KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 54.



Sherly memaksa tubuhnya untuk bergerak meninggalkan ruangan itu, ruangan yang sudah di penuhi bau amis akibat darah Aki. Beringsut sedikit demi sedikit dengan penuh kehati hatian agar tidak menimbulkan suara, menuju pintu belakang rumah.


Betapa bahagianya Sherly, saat melihat pintu belakang yang sudah terlihat di depan mata, dengan tubuh yang sudah mencabai ambang batas kekuatan dan luka di kepala, dia masih terus berusaha menggerakan tubuhnya meski sangat lambat.


Tinggal sedikit lagi Sherly mencapai garis pintu, tiba tiba dia merasakan pegangan erat yang menahan gerakannya. Tangan itu mencengkram kakinya dengan begitu erat sampai dia tidak bisa bergerak “Aaakhh…siapa kau?!”


“Tolong saya nona….tolong….”


Sherly menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas siapa yang sedang meminta pertolongan darinya “Kau…kau…” Sherly mengenali orang itu “Kau bukannya penjaga rumah ini?”


“I..iya nona. Tolong bantu saya keluar dari sini”


“Sayalah orang yang sedang butuh pertolongan”


“Tolong saya nona, kakiku terluka”


Sherly membutuhkan waktu sebentar untuk berpikir, sebenarnya dialah orang yang sedang membutuhkan pertolongan, tapi saat melihat orang lain membutuhkan dirinya seperti sekarang ini, hatinya tidak tega, dia juga tidak bisa menutup mata dan bersikap tidak peduli.


“Baiklah….ayo kita sama sama keluar dari sini”


Sherly menjulurkan tangannya untuk membantu laki laki penjaga rumah Aki, sambil menahan kepalanya yang terasa sangat sakit dan berdenyut, dia mengerahkan tenaga terakhirnya untuk bisa keluar dari rumah itu dengan selamat.


-


Setelah memastikan Aki tidak lagi bernyawa, makhluk halus itu menyeringai “Rasakan pembalasanku tua bangka! Karena kau telah berani menyerang istriku, inilah harga yang setimpal untukmu ha haa haaa”


Suami Serena melempar tubuh remuk tanpa nyawa ke udara, lalu membanting keras ke lantai rumah dengan kekuatannya yang dahsyat. Matanya langsung mengarah ke tubuh Sarah yang masih menggantung di udara, bergerak cepat untuk mengakhiri hidup musuhnya yang terakhir.


Tapi belum sempat suami Serena itu melaksanakan balas dendamnya pada Sarah, rumah Aki tiba tiba terbakar hebat dari arah depan rumah.


Dengan gerakan yang sangat cepat dan tiba tiba, ada seseorang yang datang untuk menyelamatkan Sarah, dan melempar makhluk astral itu kembali ke aparteman milik Serena.


Makhluk itu tidak menyerah, dia terbang kembali ke rumah Aki walau dia baru saja menerima serangan yang kekuatannya berbeda dari ilmu Aki. Dia bisa dengan mudah terlempar dari tempat itu dengan sekali pukulan, tentu kali ini dia tidak boleh meremehkan kekuatan lawannya yang telah mampu membuatnya mundur sesaat.


Saat makhluk itu sampai, rumah Aki sudah habis dilahap api sampai tidak meninggalkan satu pun tiang yang tersisa, material rumah yang hampir semuanya terbuat dari kayu, memudahkan jago merah menuntaskan tugasnya dengan baik.


“Kurang ajar! Siapa yang berani menganggu pekerjaanku?!” makhluk itu menggeram marah. Kegagalannya ini tentu akan membahayakan istrinya di kemudian hari.


Dia terus mencari cari musuh yang belum dikenal itu dengan kejengkelan, terbang mengitari rumah yang masih menyisakan asap hitam itu sampai beberapa kali.


“Tidak aja jejak sedikitpun, bahkan aku tidak bisa mencium baunya sama sekali. Hemm…. siapa dia?”


Subuh hampir menjelang, makhluk halus itu memutuskan menghentikan pencariannya dan kembali ke apartemen sang istri yang sudah cukup lama dia tinggalkan


---------------------------------------------


Serena memandangi dua wajah orang tersayangnya dengan perasaan terpuruk, menjadikan pahanya sendiri untuk menopang kepala Joni dan juga Zahra. Dua tangannya masing masing terulur untuk mengguncang tubuh yang belum bergerak sejak terluka tadi.


“Maaf hiks hiks…maafin Rena, gara gara Rena kalian jadi seperti ini hiks hiks. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat kalian kembali hiks, aku mohon bangunlah…bangunlah hiks.”


Setelah menangis cukup lama, tiba tiba Serena merasakan ada pergerakan dari tubuh Joni, bulu matanya mulai bergetar dan perlahan membuka bersama rintihan lirih dari mulutnya.


“Hiks Bang Jon….kau…hiks…kau sadar” Serena mengusap air matanya yang terus mengalir agar tidak menghalangi penglihatan, dia ingin memastikan kalau matanya tidaklah salah.


“Eehhm sshhht…..” erang Joni dengan rasa sakit yang menyiksa, tangannya merem*s dadanya sendiri.


“Rena…kau baik baik saja?”sangat pelan, tapi itulah kalimat pertama yang dia ucapkan ketika pertama kali membuka mata dan mulut. Bahkan disaat dia terluka, Serenalah yang tetap mendapat perhatian dari pria itu.


‘Iya” Serena mengangguk bahagia, tidak pernah dia merasakan kelegaan luar biasa. Serena meraih tangan Joni yang langsung mendapat sambutan yang tidak kalah antusias.


“Syukurlah” Joni menyunggingkan senyum, bisa melihat Serena baik baik saja saat ini adalah obat paling mujarab untuknya. Sebenarnya tubuhnya terasa remuk, tapi tatapan dari gadis di depannya ini membuatnya melupakan tubuh bahkan pikiran warasnya.


Serena membantu Joni untuk duduk dari posisinya yang terbaring di lantai dengan berbantalkan paha Serena, Joni mengikis jaraknya dengan Serena dan merengkuh tubuh yang bergetar karena tangisan itu ke dalam pelukannya.


“Zahra Bang Jon hiks hiks” cicit Serena dalam dekapan Joni


“Maaf Bang Jon”


“Tidak ada yang perlu dimaaafkan, tenanglah dan berhentilah menangis. Kita bawa Zahra ke rumah sakit”


Sebenarnya itu yang sedari tadi di pikirkan oleh Serena, menelpon bantuan dan mobil ambulance untuk membawa Zahra dan Joni ke rymah sakit. Tapi Juan melarang, suami astralnya itu menyuruhnya untuk tidak kemana mana. Jadi yang bisa dilakukannya hanyalah menangis dan menunggu.


“Apa kau bisa berjalan?” Serena bertanya penuh kekhawatiran pada Joni saat laki laki itu melepaskan pelukannya


Joni tersenyum” Tentu saja aku masih bisa berjalan, bahkan kalau mbak Rena minta saya gendong, saya sangat sanggup”


“Jangan bercanda Bang Jon” Serena sedikit sewot mendengar lelucon yang di ucapkan pria itu


“Saya serius mbak. Mau coba?” Joni merentangkan kedua tangannya dan mendekati Serena yang menatapnya dengan tajam.


“Joni!!” akhirnya Serena berteriak


Joni terkikik melihat reaksi yang ditampilkan oleh Serena, entah kenapa dia merasa sangat terhibur, pemandangan ini yang mampu membuatnya melupakan semua rasa sakit yang begitu mendera, dan juga sedikit memberikan Serena waktu untuk mengendorkan ketakutannya akibat kejadian yang baru saja mereka lewati.


Joni kembali memeluk tubuh Serena, dan gadis itu juga tidak menolak.


“Saya sangat bersyukur mbak Rena baik baik saja. Terima kasih” ucapnya


“Ayo bawa Zahra ke rumah sakit” Joni mengangguk “Dan kau juga perlu perawatan Bang Jon”


“Ah…sebenarnya saya sangat malas ke rumah sakit” keluh Joni


“Kenapa?” Serena mendongakkan kepalanya di depan dada Joni yang belum melepaskan dekapannya


Joni menurunkan pandangannya, menatap mata Serena yang berada di bawah dagunya “Apa mbak lupa? Baru beberapa minggu lalu saya keluar dari rumah sakit, dan sekarang harus balik lagi kesana. Ck bahkan baunya saja masih terasa menempel dihidung”


Mendengar keluhan Joni, membuat Serena menunduk. Sudah dua kali pria ini mengalami kejadian yang hampir membuat nyawanya melayang, dua kali juga laki laki itu mengorbankan tubuhnya untuk melindunginya dari bahaya.


“Maaf…”


Joni mengangkat dagu Serena dengan jari telunjukknya “Maaf untuk apa hem? Saya bahagia bisa menjadi orang yang berguna untukmu, dan akan lebih bahagia kalau bisa melihat senyumanmu, anggap saja itu sebagai imbalanku. Jadi…. bisakah kau melakukannya sekarang?”


“Apa?”


“Tersenyum”


Serena mengernyitkan dahinya, dia masih ingung dengan permintaan sang sopir setianya itu


“Aku memintamu untuk tersenyum, bukan memasang wajah bingung” protes Joni yang tak kunjung melihat senyuman yang diinginkannya


***


Maaf ya reader…kalau up nya telat


Tiga hari Si_Ro merasakan sakit, dari punggung sampai ujung jari tangan kanan


Pas begitu udah mendingan, langsung usaha melanjutkan cerita


Mungkin ada yang nanya, kenapa Sarah ngga mati?


Kalau Sarah mati sekarang, berarti ceritanya juga tamat sekarang.


Sedangkan Si_Ro belum mau menjadikan puncak konflik ini sebagai akhir cerita


Komen ya


Buat yang mau cerita ini cepet berakhir, bisa Si_Ro pertimbangkan.