KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 59.



“Mama ngga lupa kan apa tujuan kita?”


“Iya mama inget, inget banget. Mama ngga nyangka kalau kita bakal gagal lagi kali ini, dan mama lebih ngga nyangka lagi kalau ada banyak orang yang masih mau melindungi keluarga itu.”


“Tenang aja mah, semuanya pasti akan berjalan sesuai dengan keinginan mama. Kita juga harus ganti strategi untuk bisa menyempunakan rencana yang udah lama kita rancang.”


“Iya mama tahu, mama akan bantu kamu sebisa mama. Ya udah kamu makan dulu, sayang kan udah pesen banyak tapi ngga dimakan, mahal lagi.”


“Mama juga makan yang banyak, kita butuh tenaga banyak untuk semua ini. Adit ngga mau mama sakit, sebelum melihat keberhasilan usaha kita”


Keduanya tersenyum dan melanjutkan acara makan makan sambil membangun rencana licik.


“Oh ya Dit, kamu ngga lupa kan kirim uang untuk kakek tua itu? Jangan sampai telat ya, atau dia malah bikin kita repot nantinya”


“Udah ma, santai aja. Laki laki tua bangka itu pasti diam dan dia akan mau melakukan apapun demi uang, dan Adit punya itu. Semua yang udah Adit keluarkan, sepadan dengan apa yang akan kita dapat nantinya.


--------------------------------------------


“Kok mbak Rena bisa ketemu Adit sama mamanya disini?”


Saat ini Joni dan Serena berada di dalam lift untuk menuju kamar perawatan Zahra. Pria itu sudah tidak kuat menanggung rasa penasaran, sejak kembali ke rumah sakit dari club milik Juan, Joni mencari cari Serena kemana mana.


Karena tidak bisa menemukan Serena, Joni yang akhirnya mengurusi semua keperluan administrasi untuk kepindahan Zahra dari ruang gawat darurat ke kamar rawat inap. Pria itu bertambah bingung dengan Zahra yang langsung menanyakan kakaknya sejak membuka mata.


Butuh waktu lama Joni mencari cari Serena yang akhirnya ditemukan di kafe depan rumah sakit, setelah dia berkeliling kantin dan juga sekitar lobby yang lumayan luas. Dia sangat merasa kecolongan begitu melihat Serena duduk nyaman dengan laki laki dan seorang ibu yang sangat tidak diharapkan kehadirannya. Joni begitu mengkhawatirkan keselamatan gadis itu, apalagi sekarang hanya ada dirinya sendiri. Juan sudah menyerahkan tanggung jawabnya untuk melindungi Serena sementara waktu.


“Tadi ngga sengaja ketemu, terus diajak makan”


“Oh…terus kenapa mereka ada disini juga mbak? Apa ada yang sakit?”


Sejenak Serena menatap Joni, bukan tidak suka dengan pertanyaannya yang terdengar sedang mengintrogasi, tapi dia baru ingat dengan alasan Adit dan ibunya berada di rumah sakit ini. Serena tidak tahu kenapa, tapi kejadian ini benar benar mengusik ketentraman hatinya.


“Kenapa mbak?” Tanya Joni penasaran


“Ah ngga apa apa Jon, Rena cuma agak bingung.”


“Bingung karena apa?”


“Adit bilang, dia baru menolong Sarah yang terluka parah. Tapi kenapa Adit yang harus repot repot ngurusin Sarah? Kenapa bukan Farrel yang jelas jelas berstatus sebagai suaminya? Apa mereka punya hubungan?” Serena bersedekap dan bersandar di salah satu sisi dalam lift.


“Sarah?” ulang Joni


“Iya.” Serena menganggukkan kepalanya ringan “Adit bilangnya sih gitu, Sarah terluka parah terus dia yang bawa sarah juga ke rumah sakit ini”


“Emm…mbak nggak lagi cemburu kan?” Tanya Joni sedikit takut menunggu reaksi Serena sambil menggaruk kepala.


“Hah! Cemburu? Sama siapa? Adit?” Serena tidak menyangka akan mendapat pertanyaan konyol dari sopirnya “Ck ck ck Rena ngga punya perasaan apa apa sama Adit bang Jon, dari dulu sampai sekarang”


“Dari dulu?”


“Iya dari dulu. Dari dulu Rena tahu kalau Adit udah mulai suka sama Rena, tapi Rena ngga punya perasaan apa apa, jadi….ya Rena bersikap biasa aja. Dulu waktu masih di sma, Rena sering banget main ke rumah Adit, tapi ngga sendirian, bareng temen temen yang lain, itupun cuma karena mau ngerjain pr atau tugas kelompok. Sampai pada akhirnya Adit menyatakan perasaannya juga sama Rena”


“Terus? Diterima?”


“Kan tadi Rena udah bilang, kalau Rena ngga punya perasaan apa apa sama Adit, gimana mau diterima”


“Jangan jangan Adit masih punya perasaan buat mbak Rena sampai sekarang” ucap Joni lesu.


“Bisa jadi, tapi…….entahlah” Serena mengangkat kedua bahunya dengan sikap tidak peduli.


Suara lift berdenting, menandakan kalau lift itu sudah sampai tujuan yang diinginkan penggunanya. Serena dan Joni langsung keluar dari dalam lift yang sepi dan langsung melangkah menuju kamar, dimana ada Zahra yang sudah menunggunya.


Tiba tiba


Sebuah pelukan hangat menghentikan langkah Serena, dua tangan kokoh yang menjulur tanpa diduga menariknya ke belakang dan memenjara tubuhnya untuk mengadu punggung dan dada.


“Syukurlah kau baik baik saja sayang” Helaan nafas lega dari seorang laki laki terdengar tepat di belakang telinganya, Serena mengenali suara itu.


“Farrel” gumam Serena.


“Aku hampir mati ketakutan denger kamu masuk rumah sakit”


Serena masih diam tak berkutik, dia bukan menikmati pelukan dari laki laki yang pernah menjalin hubungan spesial dengannya, tapi malah lebih kepada syok. Pria ini selalu bersikap seenaknya dan juga benar benar tidak tahu tempat.


Serena mencoba melepaskan diri dari pelukan erat Farrel, tapi sepertinya itu sia sia saja, Farrel malah tambah mengeratkan pelukannya di berangi dengan mengendus ngendus leher Serena yang seolah sedang menikmati wangi gadis itu.


Beruntung Joni dengan sigap membantu Serena, pria itu menarik tangan Farrel dangan tangan kiri dan menggunakan tangan kanannya menarik tubuh Serena yang langsung menubruk dadanya.


“Jangan kurang ajar, ini rumah sakit” desisnya dengan menunjukkan kegarangan.


Farrel melangkah maju dan ingin menjangkau Serena, dia belum puas memeluk gadis kesayangannya itu yang ditarik paksa oleh Joni. Tapi langkah Farrel tentu mendapat halangan dari Joni yang memasang badan untuk melindungi Serena di belakang tubuhnya.


Mendapat perlawanan, Farrel menatap Joni tajam. “Minggir lo! Gue mau ngomong sama Serena!”


“Kalau mau ngomong, ya ngomong aja. Ngga harus peluk pelukan kan” Joni menjawab dengan nada sinis.


“Apa hak lo nglarang gue ngomong sama Serena hah !?”


“Dan apa hak lo meluk meluk Serena seenaknya?”


“Gue pacarnya! Calon suaminya!” ucap Farrel sedikit berteriak.


“Pacar? Sejak kapan? Lu lupa, kalau lo udah punya istri? Dan istri lo juga lagi di rawat di rumah sakit ini” rentetan ucapan Joni mencela.


“Gue ngga peduli sama perempuan itu?” desis Farrel menahan kemarahannya yang hampir meledak.


“Lo mungkin ngga peduli, tapi jelas tidak buat Serena. Apa dia setuju jadi pacar lo? Atau itu cuma karangan lo aja?” Joni terus membantah klaim Farrel pada Serena.


Kejadian selanjutnya adalah kejadian yang hampir sama dengan yang pernah terjadi antara Juan dan Farrel di depan rumah yang baru dibangun untuk Serena, saling dorong dan adu dada antar sesama lelaki, sampai datang keamanan yang melerai keduanya.


Farrel harus mengalah dan akhirnya terusir, karena dia tidak punya sanak saudara yang ingin dikunjungi. Walaupun ada sang istri diantara para pasien di rumah sakit ini, tapi Farrel sama sekali tidak ingin mengakui statusnya itu pada siapapun.


Zahra menyambut bahagia kedatangan Serena dan Joni, dia bersusah payah untuk bangkit dan duduk di ranjang brangkar karena ingin memeluk tubuh sang kakak.


.


.


.


***


Si_Ro juga pengen tuh, bab yang baru di up langsung lolos review


Karena Si_Ro juga membaca novel lain dan ngrasain apa yang reader rasain, yaitu rasa gregetan pengen cepet baca up cerita yang disukai.