KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 70



Baru saja Adit menginjakkan kakinya di halaman rumah yang lumayan besar dan terlihat mewah, dua orang laki laki bertubuh tegap langsung menghampiri dirinya, menyambut dan membungkuk hormat pada Adit yang malah tidak peduli.


“Selamat datang Tuan Adit,” ucap dua orang itu.


“Siapa kalian? Dimana mamaku?”


“Silahkan masuk Tuan, nyonya sudah menunggu anda di dalam.”


Kedua pria itu menggiring Adit untuk masuk ke dalam rumah, ada rasa tidak asing menjalari hatinya ketika kakinya melangkah semakin dalam.


“Apa gue pernah kesini? Kenapa rasanya sangat familiar?” gumam Adit.


Bukan hanya rasa akrab dengan rumah itu yang membuatnya bertanya tanya, tapi juga dengan suasana yang tercipta di rumah itu. Namun ada yang aneh dimata Adit, tatkala ada banyak orang yang terlihat sibuk berlalu lalang tepat di depan matanya.


Rumah itu sedang berhias, menandakan sang pemilik rumah akan segera menggelar acara besar dan pastinya megah. Terbukti dari semua hiasan yang dipasang di beberapa bagian dalam rumah dan juga banyaknya bunga bunga indah di hampir setiap sudut.


Tapi bukan itu keingin tahuan Adit datang ke rumah itu. Adit menerima pesan dari mamanya untuk segera datang, memberinya alamat tempat pertemuan. Awalnya Adit tidak mau mengikuti keinginan Yuli, tapi dengan iming iming akan memberinya kabar tentang Serena, Adit akhirnya tertarik. Dan disinilah dia berada.


Adit terus digiring untuk naik ke lantai atas bagian rumah itu. Tidak kalah dari bagian bawah, lantai atas malah dihias dengan barang barang yang lebih terlihat mahal.


Dari jauh, Adit bisa melihat Yuli yang sedang sibuk mengatur para pegawai yang ditugaskan untuk menghias rumah itu, saking sibuknya mamanya Adit, wanita itu bahkan tidak mengetahui kalau sang putra sudah berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.


“Jangan ada kekurangan apapun, kalian mengerti!?” Adit bisa mendengar perintah Yuli pada pegawainya.


Yuli langsung mengikuti arah pandangan anak buahnya yang menatap ke belakang tubuhnya. Senyumnya terbit seketika pada sosok yang mulai bergerak mendekat.


“Mah….” belum sempat Adit menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk Yuli sudah lebih dulu berdiri tegak di depan bibirnya. Memberi perintah untuk diam pada sang putra.


“Bawa anak saya ke kamarnya dan selesaikan tugas kalian secepat mungkin. Waktu kita tidak banyak,” perintahnya pada pria gemulai yang baru saja datang bersama rombongannya.


“Baik Nyonya,” jawab ketua rombongan.


Sekali lagi, Adit harus digiring ketat bagaikan seorang tahanan yang dikhawatirkan akan kabur.


“Mah! Adit mau diapain mah?” teriak Adit pada Yuli yang kembali pada kesibukannya mengatur para pegawainya.


“Kamu ngga perlu melakukan apapun, cukup ikuti perintah mama,”


“Tapi mah….”


“Ngga ada tapi tapian Dit, mama ngga mau dibantah.”


Pasrah. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh Adit saat ini. Dua orang laki laki bertubuh besar yang sedari tadi mengikutinya, ternyata adalah bodyguard sang mama yang kini ditugaskan untuk terus mengawasinya.


Adit sudah dibawa dan masuk ke dalam kamar yang sepertinya memang sengaja disiapkan untuknya. Di dalam kamar itu, Adit bisa melihat baju mahal yang dari bentuknya saja bisa diyakini sebagai baju untuk calon pengantin.


Ketua rombongan perias yang diperintahkan untuk mendandani Adit sudah mulai menggelar alat alat kerjanya di meja rias. Alat alat yang sama sekali tidak di kenal oleh Adit itu, sudah berjejer rapi dengan segala bentuknya.


“Silahkan duduk tuan ganteng… ngga usah takut, eike ngga nggigit kok, tenang… santai… ok cin,” ucapnya ceria disertai gerakan gemulai.


Adit mengerutkan keningnya ketika memperhatikan wajah manusia setengah pria yang berdiri di hadapannya. Adit berusaha menggali ingatan yang mungkin terselip diantara memori tentang Serena.


Adit duduk di kursi yang di tunjuk untuknya, hatinya benar benar kacau memikirkan keberadaan Serena yang belum dia ketahui sampai sekarang, ditambah lagi dengan kelakuan mamanya hari ini.


“Iiih… mas ganteng jangan tegang gitu dong ah mukanya, mau nikah kok kaku banget sih. Nanti calon istrinya kabur loh…” canda sang perias.


“APA!! Tubuh Adit menegang seketika. Ucapan dari sang perias yang tepat berada di depan matanya ini langsung membuatnya hilang kendali.


Sedangkan orang yang ditatap oleh Adit bergerak mundur takut. Candaan yang biasanya sukses menghibur para pelanggannya, malah berakibat sebaliknya pada Adit.


Adit sudah berdiri dari duduknya, berjalan mengarah ke pintu kamar dengan langkah panjang, namun sayangnya itu tidak berhasil. Bodyguard yang di beri tugas menggiringnya tadi, menahan tubuhnya untuk tidak bergerak dan kembali menarik tubuhnya untuk menduduki kursi yang sama seperti tadi.


“Lepasin gue brengs*k!!” bentak Adit.


“Lepasin gue! Gue ngga mau nikah! Gue mau keluar! Gue mau nyari cewek gue! Lepasin !”


“Maafkan kami Tuan Adit, kami hanya manjalankan perintah nyonya,” ucap salah satu dari bodyguard itu.


“Berapa bayaran kalian hah!? Gue bisa bayar dua kali lipat, kalau kalian nglepasin gue sekarang,” tawar Adit.


Empat orang bodyguard itu saling beradu pandang, seolah sedang menyerahkan tugas untuk menjawab ucapan Adit. Biar bagaimanapun Adit adalah anak majikan mereka, yang sudah pasti tidak kekurangan uang.


Melihat gelagat ragu ragu dari keempat orang itu, Adit mengerti kalau dia punya celah untuk bernegosiasi.


“Berapapun bayaran yang kalian minta, akan gue kasih. Tapi lepasin gue sekarang juga.”


Sekali lagi Adit memberi tawaran yang sangat menggiurkan, berharap para bodyguard itu akan menuruti keinginannya dan mau memberinya kebebasan.


“Maafkan kami Tuan Adit, kami tidak bisa”


Pada akhirnya Adit harus kembali gagal. Tawaran yang dia sebutkan tadi, sama sekali tidak dianggap menarik oleh empat orang yang kini terus memeganginya dan memaksanya untuk duduk.


“Kerjakan!” perintah ketua bodyguard pada sang perias.


Adit sudah tidak punya jalan lain kecuali diam. Selain empat orang bodyguard yang ada di dalam kamar, ada banyak bodyguard lain yang berjaga di dalam maupun di luar di rumah itu.


Sang perias maju perlahan, dia sepertinya syok melihat reaksi Adit saat mengamuk tadi, kali ini dia memutuskan untuk menutup mulutnya rapat rapat tanpa ingin menggoda Adit yang terlihat masih sangat marah.


Di depan kaca rias, Adit duduk dengan tenang. Membiarkan sang perias melakukan apapun pada wajahnya. Tapi ada satu ingatan yang tiba tiba melintas di benak Adit saat ini. Wajah manusia yang tidak diketahui jenis kelaminnya itu seperti pernah dilihatnya.


“Lo… lo Miki kan? Pemilik salon XX langganannya Serena?” bisik Adit, setelah memastikan para bodyguard tidak berada di sampingnya.


Adit bisa melihat raut keterkejutan di wajah sang perias, dia merasa yakin kalau tebakannya itu benar.


“I… iya, darimana lo kenal Sereana?” jawabnya.


“Lo tahu ngga siapa orang yang bakal jadi pengantin wanita gue?” Adit menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


Miki menggeleng.


“Lo ngga merias calon mempelai wanita?” tanya Adit penasaran.


“Anak buah eike yang bertugas ke kamar sebelah,” ucap Miki.


“Kamar sebelah?”


“Iya, bagaimana lo bisa kenal Serena?” Miki kembali bertanya.


Mereka berdua terus melakukan komunikasi dengan suara yang sangat rendah, dan bersikap biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan.


“Miki... gue perlu bantuan lo”


.


.


.


***


Si_Ro udah up dua chapter, jadi please jangan protes nanggung. Karena kalau ceritanya belom tamat ya akan nanggung terus.


Karena tetangga depan rumah lagi hajatan, otomatis Si_Ro ikut sibuk. Mungkin senin baru bisa up. Ok?


Makasih…..