KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 24.



“DIAM!!”


Zahra terlonjak kaget dengan suara yang begitu memekikkan telinga dan langsung menghentikan kegiatannya.


Penasaran dengan suara yang dianggap telah mengganggu, Zahra memberanikan diri untuk mencari dari mana sumbernya. Mempertajam pendengaran dan juga memberanikan diri.


“BERHENTI! Mau ngapain lo!”


Zarha kembali terkaget dengan suara bentakan. Tapi kali ini, suaranya berbeda dengan suara bentakan yang pertama. Zahra kenal dengan suara itu. Suara bentakan kakaknya.


Tinggal satu senti lagi Zahra menyentuh knop pintu kamar khusus, tapi Serena keburu menarik tangannya untuk menjauh. Sumber suara yang didengarnya berasal dari kamar yang disebut sebagai gudang oleh Serena.


Entah sejak kapan kakaknya itu terbangun dari tidur, yang jelas saat ini Serena terlihat sangat marah.


“Sakit mbak” Zahra meringis kesakitan, karena Serena menggenggam tangannya terlalu kuat. Dia bingung dengan reaksi kakaknya yang terlalu berlebihan.


“Mau ngapain lo ke kamar itu? Gue kan udah bilang sama lo, kalau kamar itu gudang, kotor” Serena memarahi adiknya setelah membawanya untuk duduk di sofa ruang tamu.


“Tadi aku denger ada suara mbak”


“Suara apa?! gue udah lama ya tinggal disini, tapi ngga pernah tuh denger suara apa apa” kilahnya


“Zahra juga ngga tahu mbak. Tadi Zahra lagi ngaji, terus tiba tiba ada yang ngebentak Zahra. Dan suaranya berasal dari kamar itu”


“Ngaji?” Tanya Serena


Zahra mengangguk dengan menunjukkan sajadah yang masih berada dilantai tempatnya beribadah tadi.


Serena hanya diam. Dia tahu benar, kalau saat ini adiknya sedang diliputi rasa penasaran. Rasa penasaran yang mungkin saja akan menimbulkan masalah untuknya nanti.


“Ya udahlah…biarin aja. Lagian kita semua juga tahu, kalau manusia tinggal di dunia ini memang tidak sendiri. Ada makhluk makhluk lain yang tak terlihat berada disekitar kita. Lo pasti lebih paham dari gue” Serena sejenak menghentikan perkatannya untuk melihat reaksi sang adik.


Saat Zahra hanya mengangguk anggukkan kepalanya, sebagai tanda memahami maksud dari semua perkatannya, Serena meneruskannya. Berharap bisa menghilangkan rasa penasaran Zahra.


“Waktu mbak mulai tinggal disini, atau selama tinggal disini, mbak pernah diganggu ngga?” Tanyanya


“Diganggu apa?” Serena balik bertanya


“Ya…apa kek gitu. Bunyi pintu yang terbuka tutup sendiri, kelereng yang dibanting berulang ulang atau…. suara suara aneh yang lain. Kayak Zahra tadi”


“Nggak” jawab Serena singkat tanpa melihat kearah Zahra


“Zahra boleh ngadain pengajian disini ngga mbak? Bareng temen temen Zahra.”


“Nggak”


“Kenapa? Ngga sekarang kok mbak. Kamis malam jum’at besok. Boleh ya…ya…ya…” rengek Zahra


“Ngga bisa Zahra. Gue lagi banyak kerjaan, dan malam jum’at besok gue masih sibuk” Serena beralasan


“Biar Zahra yang urus semua. Mbak ngga harus repot repot”


“Ngga bisa!”


“Kenapa sih mbak?” Zahra tertunduk lesu


Serena masih diam. Tidak tahu lagi harus menjawab apa untuk membuat adiknya itu mengurungkan niatnya. Sebenarnya niat adiknya itu bagus. Tapi bukan pengajiannya yang jadi masalah buat Serena. Yang jadi masalah adalah, akan seperti apa reaksi suaminya yang berada dikamar khusus itu. Hanya dengan seorang Zahra saja, makhluk itu membentak karena terusik. Apalagi dengan kedatangan teman teman Zahra yang lainnya.


Serena tidak mau membuat adiknya kecewa apalagi menangis karena pertengkaran sepele yang terjadi antara mereka.


***


Bakalan ngamuk ngga tuh ya suaminya Serena?