
Serena mengernyitkan dahi saat menerima kiriman sebuket bunga dan sekeranjang buah segar, pagi ini. Seorang kurir mengetuk pintu perawatan dan memberikannya pada Serena. Kiriman itu bukan untuknya, melainkan untuk Joni.
“Apa Bang Jon punya pacar?” tanya Serena pada Joni yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
“Memang itu dari siapa?” tanya balik Joni.
“Ditanya malah nanya, jawab dulu. Bang Jon punya pacar?”
Joni menampilkan senyum termanisnya, membuat pagi Serena serasa sangat cerah. Kalau saja senyum itu di berikan saat dia belum menerima kiriman misterius, mungkin Serena akan berpikir kalau Joni juga memiliki perasaan yang sama, seperti yang dia rasakan.
“Ngga usah senyum-senyum, jawab Bang Jon!” Serena mulai tidak sabar melihat pria itu begitu santai menanggapi rasa penasarannya.
“Apa kau pernah melihatku bersama wanita lain, selain dirimu?”
“Tidak. Tapi kan siapa tahu, kalau Rena pas lagi kerja, Bang Jon genit ke cewe-cewe yang ada di lokasi pemotretan.”
“Tidak ada.”
“Bohong!”
“Apa semua perempuan sepertimu?”
“Apa?” tanya Serena.
“Kau pasti ingin aku menjawab jujur kan?”
Serena mengangguk.
“Tapi kenapa saat aku menjawab jujur, kau malah tidak percaya? Dan malah mengatakan kalau aku berbohong?”
Serena menggeleng. Dia tidak tahu jawabannya.
“Pokoknya cepat jawab, punya atau enggak?!” Serena tetap tidak mau di salahkan.
Senyum Joni semakin merekah. Dia begitu senang bisa melihat wajah Serena yang sedang memarahinya. Dimana-mana yang namanya orang marah, pasti wajahnya menakutkan, seperti wajah Serena saat ini. Tapi Joni malah senang bisa kena marah dari Serena. Gadis itu sedang mencurigainya memiliki hubungan spesial dengan wanita lain, yang itu berarti, kalau Serena sedang merasa ragu dengan arti dirinya bagi Joni. Menunjukkan rasa tidak suka tanpa di sengaja.
“Apa kau sedang cemburu?” ingin sekali Joni bertanya, tapi dia urungkan. Karena pertanyaan seperti itu hanya akan di jawab dengan penyangkalan dan akan menambah kejengkelan Serena.
Joni menyingkirkan alat makan yang ada di pangkuannya, mengulurkan tangan dan menarik lembut tangan Serena, agar gadis itu duduk tepat di depan matanya.
Serena masih cemberut. Dia tidak mau menatap Joni, tapi dia juga tidak menolak ketika laki-laki itu mendudukkan dirinya dekat bahkan sedikit menempel dengan tubuh Joni.
Tangan joni beralih ke pipi Serena yang sedikit menggembung. Terlihat sekali kalau dia menyimpan perasaan yang sulit diungkapkan.
“Di dunia ini, aku hanya punya lima wanita.”
“LIMA?!!!”
Mata Serena terbelalak lebar mendengar pernyataan Joni. Dia tidak menyangka, kalau Joni yang dia anggap sebagai pria baik-baik, ternyata memiliki banyak kekasih tanpa dia tahu.
Seolah mengerti dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Serena, Joni menjentikkan jarinya ke dahi Serena yang mulai berpikir ngelantur.
“Auww… ssht sakit!” protes Serena.
“Siapa yang menyuruhmu berpikir jelek tentangku, hem?” tanya Joni.
Joni meraih kedua tangan Serena, menggenggam lembut dan memaksakan kontak mata dengannya.
“Dengarkan aku dulu.” setelah Serena mau menatap matanya, Joni melanjutkan ucapannya yang tertunda.
“Di dunia ini aku hanya punya lima wanita. Pertama adalah wanita yang melahirkanku. Meskipun aku tidak pernah melihatnya, tapi aku tetap menempatkannnya di urutan pertama. Kedua adalah kau. Kau adalah orang pertama yang menempati urutan setelah wanita yang melahirkanku.”
Joni tersenyum bahagia, ketika dia menangkap semburat merah di pipi Serena. Kini gadis itu malah sedikit tertunduk dan terlihat malu-malu.
“Urutan selanjutnya adalah ibumu, Bi Sari dan terakhir adalah Zahra.”
“Aku menganggap ibumu dan juga Bi Sari sebagai pengganti kedua orang tuaku yang telah tiada. Kalau untuk Zahra, aku menganggapnya sebagai adik.” jelas Joni.
“Lalu kau menganggapku sebagai apa?” tanya Serena tanpa sadar.
“Seperti yang kamu mau,” jawab Joni mengelus pipi Serena.
“Ck yang serius dong. Ibu dan Bi Sari sudah dapat posisi yang jelas, bahkan Zahra juga dapat kedudukan sebagai adik. Lalu aku? Aku sebagai apa?”
Joni menggeram. Sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak menerkam Serena yang sedang menuntut statusnya.
Bekas oprasi membatasi pergerakan Joni. Dia masih merasakan tidak nyaman pada tubuhnya karena harus tidur di sofa semalam. Brangkar yang di sediakan untuknya malah di gunakan tidur oleh Serena.
Joni laki-laki normal, dan itu tidak perlu diragukan lagi. Rasa sayangnya tumbuh seiring waktu yang dia lalui bersama Serena. Sepertinya tidak perlu banyak alasan untuk membuatnya jatuh hati pada Serena dengan mudah, walau pun status mereka sebenarnya hanyalah seorang majikan dan sopirnya semata.
Dia sudah menyimpannya dengan sangat rapat sepanjang waktu. Berkali-kali menyumpahi dirinya sendiri, yang telah kurang ajar karena memiliki perasaan yang tidak seharusnya.
Melihat Serena patah hati karena pria brengs*k bernama Farrel, membuatnya ikut merasakan sakit. Joni menempatkan diri sebagai orang yang siap siaga saat Serena membutuhkannya. Entah sebagai apa pun itu, Joni akan melakukannya.
Meskipun joni mendapatkan beasiswa, tapi dia tetap membutuhkan biaya untuk hidupnya sehari-hari. Dan itu tidak akan tercukupi kalau dirinya tidak bekerja.
Saat Serena mulai meraih tangga kesuksesan di dunia model, dia membutuhkan seorang sopir pribadi yang bekerja untuk mengantarkannya kemana-mana. Dan Joni menerima tawaran yang di berikan Bi Sari padanya.
Cantik dan seksi. Itulah penilaian Joni pada Serena yang hari itu sedang mengenakan gaun malam, ketika pertama kali mereka bertemu.
-
“Bang Jon… Bang Jon! Kok malah bengong sih?! sambil senyum-senyum lagi. Bang Jon ngga lagi kesambet kan?” tanya Serena. Dia bergidig ngeri menatap Joni yang kembali hanya merespon dengan senyuman.
Tok tok tok
Belum sempat Joni memberikan jawaban, pintu sudah di ketuk dari luar. Memunculkan wajah wanita yang sepertinya langsung membuat mood Serena hancur.
“Elo?"
“Aku mau menjenguk Bang Jon,” ucap sang tamu. Dia adalah Sherly, wanita yang menaruh hati pada Joni.
Dahi Serena mengernyit. Menatap tidak percaya pada Sherly dan juga Joni secara bergantian. Serena tidak mau bangkit dari duduknya yang berdekatan dengan Joni, seolah enggan memberikan waktu untuk sang tamu bertemu dengan orang yang di jenguknya.
“Apa kau baik-baik saja Bang Jon?” tanya Sherly lembut, walau pandangannya sedikit terhalang tubuh Serena yang duduk di pinggir ranjang.
Serena yang mendengar pertanyaan itu memutar bola matanya jengah,”sejak kapan mereka jadi dekat? Apa mereka pacaran di belakangku?” batin Serena menggerutu.
“Sudah lumayan membaik,” jawab singkat Joni.
“Dari mana kau tahu, kalau Bang Jon di rawat di sini?”
“Itu mudah, karena kemarin aku sempat mengikuti mobil yang di bawa Bang Joni, saat mencarimu. Dan salah satu orang kepercayaanku mengatakan kalau Bang Joni terluka.”
Sorot mata Serena kini seakan sedang menusuk Joni. Gadis itu tidak menyangka kalau Sherly ikut andil dalam pencarian dirinya kemarin.
“Dia yang membantuku untuk bisa menemukanmu kemarin. Dia juga memberitahukan dimana letak kau di sekap oleh mamanya Adit.” Joni memberi penjelasan pada Serena secara singkat.
Serena seakan baru saja mendapatkan pukulan telak. Baru saja ia ingin mengusir keberadaan Sherly di kamar perawatan Joni karena sekarang memang bukanlah jam besuk, tapi kenyataan yang dia dengar dengan jelas itu, membuatnya harus mengucapkan kata terima kasih.
Joni terus menggenggam jemari Serena sambil tersenyum, meminta gadis itu untuk melakukan sesuatu yang sudah seharusnya. Serena mengerti arti tatapan Joni, genggaman itu seolah sedang memberitahukan padanya, kalau mengucapkan kata terima kasih atau maaf, tidak akan menurunkan harga dirinya sama sekali.
Serena menghembuskan nafas pelan, “terima kasih, sudah membantu Bang Jon menemukanku kemarin,” ucap Serena pada Sherly.
Sherly hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman tipis, dia tidak memberi tanggapan berlebihan, karena memang bukan untuk itu dia datang hari ini. Dia datang khusus untuk menemui Joni. Wanita itu bahkan bermake up tipis serta mengenakan pakaian sopan demi menarik perhatian pria itu.
“Apa kirimanku sudah sampai?” sekali lagi Sherly sengaja menunjukkan diri. Memperlihatkan perhatiannya pada Joni, mungkin akan membuatnya mendapat nilai lebih dari laki-laki itu.
“Ini semua dari lo?” tanya Serena tidak percaya sambil menunjuk bunga dan juga keranjang buah.
“Iya.”
“Terima kasih.” kali ini Joni yang mengucapkannya.
Binar bahagia terpancar dari wajah Sherly seketika. Mendengar ucapan terima kasih dari pria yang diidamkan, mampu membuatnya melupakan segalanya.
“Sama-sama Bang Jon.”
Pintu kamar perawatan Joni terbuka lebar. Kali ini Zahra yang datang membawa sarapan untuk Serena dan juga dirinya sendiri.
“Eh ada tamu ya, maaf… Zahra cuma bawa dua,” ucap Zahra tidak enak, sambil mengangkat dua bungkusan yang jelas berisi makanan.
“Tidak apa-apa, saya udah sarapan kok,” Sherly menyahut sopan.
“Ayo mbak, kita sarapan dulu. Biarin Bang Jon ngobrol sama tamunya.”
Zahra menarik lengan Serena yang masih enggan beranjak. Mau tak mau Serena menuruti permintaan Zahra, karena perutnya memang sudah menunjukkan tanda-tanda protes. Dengan langkah malas, Serena mengikuti Zahra yang sudah berjalan lebih dulu menuju tempat untuk memakan sarapan.
Sekarang tidak ada lagi yang bisa menghalangi Sherly untuk duduk di kursi yang berada di dekat brangkar Joni.
.
.
.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.