu terdengar oleh telinga Yudi. Dia tahu kalau pria muda itu sedang menghindari sebuah kejujuran. Yudi juga tahu kalau Adit memiliki perasaan lebih pada Serena, putrinya.
Adit masih terdiam. Tentu dia masih mencintai Serena, tapi tidak mau mengatakannya. Tidak perlu ada yang tahu dengan isi hatinya. Cinta pertamanya tidak berjalan mulus, yang akhirnya menyisakan rasa sesak di dada. Selain karena Serena yang sebentar lagi akan menikah, Adit juga tidak bisa berharap apapun karena rasa bersalahnya pada gadis itu. Adit tidak bisa menutup mata dengan kenyataan, bahwa Yuli telah begitu banyak menyakiti Serena. Biarlah Adit menyimpan perasaannya, menyimpan kisah cinta untuk dirinya sendiri.
“Jagalah Serena dari jauh. Lindungi dia dari jauh. Dan juga cintai dia dari jauh. Tidak ada larangan untuk mencintai. Tidak ada larangan untuk menyayangi. Yang perlu kau ingat adalah, jangan merebut milik orang lain. Jangan melakukan hal bodoh dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang bukan milikmu. Karena itu tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan, untukmu dan juga orang lain”
“Iya paman.”
“Jangan pernah mengikuti jalanku dan Yuli. Jadikanlah kami berdua sebagai contoh yang tidak baik. Kami berdua terlalu serakah pada kehidupan. Terlalu mengagungkan keinginan duniawi sampai pada akhirnya malah tidak dapat apa-apa. Karma adalah kenyataan, entah di dunia ini atau di dunia lain.”
Mobil Adit sudah memasuki komplek rumahnya. Yudi juga sempat melirik rumah yang menjadi tempat tinggal ibunya Serena, karena rumah Adit dan rumah ibunya Serena memang bertetangga.
“Sebentar lagi paman pasti akan bertemu dengan ibunya Serena,” ucap Adit saat melihat arah pandangan Yudi.
“Kalau dia melihatku, mungkin paman akan langsung diusir.”
Adit tidak memberi tanggapan apapun. Setidaknya sekarang dia tahu kalau yang punya masalah bukan hanya dirinya.
.
.
.
***
Kemarin banyak banget yang komen sedih karena mengira Juan mati. Jangankan para pembaca, Si_Ro juga agak ga rela.
Perlu Si_Ro ulangi ya, Si_Ro ngga pernah nulis kalau Juan itu mati. Si_Ro cuma nulis Juan menghilang.
Tapi Si_Ro juga masih belum tahu bagaimana jalan Juan untuk bisa dimunculkan lagi. Dan kalau pembaca nantinya benar-benar lupa sama sosok Juan, maka mau tidak mau karakter Juan, Si_Ro hilangkan untuk seterusnya.
Jaga kesehatan, jaga makan dan jaga diri.
Dan usahakan untuk mengikuti anjuran pemerintah.
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.