
Serena berjalan memasuki kamar mandi dan membersihkan diri, dia melakukannya dengan begitu malas. Dia sadar kalau Farrel sedang mengejarnya kembali, mencari perhatiannya lagi dengan cara mengulang semua yang pernah mereka lalui bersama.
“Kenapa harus seperti jalan cerita hidup gue” gumamnya
Dia berjalan ke arah lemari pakaian, mencari pakaian yang dikiranya cukup sopan agar tidak terkesan menggoda, karena dia tidak mau pertemuan ini akan dianggap persetujuan menjalin hubungan spesial kembali dengan laki laki itu.
Serena akhirnya memilih memakai pakaian yang sangat membuatnya terlihat santai, celana jeans berwarna hitam dengan atasan hoodie bergambar mickey mouse dan sepatu sneaker. Ditambah sling bag kecil untuk membawa handphone dan tissu basah yang memang sudah biasa mengisi semua tas tas yang dibawanya.
“Cukup” Serena memandang penampilannya hari ini di depan kaca besar samping ranjang.
Dia menutupi bekas percintaan dan lebam di tubuhnya dengan kosmetik yang dimiliki, walau sudah tidak begitu terlihat kentara tapi Serena tidak mau memperlihatkan itu. Bukan demi Farrel tapi dia takut dengan wartawan yang mungkin saja mengambil gambarnya tanpa dia tahu.
-
Sebuah senyuman lebar menyambut kedatangan Serena saat masuk ke dalam kafe, wajah berbinar itu menyiratkan rasa bahagianya dengan sangat baik.
Farrel mengulurkan kedua tangannya ke arah wanita yang sedang melangkah menghampirinya, dia begitu ingin memeluk tubuh wanita itu. Tapi ternyata dia harus merasakan pahitnya sebuah penolakan, ketika Serena dengan sengaja menggunakan tangan kanannya menahan dadanya dan memberikan jarak.
“Aku kangen kamu sayang” ucap Farrel dengan wajah memelas
“Tidak usah basa basi lagi, apa yang mau lo omongin?”
“Apa kau sedang buru buru?”
“Tergantung situasi. Kalau yang mau lo omongin itu hanya omong kosong, maka gue akan langsung pergi” Serena menduduki kursi yang berada di seberang kursi Farrel
“Aku kamu sayang, bukan lo gue” Farrel mencoba membenarkan sebutan dari Serena
“Terserah gue mau pake apa, kalau lo ngga suka gue bisa pergi sekarang” Serena memberikan peringatan
“Baiklah sayang…..senyaman kamu aja.”
“Ya emang harus begitu” Serena melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu laki laki di depannya menjelaskan maksud dan tujuannya
“Sarah dan Sherly sedang mengincarmu, dan sepertinya mereka menggunakan cara yang tidak biasa. Kemarin anak buahku melapor, kalau mereka pergi ke rumah seseorang yang di kenal sebagai dukun sakti”
“Dukun?” Serena mengernyitkan dahinya “Sebenarnya apalagi yang diinginkan istrimu dariku hah? Bukankah dia sudah mendapatkanmu, dia juga sudah beberapa kali berusaha menjegal karirku, mempengaruhi para desaigner untuk tidak memakaiku lagi sebagai model. Kenapa dia begitu membenciku?”
“Maaf sayang, aku tidak bisa melindungimu dengan baik. Setelah aku mendapatkan kekuasaan yang lebih tinggi darinya, aku akan segera meninggalkannya” Farrel mengutarakan isi hatinya
“Kalau lo nglakuin itu, dia akan makin benci sama gue dan hidup gue akan semakin terancam” Tolak Serena
“Tidak! Aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu seujung kukupun sayang. Tunggulah sebentar lagi. Aku akan menjadikanmu wanita yang paling bahagia di dunia ini.”
Serena menatap mata Farrel, mencari kebenaran dari setiap kata yang di ucapkan laki laki itu, terdengar sangat manis, tapi apakah itu akan bisa menjadi kenyataan?
Serena mengaitkan jemari kedua tangannya, menghembuskan nafas perlahan untuk mengurangi gejolak didadanya akibat rasa marah pada Sarah dan Sherly. Dia sedikit khawatir dengan keselamatannya kali ini, meski dia juga tahu kalau sang suami astralnya akan melindungi dirinya dengan baik. Tapi apakah dia akan selalu bergantung pada sesuatu yang sebenarnya tidak dibenarkan?
Ting
Terdengar suara notif dari handphone Serena yang berada di dalam tasnya, sebuah pesan masuk, dan itu dari sopir setianya.
“Apa kau masih di apartemen?”
Serena langsung mengetik balasan karena tidak mau Joni mengkhawatirkannya “Gue lagi di kafe”
“Ngapain?”
“Farrel ngajak ketemuan”
“Farrel?”
Layar handphone itu tidak lagi menampilkan layar yang bertuliskan mengetik, dan itu berarti kalau Joni mungkin tidak akan lagi melanjutkan obrolan.
Semua gerak gerik Serena yang menyunggingkan senyum tipis membuat darah Farrel tiba tiba mendidih, dia tidak suka melihat gadis yang duduk di depannya itu senyum yang bukan ditujukan untuknya.
“Siapa Sayang?” Farrel tidak tahan untuk tidak bertanya, hatinya begitu penasaran dengan orang yang sedang bertukar pesan dengan wanitanya
“Siapa apanya?”
“Siapa yang sedang mengirimu pesan? Apa dia laki laki? Ck mengganggu saja” Farrel mendengus tidak suka
“Kenapa? Lo cemburu?” Serena menampilkan seringai mengejek
“Jelas aku cemburu sayang, aku sayang banget sama kamu. Aku pengen jadi satu satunya buat kamu, aku pengen jadi satu satunya yang bisa bikin kamu tersenyum seperti tadi”
“Kenapa lo jadi ngatur ngatur hidup gue? Lo itu udah punya Sarah, ngga usah repot repot mencampuri urusan pribadi gue lagi”
Dengan penuh emosi Farrel berseru “Aku akan meninggalkan Sarah secepatnya!”
Serena terkejut bukan main dengan ucapan yang meluncur dari mulut Farrel, begitu juga dengan orang yang berada tidak jauh dari keduanya, dia menutupi wajahnya dengan buku menu sambil membenarkan arah kamera kecil yang dibawanya menghadap ke arah Serena dan Farrel.
“Gue ngga bisa lama lama, terima kasih buat infonya” Serena berdiri dari kursinya setelah menghabiskan minuman yang di pesannya
Farrel tidak terima dengan kepergian Serena yang begitu saja, dia takut tidak akan bisa melihat gadisnya lagi.
Serena hampir saja menarik handle pintu mobilnya yang berada di parkiran, tapi gerakan itu terhenti saat dia merasakan ada tangan besar tiba tiba melingkar di pinggangnya yang ramping.
“Sebentar saja sayang.” Farrel mengatur nafasnya yang sedikit tersengal akibat berlari mengejar Serena yang meninggalkannya di meja kafe.
“Biarkan begini sebentar saja, aku merindukanmu, sangat” sambungnya lagi dengan mengeratkan pelukannya pada tubuh Serena.
Serena bergerak, memberi signal penolakan dengan kelakuan Farrel yang dianggapnya tidak sopan. Mereka sudah tidak lagi menjadi pasangan, jadi pelukan itu membuat Serena tidak nyaman.
“Lepas Farrel, lo akan jadi orang yang akan menghancurkan karir gue kalau sampai ada wartawan melihat kita sekarang”
Farrel tidak menjawab, dia melepaskan pelukannya dan segera meraih tangan Serena untuk membawanya masuk ke dalam mobil mewahnya dengan sopir yang siap kapan pun.
“Berhenti Farrel! Lo mau bawa gue kemana?” Serena berontak
“Ke rumahku”
“Lo gila ya! Gue ngga mau!” Serena masih terus berusaha menolak paksaan yang di terimanya dari Farrel
“Ngga ada penolakan sayang. Kamu ngga mau ada wartawan yang melihat kita kan? Jadi aku bawa kamu ke tempat yang paling aman, yaitu rumahku…. dan akan menjadi rumah kita”
“Farrel! Berhenti! Gue ngga mau ikut sama lo”
Farrel menghentikan langkahnya serta membalikkan badan, bukan untuk melepaskan Serena tapi untuk mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh sang sopir.
Serena tidak bisa melawan tenaga dari laki laki yang kini telah mendekapnya, tubuhnya tepat berada di pangkuan pria yang pernah memiliki hatinya. Jika perlakuan ini dia terima dulu saat masih pacaran , tentu dia akan menerimanya dengan suka hati. Tapi tidak untuk sekarang.
.
.
.
***
Up selasa 140120 05:56