KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 72



Yuli masuk ke dalam kamar tempatnya menyekap Serena. Para bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Serena langsung membungkuk memberi hormat pada majikannya itu.


“Bawa calon menantu saya itu,” perintah Yuli.


Dua orang penjaga mendekati Serena, gadis itu memundurkan langkah dan malah bersembunyi di belakang tubuh Miki.


“Maafkan kami Nona…” ucap salah satu penjaga.


“Menurutlah, dan kami tidak akan berlaku kasar padamu.”


Yuli memimpin jalan dengan pengawalan ketat yang mengikutinya dari belakang, menggiring Serena untuk keluar dari kamar. Mata Serena menatap Miki yang berdiri dengan wajah sendu. Terlihat sekali kalau sahabatnya itu merasa sangat menyesal karena tidak bisa membantunya.


“SERENAAA…” kembali terdengar suara teriakan dari Joni.


“Ck ck ck… dasar orang kampung! Teriak teriak di rumah orang, sangat tidak sopan,” cibir Yuli pada Joni.


“Apa menculik seorang gadis itu adalah perbuatan yang sopan, nyonya?” balas Joni.


“Siapa yang menculik hah! Dia itu calon menantu saya!” geram Yuli.


“Heh! Apa dia setuju jadi menantu psikopat sepertimu?”


“KURANG AJAR! Tangkap dia!” perinyah Yuli pada penjaga yang masih tersisa.


Baku hantam kembali terjadi di depan mata Serena. Joni melakukan perlawanan sambil terus bergerak mendekati Serena yang berdiri kaku di ujung tangga.


“Jonii…” gumam Serena, setiap kali Joni mendapat pukulan dari lawan. Sudah tak terhitung berapa banyak air mata yang sudah menetes di pipi dan merusak hasil polesan Miki di wajahnya.


“Loh sayang, kenapa kamu nangis? Make up kamu kan jadi rusak. Mama tahu kamu sangat bahagia, tapi sabar sedikit lagi ya. Pak penghulunya udah dateng kok, dan sebentar lagi Adit akan di bawa turun untuk melakukan ijab kabul. Setelah itu kalian akan resmi jadi suami istri dan kamu juga resmi jadi menantu mama,” ucap Yuli.


“Lepasin Joni tante, Rena mohon…” tangis Serena pecah.


“Mama sayang, mama! Kamu menantu saya, jadi kamu harus panggil saya dengan sebutan mama. Lagian, ngapain sih kamu nangisin orang itu? Dia kan cuma seorang sopir, sayang…”


“Mah… lepasin Joni, Serena janji akan melakukan apapun keinginan mama, asal mama mau melepaskan Joni hiks hiks.”


Seren sudah tidak tahan lagi melihat Joni mendapat banyak pukulan di sekujur tubuhnya. Hatinya terasa perih dan seakan bisa ikut merasakan rasa sakit yang sedang dialami oleh Joni. Ternyata pengawal yang ada di dalam rumah jumlahnya lebih banyak dan kali ini lawan Joni bertambah dua kali lipat.


Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Joni akhirnya bisa mengalahkan semua penjaga yang menjadi lawannya bertarung tadi. Dengan sisa tenaga dan langkah tertatih, dia berjalan mendekati Serena. Begitu dia bisa mengikis jarak, tangannya langsung meraih tubuh gadis yang sangat dirindukannya itu.


“Joniii…”


Serena berulang kali menyebutkan nama laki laki yang kini sedang memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Dia bahkan bisa mendengar dengan jelas, detak jantung Joni yang berpacu kencang di dalam dekapan hangatnya.


Tangan Joni secara teratur mengelus lembut punggung Serena, mencoba memberikan kenyamanan dan ketenangan. Tubuh gadis itu masih bergetar sejak dia berhasil menariknya ke dalam pelukan.


“Saya disini mbak, Jonimu ada disini.”


Serena mengangguk dalam isakannya. Nafas lega terdengar dari kedua makhluk yang saling berpelukan, tidak lagi memedulikan keadaan di sekelilingnya.


Berbeda dengan Yuli yang menatap tajam pada Serena dan Joni, Adit malah terlihat menyunggingkan senyum dari tempatnya berdiri di lantai atas.


“Syukurlah…” ucapnya lirih.


Tapi sayangnya senyumnya tidak bertahan lama, Adit melihat pergerakan Yuli yang berjalan mendekat brangkas yang ada di belakang tangga. Dia tahu kalau itu adalah tempat mamanya menyimpan barang barang berharganya termasuk senjata api ilegal.


Adit pernah mengintip isi dari brangkas milik mamanya, dan tanpa sengaja matanya melihat senjata api yang tersimpan rapi di bagian tengah. Entah dari mana Yuli mendapatkan barang itu, yang jelas sekarang Adit mulai berkeringat dingin karena ketakutan.


Yuli tipe orang yang sangat nekat, dan Adit sangat tahu itu. Terbukti dari hilangnya Serena, yang ternyata hasil perbuatan sang mama.


“JONI! Bawa Serena pergi dari sini secepatnya!” teriak Adit sambil berlari ke bawah.


.


.


.


***


2