KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 100


Serena menatap tidak suka pada gadis yang duduk tepat didepan mejanya. Tadi saat baru masuk ke dalam kafe, tanpa sengaja tatapan mata mereka beradu. Sahabat yang dulu sengaja sering mencari ribut dengannya, kini sedang menikmati minuman hangat dan makanan yang ada di atas meja.


Joni sudah mengajaknya untuk masuk ke dalam kantor yang terdapat di samping kafe, tapi dia menolak. Akhirnya Joni mengalah dan meninggalkan Serena untuk sejenak berbincang tentang perkembangan kafe dengan managernya. Meskipun begitu, Joni tetap mengawasi istrinya dari jauh melalui kaca transparan yang menjadi penghalang antara kantor dan kafe.


"Ngapain lo disini?" tanyanya sinis.


"Seperti yang lo liat, gue kesini karena mau makan. Lo sendiri?"


"Gue nyonya pemilik kafe ini, jadi gue bebas mau ngapain aja disini. Kenapa?" jawab Serena membanggakan diri.


"Jadi kafe ini milik Bang Joni?"


"Ck!" Ada perasaan tidak suka dalam hati Serena, saat gadis yang ada di depannya menyebut nama sang suami dengan mata berbinar.


Serena diam sejenak. Pandangan kini beralih pada pria yang juga ada di depannya sedari tadi.


“Kalian pacaran?” tuduh Serena. Matanya memicing mencari kebenaran dengan kerutan di kening. Hatinya tiba-tiba tergelitik rasa penasaran tentang status dua pelanggan yang menjadi pengunjung kafe milik suminya.


“Tidak!!” jawab dua orang beda kelamin yang duduk berdampingan di depan Serena. Tangan keduanya mengayun bentuk penolakan. Mereka adalah Farrel dan Sherly.


“Cieee… kompakan,” goda Serena. “Ck! Iya juga ngga apa-apa. Gue akan dengan senang hati memberi restu, kalau kalian memang menjalin hubungan. Ngga usah di umpet-umpetinlah.” ucap Serena dengan menautkan kedua tangan di depan dada.


“Ah! jangan lupa mengirim undangan ke rumah gue ya!” tambah Serena. Dia menahan senyuman tipis di ujung bibirnya.


“Aku ngga punya hubungan apapun dengan Sherly sayang…”sangkal Farrel.


Sepertinya Farrel lupa dengan identitas Serena saat ini. Atau mungkin, mulutnya memang sudah terbiasa dan sulit untuk diperbaiki. Dia tetap menyayangi dan mencintai Serena, sikapnya pada wanita yang telah bersuami itu pun sama sekali tidak berubah.


“Sekali lagi lo panggil Serena dengan sebutan sayang, gue yakin bodyguardnya yang ada di dalam sana itu, sebentar lagi bakalan datang dan melempar lo keluar dari sini.” bisik Sherly pada Farrel sambil menunjuk Joni dengan ujung dagunya.


“Biarin aja! Gue malah seneng kalau dia marah dan gue sengaja mau bikin mereka bertengkar. Kalau si sopir itu marah, terus mereka bercerai, maka gue yang akan menjadi suami Serena he.. hee,” Farrel balik berbisik dengan senyuman menyeringai.


“Lo gila ya! Dia itu udah jadi istri orang, tau!” Sherly menahan geram.


Sherly dan Farrel sibuk dengan perdebatan mereka, sampai melupakan kehadiran Serena di sana. Keduanya tidak menyadari kalau semakin merasa curiga dengan gerak gerik yang mereka tunjukkan.


“Lihat-lihat! Kalian bahkan sudah main bisik-bisikan di depan mataku, dan kalian masih bilang ngga punya hubungan apa-apa?!” Serena menunjuk farrel dan Sherly bergantian.


Teguran Serena menyadarkan dua manusia yang masih sibuk berdebat. Kini keduanya tahu kalau tingkah mereka malah menambah kecurigaan Serena.


“Ngga sayang… kita berdua hanya berteman, tidak lebih.”


“Farrel,” panggil Serena lembut. “Sebagai teman, gue berdoa dengan setulus hati, semoga hidup lo bahagia. Begitu juga dengan lo, Sherly.” Serena menatap tulus pada Sherly.


“Apapun cerita kita di masa lalu, dan betapa buruknya pertemanan kita dulu, gue harap kita tetap bisa berhubungan baik untuk kedepannya.”


Kedatangan dua orang pelayan dengan membawa banyak makanan dan minuman yang diinginkan oleh Serena, menghentikan sementara percakapan.


Melihat pesanannya sudah datang, Serena langsung menyantapnya dengan lahap. Makanan telah mengalihkan semua perhatian Serena, dan tidak lagi peduli dengan dua orang yang duduk di depannya.


Sherly dan Farrel tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepala, saat melihat cara makan Serena. Mereka berdua heran dengan nafsu makan Serena yang seperti tidak ada habisnya.


“Lo ngga takut kehilangan kontrak kerja, Serena?” tanya Sherly.


“Memang kenapa?” tanya balik Serena tanpa mau mengalihkan pandangan dari makanan yang ada di atas piringnya.


“Lo makan begitu banyak, apa lo ngga takut gemuk?” jawab Sherly.


“Kalo gue gemuk, memang kenapa?” tanya Serena lagi.


“Lo kan seorang model, Ser. Lo harus bisa mempertahankan bentuk tubuh dan harus tetep langsing, kalo pengen bertahan di dunia permodelan, walaupun lo udah menikah.”


“Sebentar lagi, gue bakal cuti.”


“Cuti?! Kenapa?” tanya Sherly dan Farrel bersamaan.


“Karena dia sedang hamil.”


Joni menjawab pertanyaan dengan senyuman bahagia. Pria itu mendudukkan dirinya tepat di sebelah kursi istrinya yang sedang sibuk makan. Mengambil tisu dan mengelap pinggir bibir Serena dengan gerakan perlahan.


“HAMIL?!!”


Sherly dan Farrel sampai bangkit dari duduk karena saking terkejutnya mendengar ucapan Joni. Tidak menyangka kalau perubahan cara makan Serena disebabkan oleh kahamilannya.


“Iya. Kami baru saja pulang dari rumah sakit. Dan dokter spesialis mengatakan, kalau Serena sedang hamil anak kami.” jawab Joni.


---


“Mamaaa….”


Setelah mengelus perut Serena yang masih rata, kepala anak itu mendongak dan bertanya. “Apa adek baik-baik saja di dalam sana ma?”


“Iya sayang. Adek sehat dan baik-baik saja.”


“Mulai Sekarang, setiap malam mama harus tidur sama papa. Tapi kalau siang, Sekar yang akan tidur bareng sama mama.”


Aturan yang Sekar ucapkan membuat semua orang tersenyum. Bocah kecil itu seolah mengerti kalau dia tidak boleh menganggu tidur malam Serena bersama Joni.


“Kenapa harus begitu Sekar?” tanya Zahra yang berdiri diambang pintu.


“Karena mama ngga boleh sendirian. Kalau mama sendirian, nanti ada setan jahat yang mau ambil adek kecil.”


“Kita bicara di dalam saja,” kata Joni yang juga disetujui oleh semua penghuni rumah.


Setelah mendengar penjelasan Sekar, Joni langsung membimbing Serena masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


Sejak tahu kalau Serena hamil, Maya memang langsung memerintahkan Bi Sari untuk mencari rimpang bangle yang dia percaya bisa untuk menjauhkan Serena dan janinnya dari gangguan tak kasat mata.


Berkaca dari pengalaman Serena dengan dunia perdukunan, mau tidak mau membuat semua orang lebih berhati-hati. Percaya tidak percaya, mereka akhirnya melakukan apa yang biasa orang tua dulu lakukan jika ada seseorang dalam keluarga sedang hamil.


“Serena… pakai ini!” perintah Maya pada putri sulungnya.


“Ini apa bu?” tanya Serena bingung.


“Ngga usah banyak tanya! Pakai saja.”


“Kenapa mbak Rena harus pakai yang begituan sih, Bu? itu kan cuma mitos Bu, di dunia kedokteran ngga yang gitu-gitu!” protes Zahra.


“Diam kamu! Ibu melakukan ini demi kebaikan Rena. Apapun akan ibu lakukan, kalau itu bisa membantu menjauhkan Serena dari hal-hal jahat. Mitos ataupun bukan, yang penting ini tidak merugikan.”


Joni hanya memperhatikan apa yang sedang mertuanya lakukan. Dia tidak keberatan ataupun terlihat ingin menyuarakan protes. Dia tahu kalau tidak ada satupun orang dirumah ini yang menginginkan keburukan dengan kehamilan Serena, istrinya. Cara kuno seperti yang dilakukan Maya, atau pandangan modern dari Zahra, semuanya dilakukan demi kebaikan Serena.


---------------------------------------------


Seorang laki-laki berperawakan tinggi besar sedang menikmati minuman keras di dalam ruangan khusus miliknya, sendirian. Menggenggam gelas kaca yang isinya tinggal separuh, dia menatap sedih keluar jendela. Lampu yang sengaja di buat temaram, menambah suasana suram yang mengelilinginya.


Entah sudah berapa kali suara dering dari handphone di atas meja yang berusaha mengusik kesendiriannya. Tapi dia tidak peduli. Dia seolah sengaja menulikan pendengaran untuk menyelami kesunyian.


Dengan mata tertutup, dia bisa kembali tersenyum hanya dengan membayangkan wajah orang tercinta. Waktu yang dia habiskan berdua dengan wanitanya dulu, telah menjadi kenangan terindah tanpa bisa dicuri oleh siapapun.


“Kenapa kau harus pergi secepat ini?”


Hembusan nafas berat, seolah menggambarkan betapa berat beban yang sedang dia pikul. Penyesalan besar yang dia rasakan, telah mengambil ketenangan hidup dan selalu membuatnya terjaga setiap malam. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki keadaan. Orang tercintanya telah tiada. Menyisakan rasa sakit yang terus mengganjal dalam hati.


Dia tahu, dia penuh dosa. Dia tahu, tidak ada maaf yang tersisa. Tapi dia tahu bagaimana cara mencinta.


Memberi perasaanya hanya untuk satu wanita, walau ada banyak yang tersedia di luar sana. Mencintai satu wanita, diantara istri-istri lain yang bernaung di bawah atap yang sama.


Namun itulah letak kesalahannya. Membiarkan yang tercintanya bercampur dengan yang lainnya tanpa rasa curiga. Meninggalkannya tanpa pengawasan, sampai terluka dan akhirnya binasa.


Dan…


Sebuah ambisi mengambil kewarasannya. Dendam dan rencana jahat pun bekerja sama. Mengubah pribadi jahat menjadi semakin jahat.


“Hem… sejak istri pertamaku meninggal, semua bisnisku tidak berjalan lancar. Ada saja masalah yang muncul setiap harinya. Aku sudah mencari banyak dukun sakti, dan semuanya memberikan jawaban yang sama. Sekarang aku harus mencari wanita lain yang akan menempati posisi kosong yang dia tinggalkan.”


“Dia sangat cocok untuk menggantikan posisi istri pertamaku, tapi jalanku tidak akan mudah karena kehadiran bocah sialan itu!”


“Apa aku harus menyingkirkannya lebih dulu? Tapi ini tidak mudah. Aku telah berjanji untuk tidak menganggunya apalagi menyakitinya. Huft… apa yang harus aku lakukan? Aku harus segera mengisi tempat kosong istri pertama, karena kalau tidak, kerajaan bisnisku akan benar-benar hancur tak tersisa.”


Satu tenggakan terakhir telah membasahi kerongkongannya. Minuman keras ternyata sama sekali tidak membantu untuk membuatnya terlelap sejenak.


“Saatnya memberi makan”


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.