KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 35.



“Se re na” senyum Bang Jon mengembang


“STOP! Jangan bangun. Tetaplah seperti itu” teriak Serena pada laki laki yang sedang berusaha untuk bangkit dari ranjang brangkar.


Zahra terkejut dengan teriakan Serena. Melepaskan tubuh kakaknya begitu saja dan berbalik badan untuk mencari penyebab teriakan Serena.


“Bang Jon. Kau sudah sadar? Apa kau mengenaliku? Aku Zahra” Rentetan kata keluar dari mulut Zahra dengan disertai semangat dan juga kebahagiaan


“Zahra…yang di oprasi itu perutku bukan kepalaku.” Joni memaksakan diri untuk menjawab dengan suara lemah


“Iya yah, benar juga. Apa masih sakit bang Jon?” Pertanyaan Zahra mendapat jitakan kepala dari Serena


“Bodoh. Ya jelas masih sakitlah. Dia itu kena tembakan. Ditambah lagi kenyang digebugin, ya jelas mantep rasanya. Lo kan dokter. Masa kayak gitu aja ngga tahu sih” Serena mencibir kemampuan adiknya


“Ih kakak. Zahra emang dokter. Tapi Zahra belum pernah dapet luka tembak, jadi Zahra ngga tahu rasanya.” Zahra membela diri dan memberikan alasan yang bisa di jadikan sebagai senjata membalikkan keraguan Serena tentang kemampuannya.


“Terus lo harus kena tembakan dulu, baru ngerti” Serena menutup mulutnya “Jangan! Jangan pernah ada kejadian seperti ini lagi. Gue ngga mau ngliat ada lagi yang terluka karena Serena. Jaga diri kalian baik baik” kini Serena malah meneteskan air matanya.


Joni dan Zahra mengerti dengan benar bagaimana sifat Serena. Walaupun Serena kelihatan kaku dan keras, tapi hatinya malah lebih rapuh dari siapapun.


Zahra mendekati tubuh Serena yang bergetar karena tangisan, walau hanya terdengar isakan. “Mbaaak…” Zahra menyambung tangisan Serena


Joni yang masih belum bisa bergerak leluasa, hanya menjulurkan tangannya untuk meraih tangan Serena yang menggantung lemah disamping brangkar.


“Saya baik baik saja Mbak Rena” Joni mencoba menenangkan Serena. Dia tidak mau membuat majikannya itu terus terbebani rasa bersalah, karena insiden pagi ini.


“Janji sama Serena ya Bang Jon. Jika suatu hari nanti ada kejadian seperti ini lagi, Bang Jon tidak perlu melindungi Rena. Kalau ada apa apa yang terjadi dengan Bang Jon, siapa yang akan melindungi keluarga Rena? Ibu dan juga Zahra adalah nyawa Rena Bang Jon.”


Joni diam mendengar permintaan Serena. Dia tidak mungkin menolak, apalagi melawan keinginan sang bos. Joni mengagumi Serena sebagai wanita mandiri dan juga penyayang keluarga.


Joni juga sangat menyayangi Serena dan semua anggota keluarganya. Dia sudah menganggap keluarga serena sebagai keluarganya sendiri. Dia akan melindungi keluarganya itu, meski harus mempertaruhkan nyawa, dan kesetiaannya juga sudah terbukti. Dia melindungi Serena tanpa memperdulikan dirinya sendiri yang harus merasakan sakitnya ditembus peluru panas.


“Janji sama Rena Bang Jon” ulang Serena


Joni hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban apa apa. Tidak menyanggupi, tidak juga menolak. “mana mungkin saya bisa melihatmu terluka Rena” batin Joni memberontak


Zahra mengangguk pelan. Rasa lelah tiba tiba saja menyerangnya, setelah semuanya terselesaikan dengan baik. Serena yang telah kembali dalam keadaan sehat, dan Bang Jon yang sudah melewatkan masa kritis meski masih memerlukan masa penyembuhan yang belum diketahui sampai kapan.


“Zahra balik ya mbak, Bang Jon. Kalau ada apa apa, jangan lupa kasih kabar ke rumah”


“Tapi besok pagi lo harus kesini lagi, besok gue sibuk. Tiga hari kedepan gue ngga diganggu dan ngga bisa pulang atau menjenguk Bang jon.”


“Mbak mau kemana?” Zahra penasaran


“Gue ada kerjaan ke luar kota” tidak mau menjawab terlalu panjang, karena itu mungkin akan membuat Zahra atau Bang Jon curiga


“Ya udah deh”


Joni menangkap sesuatu dari tatapan Serena


“Apa yang akan kau lakukan mbak” batin Joni


Saat Zahra sudah meninggalkan ruang perawatan Joni, Serena pamit untuk pergi ke toilet. Kesempatan itu tidak di sia siakan oleh Bang Jon. Dia meraih handphone Serena yang berada di nakas samping brangkarnya, mencari aplikasi kalender yang tersedia di layar.


“Besok malam jum’at kliwon” gumamnya


”Aku harus bisa segera pulang dari sini”


Joni buru buru mengembalikan handphone Serena ke tempatnya semula.


***


Hai…


Jangan pada ngambek ya kalau Si_Ro telat up


Dunia nyataku mengharuskan tangan jauh dari gadget


Boro boro laptop buat ngetik, hp aja sering terlupakan