KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 120


Kau dengar sendiri, kan? Sekar meminta adik. Dan itu berarti, kita harus sering membuatnya juga pergi bulan madu. Bukankah itu juga keinginanmu?” bisik Joni.


.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.


Perjalanan bulan madu yang sudah dipersiapkan sebelumnya, hampir saja gagal. Joni dan Serena sama-sama enggan meninggalkan Sekar yang memilih untuk berada di rumah saja bersama neneknya, Maya dan Zahra, tantenya.


Baik Joni dan Serena sama-sama ingin membawa sang putri ikut serta. Sekar adalah alasan bagi kedua orang tuanya yang terlihat begitu berat pergi ke tempat yang seharusnya membuat mereka semangat. Tapi sayangnya, bocah kecil itu malah terus menolak ajakan Joni dan Serena yang hampir saja memesan tiga tiket untuk mereka bertiga.


“Sekar mau di rumah aja sama nenek. Mama sama papa jalan-jalannya berdua aja ya, Sekar ngga mau ikut. Oh iya jangan lupa, pulangnya bawa adik bayi buat Sekar!”


Itulah jawaban yang diucapkan oleh Sekar untuk menolak ajakan kedua orang tuanya. Walaupun Serena sudah menjamin kalau perjalanan ini akan menyenangkan, bocah kecil itu bahkan tidak memperlihatkan rasa iri sama sekali karena tidak ikut liburan. Dan Joni kehabisan akal untuk membujuk sang putri yang terus menggelengkan kepala, tanda penolakan.


Dua buah tiket menuju tempat bulan madu impian Serena pun sudah berada di tangan. Hanya saja, itu tetap tidak membuatnya bahagia. Dia dan Joni terpaksa melakukan apa yang diinginkan oleh Sekar, yaitu pergi bulan madu tanpa sang putri.


-


“Apa yang kau katakan pada putriku?” tanya Serena. Dia menghampiri Zahra yang berada di dapur untuk mengambil minuman dingin sepulang kerja.


“Apa?” tanya balik Zahra, dengan memasang wajah tanpa dosa. Dia tahu tahu kalau sang kakak akan menanyakan hal ini.


“Pasti kau kan, yang telah mempengaruhi Sekar untuk tidak ikut bersama kami?!”


“Zahra tidak melarang Sekar buat ikut Mbak Rena kok…” jawabnya takut.


“Ck!”


Serena hanya bisa berdecak mendengar jawaban Zahra. Walaupun hatinya kesal, tapi dia tahu kalau sang adik tidak berniat buruk.


“Tapi Mbak…” Zahra ragu, dan menggantung ucapannya.


“Apa?” saut Serena tanpa menoleh.


“Bukankah bagus, kalau Sekar ngga ikut? Bulan madunya kan jadi ngga keganggu, iya kan?”


“Mbak dan mas Joni ngga pernah merasa terganggu dengan kehadiran Sekar.”


Serena menghempaskan bokongnya di kursi dekat meja makan setelah memberi jawaban pada adiknya. Raut wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat, membuat Zahra menyesali perbuatannya.


“Jadi… apa Mbak akan membatalkan tiket bulan madunya?” tanya Zahra.


Serena menghela nafas. Ingin rasanya dia melakukan apa yang menjadi pertanyaan Zahra, tapi tentu itu tidak bisa. Sekar pasti akan kecewa dan menganggap dirinya sebagai penyebab gagalnya perjalanan bulan madu ini.


Zahra kembali merasa bersalah. Kemarin sebelum tidur, dia memang sengaja mempengaruhi keponakannya untuk tidak ikut. Dia berpikir kalau kakak dan kakak iparnya mungkin akan menjadi tidak leluasa, karena membawa anak kecil bersama mereka saat pergi berbulan madu.


“Mbak akan tetap pergi, karena ini juga keinginan Sekar.”


Serena dan juga Joni begitu menyayangi sang putri sulung. Mereka berdua ingin bisa sekali-kali membawa bocah itu pergi jalan-jalan ke luar negeri. Menunjukkan keindahan alam yang tidak ada di kota tempat mereka tinggal. Baik Serena maupun Joni, tidak akan pernah merasa terganggu dengan adanya Sekar diantara mereka. Kalau hanya sekedar untuk memadu kasih dan bermesraan, Joni dan Serena bisa melakukannya di rumah, tanpa harus pergi jauh-jauh.


Hembusan nafas pasrah dari Serena tertangkap oleh pendengaran Zahra. “Pasti akan sangat menyenangkan kalau Sekar bisa ikut,” lanjut Serena.


Serena berjalan ke arah kompor dan merebus air untuk membuat susu hangat. Sementara Zahra masih berdiri di tempat semula, di depan kulkas sambil terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh sang kakak.


“Mamaaa….”


Suara teriakan dari Sekar sudah terdengar lebih dulu sebelum wujudnya terlihat. Serena dan Zahra sama-sama berbalik badan, lalu mengarah pada sang bocah kecil yang sedang berlari ke dapur, diikuti Joni di belakangnya.


“Mana susu buat kakak?” tanya Sekar. Joni duduk dan memangku tubuh mungil anaknya di salah satu kursi yang ada di hadapan Serena.


“Kakak?” ulang Serena. Dahinya mengernyit tanda tidak mengerti dengan orang yang di sebut kakak oleh Sekar.


Sekar menampilkan senyum sumringah dan mengangguk. Tatapan Serena beralih pada sang suami, tapi Joni hanya menggidikkan bahu tanpa memberi penjelasan pada istrinya. Laki-laki itu malah menutup mulut, dan itu sukses membuat Serena berdecak kesal, semakin penasaran.


“Kakak siapa, sayang?”


Didorong rasa penasaran, akhirnya Serena bertanya. Tapi bunyi dari panci yang menandakan kalau air yang ada di dalamnya telah mendidih sempurna, menginterupsi perhatian Serena. Wanita itu buru-buru mematikan api kompor yang akan menjadi sia-sia, jika didiamkan terlalu lama.


“Aku,” jawabnya singkat, dengan jari telunjuk yang menunjuk dirinya sendiri. “Kalau Sekar punya adek bayi, Sekar maunya dipanggil kakak. Boleh kan, mah?”


Joni mencium puncak kepala Sekar sambil melirik ka arah istrinya. Keduanya sama-sama tersenyum bahagia. Mereka tidak menyangka kalau ternyata Sekar sudah begitu ingin memiliki seorang adik.


Serena segera menyodorkan gelas berisi susu coklat hangat yang sudah ditunggu oleh Sekar. Sedangkan untuk Joni, Serena memberikan secangkir kopi hitam. Tidak lupa setoples kripik bawang yang tidak begitu asin menemani obrolan di sore hari.


-


Maya menepuk pelan pundak Zahra yang sedang berjalan lesu dengan wajah tertunduk menuju tangga.


“Kenapa?” tanyanya.


“Kayaknya Mbak Rena marah deh sama Zahra, bu.”


“Marah kenapa?”


“Karena Sekar ngga ikut jalan-jalan, bu.”


Maya mengusap lembut kepala Zahra yang masih menunduk. Dia bisa mengerti kalau saat ini, rasa bersalah sedang menyelimuti hati putri bungsunya.


“Biar nanti ibu yang ngomong sama Mbak kamu itu,” ucap Maya.


“Jangan bu! Nanti Mbak Rena malah tambah marah sama Zahra.”


“Ya udah, kalau itu mau kamu. Tapi kamu juga ngga boleh sedih lagi. Kamu tahu kan, bagaimana sifat Rena? Marahnya ngga akan lama, apalagi sama kamu.”


“Iya Bu. Ya udah, Zahra mandi dulu ya, bu.”


Zahra menaiki anak tangga menuju kamarnya sendiri. Semula dia semangat mendengar berita kalau Serena akan pergi bulan madu. Dan dia ingin membantu dengan membuat Sekar tetap berada di rumah, karena takut akan menganggu momen spesial bulan madu.


“Kapan Zahra bisa membalas kebaikanmu, Mbak?” batin Zahra. Gadis itu sempat berhenti dan sekilas mengintip kebersaaam keluarga kecil sang kakak yang sedang tertawa bersama di dapur.


-


“Hallo sayang…” suara Adit dari ujung telepon.


“Hai…”


“Lesu amat jawabnya neng, kenapa?”


“....”


“Sayang… kamu masih disitu, kan?”


“Maaf Dit,” ucap Zahra.


“Maaf apa?”


“Bisakah lamaran kamu, kita tunda?”


“Hah! Kenapa tiba-tiba? Ada apa? Jelasin!”


“....”


Tut tut tut


Tubuh Zahra telah merosot ke lantai bersama air mata yang semakin menderas. “Maafkan keegoisanku Dit…”


“Aku hanya akan menerima lamaran kamu, saat Mbak Rena sudah bisa memberikan adik untuk Sekar.”


-Ditempat lain-


“Jadi maksudmu, aku tidak akan bisa mengalahkan anak itu? Bagaimana mungkin? Dia bahkan masih anak-anak.”


“Karena pelindungnya sangat kuat. Kasih sayang dari orang yang telah menyerahkan nyawanya secara sukarela, menjadi sesuatu yang tidak bisa dilawan dengan kekuatan yang dimiliki oleh dukun sepertiku. Belum lagi dengan makhluk yang ada dalam tubuh suami wanita itu."


“Lalu bagaimana caranya, agar aku bisa memiliki wanita kesayanganku?


“Kau harus bisa memastikan wanita incaranmu, tidak bisa hamil lagi,”


“Apa?”


“Jika wanita itu sampai punya anak lagi, maka akan mustahil untukmu bisa memilikinya. Anak yang akan dilahirkan oleh wanita itu akan menambah kekuatan anak gadisnya. Kalau sudah begitu, maka aku tidak akan bisa membantumu lagi.”


“Sial! Kenapa aku harus berhadapan dengan anakku sendiri?” lirihnya.


“Kalau kau berhasil mendapatkan wanita itu, lalu menjadikannya sebagai istri, kekayaan dan juga kemakmuran akan berada di bawah kakimu. Tapi kau harus menyingkirkan penghalangnya lebih dulu. Tidak ada cara lain. Itupun, kalau kau masih menginginkannya.


-


Entah sudah berapa kali Sarah mencoba menghubungi nomor pribadi Farrel. Mulutnya terus saja mengeluarkan kata-kata umpatan, seiring dengan kemarahannya yang tidak bisa lagi dia tahan. Siang tadi, Pengadilan Agama sudah memutuskan kalau mereka akan segera resmi bercerai, dan itulah yang menyebabkan wanita cantik itu begitu kesal saat ini.


Sarah tidak menyangka kalau laki-laki yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai mantan suaminya itu, bisa mendapatkan bukti kesalahan yang dia simpan rapat selama ini. Hakim bahkan sudah menentukan besaran uang yang harus di bayarkan oleh Farrel sebagai tunjangan untuk dirinnya. Uang yang jumlahnya sangat jauh dari perkiraan, dan lagi-lagi membuat Sarah tidak puas dengan hasil sidang yang seolah tidak pernah menguntungkannya.


“BRENGS*k!!”


Telepon genggam yang baru satu minggu dibelinya pun sudah teronggok di lantai, hancur setelah terlempar dan membentur tembok dengan begitu keras. “Jangan harap gue akan menyerah begitu saja, Farrel. Gue ngga akan pernah melepaskan lo dengan mudah. Gue juga ngga akan membiarkan lo hidup bahagia bersama jal*ng itu,” geram Sarah.


-


Sherly menatap layar handphone yang ada di tangannya. Pesan yang baru saja dia baca adalah pesan dari Farrel, tapi dengan nomor lain. Bukan nomor yang biasa pria itu gunakan. Jarinya sudah mengetik balasan, tapi ragu untuk mengirimkannya. Dia takut kalau itu bukan benar-benar pesan dari Farrel, melainkan orang iseng yang berniat tidak baik.


Ceklek


Pintu apartemen dibuka dari luar. Menampilkan wajah Farrel dengan senyuman hangatnya.


Sherly segera bangun dari duduk, dan menyambut kedatangan laki-laki yang dia sayangi dengan melebarkan kedua tangan. Meminta sang kekasih untuk membawanya ke dalam pelukan.


“Kamu ganti nomer, sayang?”


“Iya,” jawab Farrel singkat. Tangannya langsung terlulur untuk meraih pinggang ramping itu, dan tak lupa mendaratkan sebuah kecupan di kening Sherly. Dia baru saja pulang setelah mampir ke kantor, sebentar.


“Kenapa?”


Sherly tidak bisa menutupi rasa pensarannya. Dia ingin tahu, apa alasan Farrel mengganti nomor handphone yang dia pakai selama ini.


“Tidak ada alasan, cuma pengen ganti saja.”


Farrel terlihat tidak mau membahas tentang nomor barunya dengan Sherly. Terbukti dengan caranya yang berusaha mengalihkan arah pembicaraan. “Apa yang kamu lakukan, selama aku pergi?”


Sherly bukan orang bodoh yang tidak mengerti suasana hati Farrel. Dia tahu pasti, kalau prianya terlalu lelah akibat proses perceraian yang terkesan berbelit-belit. Sherly mengelus punggung Farrel yang sedang memeluknya. Dia juga membiarkan Farrel untuk mencium dan mencetak tanda pada leher dan juga pundak mulusnya, tanpa ingin memprotes.


“Sebaiknya kamu mandi dulu. Tadi aku sempet masak, dan kamu harus mau mencicipinya.”


Senyum bahagia terukir indah di bibir Farrel. Dia begitu senang, karena baru kali ini bisa menikmati rasanya diperlakukan layaknya seorang suami. Walaupun mereka belum resmi menikah, tapi Farrel yakin kalau Sherly akan menjadi istri yang baik, dan menjadi wanita terakhir yang akan menghabiskan waktu bersamanya sampai ajal memisahkan.


“Apa arti senyumanmu itu, sayang?” tanya Sherly.


“Artinya adalah kebahagiaan. Dan aku harap kamu tidak keberatan, jika aku akan lebih sering tersenyum saat kita bersama. Karena kamu adalah sumber kebahagiaanku.”


“Benarkah?”


Anggukan Farrel justru membuat Sherly menahan tawa.


“Kenapa?” tanya Farrel heran.


“Tersenyum karena kamu bahagia, atau… karena kamu sudah tidak waras?”


Keluar sudah ejekan untuk Farrel, disertai dengan gelak tawa dari Sherly. Meskipun ada rasa takut, tapi dia berusaha untuk membuat Farrel tidak lagi murung. Dan bukannya marah, Farrel malah menggunakan kesempatan itu untuk membungkam mulut Sherly dengan bibirnya. Mengambil kesempatan yang diberikan secara terang-terangan.


"Kau yang membuatku jadi tidak waras."


Hampir saja Farrel lepas kendali, jika Sherly tidak mendorong tubuhnya untuk menjauh. Nafas keduanya masih memburu, akibat ciuman yang berlangsung cukup lama. Menghirup udara sebanyak mungkin sambil menetralkan degub jantung yang berdetak cepat. Farrel mendekap tubuh Sherly dengan erat, tanpa ingin memberi jarak walau sedikit.


“Ayo kita pergi,” bisik Farrel.


“Kemana?”


“Kemana saja yang kamu mau.,” jawab Farrel cepat. “Apa ada negara yang ingin kamu kunjungi?” tanyanya.


“Negara? Kau mengajakku pergi ke luar negeri?”


“Sarah mungkin sedang merencanakan sesuatu di dalam otak liciknya. Dan aku tidak mau terjadi hal buruk apapun padamu. Jadi… maukah kau pergi denganku?”


Farrel bisa merasakan kalau Sherly mengangguk dalam pelukannya.


Sherly dan Farrel terus berpelukan dalam diam. Mereka menikmati kebersamaan ini dengan berusaha saling mengerti tanpa harus berucap. Berlibur hanyalah sebuah alasan. Ini adalah jalan yang Farrel ambil untuk melindungi wanitanya. Dia sama sekali tidak takut kalau harus menghadapi Sarah, sendirian. Tapi ia tidak bisa membiarkan Sherly menjadi korban dari perseteruannya dengan sang calon mantan.


“Aku akan menjagamu,” sumpah Farrel dalam hati.


.


.


.


***


Kemarin rencananya mau crazy up, tapi setelah dibaca lagi, ternyata banyak yang harus di revisi.


Sisa chapter untuk cerita ini mungkin ga banyak lagi, karena akan di sambung dengan cerita khusus tentang Sekar.


Slow update ya...


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.