KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 122


Seorang pria sangar bertubuh besar, berjalan cepat sambil membawa map berwarna coklat yang dia genggam dengan sangat erat. Keringat yang mengucur dari dahinya bukan hanya karena rasa lelah , tapi lebih kepada rasa takut. Dia sudah membayangkan, akan seperti apa reaksi sang bos, saat membaca informasi yang dia bawa.


Tok tok tok


“Se-selamat pagi bos,” sapanya sopan. Kakinya langsung melangkah masuk ke ruangan, setelah mendengar suara dari dalam. Menunduk sebentar, lalu mendekat untuk mengulurkan amplop.


“Ini bukan pagi, tapi sudah siang. Apa yang kau bawa itu?”


“Maaf Bos,” ucapnya takut.


“Maaf untuk apa?”


“Salah satu anak buah saya baru menginfokan kalau…”


“Kalau apa? Bicara yang jelas!”


“Wanita yang Bos perintahkan untuk kami awasi, tadi pagi mengambil penerbangan ke Korea Selatan, Bos.”


“APA!!?”


Sang Bos yang tadi masih duduk tenang di kursi kebesarannya, kini telah bangkit. Bangkit bersama emosi yang tidak mau dia sembunyikan sama sekali. Tangannya dengan cepat meraih amplop yang ada di atas meja, dan membukanya.


Mata itu langsung membelalak lebar, diselimuti warna merah dan juga nafas yang memburu. Beberapa lembar foto yang baru dia buka, berhasil mengalihkan segala konsentrasinya. Wanita cantik yang sedang dia kejar, bergandengan tangan dengan laki-laki siangannya.


“Brengs*k!”


Orang kepercayaannya yang sedari tadi diam, sekarang makin diam dan terus menunduk takut.


“Sebenarnya apa saja yang kalian kerjakan, hah?! Kenapa informasi sepenting ini, bisa terlambat sampai ke tanganku?!”


“Maaf,Bos. Kami bahkan hampir tidak bisa membawakan informasi ini, karena banyak terjadi hal aneh yang kami alami sebelumnya, bos.”


“Apa maksudmu?”


“Seharusnya ada banyak foto yang bisa kami berikan pada anda, Bos. Tapi entah kenapa, dari sekian banyak itu, yang bisa tercetak hanya beberapa saja. Hampir semuanya blur atau malah kosong.”


Mendengar penjelasan dari anak buahnya, sang Bos pun hanya diam. Sepertinya dia tahu siapa yang bisa dengan mudah menghalangi anak buahnya mengerjakan tugas yang dia berikan.


“Baiklah. Kali ini akan aku maafkan. Sekarang pergilah,” perintahnya tanpa menoleh.


“Permisi, bos.”


Saat tangannya hampir meraih gagang pintu, tiba-tiba bunyi notifikasi dari pesan masuk berbunyi. Dia berhenti sejenak, karena penasaran dengan pesan yang baru saja dia terima.


“Mmm… ada satu lagi, bos…”


“Apalagi?”


“Ini, bos.”


Orang kepercayaan itu, menunjukkan foto yang ada di dalam handphone pribadinya. Senyum samar menghiasi bibir sang majikan.


“Ok, aku sudah tahu. Pergilah!”


“Permisi, Bos.”


-


“Ada apa?” suara malas Sarah menyapa seseorang yang menelponnya.


“Apa kau tidak merindukanku, sayang? Dan ada apa dengan suaramu?”


“Tidak! Dan kau perlu ikut campur. Cepat katakan, apa maumu?”


“Ck! Baiklah. Dengarkan baik-baik. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya lebih dulu.”


“Kenapa kau sangat berbelit-belit, langsung saja ke intinya. Apa kau sangat tidak punya pekerjaan?” jawab Sarah sinis.


“Ternyata kau sangat tidak suka pemanasan ya? Tapi baiklah, dengan begini aku jadi tahu satu lagi kebiasaanmu. Dan aku akan mengingatnya, saat kita melakukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi… apa kau masih menginginkan laki-laki itu? Maksudku… mantan suamimu?”


“Perlu aku ingatkan, dia belum jadi mantan suamiku! Dan aku tidak akan membiarkan dia menceraikanku begitu saja!”


Terdengar suara tawa mencemooh dari ujung saluran. Perlu beberapa menit untuk bisa menetralkan suara, sebelum melanjutkan perkataannya. Dan Sarah hampir saja menutup sambungan secara sepihak, karena kesal menunggu juga dengan suara tawa yang sedang mengejeknya.


“Baiklah baiklah. Terserah kau akan menyebutnya sebagai apa. Tapi aku yakin, kalau kau ketinggalan berita terbaru tentang laki-laki itu. Benarkan?”


“Berita terbaru? Berita terbaru apa?” saut Sarah cepat. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya, setelah sang lawan bicara menyinggung soal Farrel.


“Anak buahku melihatnya di bandara tadi pagi,” ucapnya memancing reaksi Sarah.


“Apa?! Bandara?”


“Benar. Apa kau sudah tahu?”


“Belum. Aku belum tahu. Untuk apa dia ada di bandara?” tanya Sarah.


“Ck! Kau harus memberi bayaran untuk informasi penting seperti itu.”


Sarah tahu dengan jelas, bayaran apa yang diinginkan oleh orang yang sedang menelponnya. Sudah lama pria itu menginginkannya, tapi Sarah selalu punya cara untuk menghindar. Tapi untuk Farrel, dia akan melakukan apa saja. Toh dia juga sudah pernah melakukannya, bukan sekali atau dua kali. Membayar dengan kenikmatan tubuh, untuk mendapatkan apa pun yang dia mau.


“Baiklah. Jadi dimana kau ingin bertemu? Tapi aku tidak mau, kalau harus bertemu di rumahmu.”


“Bagaimana kalau di apartemenmu saja? Aku juga tidak mau, kalau salah satu istriku mengganggu kesenangan kita, nanti.”


“Baiklah, aku tunggu. Tapi ingat! Bawa semua informasi yang kau punya. Bawa semuanya dan selengkap-lengkapnya, tentang Farrel.”


“Itu hal mudah, cantik. Sekarang… sebaiknya kau bersiap untuk menyambut kedatanganku. Karena malam ini, aku tidak akan membiarkanmu tertidur barang sedetik pun.”


-


Sebelumnya…


Joni sudah memasukkan semua barang bawaan ke dalam bagasi mobil. Adit bahkan datang dari pagi, karena dialah yang akan mengantarkan calon kakak dan kakak iparnya ke bandara.


“Bu… Rena pergi dulu ya. Tolong jaga Sekar,” pamit Serena pada Maya.


“Iya, kamu tenang aja. Ibu akan menjaga Sekar dengan baik. Kamu ngga perlu khawatir berlebihan. Bersenang-senanglah, dan jangan lupa oleh-olehnya.”


“Papa… pulangnya bawa adik, ya!” bisik Sekar. Tubuh mungilnya memeluk erat, dengan kedua tangan yang melingkari leher Joni.


“Papa akan berusaha, dan Sekar juga harus bantu papa dengan banyak berdo’a.”


Sekar melepas pelukan, dan mengangguk ke arah Joni. Tangannya kini mengusap pipi Joni dengan lembut,”papa jangan khawatir, karena Sekar akan baik-baik saja.”


Joni memeluk tubuh Sekar, sekali lagi. Dia langsung merasa tenang, Saat sang putri tersenyum dengan wajah cerahnya. Sekar benar-benar tahu, apa yang membuat dirinya dan juga Serena, berat untuk pergi.


“Cuma papa aja nih yang dipeluk?” suara Serena, memprotes.


Sekar dan Joni menoleh bersamaan. Tersenyum geli, karena wajah cemberut Serena yang terlihat lucu. Sekar beralih tempat ke dalam pelukan Serena, sementara Joni menyalimi tangan Maya dan Bi Sari.


“Joni pergi dulu ya, Bu.”


“Iya. Hati-hati disana,” jawab Maya.


“Banyak minum jamu ya!” ucap Bi Sari.


“Buat apa, Bi?” tanya Joni bingung.


“Biar kuat. Biar nanti pas pulang, bisa bawa adik buat Sekar.”


“Mana bisa, Bi. Perlu 9 bulan sebelum seorang bayi lahir. Kalau pulang harus bawa bayi, berarti aku sama Rena harus pergi berapa lama?”


Begitu mendengar ucapan Joni, tangan Bi Sari pun segera melayang, membuat Pria itu mengusap pelan bekas tepakan yang mengenai kepalanya.


“Kamu itu ya, maksudnya bukan begitu!” Bi Sari gemas, karena memiliki keponakan yang selalu tidak mengerti dengan ucapannya.


“Iya, Bi. Joni udah ngerti, ngga perlu diajarin. He he…”


“Dasar anak nakal!”


Joni memeluk Bi Sari dengan penuh kasih sayang. Entah sudah berapa banyak ucapan syukur yang mengalir dalam hatinya, karena memiliki wanita itu sebagai sandaran hidup. Dari kecil, hanya Bi Sarilah yang sangat sayang padanya. Wanita tua itu juga sudah dianggap ibu oleh Joni.


“Jaga Mbak Rena dengan baik!” titah Bi Sari pada Joni.


“Iya bibiku sayang. Joni akan menjaga Rena dengan baik. Joni juga minta tolong… jaga Sekar selama kami pergi.”


“Bibi udah ngerti. Ngga perlu diajari,” Bi Sari mengulang ucapan Joni.


-


Adit sudah mengantarkan Serena dan Joni ke bandara, dengan selamat. Sebelum meninggalkan pasangan yang akan pergi bulan madu itu, Adit mendapatkan rentetan tugas yang sangat banyak. Tentu, yang paling utama adalah untuk menjaga Sekar.


“Mas… bukankah itu Sherly dan Adit?” Serena menunjuk sepasang kekasih yang duduk tidak jauh dari mereka. Sambil menunggu jam keberangkatan, Joni dan Serena duduk di kursi yang tersedia untuk para calon penumpang.


“Iya, benar.”


“Mereka mau kemana ya, mas?” tanya Serena. Jelas Joni hanya bisa menggelengkan kepala.


Karena rasa penasaran, akhirnya Serena menghampiri Farrel yang sedang asyik menggoda Sherly.


Khem khem


“Kalian… disini juga?”


Sherly dan Farrel menoleh. Mereka sama-sama terkejut, mendapati Serena yang berdiri dan menatap penuh tanda tanya.


“Say… eh Serena,” Farrel hampir saja salah sebut. Sepertinya mulut pria itu belum bisa berubah seratus persen, dan masih terbiasa dengan panggilan ‘sayang’ untuk Serena.


Joni menyusul, dan tangannya langsung melingkari pinggang Serena dengan sikap posesif. Menunjukkan rasa tidak suka dengan panggilan Farrel pada istrinya.


“Kalian mau kemana atau… darimana?” tanya Serena pada Sherly.


“Kami akan pergi bulan madu,” ucap Farrel yang juga melingkarkan tangannya di pinggang Sherly. Seolah sedang membuktikan kalau dia tidak lagi tertarik pada Serena yang sudah menjadi istri orang.


“Bulan madu? Kalian sudah menikah? Kapan? Dan kenapa tidak mengundangku?” cecar Serena dengan wajah kecewa.


“Be-belum Serena. Kami belum menikah. Ini hanya ide konyol Farrel saja.”


Sherly menggoyang-goyangkan kedua tangannya sebagai tanda penolakan.


“Iya juga ngga apa-apa kali Sher. Aku malah seneng, kalau kalian beneran menikah. Tapi aku akan marah, kalau kalian tidak mengundangku di acara pernikahan kalian.”


“Untuk undangan… secepatnya akan diantar,” lagi-lagi Farrel yang menjawab. Sherly hanya bisa menunduk malu mendengar kata-kata Farrel. Dia bahagia melihat kesungguhan sang kekasih yang ingin segera meresmikan hubungan mereka berdua.


“Kalian sendiri, mau kemana?” Sherly bertanya dengan penuh antusias.


“Kami akan berbulan madu ke korea,” jawab Joni.


“Kalian akan ke korea? Kenapa bisa kebetulan banget ya. Kami juga akan ke korea,” Farrel menjawab sambil menarik salah satu tangan Sherly, lalu mengecupnya.


Baik Joni ataupun Farrel, sama-sama tahu kalau Korea adalah negara yang paling ingin disambangi oleh Sherly dan Serena saat baru merintis karir di dunia model. Itulah alasan kenapa dua pria itu membawa wanita kesayangan mereka ke negara yang terkenal dengan ginsengnya.


“Benarkah?” ucap Serena.


“Kalau begitu… kami akan mengundang kalian untuk double date begitu sampai di sana. Bagaimana?” kata Farrel dengan menatap mata Sherly, meminta persetujuan.


“Setuju!” jawab kompak Sherly dan Serena.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.